"Are you okay?"
Arga menghampiri Rinda yang masih terduduk, laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantu Rinda berdiri. Kondisi Rinda nampak lemas, karena obat bius yang sempat ia hirup tadi.
Rinda berdiri dengan sempoyongan, hampir saja terjatuh tapi Arga menahannya dengan tangan. Di luar dugaan Susi melayang menghampiri mereka.
"Rindaaaaa!!!!!!" teriaknya marah, yang tentu saja hanya Rinda yang mendengarnya. Susi melayang cepat menghampiri mereka. Tangannya bersedekap di hadapan mereka sambil menatap Rinda dengan sedikit manyun. Susi cemburu, meski dia hanya makhluk tak kasat mata, tapi dia cemburu. Di depan matanya laki-laki yang ia sukai seperti sedang memegangi Rinda, temannya sendiri.
Rinda tidak menghiraukan sosok tersebut, keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Biarkan Susi tahu sendiri bahwa dirinya tadi sempat dalam keadaan bahaya, harusnya kalau Susi selalu bersamanya dia bisa membantu. Tapi teman astralnya itu malah marah dengan alasan tak jelas, sehingga ia tidak ada bersamanya di saat Rinda dalam keadaan genting.
"Ma-maaf kak, kakiku lemas." ujar Rinda canggung mencoba berdiri tegap. Arga tahu, gadis itu sepertinya sangat shock. Tangannya sampai terlihat gemetar, Rinda sendiri merasakan tubuhnya masih panas dingin dengan jantung berdetak cepat. Rasa takut memenuhi jiwa gadis itu. Ya, memang ulah Nathan tadi berhasil membuatnya ketakutan.
Rinda tidak bisa membayangkan, andaikan Arga tidak datang tadi pasti gadis ini sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dan entah apa yang akan terjadi dengannya. Rinda begitu takut membayangkan, apakah ia akan dibunuh? Ataukah akan dilecehkan? Nathan benar-benar mengerikan.
"Kamu gapapa?" tanya Arga sekali lagi.
"Aku ...."
"Kayaknya kamu lemas banget."
"Emmm iya, tadi ... obat bius tadi sempat terhirup sebentar, jadi kakiku lemas banget."
"Kamu mau dibius?" Kali ini Arga nampak terkejut, matanya sampai membulat. Rinda hanya mengangguk.
"Ya ampun laki-laki itu benar-benar gak bisa diremehkan. Dia bisa berbuat apapun!" ucap Arga dengan geram, tangannya mengepal. Kukunya-kukunya sampai memutih.
"Kita harus lapor polisi!" ucap Arga kemudian.
"Tapi aku gak punya bukti, kak."
Arga terdiam sesaat, benar juga. Mereka tidak punya bukti. Andaikan tadi sapu tangannya jatuh ke tangan Rinda, hal itu bisa mereka jadikan bukti. Sedangkan jalan pun sepi, tidak ada CCTV yang bisa dijadikan bukti.
"Kita ke warung makan yang ada di depan sana, ya."
"Eh mau ngapain?" Rinda nampak bingung.
"Kamu harus minum teh manis hangat, itu obatnya di saat lemas."
Rinda terdiam sesaat, menyadari bahwa Arga sebenarnya laki-laki yang sangat perhatian. Tapi lagi-lagi ia harus mengakui, Arga ada di saat dirinya butuh. Entah kenapa laki-laki itu selalu ada, di saat dirinya diganggu oleh Nathan. Entah kalau tidak ada dirinya, akan jadi apa Rinda saat ini.
"Rinda apa yang terjadi denganmu?" tanya Susi setelah sekian lama diam di antara mereka dan menyimak pembicaraan mereka. Rinda hanya diam saja sambil mengedipkan mata. Memberi isyarat bahwa ia akan menjawabnya nanti. Susi mengangguk.
"Kau diam di sini, aku ambil motor di parkiran kampus." ucap Arga yang langsung diangguki oleh Rinda.
Perlahan Arga berjalan meninggalkan mereka, menuju ke parkiran kampus yang sudah lumayan jauh ia tinggalkan. Karena jarak dari kampus ke tempat mereka saat ini sekitar 200 meter.
"Kau mau naik satu motor dengan Arga-ku?" tanya Susi cemberut.
"Mau bagaimana lagi? Kau ... erghhhh sangat menyebalkan!"
