"Susi kau ini baru diajak sekali, tapi sudah banyak tingkahmu yang membuatku resah." omel Rinda saat kuliahnya sudah selesai.
Ia sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas, sedangkan kelas sudah sepi karena teman-temannya sudah meninggalkan kelas tersebut.
"Apanya sih yang meresahkanmu? Kau mengada-ada saja."
"Satu, kau selalu menggangguku selama proses belajar, aku jadi tidak konsen! Dua, kau menghilang entah kemana, aku takut kau sedang dijahati oleh makhluk lain. Kau membuatku kelimpungan juga kelelahan karena sudah mengitari satu kampus hanya untuk mencarimu! Tiga, kau telah berbuat jahat dengan menakuti kating rese itu."
"Wah wah wah ... banyak sekali kesalahanku itu." Susi mencibir.
"Memang! Dari itu aku tidak mau mengajakmu lagi besok!"
"Enak saja! Aku mau datang setiap hari ke sini."
Mata Rinda membulat, menatap Susi yang sedang bersiul-siul.
"Aku tidak mau membawa kamu."
"Aku akan datang sendiri, wleeeee!!!"
Gigi Rinda bergemeletuk, kesal sekali dengan sosok di hadapannya.
"Dasar kau kuntilanak rese!"
"Dasar kau juga manusia pelit!"
"Heh berapa sih usiamu?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau seperti bocah umur enam tahun yang sangat sulit diatur!"
"Eh aku sudah dewasa tahu!"
"Tapi sikapmu tidak mencerminkan kalau kau sudah dewasa."
"Oh ayolah, apa yang harus aku lakukan supaya aku jadi terlihat dewasa?"
"Jangan bersikap kekanakan! Itu saja!"
"Tapi sikap kekanakan itu apa saja?"
"Heh, kalau kau memang sudah benar-benar dewasa kau pasti bisa membedakan mana yang kekanakan, mana yang tidak. Kalau kau masih bingung, artinya cuma satu, kau masih kekanakan!"
"Hiiiihhhhh!"
Kali ini Susi juga nampak gemas, kuku-kukunya yang panjang itu membentuk cakar yang siap menerkam karena gemas. Melihat itu, Rinda terlihat tidak takut sama sekali. Sebab ia tahu Susi tidak akan melukainya.
"Apa? Kau mau menyerangku heh?" tantang Rinda sambil memajukan kepalanya.
"Dasar kau sangat menyebalkan!"
"Kau juga sama!"
"Ya sudah kita sama-sama menyebalkan."
Rinda mengangkat tasnya dan meletakkannya di punggung, lalu gadis itu berjalan keluar kelas sedangkan Susi masih di tempatnya. Ia tidak mau pulang bersama dengan Rinda, ia bisa pulang sendiri. Ya, Susi sedang ngambek.
Rinda sendiri memilih pulang duluan, kampus sudah sepi. Mulai hari ini ia berangkat sendiri tidak diantar oleh sopir yang kakaknya suruh. Pulang pergi dengan taksi.
Langkahnya berjalan melewati gerbang kampus. Tanpa ia sadari seseorang sudah berjalan mengikutinya dengan senyum menyeringai.
Dialah Nathan laki-laki yang memiliki dendam dan ambisi terhadap Rinda. Baginya Rinda itu sangat cantik dan penurut, dia juga sangat asyik dan bisa membuat Nathan bahagia. Kalau boleh jujur, laki-laki itu sebenarnya sangat menyukai sosok Rinda yang begitu sempurna di matanya. Tapi ia tak bisa menyangkal, ada beberapa gadis lain juga yang ia sukai. Apalagi Yuni, yang telah memberinya kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh yang lainnya. Gadis itu juga sangat penurut, tapi wajahnya tidak secantik Rinda. Pokoknya, di matanya Rinda adalah yang terbaik dari yang baik.
Dia memang pria b******k, selain memacari banyak perempuan dia juga suka 'ngisep' di belakang kampus. Tapi baginya memangnya kenapa kalau dia ngisep? Toh tidak merugikan orang lain, konsekuensinya dia yang menanggung.
Laki-laki yang mengakui bahwa dirinya b******k itu kini tengah sakit hati. Sakit hati yang begitu dalam karena diputusi oleh Rinda. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa melepaskan Rinda? Di antara beberapa nama dalam hatinya, nama Rindalah yang mempunyai tempat terluas di hatinya itu.
Rasa sakit hati dan tidak terima diputusi oleh wanita pujaannya membuatnya merasa dendam. Hari ini ia akan berencana menculik gadis itu, dan menyekapnya dalam gudang yang sudah ia booking. Apa yang akan terjadi nanti? Tergantung dengan mood-nya. Yang terpenting baginya adalah culik saja dulu.
