Kejahatan Melinda

1190 Kata
Satria melirik arloji di tangan kirinya yang sudah menunjukkan angka sembilan. Suasana langit sudah gelap, malam ini dia baru saja melakukan pertemuan dengan teman lamanya untuk membahas dan merencanakan kerjasama membangun toko lain yang akan bergerak di bidang kuliner. Ia ingin mencoba hal baru, kebetulan teman lamanya pun memiliki wawasan yang luas dalam hal ini. Sehingga tercetuslah untuk membangun usaha bersama. "Gue duluan, Bro. Anak dan bini udah nunggu di rumah." ucap temannya yang bernama Haris. "Loe enak ada yang nunggu. Gue?" sahutnya dengan senyum mengejek. "Loe cepet nikah dong! Umur udah matang, usaha udah punya, loe udah mapan. Tinggal satu kurangnya elo. Nikah! Hahahaha ...." Satria ikut tertawa melihat temannya mentertawakan dirinya. Memang benar! Semua hal yang ingin dicapainya kini sudah tergenggam, kesuksesan dan karir. Tinggal satu yang belum terlaksana, yaitu menikah. Tapi bagaimana mau menikah, sedangkan calon istri yang akan menjadi pendampingnya saja kini ia lepaskan untuk yang kedua kalinya. Ia harus mencari wanita lain, tapi kali ini ia ingin berhati-hati. Harus benar-benar dikenali luar dan dalamnya, yaitu hatinya. Tapi untuk proses hal tersebut pasti membutuhkan waktu yang lama. Dan Satria tak bisa memperkirakan sampai kapan ia akan terus sendiri seperti ini? "Doain aja biar gue cepet nikah, Bro. Udah gak betah sebenarnya sendirian terus." curhatnya dengan santai. "Loe kan calon istri udah ada. Tinggal akad dan resepsinya aja, Bro?" "Belum ada Bro." "Loh, kan loe pacaran sama Laudya udah lama?" Satria terdiam, ternyata teman lamanya ini hanya tahu bahwa ia masih bersama dengan Laudya. "Gue udah lama pisah sama dia." jujurnya. "Kenapa?" "Dia selingkuh sama laki-laki lain di depan mata gue sendiri." Kali ini Haris nampak kaget. Keningnya mengkerut. "Yang benar?" tanyanya seakan tak percaya. "Di depan mata gue sendiri gue lihat semuanya. Masa iya gue bohong?" "Tapi setahu gue Laudya orangnya baik dan gak pernah macem-macem, Bro. Makanya waktu gue dengar loe sama dia, sebenarnya gue dukung. Karena gue tahu persis gimana kepribadian loe dan Laudya. Kalian cocok." sahut Haris memberi pendapat. "Ya itu sepengetahuan loe aja." "Coba cari tahu dulu, Bro. Siapa tau loe hanya salah paham. Gue kenal betul Laudya dan keluarganya kayak gimana. Gue kan pernah tinggal satu komplek sama dia. Tapi akhirnya gue pindah lima tahun belakangan ini. Sedikitnya gue tau betul lah, gimana keluarganya dan sepak terjangnya. Laudya orangnya baik dan dari keturunan yang baik juga." panjang lebar Haris berkata yang langsung membuat Satria terdiam. "Udah ya Bro, gue jalan!" ucap Haris sambil beranjak. "Hati-hati!" Sepeninggal Haris Satria jadi terus memikirkan ucapan pria tersebut yang terasa mengusik hatinya. Selama berpacaran dengan Laudya, memang semuanya berjalan normal tanpa konflik yang berarti. Konflik yang muncul dalam hubungan mereka masih terbilang sepele. Tapi apa yang dilihat Satria kala itu benar-benar membuatnya emosi dan tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Satria menghela napasnya berat, lalu mulai beranjak juga dari tempatnya. Saat keluar dan menuju parkiran cafe langkahnya menabrak seseorang. "Aduh!" wanita yang ditabraknya hampir jatuh, tapi urung karena kakinya bisa menahan. "Maaf, mbak. Loh, Laudya?" Satria terkejut saat di hadapannya ternyata wanita yang baru saja ia bicarakan dengan Haris barusan. Ya dia, Laudya. "Eh Mas? Nga-ngapain di sini?" tanyanya terlihat kaget juga gugup di saat yang bersamaan. "Aku barusan ada pertemuan dengan teman. Kamu?" "Ini temanku ada yang minta ketemuan. Kayanya dia lagi sedih." ujarnya. Keduanya terdiam canggung, Satria menyadari semenjak putus dengan wanita di hadapannya ini, baru kali ini mereka dipertemukan kembali. "Kalau begitu aku duluan, Mas." ujar Laudya lalu berjalan meninggalkan Satria yang masih termangu. Sedang memikirkan apa yang diucapkan Haris tadi. Laki-laki itu menatap punggung Laudya yang semakin menjauh meninggalkannya. Lalu laki-laki itu menggeleng pelan, mengapa ia jadi gamang