"Iya iya aku mengerti. Tapi sebenarnya apa yang terjadi denganmu barusan? Kenapa kau sampai gemetar begini?"
"Aku tadi hampir diculik Nathan. Aku sempat mau dibius, untung kak Arga datang dan langsung menolongku. Kalau gak ada dia, aku gak ngerti lagi gimana nasibku saat ini." ujar Rinda bergidik ngeri.
Tanpa sepengetahuan Rinda, Arga yang masih berjalan menjauh itu menoleh, melihat dengan mata kepalanya sendiri Rinda berbicara sendiri entah ke siapa.
Sedangkan Susi nampak kaget mendengar penuturan Rinda. "Nathan? Mantan pacarmu yang gak terima diputusin itu?"
"Iya."
"Ya ampun laki-laki kurang ajar, aku harus balas dendam sama laki-laki itu. Kau tenang saja Rinda aku tidak akan tinggal diam. Nanti akan kukerjai dia balik sampai ketakutan setengah mati." ujar Susi begitu berapi-api. Rinda menahan senyumnya, inilah sosok Susi yang ia rindukan, bukan Susi yang cemburuan.
"Lagi lagi dia bicara sendirian, mungkinkah dia itu memang ... berkomunikasi dengan mereka?" gumam Arga sambil berjalan, teringat pada kejadian di perpustakaan tadi siang, ia kembali bergidik ngeri. Mengalami hal tersebut, rasanya segala prinsip kuat yang mengalir dalam jiwanya tentang 'tidak ada makhluk halus, semua kejanggalan yang terjadi itu pasti ada penjelasan ilmiahnya.' luntur sudah. Sebab sekarang, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat, ada sosok mengerikan yang jalannya melayang, buku-buku jatuh dengan sendirinya dan buku si benda mati itu bisa melayang karena ada yang menggerakkannya. Ya dia, si makhluk halus yang telah membuatnya ketakutan.
***
"Ayo naik." ajak Arga saat sudah sampai di hadapan Rinda. Dengan ragu gadis 20 tahun itu sempat melirik ke Susi, Susi mengangguk mantap. Rinda pun menaiki motor Arga.
"Maaf ya motornya jelek, maklum aku suka ngojek kalau selesai kuliah."
Mata Rinda membulat, tidak menyangka seorang Ketua BEM yang baginya petakilan, rese, menyebalkan itu ternyata seorang pekerja keras. Ya setidaknya anggapan Rinda terhadap Arga sekarang sedikit berubah. Rinda langsung menggeleng.
"Enggak, Kak. Justru aku makasih banget kakak sampai serepot ini."
Arga tersenyum, entah kenapa hatinya menghangat. Mereka sampai di sebuah cafe yang sederhana tapi tempatnya teduh dan menenangkan.
"Udah sampai." ujar Arga. Gegas Rinda turun, lalu mengikuti Arga yang berjalan mendahului.
"Nah gitu dong, dibawa pacarnya. Kalau dateng sendirian mulu, atau palingan sama teman cowok. Kaya orang gak laku aja." ujar pemilik cafe yang menyambut kedatangan Rinda dan Arga. Sepertinya orang tersebut sudah sangat mengenal Arga.
Sedangkan mendengar ledekan sang pemilik cafe, Rinda dan Arga nampak terkejut. Mereka membulatkan matanya.
"Pa-pacar?" gagap Rinda menjadi salah tingkah.
"Heh ini bukan pacarku tahu!" sangkal Arga sambil melirik Rinda, takut gadis itu menjadi risih.
"Kalau bukan pacar kenapa bisa diajak ke sini, kalau bukan ada apa-apa gak mungkin loe bawa ke sini. Kenalin dong siapa namanya, by the way cewek loe cantik banget, emang gak salah loe pilih pacar. Hahaha ...." tawanya berderai, Arga menepuk jidatnya atas kesalahpahaman laki-laki yang terlihat lebih tua darinya dua tahun itu.
"Haduhh gak percaya dibilanginnya."
"Yaudah lah kak biarin aja dia salah paham begitu." ujar Rinda cuek sambil tertawa lalu duduk di salah satu bangku yang kakinya tinggi, dekat dengan kolam ikan yang mengucurkan air.
"Kamu tahu aja tempat duduk yang biasa aku tempatin." ujar Arga menyusulnya untuk duduk.
"Ohhh kakak biasa duduk di kursi ini juga?" tanya Rinda yang mendapat anggukan dari laki-laki di hadapannya.
"Gak tau, senang aja sama tempat duduk yang di sini. Adem, menenangkan, dan bikin rileks."
"Setuju banget!"
Tak lama kemudian sang pemilik cafe datang dan menanyakan pesanan mereka. Arga memesan Coffee Americano untuknya, dan teh hangat chamomile untuk Rinda.
"Kalau lemas kau harus minum teh. Kata ibuku teh sangat membantu saat kita lemas. Tapi lemas di sini bukan karena lapar. Soalnya kalau lapar itu harus makan, bukan minum teh." ujarnya sambil tertawa.
"Ish, kakak!"
"Bang Bro, tambah roti bakar dua!" ucap Arga sambil mengacungkan dua jarinya pada pemilik cafe yang ia panggil Bang Bro tersebut.
"Okeee!" sahut sang pemilik cafe dari dapur cafe miliknya.
Tak lama kemudian pesanan datang. Kopi, teh dan roti bakar dihidangkan di antara mereka.
"Silakan Neng Geulis," ucap sang pemilik cafe ramah, Rinda mengangguk dan tersenyum tidak kalah ramah juga.
"Sering-sering ajak pacarnya ke sini, kan saya jadi gak ngenes kalau lihat kamu datang sendiri." lanjutnya kali ini sambil melirik Arga yang langsung dihadiahi Arga dengan tonjokan pelan di bahunya.
"Rese loe, Bang."
"Hahahahaha ...."
Keduanya nampak akrab dan bercanda tanpa canggung.
"Kakak langganan di sini, ya?" tanya Rinda saat sang pemilik cafe sudah berlalu, ia melihat ke sekitar. Kalau dihitung ada 10 meja yang disiapkan di cafe ini, dan ada empat yang terisi.
"Iya, selain tempatnya enak bagiku, di sini juga harganya lebih terjangkau dari tempat lain. Maklum kantong mahasiswa masuknya ke tempat yang sederhana aja. Soal rasa gak kalah sama cafe elite lain. Selain itu pemilik cafe-nya juga sangat ramah, sampai kita jadi seakrab ini."
Rinda manggut-manggut. Tempat yang sangat rekomendasi, pikirnya.
"Jadi kalau sudah selesai kuliah kakak jadi freelancer?"
"Iya, driver ojek online. Mengantar orang atau makanan."
Rinda bertepuk tangan kecil.
"Hebat, itu namanya pekerja keras."
Arga tersenyum. "Aku bukan anak orang kaya, jadi gak boleh manja."
"Hmmm aku tersinggung, soalnya aku manja."
Mereka tertawa sesaat, seakan lupa bahwa biasanya di setiap pertemuan mereka selalu berdebat.
"Kak, makasih banget kakak udah bantu aku tadi. Kalau gak ada kakak, aku gak bisa ngebayangin gimana nasib aku sekarang. Entah Nathan mau ngapain aku. Dan setiap aku diganggu sama laki-laki itu pun, entah kenapa kakak selalu ada dan bantuin aku. Makasih kak," ucap Rinda serius.
Belum pernah Arga melihat Rinda bersikap seperti itu, biasanya Rinda selalu misterius dan ketus. Sisi lain dari gadis yang ia lihat sekarang adalah kalem dan lembut.
"Begitu, ya? Aku gak sadar kalau kamu gak ngomong."
Tiba-tiba handphone-nya berdering, di layar pipih tersebut terlihat ada panggilan dari ibunya. Lekas ia tekan tombol hijau tersebut, dan menempelkannya di telinga.
"Assalamu'alaikum, Bu." sapanya.
'Wa'alaikumsalam. Nak kamu di mana?'
"Aku lagi sama teman minum kopi."
'Ibu mau ke rumah kakak dulu ya, sepupu kamu lagi sakit. Ibu mau jenguk, kasihan sakitnya sudah empat hari ibu belum jengukin.'
"Iya, Bu."
'Hari ini ibu gak masak, kamu beli delivery food ya. Kan kamu tukang delivery food-nya.' canda ibunya sambil terkekeh.
"Ish ibu rese!"
'Hihihi, ya sudah ya ibu jalan dulu.'
"Iya ibu hati-hati."
'Iya, Nak. Assalamu'alaikum.'
"Wa'alaikumsalaam."
Rinda mendengar percakapan Arga di telepon. Ia jadi berfikir, bagaimana rasanya kasih sayang orangtua. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan itu. Wajahnya menjadi mendung saat mengingat orangtuanya yang sudah lama tiada.
"Hey, kok ngelamun?" tanya Arga yang menyadari perubahan ekspresi Rinda.
"Ohh, eh, gapapa." sahut Rinda masih dengan wajah mendungnya.
"Kau gapapa?"
"Gapapa kok, Kak. Aku cuma lagi berpikir, bagaimana ya rasanya punya orangtua. Udah lama aku gak ngerasain hal itu."
Mata Arga membulat.
"Ohh maaf, jadi orangtua kamu ...."
"Iya, mereka sudah lama gak ada, meninggal dalam kecelakaan pesawat saat aku masih kecil, Kak."
"Jadi kamu tinggal sama siapa?"
"Sama kakakku yang laki-laki, dia keluargaku satu-satunya. Cuma dia yang aku punya sekarang."
Arga tidak menyangka gadis di hadapannya sudah tidak memiliki orang tua. Pantas saja selama ini ia selalu bersikap selalu menyendiri. Tak mau membahas sesuatu yang membuat Rinda sedih, akhirnya Arga mengalihkan topik.
"Kalau ibuku itu sedikit peka sama hal mistis. Ibu bilang, dia bisa melihat hal-hal yang gak bisa orang lain lihat."
Rinda nampak antusias.
"Waw beneran?"
Arga mengangguk.
"Tapi bukannya kakak gak percaya sama yang begituan?"
Arga melirik ke samping, ya awalnya begitu, tapi apa yang terjadi padanya tadi sepertinya telah mengubah pandangannya.
"Emmm awalnya begitu, sih. Tapi kayaknya pandangan aku selama ini salah."
"Tentang?"
"Tentang makhluk halus, mereka memang ada dan nyata."
Rinda menutupi mulutnya dengan tangan, lalu tertawa kecil di sana.
"Hey kau malah tertawa."
"Habis konyol banget anggapan kakak itu. Mereka yang tak terlihat itu memang ada, seperti sekarang di belakang kakak itu ada sosok wanita berambut panjang dan memakai gaun putih. Mereka ada andai kakak bisa melihat." ucap Rinda sambil tersenyum, menatap Susi yang sedari tadi berdiri di belakang Arga.
Kali ini wajah Arga terlihat pucat kembali, teringat pada sosok wanita yang sama dengan yang disebutkan Rinda, ketika di perpustakaan tadi.
"Kau menakutiku ya?" ucap Arga yang masih terlihat pucat.
Rinda menikmati wajah yang jarang berekspresi seperti itu. Baginya itu hal yang lucu, biasanya laki-laki itu selalu berekspresi jahil, santai, bahkan kadang meremehkan.
"Bercanda!" ucap Rinda kemudian, supaya Arga tidak takut lagi. Padahal memang benar sosok wanita itu memang ada di belakangnya. Ya, dia Susi.
Mereka membicarakan banyak hal sampai tak terasa keduanya jadi saling tahu hal masing-masing. Sampai kemudian keduanya kembali membicarakan hal yang sangat penting. Yaitu Nathan.
"Laki-laki itu gak akan berhenti, dia pasti akan selalu berusaha mencapai tujuannya. Kamu harus selalu hati-hati Rinda. Sepertinya dia sangat terobsesi denganmu."
Rinda mengangguk, membenarkan ucapan Arga. Lain kali, Nathan pasti akan berusaha menculiknya lagi. Dia harus benar-benar waspada. Entah apa yang Nathan inginkan, mungkinkah dia ingin balas dendam karena Rinda sudah menyakiti hatinya?
"Iya kak, aku akan hati-hati." ujarnya sambil menyesap tehnya yang hangat dan terasa menenangkan.
Di tempat lain, Nathan sedang merencanakan hal buruk lainnya, sungguh
ia tidak terima dengan apa yang terjadi padanya barusan. Misinya kembali gagal karena Arga, lalu temannya terluka karena ditimpuk batu oleh Rinda.
"Aku pasti akan balas ini, awas kalian!"
***