Langkahnya berjalan tanpa suara. Di tangannya ia memegang sapu tangan yang sudah dicampuri dengan obat bius. Kalau sudah dihirup oleh Rinda, bisa dipastikan gadis itu akan langsung pingsan. Satu temannya yang telah ia ajak untuk membantu rencananya kini membuntuti dengan menyetir mobil. Kalau target sudah kena, maka mobil akan sigap.
Sedangkan tanpa mereka semua sadari, Arga melihat itu semua. Melihat Rinda di kejauhan sana yang berjalan sendirian, lalu Nathan yang sedang berjalan perlahan dan sesekali bersembunyi di balik pohon atau tembok, dan temannya yang mengikuti di mobil.
Suasana kampus memang sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa dosen dan dirinya saja, sedangkan mahasiswa dan mahasiswinya sudah pada pulang. Arga sendiri baru saja membuat laporan kepada Dosen Bidang Kemahasiswaan mengenai rencana seminar kampus yang akan diadakan seminggu ke depan.
Laki-laki itu memicing saat melihat rantai-rantai yang saling berhubungan di hadapannya. Ia tahu, bahwa Rinda sedang dalam masalah.
Arga menghembuskan nafas,
"Lagi-lagi si cewek jadi-jadian itu, dan lagi-lagi si tukang rusuh itu. Huhhhh!!! Biar kali ini gue hajar sekalian, biar dia tahu rasa." ucapnya sambil berjalan mendekati.
Sampai di mana Rinda melewati tempat yang begitu sepi, Nathan langsung berlari dan menangkap Rinda. Tangannya membekap mulut gadis itu dan langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah ia persiapkan.
"Mmmmpppppttttt ...." Rinda kaget saat dirinya tiba-tiba di sergap oleh orang yang entah siapa. Menghirup sapu tangan yang tiba-tiba membuatnya sedikit lemas, membuatnya refleks langsung menahan napasnya. Matanya melotot sambil mencoba melepaskan diri dari sergapan orang di belakangnya.
Berdasarkan dari adegan film-film yang pernah ia tonton, untuk bisa lepas dari keadaan seperti ini maka ia harus memainkan sikutnya atau menendang dengan kakinya ke arah belakang. Maka ia langsung mengarahkan sikutnya ke bagian tengah dari tubuh laki-laki tersebut. Dan hal itu tepat mengenai ulu hatinya.
Nathan merasakan sakit di bagian ulu hatinya tersebut, membuatnya terbatuk seketika. Masker, topi, dan kacamata hitam yang membalut penyamarannya terasa sia-sia karena mendengar batuknya saja ia sudah tahu bahwa laki-laki itu sudah pasti Nathan.
"Nathan?" seru Rinda begitu kaget.
"Kau masih mengincar ku rupanya?" cecarnya dengan wajah beringas.
"Memangnya kenapa?" Kali ini Nathan secara terang-terangan melepas kacamatanya, dan tanpa takut melayangkan pertanyaan tersebut.
"Kalau ketahuan olehmu sekalipun, aku tetap akan menculikmu." ucapnya lalu kembali membekap Rinda yang belum siap karena masih syok. Gadis itu berusaha mati-matian untuk bisa lepas. Dan lagi-lagi ia harus menahan napasnya supaya tidak menghirup obat bius tersebut, yang mana jika terhirup bisa langsung membuatnya tidak sadar dalam sekejap. Jika itu terjadi, ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengannya nanti.
"Seseorang tolonglah!" Rinda membatin, kali ini air matanya menetes. Ia takut, sedangkan tenaga Nathan kuat sekali untuk ia lawan.
"Sialan lama banget gak mau pingsan juga!" maki Nathan yang masih sibuk karena selain Rinda tidak mau pingsan, gadis itu juga masih sibuk melawan.
"Seret ke mobil, Bro." ucap temannya lalu membukakan pintu belakang yang langsung diangguki oleh Nathan. Rinda merasakan dirinya terseret karena ditarik Nathan, satu tarikan napas membuat tubuhnya semakin lemas. Dalam keadaan seperti ini, ia merasa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Sampai akhirnya sebuah tendangan, membuat Nathan limbung dan hampir tersungkur ke depan. Sedangkan Rinda benar-benar tersungkur ke depan dan terduduk di tanah. Gadis itu terbatuk-batuk seketika.
Pandangannya menoleh, melihat di depan matanya kini ada Arga yang tengah menghajar Nathan. Satu pukulan mendarat di wajah Nathan, belum sempat membalas pukulan kedua sudah menyusul.
