Laudya berlari kencang, sepatu heels dua centimeter yang dikenakannya nampak dijinjing sekarang. Perempuan itu berlari tanpa alas kaki, demi bisa mengungkapkan apa yang dilihatnya kepada semua orang ia rela kakinya menginjak kerikil kecil. Nafasnya memburu dengan keringat memenuhi dahinya.
"Laudya?" pekik Satria. Pandangannya mengarah ke kaki Laudya yang saat ini terlihat memerah, ada darah juga yang mengalir di telapak kakinya. Ini karena menginjak kerikil tajam tadi.
"Pak, tolong jangan bawa laki-laki ini." ucapnya sambil tersengal.
Melinda menatap Laudya dengan nanar, ia tak menyangka bisa bertemu dengan teman semasa kuliah dulu. Wanita yang ia benci dari awal bertemu. Karena wanita di hadapannya ini selalu menarik perhatian para lelaki yang disukainya.
"Jelaskan!" petugas keamanan meminta penjelasan.
"Saya tadi di lantai tiga sana." ucapnya sambil menunjuk bangku yang baru didudukinya tadi. Ada seseorang di sana yang sedang menatap ke dirinya juga.
"Itu teman saya, namanya Gina. Kami berdua melihat kejadian di bawah sini."
"Saya gak tau apa yang mereka bicarakan, tapi saya bisa lihat dengan jelas mereka hanya berbicara serius sampai kemudian wanita ini menarik tangan lawannya dan mengendalikan tangan itu untuk menarik paksa blouse yang sedang dia kenakan sendiri." ujarnya menatap Melinda yang kini wajahnya mulai pucat.
Orang-orang yang menonton terlihat saling bisik-bisik kembali.
"Saya gak melihat ada adegan laki-laki ini mencabuli ataupun melecehkan lawannya, gak ada adegan kekerasan, atau pun menarik wanita ini secara paksa. Justru saya kaget tiba-tiba dia teriak mau diperkosa lalu merusak blousenya sendiri dengan mengendalikan tangan lawannya."
Mata sang petugas keamanan kini memicing, menatap Melinda yang sudah mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
"Jadi kalau wanita ini mengaku mau diperkosa dengan menjabarkan bukti blousenya yang rusak, maaf sepertinya wanita ini hanya mengada-ada dengan tujuan untuk memfitnah laki-laki ini, Pak." Panjang lebar Laudya menjelaskan, membuat Satria terenyuh seketika.
"Huuuuuuuu, ternyata cuma fitnah! dasar perempuan licik!"
"Ya ampun kayanya perempuan ini gila deh!"
"Huuuuu malu-maluin."
Sorak dari orang-orang yang menonton kejadiannya terdengar. Wajah Melinda merah padam, rasa malu itu menjalar ke dalam dirinya ibarat air yang mengalir dari pancuran kemudian membasahi seluruh badan.
Sedangkan orang-orang tidak berhenti menyorakinya, bahkan ada yang memfoto dirinya. Matanya memerah menatap Laudya dengan pandangan penuh dendam, sebelum akhirnya ia memilih lari karena terus disoraki orang-orang yang mengelilinginya.
"Perempuan gila!"
"Stress kali dia ditolak cintanya sama si mas ini."
"Sebagai sesama wanita, gue malu sama tingkah laku tuh cewek!"
"Maaf ya mas kita udah nuduh mas sebagai pelakunya."
Borgol di tangan Satria kini dilepas. Kumpulan orang-orang yang awalnya ramai kini mulai bubar satu persatu.
"Mas gapapa?" sapa Laudya terlihat khawatir.
"Kenapa kamu yang tanya? Harusnya aku yang bertanya ini ke kamu, Laudya." Wajah Satria nampak sendu, pandangannya hanya fokus pada kaki Laudya yang berdarah.
"Kaki kamu berdarah."
Laudya mengalihkan pandangannya ke bawah, ekspresinya terlihat kaget. Sepertinya dia baru menyadari kakinya sampai berdarah karena terburu-buru mengejar Satria yang hampir saja di bawa ke kantor polisi.
"Ehh, kok berdarah? Ahh aku baru sadar. Tapi ini gapapa, kok. Jangan khawatir Mas, tinggal pakai obat merah dan dibalut perban."
"Kita ke dokter, ya?"
Mata Laudya membulat. "Eng ... gak usah usah, Mas. Jangan repot-repot, beneran gapapa kok."
"Enggak, kita harus obatin ke dokter."
"Tapi ...."
"Aku gak mau ada tapi-tapian. Pokoknya harus ke dokter sekarang juga."
Laudya terdiam, sepertinya dia tidak bisa membantah lagi. Seperti dulu, apapun yang Satria katakan wanita itu memang tidak pernah bisa membantah. Karena apapun yang laki-laki itu lakukan, akhirnya dia sadar bahwa itu semua adalah demi kebaikannya.
Langkahnya sedikit pincang karena baru terasa sakitnya. Satria membantu memapah, tanpa saling mengetahui bahwa sebenarnya jantung keduanya sama-sama sedang berdebar kencang.
***
"Jadi Mas pacaran sama Melinda setelah putus sama aku?" Laudya menatap tak percaya pada laki-laki di hadapannya yang hanya mengangguk lemah.
"Ya ampun Mas, kok bisa, sih? Asal Mas tau aja, di kampusku dulu Melinda udah terkenal sebagai cewe matre dan punya banyak pacar. Setiap hari Melinda suka diantar sama cowok yang beda-beda, teman sejurusan aku udah mem-blacklist Melinda sebagai wanita yang harus dihindari."
Kali ini Satria yang menganga, tidak menyangka bahwa begitu hitam rekam jejak hidupnya dulu.
"Waktu SMA, dia gak terkenal begitu. Yang Mas tahu dia wanita supel, ramah dan akrab sama semua orang. Tapi karena Mas satu kelas lebih tinggi darinya, mas lulus duluan jadi gak terlalu mengenal dia dekat. Apalagi dia anak baru saat itu, tapi dia dikenal sama semua orang karena memang pembawaannya yang supel."
Laudya manggut-manggut mengerti.
"Lalu ... kalian putus kenapa?" tanyanya seperti ragu.
"Karena mas sudah tahu bagaimana wataknya dia, puncaknya mas tahu benar ularnya perempuan itu saat kejadian barusan. Mas gak tau lagi, kalau gak ada kamu tadi mungkin Mas sekarang lagi diinterogasi sama polisi."
Keduanya terdiam dengan suasana canggung.
"Laudya?"
"Ya?"
"Makasih sudah menyelamatkan mas tadi."
"Itu memang udah menjadi kewajiban aku, karena aku melihat bagaimana kejadian sebenarnya, jadi wajib bagi aku untuk menyuarakan kebenaran itu, Mas."
Satria tersenyum, lalu menggeleng pelan.
"Kok senyum-senyum, Mas?" tanya Laudya yang curiga melihat Satria tersenyum.
"Kamu itu gak pernah berubah!"
"Apanya?"
"Sikap kamu yang gak pernah bisa buat lihat sesuatu yang menurut kamu gak adil. Pasti kamu akan berusaha untuk menyuarakan hal itu."
Kini Laudya ikut tersenyum, memang benar apa yang dikatakan Satria.
"Kan kita memang harus begitu Mas. Masa kita mau diam aja lihat kezoliman di depan mata?"
Satria mengangguk.
"Iyah memang harus begitu, dan teruslah seperti itu. Ya?"
"Pasti."
Keduanya saling melempar senyum, hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan.
"Mas udah gak marah sama aku?"
Mendengar pertanyaan Laudya, Satria jadi teringat sesuatu. Hal yang selama ini mengusiknya, bolehkah ia membahasnya lagi sekarang ini?
"Kalau mengingat kejadian itu, bolehkah mas bertanya sekali lagi?"
"Apa?"
"Bagaimana kejadian yang sebenarnya saat itu?"
Laudya tahu apa yang dimaksud 'saat itu' oleh Satria.
"Dari dulu jawabanku gak berubah, Mas. Itu semua salah paham. Aku gak berbuat seperti yang mas kira. Aku gak berkhianat. Apa yang terjadi saat itu karena memang benar temanku hanya niat membantu mataku yang kemasukan sesuatu. Mas hanya melihat dari belakang, andai waktu itu mas lihat dari arah samping pasti mas gak akan putusin aku waktu. Karena semua yang terjadi itu memang begitu adanya." ujar Laudya panjang lebar.
"Tapi kalau mas gak percaya sama penjelasanku, gapapa. Itu hak mas mau percaya atau enggak. Kewajibanku hanya berkata jujur." lanjutnya sendu.
"Tapi bagaimana kalau kali ini mas percaya sama kamu?"
Mata Laudya membulat, wajahnya memerah.
"Aku ... aku sangat berterima kasih untuk itu."
"Lalu hubungan kita ... apa bisa kembali seperti dulu?"
