"Rinda beritahu aku, siapa nama laki-laki tadi? Kau ini dari tadi ditanya diam saja! Menyebalkan, huh!" Susi sedari tadi terus berceloteh, dia sangat penasaran dengan laki-laki yang telah menarik perhatiannya itu. Sedangkan Rinda sangat gemas dengan makhluk astral yang satu ini, mengapa Susi tidak juga mengerti bahwa saat ini mereka sedang berada di tempat ramai, yang mana jika ia berbicara dan menjawab pertanyaan Susi bisa-bisa akan mengundang keheranan orang di sekitarnya. Bisa-bisa ia dibilang aneh, gila dan sebagainya. Makanya, apapun yang Susi tanyakan ia diam saja.
Dia pikir membawa Susi ke kampus, bisa menyenangkan baginya. Tapi ternyata Susi sangat bawel, yang awalnya ketika diajak ia selalu menolak dan malas, sekarang malah begitu semangat dan antusias.
Bahkan beberapa kali tadi kupingnya dikelitik sampai ia kegelian, mau memukul atau menghindar dari gangguannya tapi tangannya selalu menembus angin. Jadilah ia belajar sangat tidak fokus dan tidak bisa menerima materi dari dosen dengan baik.
Rinda mencibir kesal, esok-esok ia tidak mau membawa Susi lagi. Itu sangat mengganggu.
Barulah saat waktunya istirahat, Rinda segera bergegas ke belakang kampus, mencari tempat yang sepi. Susi mengikuti.
"Dari tadi kau ditanya diam saja, dasar menyebalkan!" ucap Susi mengungkapkan kekesalannya.
"Kau yang menyebalkan, dasar Kunti kecentilan. Sudah tahu aku sedang berada di tempat ramai, kau malah memberondongku dengan pertanyaan yang tidak penting. Kalau aku menjawabnya, bisa-bisa aku disangka gila tahu karena bicara sendirian! Gara-gara ulahmu aku jadi tidak konsen belajar. Huhhh!" ungkap Rinda panjang lebar.
Susi terdiam sambil menunduk, tangannya saling bertaut seperti anak kecil. Kali ini ekspresinya menyiratkan rasa bersalah.
"Maaf aku tidak berpikir ke sana, aku pikir kau diam saja karena kau tidak mau memberitahuku. Aku pikir kau juga menyukai laki-laki itu. Makanya aku terus mengganggumu. Maaf Rinda."
Rinda menghela nafasnya,
"Hah sudahlah! Informasi apa yang kau ingin tahu sekarang?"
Susi mulai terlihat antusias kembali.
"Aku mau tahu siapa nama laki-laki yang tadi."
"Namanya Arga. Arga Aliftian. Dia seorang Ketua BEM di kampus ini."
"Terus apa lagi yang kau tahu?"
"Dia seorang pemikir logis dan tidak mempercayai keberadaan makhluk halus seperti kamu."
Kali ini mata Susi membulat.
"Orangnya sangat menyebalkan karena sering menjahiliku. Setiap bertemu pasti mengajakku berdebat. Pokoknya dia menyebalkan, huh!"
"Hmmmm sangat menarik." ucapnya dengan senyumnya yang khas, senyum yang terlihat seperti menyeringai.
"Aku pergi dulu, Rinda." ucapnya sambil melesat pergi.
"Hey mau kemana?" Rinda berteriak tapi tak mendapat jawaban apapun dari wanita tersebut yang sudah terlanjur dibuat jatuh cinta oleh laki-laki menyebalkan bernama Arga.
Di tempat lain Arga sedang berkumpul dengan teman-temannya, Susi menghampiri empat orang tersebut yang sedang berada di perpustakaan kampus di lantai tiga. Suasana begitu sepi, ada buku yang diperlukan untuk materi presentasi sehingga mereka nampak berjibaku dengan buku-buku dalam rak tersebut. Iseng, Susi meniup salah satu tengkuk dari mereka, tapi tidak ada reaksi apa-apa. Lalu berusaha untuk meniup tengkuk laki-laki di sebelahnya, kali ini laki-laki tersebut langsung celingukan dengan wajah heran.
"Kok tiba-tiba merinding, ya?" ucapnya pada yang lain, tapi mereka hanya melirik sekilas karena detik berikutnya mereka langsung fokus dengan buku kembali.
Lagi Susi tidak mau menyerah, ia meniup salah satu dari mereka lagi, dan targetnya pun kini merasakan hal seperti temanny tadi.
"Kok gue juga jadi merinding, sih."
Lalu dengan cepat ia juga beralih ke Arga dan meniup tengkuknya, tapi tidak ada reaksi apa-apa dari laki-laki itu.
"Loe juga ngerasain yang gue rasain, Rul?"
"Iya, anjirrr kenapa nih!"
Arga melirik mereka, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Merinding apanya, sih? Lebay banget loe pada!"
"Loe belum ngerasain aja, sih!"
"Kayaknya di sekitar kita ini lagi ada sesuatu deh."
"Gue juga ngerasain kita itu kaya lagi diawasin."
"Eh loe berdua bikin gue takut aja."
Tapi lagi lagi hanya Arga yang tidak terusik sama sekali. Di saat ketiga temannya nampak resah, hanya dia yang masih terlihat santai.
"Loe kalo takut duluan, gih! Gue masih asik nih sama materi ini."
"Anjir loe gak takut, Ga?"
"Takut apaan? Setan? Mana ada setan di siang bolong begini."
"Anjiirrr dia kan emang gak percaya begituan, bro!"
"Iya gue baru inget, dia gak percaya adanya makhluk halus."
"Iya semua hal itu ada penjelasan ilmiahnya, kalo loe ngerasa bulu kuduk loe berdiri berarti ada jaringan rambut yang lagi bekerja karena suhu rendah. Pokoknya bagi gue, gak ada itu setan." ucap Arga yang tanpa sepengetahuannya membuat Susi semakin penasaran dan mulai menyusun rencana untuk menggagalkan segala prinsipnya itu.
"Hah dasar kalau ngomong sama dia pasti selalu berhubungan dengan materi, Bro."
"Iya. Ketemu ama setan muka rata baru tahu rasa loe, bro!"
"Mana ada!" ucap Arga sambil tertawa, membuat ketiga temannya itu menggelengkan kepala.
Mereka memutuskan untuk pergi duluan dari tempat itu, meninggalkan Arga sendirian yang masih sangat fokus sampai keningnya mengkerut karena saking fokusnya.
"Jadi benar ya kamu itu gak percaya sama keberadaan kami." ucap Susi sambil menatap Arga.
"Oke akan kutunjukkan sama kamu keberadaanku sekarang, hihihi ...."
Susi meraih buku yang berada dalam rak, lalu menjatuhkannya.
Bugh!
Suara jatuhnya membuat Arga langsung menoleh, matanya memicing melihat buku yang jatuh entah kenapa. Tiada orang, tiada angin tiba-tiba jatuh. Lalu ia kembali menjatuhkan buku yang lainnya dengan frekuensi yang cepat. Kini mata Arga membulat melihat di depan matanya buku jatuh satu persatu.
Lalu Susi mengambil salah buku tersebut, menerbangkannya. Kini Arga melotot melihat buku yang melayang. Ia memeluk buku yang digenggamnya erat, rasa takut mulai menghampirinya.
Ada apa ini? Kenapa mereka melayang dengan sendirinya? Berbagai tanya berkecamuk dalam pikirnya. Bulu kuduknya langsung meremang. Seumur hidup ia baru melihat kejanggalan di luar nalarnya ini.
Lalu buku di tangan Arga pun mulai melayang, buku tersebut seakan mempunyai sayap. Arga mulai berdebar, jantungnya berdetak cepat tak karuan. Suasana begitu sepi di lantai luas tersebut, hanya dia seorang.
Dugh!
Dugh!
Dugh!
Kini suara aneh itu berasal dari rak di belakangnya. Seperti kayu yang sedang ditendang-tendang. Dalam hati ia berucap, semua pasti ada penjelasan ilmiahnya! Semua pasti ada penjelasan ilmiahnya!
Ragu, kepalanya menoleh. Kini ia harus dibuat menganga saat melihat sebuah kaki pucat tengah uncang-uncang tiada henti di rak buku yang paling tinggi, duduk di atas buku-buku ensiklopedi. Kepalanya menunduk, hingga wajahnya tertutupi rambut, gaun putih menghiasi tubuhnya.
Dalam keadaan seperti ini, ia masih berusaha berpikir logis. Itu pasti temannya yang iseng mengerjai dirinya. Ia pasti sedang diprank.
"Siapa kamu?" tanya Arga begitu berani, meski begitu sebenarnya hatinya sudah merasakan ketakutan. Tapi dia butuh penjelasan untuk kejadian ini.
Sosok yang ternyata Susi itu perlahan mengangkat kepalanya, terlihatlah rupa pucat itu dengan lingkar mata hitam yang menyeramkan. Arga melotot melihatnya, baru kali ini ia melihat rupa yang menyeramkan seperti itu.
"Khi ... khi ... khi ... khi."
Sosok tersebut tertawa cekikikan hingga memekakkan telinga. Arga tahu, kali ini segala prinsipnya itu adalah salah. Dengan cepat ia berlari ke lantai bawah yang sialnya terasa begitu jauh. Sedangkan tawa dari sosok tersebut tidak berhenti terdengar di telinganya.
Sampai di lantai dua ia tidak sengaja menabrak seseorang. Larinya begitu terburu hingga tidak memperhatikan yang lain.
"Ma-maaf." ucapnya tergagap.
Sampai di lantai satu ia langsung ke pintu keluar, di sini sudah ramai orang.
Apa yang barusan terjadi itu? Kepalanya menoleh, melihat ke jendela lantai tiga. Matanya kembali melotot saat sosok wanita tadi muncul di jendela sambil melambaikan tangan padanya. Sosok itu tersenyum menyeringai, gigi-giginya berwarna hitam. Nafasnya tak beraturan, ia menyenggol lengan seorang laki-laki adik tingkatnya yang sedang bermain ponsel.
"Ada apa, Kak?" tanyanya.
"Jendela di lantai tiga itu ada siapa, ya?" tanya Arga. Ia ingin tahu apa orang lain juga melihat sosok tersebut. Kepala adik tingkatnya itu menoleh, mengikuti arahannya. Detik kemudian dia menggeleng.
"Gak ada siapa-siapa, Kak."
Deg!
Mendadak perutnya dibuat keram, padahal dia melihat betul sosok itu berjalan menjauh. Bukan, bukan berjalan. Melainkan melayang!
Arga terduduk seketika. Wajahnya pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. Deru nafasnya tak beraturan, beberapa orang pada menghampiri.
"Kenapa, Kak? Sakit?"
"Kakak Ketua sakit, ya? Ayo kuantar ke ruang kesehatan."
Kini ucapan orang yang mengelilinginya seperti suara lebah yang mengiung-ngiung saja. Semuanya tidak ada yang bisa cerna dengan baik, ia tidak habis pikir bisa ada kejadian seperti ini. Apa prinsipnya selama ini akan luntur dari dirinya setelah semua yang ia lihat?
Di tempat lain, Rinda begitu kesusahan mencari Susi. Entah kemana wanita itu, Rinda dibuatnya kelimpungan. Gadis 20 tahun itu sudah memutari kamar mandi, tapi tak ada. Ke belakang gudang kampus, tidak ada. Ke setiap kelas, tidak ada juga. Ke gedung fakultas lain, tidak ada juga. Kali ini langkahnya menuju gedung perpustakaan. Ia akan mencari ke taman belakang perpustakaan, mungkin saja saat ini teman gaibnya itu sedang berkenalan dengan Susan.
"Dasar Susi menyebalkan! Membuatku repot saja! Awas ya kau, besok aku tidak mau mengajakmu ke sini lagi! Membuatku capek saja karena harus mencarimu kemana-mana." gerutunya lirih.
Langkahnya cepat menuju gedung perpustakaan, tapi ia dibuat penasaran dengan beberapa orang yang sedang berkumpul. Dari sini ia melihat, ada seseorang yang sedang duduk dengan wajah pucat pasi dan dikelilingi oleh beberapa orang.
"Itu kan si kating rese." gumam Rinda. Sepertinya tiada hari tanpa bertemu dengan laki-laki rese itu.
"Kak, pakai minyak anginku, ya?" ucap seorang gadis sambil menyodorkan botol minyak angin, dari gadis itu menguarkan warna merah muda di sekitarnya.
Rinda tersenyum kecut.
"Wow ada cinta di sana!" ucapnya lirih.
"Kak ini minum dulu. Minuman ini belum kuminum, kok."
Wanita lain menyodorkan botol air mineral, dari dia juga menguarkan warna merah muda.
"Ada banyak cinta untuk laki-laki menyebalkan ini, ish!" kembali Rinda menggumam sebal.
Ada warna-warna lain dari orang-orang yang mengelilingi Arga, tapi lagi-lagi Rinda dibuat heran saat melihat Arga yang tidak menguarkan warna apapun. Dilihatnya wajah yang pucat itu, Rinda tahu ada sesuatu yang terjadi pada laki-laki itu. Entah dia sedang sakit, atau sedang ketakutan tapi tidak bisa Rinda lihat.
"Kenapa aku gak bisa lihat warna perasaan dia? Kenapa aku gak bisa baca pikiran dia? Kenapa juga aku gak bisa dengar suara hatinya?" tanya Rinda dalam gumamnya.
Tak lama kemudian sosok yang dicari pun muncul dari arah pintu perpustakaan. Wanita itu melayang dengan senyum lebar, menatap Rinda seperti sedang diliputi kebahagiaan.
"Rinda!" Panggilnya senang.
Rinda hanya menatap dia tanpa ekspresi maupun menyahut.
"Lihatlah laki-laki ini! Aku berhasil mematahkan prinsipnya! Lihat wajahnya sampai begitu pucat karena ulahku! Khi ... khi ... khi ... khi ...."
Susi?
Deg!
"Ya ampun, kau!" ucap Rinda sambil menepuk jidat.
***