"Loe selalu buat masalah, ya? Gak ada kapoknya dari dulu!" Arga berucap berapi-api. Baru kali ini Rinda melihat ekspresi laki-laki itu yang begitu memancarkan kemarahan hingga membuatnya membekap mulut. Sedangkan temannya Nathan di dalam mobil yang melihat kejadian itu langsung keluar dan bermaksud membantu Nathan.
Buru-buru Rinda melihat ke sekitar, mencari sesuatu yang bisa membuat temannya Nathan itu tidak bisa membantu temannya. Ia mendapati sebuah batu, lalu dilemparkan begitu saja ke arah teman Nathan.
Plak!
Timpukan tepat mengenai pelipis laki-laki tersebut yang langsung menghentikan langkahnya.
"Arrggghhh!" erangnya kesakitan sambil memegangi pelipisnya. Dunianya berputar sesaat, ia merasakan pusing. Sedangkan darah mengucur dari pelipisnya.
Sedangkan Nathan sendiri dibuat kewalahan karena tak bisa melawan. Ia tidak menyangka ternyata Arga sangat tangkas dan cepat. Serangannya begitu cepat dan tak terbaca, dalam hitungan menit bogem mentah itu sudah lebih dari lima kali mendarat di wajahnya. Rasa nyeri menjalari bagian pipinya, dan sudut bibirnya pun terasa basah. Ia meludah, ludahnya memerah karena darah.
Ekspresi Arga masih memancarkan kemarahan,
"Bangun sini, ayo kita selesaikan dengan jantan. Loe gak bisa ditegur dan diperingati ya, biar tonjokan gue aja yang buat loe kapok. Bangun sini!" gertak Arga dengan mata melotot tajam.
Rinda yang melihat itu semua merasakan ketakutan tersendiri. Nathan terduduk, ia merasa jika melanjutkan pertarungan yang tidak imbang ini sudah pasti ia kalah. Matanya balas melotot melihat Arga penuh dendam.
"Loe lagi, loe lagi yang selalu mengacaukan rencana gue. Emang b******k loe!"
"Loe yang b******k. Selalu buat gaduh dimana-mana. Loe buat malu kampus, sebagai teman satu angkatan gue malu punya teman kaya loe."
Deg!
Kalimat Arga begitu menusuk, menyulut kobaran api di hati Nathan. Dari awal ia sangat membenci Arga yang selalu menghalangi rencananya, kini ia menjadi dendam. Ya dendam. Dendam yang harus ia balas.
Sedangkan temannya Nathan yang ditimpuk oleh Rinda itu kini menatap Rinda tajam, luka di pelipisnya terasa sakit sekali.
"Apa? mau kutimpuk lagi?" tantang Rinda setengah takut. Tangannya meraba-raba tanah di sekitarnya, sedangkan tatapannya tidak teralih pada laki-laki yang ia timpuk tadi. Dan dapat, sebuah batu yang lebih besar dari tadi berhasil ia genggam.
Melihat hal itu, temannya Nathan bergidik ngeri. Jujur ia mengakui kelihaian Rinda dalam melempar itu sangat tepat sasaran. Merasakan ketakutannya, akhirnya ia berucap,
"Nathan kita pulang aja, kita kalah!" ucapnya pura-pura mengakui kekalahan. Nathan langsung menengok tidak terima, hampir saja ia menolak tapi temannya itu langsung berkedip memberi isyarat.
Melihat kedipan itu, Nathan tahu bahwa temannya pasti punya rencana, karena mereka tidak mungkin mengalah begitu saja apalagi sampai kalah.
Nathan mengakui, kali ini mungkin mereka tidak mungkin menang. Untuk bisa mengalahkan Arga harus dengan rencana yang benar-benar matang. Matanya menatap Arga tajam, Arga dan Nathan kedua terlihat saling memandang dengan kobaran api yang terpancar di tatapan masing-masing.
Nathan meludah, dalam hatinya saat ini biarlah ia mundur dulu, untuk sebuah rencana yang lebih besar lagi. Laki-laki di hadapannya ia pastikan tidak akan bisa tenang. Ia berencana akan membalaskan dendam ini.
"Sekarang kita boleh kalah, lain kali kita balas mereka!" ujar temannya tepat di telinga Nathan.
Keduanya beranjak dan masuk ke mobil, meninggalkan dua orang tersebut. Rinda yang masih terduduk di tanah dengan menggenggam batu. Dan Arga yang masih berdiri dengan tangan mengepal kuat. Mereka akan menyusun rencana yang bisa mengecoh dua orang tersebut.
"Awas kalian!" maki Nathan kemudian.