seperti ini? Kembali Satria meneruskan langkah dengan pikiran yang masih tertuju pada Laudya, baru dibicarakan tapi langsung bertemu. Kali ini ia dibuat berhenti kembali saat di hadapannya ada Melinda yang tengah menatapnya dari jarak tujuh meter. Perempuan tersebut seperti sedang menunggunya. Mata Satria memicing. "Melinda?" "Kita harus bicara Satria!" "Bicara apa lagi, Mel? Kamu ngapain di sini? Kamu sengaja ngikutin aku?" cecar Satria tak habis pikir. "Satria kamu gak bisa mutusin aku secara sepihak begini! Apa yang kamu dengar itu salah! Kamu gak boleh tinggalin aku!" "Apanya yang nggak bisa? Kita kan belum menikah, masih tahap pacaran. Jadi kalau mau udahan gampang aja, gak perlu ke pengadilan kan?" "Tapi kamu menyakiti hati aku Satria!" Kali ini Melinda mulai mengeluarkan senjata ampuhnya, yaitu dengan menangis. Setahu Melinda, Satria tidak bisa melihat wanita menangis. Jika ia sudah menangis, bisa dilihat bahwa Satria akan sedikit panik dan menenangkannya mati-matian. Sama seperti mereka masih berpacaran. "Gak usah nangis, Mel. Aku kan gak ngapa-ngapain kamu. Apa yang kamu lakukan ini bisa buat orang salah paham. Kita lagi di tempat publik loh, ini!" Melinda menatap Satria tak percaya. Ia mengusap air matanya kasar, antara kesal dan benci Satria tidak terlihat simpati sama sekali. "Percaya sama aku, apa yang kamu dengar itu cuma fitnah! Fitnaaahhhhhh!!! Huhuhu ...." Satria mengusap wajahnya kasar, ia pikir putus dengan Melinda bisa mudah. Tapi sepertinya wanita ini akan terus mengejarnya. Apapun yang ditunjukkan wanita itu, kini Satria sudah sulit percaya. Kepercayaannya terkikis habis oleh fakta yang ia tahu baru-baru ini. "Maaf, Mel. Aku udah sangat lelah setelah seharian bekerja. Aku gak punya waktu lagi untuk terus membicarakan hubungan kita yang udah pasti gak mungkin bisa kembali lagi." Melinda menganga, matanya membulat. "Gak bisa seperti dulu?" tanyanya. "Iya, memangnya apa yang masih kamu harapkan Melinda? Aku gak ada niat untuk balikan." "Tapi masih ada cinta di hati kamu untuk aku, kan?" Cinta? Satria tidak tahu mengenai cinta yang Melinda maksud. Ia tidak tahu, apa selama berpacaran dengan Melinda ia merasakan cinta itu. Yang Satria rasa saat itu adalah bahwa ia nyaman berdampingan dengan Melinda, dan Melinda ada di saat ia butuh. Dimana Satria sakit dan patah hati karena putus dengan Laudya. Mengenai cinta, ia tidak tahu apa ia cinta dengan perempuan itu? Saat putus dengan Melinda saja, sakit hatinya tidak sesakit putus dengan Laudya. "Cinta? Rasanya gak perlu membicarakan cinta, Melinda." "Aku kecewa sama kamu, kenapa kamu ngedengerin omongan orang yang gak bener begitu? Aku di sini korban Satria! Kamu jahat! Huhuhu ...." Satria menggelengkan kepala sambil tersenyum miris. Wanita di hadapannya bertingkah seakan-akan bahwa Satria ini adalah penjahat dan ia adalah orang yang terzalimi. Padahal jika diulas ke belakang, siapa sebenarnya yang penjahat? Bahkan wanita di hadapannya sudah mengambil harta orang lain ditambah sampai membuat seseorang berobat ke psikiater setiap bulannya, mengalami trauma hebat sampai pernah mengalami kesulitan dengan membenci semua wanita. "Andaikan kamu tahu, Mel. Gara-gara ulah kamu, Geri bahkan sampai pernah membenci setiap wanita karena trauma sama kamu. Andai kamu tahu, dia bahkan sampai harus pergi ke psikiater karena mentalnya yang jatuh akibat ulah kamu. Melinda membulatkan mata merasa kaget. Dalam hatinya ia tidak menyangka, akan menjadi seperti itu seorang Geri. "Harusnya kamu bersyukur Mel, mereka gak mempolisikan kamu untuk masuk penjara. Mereka hanya minta pada Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya dan menghukum kamu di depan mata mereka. Kali ini Melinda menganga, ia merasa putus asa. Laki-laki di hadapannya sudah tidak bisa dipengaruhi barang sedikit pun. Bahkan kebusukannya di masa lalu sudah terkuak dan dikuliti hidup-hidup. Melinda menatap Satria benci, lalu satu ide jahat pun terlintas dalam pikirnya. "Toloonnnggg, toloonngggg!!!! Saya mau diperkosaaaa!!!!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN