Keputusan Satria

1817 Kata
"Ya?" Arga bertanya dengan kening mengkerut, wajahnya menyiratkan tanda tanya besar. Rinda menatap punggung Nathan yang semakin menjauh, bahkan walau dari jauh sekalipun warna hitam dan gelap itu terus menguar dari tubuhnya. Kini pandangannya kembali tertuju pada Arga, tidak ada warna apapun yang menghiasinya. "Mana warnanya?" gumam Rinda masih tak habis fikir. Gadis bermata bening itu menatap Arga dalam-dalam, menelisik setiap bagian dari tubuhnya. "Warna? Warna apa yang kamu maksud?" tanya Arga lagi masih kebingungan, yang tentu saja tak mendapatkan jawaban dari Rinda karena gadis itu tiba-tiba seperti sibuk dengan dunianya. "Kalau kamu bertanya warna baju, bajuku warna hijau nih!" Arga berujar sambil tertawa lebar, Rinda menggeleng saat mendapati tak ada satu pun warna yang ia maksud ada pada diri Arga. "Hmmmm, warna ... warna. Rambutku warna hitam." Rinda menoleh pada seseorang yang sedang berjalan di lantai dua, dari sana ia melihat orang tersebut menguarkan warna biru. Yang berarti sebuah kesenangan. "Kulitku sepertinya putih keemasan, karena aku adalah Edward si vampire tampan." "Kalau bulu hidungku warnanya merah. Itupun kalau kau melihatnya dari lubang sedotan." Arga menahan senyumnya, merasa lucu telah memberikan jawaban konyol. Tapi fokus Rinda tidak ada pada dirinya, kini ia tengah memperhatikan seorang laki-laki dan perempuan yang tengah jalan bersisian, dari mereka Rinda bisa melihat warna pink yang menguar. Yang berarti adalah cinta. "Hmmm kali ini kau mau tahu warna ketiakku?" Tak ada satu pun ucapan Arga yang mampu dicerna Rinda, gadis itu sibuk membandingkan penglihatannya ke orang lain dengan penglihatannya ke seorang Arga. Semuanya menguarkan warna perasaan mereka. Tapi ... mengapa Arga tidak? "Mana warna kakak? Mana!!!!" Rinda merasa pusing karena kebingungan sendiri dengan penglihatannya pada Arga yang tidak menghasilkan apa-apa. Lalu menatap Arga dalam-dalam untuk beberapa saat, demi menembus alam pikirannya yang juga tidak ada apa-apa. Apa yang Arga rasakan? Apa yang Arga pikirkan? Apa yang ia ucapkan dalam hatinya? Mengapa tidak terlihat? Mengapa tidak terdengar? Dan baru sekarang ia menyadari, bahwa dari kemarin, sosok di hadapannya itu memang tidak menguarkan warna apapun bahkan Rinda tidak bisa mendengar apapun yang diucapkan hatinya. Kini kepalanya mendadak pusing saat mendapati kenyataan baru yang terjadi di hadapannya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Apa yang Arga miliki sampai tidak bisa ditembus oleh mata batin Rinda? "Heh cewek jadi-jadian, barusan kan aku sudah bilang warna diriku, tapi kau masih bertanya saja, ya? Jangan bilang kau ...." Mata Arga memicing, menatap Rinda dengan pandangan curiga. "Apa?" tanya Rinda polos. "Kau ingin tahu warna celana dalamku, ya?" Mata Rinda membulat, ia menahan napas untuk beberapa saat. Detik kemudian dipukulnya Arga dengan tas selempang yang tersampir di bahu kanannya. "Dasar manusia siluman, m***m banget mikirnya!" ketusnya sambil berjalan meninggalkan. "Heh kau juga m***m cewek jadi-jadian!" Tak dihiraukan lagi Arga yang mengatainya sebagai cewek jadi-jadian, kali ini gadis itu berjalan cepat menuju parkiran dimana mobil dan sang sopir berada. *** "Sayang ...." Melinda menampilkan senyum terbaiknya, menyapa Satria yang sedang menunggunya di sebuah restoran. Hari ini mereka akan makan siang bersama, hal yang jarang sekali dilakukan. Karena di siang hari, Arga selalu sibuk di toko. Sehingga jika ada pertemuan, pasti selalu di malam hari. "Duduk, Mel." "Yang tumben, ngajak makan siang bareng? Kangen, ya?" Manja sekali Melinda berucap, membuat Satria menghela napas perlahan dengan wajah tanpa dihiasi senyuman. "Ish kok jutek gitu? Jadi gemes pengen nyubit." Melinda memasang senyuman centilnya, yang membuat Satria lagi-lagi menghela napas. "Pesan aja menu kamu, Mel." ucap Satria sambil mengaduk minumnya yang berwarna orange. "Okey. Kamu?" "Aku udah." "Loh kok bisa? Ish, kukira kita bakal makan siang bareng." "Ada yang mau aku bicarakan sama kamu Mel. Penting banget." Mata Melinda membulat dengan binar yang berseri-seri. Mulutnya sedikit terbuka membayangkan hal-hal yang bermunculan dalam batok kepalanya. Hal penting apa yang Satria maksud? Mungkinkah laki-laki itu akan melamarnya sekarang? Bukankah tadi Satria bilang ada hal serius yang ingin dibicarakan? Ya, pasti itu! Melinda menatap ke sekitar, suasana restoran sedang ramai. Mungkinkah di tempat ini? Hal romantis apa yang akan menyambutnya di siang ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirnya, senyumnya semakin lebar menanti kalimat yang akan meluncur dari mulut Satria. Tak sabar rasanya! "Mel?" "Ya?" "Aku sudah memikirkan hal ini dengan matang, dan aku yakin dengan keputusanku ini." Melinda mengangguk, senyumnya tak memudar barang sedikit pun. Akhirnya yang dinanti pun tiba, dimana sedikit lagi ia akan menjadi nyonya Satria. "Apa itu sayang, katakanlah!" ujarnya tak sabar. Satria menghela napas dalam-dalam, menatap mata Melinda yang berbinar cerah. Perempuan itu tidak tahu saja, apa yang akan dikatakan Satria kelak akan menjadi mimpi buruk yang tidak ia kira sama sekali. "Maaf Mel, mulai sekarang ... kita ...," "Kita?" "Kita putus, ya!" Ujar Satria tegas. Mata Melinda membulat seketika, mulutnya menganga. "Ma-maksud kamu?" Melinda bertanya, wajahnya langsung pucat. "Mulai sekarang aku katakan, bahwa aku gak bisa lagi melanjutkan hubungan ini sama kamu. Sekarang kita masing-masing, ya? Maaf, aku minta maaf." Kalimat yang Satria ucapkan, kini membuatnya syok setengah mati. "Jangan bercanda Satria!" ucap Melinda panik, panik sekali. "Aku serius Mel. Aku sudah memikirkan ini dengan sangat matang. Dengan penuh kesadaran aku juga minta kita putus." "Enggak, enggak! Jangan ngeprank aku Satria. Kamu ngeprank aku, ya? Iya kan? Iya?" Melinda mencecar Satria dengan pertanyaan. Kalimat yang ia kira akan terucap 'will you marry me' ternyata malah 'mulai sekarang kita putus' membuat kepalanya terus menggeleng tidak terima. "Sorry Mel, tapi aku udah gak bisa lanjutin hubungan ini sama kamu." Satria berucap serius, tidak ada senyum atau tawa sama sekali yang menghiasi wajahnya. "Aku gak bisa diginiin. Aku gak percaya kamu tega giniin aku. Apa salah aku Satria? Apa salah aku?" Kali ini Melinda mulai terisak-isak, wajahnya memerah. Sungguh ia sama sekali tak menduga, akan kalimat putus yang diucapkan Satria dengan begitu mudah. Mengapa? Bukankah sudah beberapa kali Satria bilang bahwa ia adalah calon istrinya? Bukankah sudah beberapa kali juga Satria sempat membahas mengenai rencana pernikahan mereka? Bahkan Satria juga sering sekali menyebut dirinya sebagai calon kakak ipar jika bicara ke Rinda. Lalu kalau putus, bagaimana dengan rencananya yang ingin menguasai harta Satria? Bagaimana dengan cita-citanya yang ingin mengeruk dan memoroti harta Satria tersebut? Padahal dia sudah berusaha keras untuk meraih impiannya menikah dengan Satria, seseorang yang mapan dan bisa membawanya hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Lalu tiba-tiba mimpi buruk itu hadir begitu saja. Padahal baru dua hari yang lalu laki-laki itu masih bicara sangat ngotot untuk menikahinya di depan Rinda. "Huhuhuhu ... kamu jahat! Kamu jahat!!!" Melinda menangis, bahkan hampir histeris. "Jangan nangis begini Mel. Kamu dilihatin orang." "Aku gak peduli! Aku gak peduli! Kenapa kamu tiba-tiba mutusin hubungan kita secara sepihak? Aku gak terima! Aku gak bisa diginiin!!" Melinda berucap, kali ini dipenuhi emosi. "Aku gak mau putus sama kamu Satria." ucapnya setengah membentak pria di hadapannya. "Kenapa?" Satria bertanya singkat. "Karena aku ... aku cinta sama kamu. Aku gak mau pisah sama kamu. Kamu yang bilang beberapa kali ke aku, bahwa kamu mau menikah denganku? Tiba-tiba sekarang minta putus? Jahat kamu Satria! Aku gak bisa. dan sampai kapanpun aku gak mau kalau kita putus." Satria menatap Melinda tanpa ekspresi. Sebelumnya, tidak pernah ia melakukan itu ke wanita di hadapannya. "Maaf Mel. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku berdoa semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik lagi dari aku dan bisa merubah kamu menjadi wanita yang lebih baik lagi, menjadi wanita yang tulus jika mencintai seseorang." "Maksud kamu? Jadi kamu pikir aku gak tulus mencintai kamu gitu?" sentaknya dengan pandangan nanar. Satria ingin menjawab ya, tapi takut Melinda semakin berapi-api. Sehingga dia memilih diam saja. "Kasih tau aku alasannya, kenapa kamu putusin hubungan kita?" "Aku ... aku sudah tau watak kamu yang sebenarnya, Melinda." Melinda terdiam, menatap Satria dan tersenyum kecut. "Watak apa yang kamu maksud?" "Aku sudah mencari tahu mengenai kamu ke mantan-mantan kamu. Hasilnya gak disangka sama sekali, ternyata hubungan kalian berakhir karena kamu yang ... yah aku gak perlu melanjutkannya. Kamu pasti yang paling tahu segala-galanya." Melinda terpaku. Tidak menyangka mengapa Satria bisa mencari tahu dirinya melalui mantan-mantannya? Mantan yang akan selalu ia buang, saat manisnya sudah ia raih. Saat ia sudah banyak difasilitasi oleh mangsa-mangsanya. Kalau sudah tidak perlu, tidak ada alasan bagi Melinda untuk mempertahankan mereka. "Ka ... kamu percaya sama omongan mereka, Sayang?" Melinda tidak menyerah, mungkin Satria masih bisa dibodohi. Satria tidak menjawab hanya menganggukkan kepala. "Berarti kamu bodoh sudah percaya pada fitnah. Itu fitnah!" Satria sudah tidak bisa dibodohi. Jika Geri berbohong padanya sekalipun, tapi Rinda adiknya yang selalu ngotot bahwa Melinda bukan perempuan baik-baik, sudah pasti benar ucapannya. Adiknya tidak mungkin berbohong. Apalagi adiknya itu sekarang punya kemampuan aneh yang masih membuatnya bingung. Kendati demikian, ia percaya bahwa adiknya itu memang benar bisa membaca pikiran. "Aku pamit ya Mel. Jaga diri kamu baik-baik." Satria beranjak dari duduknya lalu meninggalkan perempuan tersebut yang masih menangis sesenggukan. "Aku gak bisa diginiin. Awas kamu Satria! Aku pasti akan balas dendam." ujarnya sambil menggertakkan giginya. *** Satria memilih pulang ke rumah, sudah tidak mood ia kalau harus melanjutkan pekerjaannya di toko. Ada anak buah yang sudah menjadi kepercayaannya, sehingga bisa leluasa kalau ditinggal. Kakinya melangkah memasuki rumah, nampak Rinda adiknya juga sedang duduk di sofa ruang tamu sambil bersandar di kepala kursi dengan kaki berselonjor lurus. "Baru pulang kuliah?" tanya Satria yang membuat Rinda langsung tersentak. "Oh kakak sudah pulang, tumben?" Mata Rinda memicing, melihat keanehan yang ada pada diri Satria. Warna hitam yang mengelilingi dirinya, menandakan bahwa laki-laki itu sedang bersedih. Satria memang cukup sedih, kehilangan calon istri untuk kedua kalinya. Tapi ia juga tidak mungkin mempertahankan hubungannya dengan wanita licik seperti Melinda. Katakanlah, ia sedang merutuk diri. Mengapa bisa terperangkap jerat cinta Melinda yang ternyata bisa mematikan? Kenapa ia bodoh sekali dalam mencari jodoh? Tidak bisakah ia langsung menemukan wanita yang benar-benar baik dan mencintainya dengan tulus? Bahkan Laudya saja tega mengkhianatinya, wanita itu pun ia kira adalah cinta sejatinya. Tapi malah berselingkuh di depan matanya. Setidaknya itulah yang Satria tahu selama ini. "Apa yang kamu lihat dari kakak, Dek?" Satria bertanya, ia duduk di samping Rinda. Jujur Satria ingin tahu banyak tentang kemampuan adiknya. "Kakak bawa warna hitam, yang artinya kesedihan. Perasaan kakak lagi kacau." Satria terpaku, apa itu kemampuan Rinda juga? Teringat kejadian pasca ia bangun dari komanya yang selalu berbicara warna. Mungkinkah warna yang dimaksud itu adalah warna yang bisa menggambarkan perasaan seseorang? Kali ini Rinda memicingkan matanya, menatap Arga dalam-dalam. Bahkan tanpa berkedip. "Tapi aku senang, akhirnya kakak bisa menjauhi wanita itu. Akhirnya kakak bisa mengambil keputusan terbaik." Kali ini Satria lebih terpaku lagi, Rinda sudah mengetahui hal itu padahal dirinya belum cerita apa-apa. "Kamu tahu itu, Dek?" tanyanya seakan tak percaya. Rinda mengangguk. "Makasih ya, Kak?" ucap Rinda sambil tersenyum manis penuh ketulusan. Hati Satria terenyuh. "Enggak Dek, kakak yang harusnya berterima kasih." Satria memeluk adiknya dengan perasaan yang tak menentu. Rasa syukurnya tak terkira, andai adiknya tak menentang hubungan mereka habis-habisan maka sudah pasti ia juga tidak akan mencari tahu tentang Melinda lebih dalam lagi. Semua yang sudah dilakukan Rinda adalah kunci terbongkarnya kedok Melinda yang sesungguhnya. "Maafin kakak karena sempat gak percaya dan malah marahin kamu waktu itu." ujarnya penuh penyesalan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN