Satria membulatkan matanya, menatap Melinda yang tengah teriak-teriak.
"Kamu ngapain, Mel?" ucapnya panik.
"Tolooonnggg saya mau diperkosaaaa!!!" Melinda terus berteriak, wajahnya ia buat-buat seperti sedang ketakutan. Di tengah-tengah teriakannya, tangannya meraih tangan Satria dan mengendalikannya untuk bergerak ke lengan sebelah kirinya, lalu merobek paksa blouse yang ia kenakan.
"Astaga, ya Tuhan apa yang kamu lakukan?" pekik Satria tak percaya. Buru-buru ia melepaskan tangannya, semua kejadiannya terlalu cepat sehingga Satria tidak bisa bertindak sigap.
"Huhuhu, aku mohon jangan perkosa aku. Kamu boleh benci sama aku, tapi jangan nodai kesucianku. Huhuhu, tolooonnngggg!!!"
Satria menganga sambil menatap Melinda nanar. Gila! Apa yang dilakukan Melinda sungguh-sungguh gila.
Malam hari yang terang dengan sinar rembulan kini, di tempat dimana Satria berdiri mulai didatangi orang. Dirinya dan Melinda kini menjadi pusat perhatian. Seorang laki-laki dengan seragam kebanggaan yang bertuliskan security menghampiri mereka dan berlari tergopoh-gopoh.
"Ada apa ini?" tanyanya terlihat tegas.
"Sa-saya mau diperkosa, Pak. Tolong saya!" Melinda menyahut dengan air mata yang beruraian.
"Jangan mengada-ada kamu, Mel! Licik kamu ya!" sengit Satria setengah melotot. Beberapa orang menyusul menghampiri, mereka saling berbisik-bisik.
"Benar begitu, Pak?" Security bertanya yang membuat Satria langsung menggeleng.
"Demi Tuhan wanita ini berbohong, Pak." ujar Satria membela diri.
"Demi Tuhan juga saya berkata benar, Pak. Lihat blouse saya ini sampai sobek karena ditarik paksa oleh laki-laki biadab ini!"
Deg!
Satria tidak menyangka dengan hal yang sedang Melinda lakukan. Sepicik itukah wataknya? Mengapa baru hari ini Satria mengetahuinya?
Dalam hitungan detik beberapa orang langsung menangkap tangannya.
"Dasar laki-laki m***m!"
"Penjahat kelamin!"
"Perusak wanita, pantasnya kita bawa ke kantor polisi."
"Kita gebugin aja biar tahu rasa!"
Berbagai u*****n mendarat di telinganya. Sedangkan tangannya terasa sakit karena cekalan dua orang pria berbadan besar yang sangat kuat.
"Lepas Pak, lepas!"
"Coba jelaskan yang detail, bagaimana kronologi kejadiannya?" Kali ini security bertanya dengan bijak, Melinda langsung mengangkat suara.
"Kami baru putus beberapa hari ini, Pak. Saya kesini ada perlu sama teman, saya gak nyangka ternyata kami bertemu di sini. Dia yang gak terima saya putusin, minta balikan. Saya tolak karena saya tau dia pria b******k. Dia malah emosi dan berniat memperkosa saya, blouse saya ini menjadi saksinya, Pak. Lihat ini sampai sobek begini karena dia tarik paksa."
Satria menggeleng keras-keras, luar biasa akting Melinda. Malam ini akhirnya laki-laki itu bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, ternyata perempuan yang sempat ia kira baik dan tulus itu ternyata seorang perempuan yang sangat licik yang memiliki topeng paripurna yang bisa mengecoh semua orang.
Dalam cekalan dua orang pria berbadan besar, Satria beristighfar beberapa kali. Mukanya memerah menahan emosi, ingin sekali menghajar wanita di hadapannya. Sayang dia perempuan, ditambah kedua tangannya tidak bisa bergerak karena cekalan dua pria di sampingnya.
"Stop Melinda. Kelakuan kamu seperti setan. Aku gak nyangka, sepicik ini watak kamu yang sesungguhnya.
Bapak-bapak semua, apa yang dikatakan wanita ini adalah kebohongan. Fakta yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya. Dia yang mengikuti saya kesini, dan meminta balikan. Saya yang gak mau diajak balikan, dan anehnya dia malah teriak minta tolong dan menuduh saya mau memperkosa dia. Demi Tuhan saya gak berbohong!!!!" ujar Satria dengan deru nafas yang memburu.
"Fitnah! Itu fitnah, Pak! Jangan memfitnahku, Satria!"
"Kamu yang memfitnahku, wanita ular!" sentak Satria tak mau kalah. Orang-orang yang menonton semakin banyak hampir mengelilingi mereka. Petugas keamanan yang memakai topi dan membawa borgol di tangannya itu sampai dibuat pusing karena keduanya sama-sama saling kukuh dan sama-sama saling terlihat bahwa apa yang mereka ucapkan itu benar. Hal itu membuat sang petugas bingung, siapa yang sebenarnya berbohong? Dan siapa yang bersalah?
"Diam! Diam kalian berdua!" serunya menatap Satria dan Melinda bergantian.
"Bapak kalau gak percaya silakan cek CCTV yang mengarah ke sini, nanti akan terlihat siapa yang berbohong dan siapa yang berkata jujur." Kali ini Satria mulai terlihat tenang dan bisa berpikir jernih.
Sontak saja kepala Melinda langsung celingukan, mencari keberadaan CCTV-CCTV yang pasti bisa mengancamnya dan malah membuatnya malu seumur hidup. Detik kemudian ia harus menghembuskan napas lega saat tak dilihat satu pun ada CCTV di dekat mereka. Seulas senyum samar tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala.
"Tidak ada CCTV di sini, tapi berdasarkan bukti yang saya lihat, saya harus membawa anda Pak! Karena bukti sudah menunjukkan bahwa anda telah merobek pakaian seorang wanita dan hendak melakukan pelecehan terhadapnya." ujar petugas keamanan panjang lebar. Membuat Melinda semakin bersemangat dan mengira bahwa rencananya telah berhasil.
"Gak bisa begitu Pak. Saya ini gak bersalah, bapak gak bisa membawa orang yang gak bersalah dan menjadikannya sebagai tersangka. Ini gak adil!" cecar Satria mempertahankan kebenaran yang sesungguhnya.
"Masalahnya kalian berdua sama-sama kukuh dan merasa yang benar. Tapi melihat bukti yang ada semuanya mengarah ke anda Pak."
"Blouse yang sobek itu ulah dia sendiri yang merobeknya. Saya bersumpah saya tidak bohong pak."
"Sudah ikut dulu, jelaskan nanti di kantor polisi."
"Bawa Pak, saya mohon. Lelaki ini harus dipenjara supaya hidup saya tenang dan tidak dibayang-bayangi oleh bahaya karena dia yang terus mengincar tubuh saya." setengah teriak Melinda berucap, yang lagi-lagi membuat Satria emosi sampai mengepalkan tangan. Melinda benar-benar wanita ular. Pantaslah selama ini Rinda mati-matian menentang hubungan mereka.
"Diam kamu!!! Pantas saja adikku sangat tidak suka denganmu, memang ternyata dia tidak salah. Wanita sepertimu memang layak dibenci."
"Sudah, ayo ke kantor polisi." ucap petugas final dan tak dapat dibantah lagi.
"Kesian banget perempuannya, pasti jadi trauma."
"Sayang banget malah diserahin ke polisi, kalau gue jadi security nya mending gue ngajak warga buag gebukin sampe mati."
"Emang ya penjahat kelamin itu harus dihukum dengan seberat-beratnya supaya kapok. Banyak perempuan yang jadi korban hanya karena nafsu setan semata."
"Cepetan Pak bawa ke polisi, semoga dihukum mati sama polisinya."
Demikian ocehan orang-orang yang menonton terasa sangat menyakitkan baginya.
"Kurang ajar kamu, Mel!" Satria menggertakkan giginya, menatap Melinda penuh benci dan dendam. Ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini jika berurusan dengan seorang Melinda.
Kedua tangan Satria diborgol, saat ini ia pasrah. Tapi di hadapan polisi nanti ia tidak akan tinggal diam. Dirinya digiring oleh petugas keamanan untuk masuk mobil. Di sela-sela langkahnya yang melewati Melinda, wanita itu sempat berbisik tepat di telinga Satria.
"Itulah balasannya untuk orang-orang yang berani menyakiti hati Melinda. Semoga kau membusuk di penjara."
Deg!
Kalau tidak sedang diborgol, Satria tidak bisa memastikan apakah ia bisa mengendalikan tangannya untuk tidak menghajar mulut busuk wanita di hadapannya ini.
Saat akan memasuki mobil, tiba-tiba saja seseorang berteriak.
"Pak satpam tolongg berhenti!!!! Saya dari lantai tiga melihat kejadiannya!!!! Satria gak bersalah, wanita ini yang salah!!!!" pekiknya sambil berlari-lari dengan nafas yang memburu.
***