Laudya terdiam, lalu seulas senyum mengembang di bibirnya yang tipis.
"Dari awal aku gak pernah mau hubungan kita kandas. Perpisahan itu mas yang inginkan. Kalau akhirnya mas percaya sama aku dan menginginkan hubungan kita seperti dulu, aku ... aku gak akan menolak mas."
Satria tersenyum lebar, lalu tertawa.
"Makasih ya sayang?"
Laudya mengangguk dengan mengulum senyum, pipinya merona. Antara malu dan bahagia menjalar di hati gadis itu. Malam ini ia tak menyangka, bisa kembali lagi pada laki-laki yang sebenarnya belum bisa ia lupakan.
***
Melinda melangkahkan kakinya dengan gontai, malam ini ia merasa begitu sial. Sudah usahanya gagal menjebloskan Satria ke penjara ditambah ia harus menanggung malu karena ia sendiri yang terbukti bersalah dan ketahuan sudah memfitnah laki-laki itu. Masih begitu terngiang di telinganya saat orang-orang menyorakinya dengan lantang, mengatainya sebagai perempuan licik bahkan sampai dikatai wanita gila.
Semua kesialan yang dialaminya malam ini, diperparah pula dengan diturunkannya ia di tengah jalan, lantaran sopir taksi yang mengantarnya pulang tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai ke tempatnya karena sang sopir dikabari bahwa istrinyaakan melahirkan sebentar lagi.
"Sopir taksi sialan!!! Gak bertanggung jawab nurunin gue di tengah jalan. Emang sih gak bayar, tapi tetap aja gue jadi jalan!!! Ini juga kenapa jalanan jadi sepi banget sih! Mana taksi yang lain? Sialan banget malam ini!" rutuknya sendirian.
Ingatannya kembali pada kejadian di depan cafe tadi. Sumpah serapah tidak berhenti keluar dari mulutnya, merutuk sopir taksi yang membuatnya harus turun di tengah jalan dan berjalan kaki, merutuk Laudya yang sudah menggagalkan usahanya, dan merutuk Satria yang sudah memutuskan hubungan mereka.
"Awas kamu Laudya, aku pasti akan balas dendam ini! Dari dulu kamu selalu jadi hambatan, enaknya diapain ya wanita seperti kamu ini?"
"Kamu juga Satria, malam ini kamu masih beruntung lepas dari jebakan yang aku buat. Lain kali aku akan cari cara lain untuk membuat kamu menderita. Dan aku gak mau berhenti, kalau belum melihat kamu jatuh dan sengsara." sumpahnya begitu jahat.
Di tengah langkahnya, terdengar deru mesin motor yang mendekat. Melinda menoleh, seorang pengendara motor menepi dan mendekat ke arahnya.
"Ojek, Mbak? Kebetulan saya ojek." tanyanya ramah sambil mengulas senyum. Pengendara yang memakai helm itu terlihat sudah cukup tua sama seperti motornya yang sudah usang.
Melinda memicing, tak disangka bukannya bersyukur ada yang bisa ditumpanginya di tempat sepi seperti itu, wanita itu malah mendecih.
"Amit-amit saya naik motor butut kaya gitu! Pulang-pulang bisa gatel sekujur badan saya! Asal bapak tau aja ya, lebih baik saya jalan kaki daripada naik motor sama bapak!" sentaknya begitu menyombongkan diri hingga bapak tua di hadapannya sangat kaget.
"Astaghfirullah sombong banget Neng jadi orang. Silakan jalan kaki aja Neng sampe pincang sekalian." ucap laki-laki paruh baya itu merasa sakit hati.
"Heh sembarangan kalo ngomong, dasar tua-tua bau tanah!"
Bapak tua itu hanya bisa menggelengkan kepala, merasa tak perlu untuk menjawab makian seorang manusia yang jauh lebih muda darinya. Sungguh, apa yang dilakukan Melinda tidak bermoral sama sekali!
"Saya kasih tau ya Neng, di depan sana kalau sudah malam begini banyak laki-laki yang mabuk." ujar bapak tua lalu langsung kembali menancap gas.
"Emangnya kenapa kalau banyak orang pada mabuk? Masalah buat gue? Gue ganggu enggak, ngelarang enggak, ngapain kasih tau gue segala!"
Melinda tidak berpikir jauh, yang ada di pikirannya adalah memang apa urusannya orang mabuk dengan dirinya? Tidak ada.
Wanita berusia 26 tahun itu tak memikirkan, bahaya apa yang akan menantinya jika berhadapan dengan pria mabuk nanti.
***