Nathan meninju samsak yang tergantung dengan penuh emosi. Wajahnya babak belur dengan sudut bibir yang berdarah, bahkan darahnya sudah mengering. Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana dirinya dihajar oleh Arga tanpa bisa melawan. Sialnya dia harus mengakui bahwa kemampuan bela diri Arga tidak bisa diremehkan, bahkan saat tadi ia menangkis pukulan Arga pun itu sangat sulit baginya. Arga begitu tangkas, gerakan Nathan yang mencari celah dari gerakan Arga pun dapat dibaca dengan baik. Hingga serangan balik Nathan, tak satu pun mengenai sasaran.
"Aarrrggghhhhh ...." teriaknya penuh emosi, tiada henti tangannya meninju samsak yang sedari tadi terus mengampul karena tinjuannya yang keras.
Hatinya dipenuhi dengan dendam, lagi dan lagi selalu Arga yang mengganggu hidupnya. Dari mulai ia berkuliah di kampusnya, dia yang senang dengan obat-obatan terus diusik karena menggunakan obat tersebut di belakang kampus, atau di belakang gudang. Dengan sombongnya, Arga pun berkata:
"Ngisep kok di lingkungan kampus, bikin malu dunia pendidikan aja. Sebagai teman satu angkatan, gue malu punya teman kaya loe. Harusnya sebagai mahasiswa penerus generasi bangsa, loe belajar yang bener. Ngapain loe berangkat kuliah kalo cuma buat ngisep? Malu loe sama anak TK!"
Setidaknya itulah yang Nathan rasakan, baginya Arga terlalu sombong. Dia pun terlalu ikut campur dengan hidupnya, baginya. Walau sebenarnya dilihat dari sisi manapun ucapan Arga itu sangat benar. Tapi sisi ego Nathan tidak bisa diingatkan seperti itu, dirinya bahkan tidak terima dan harga dirinya merasa terusik.
Gara-gara terpergok Arga, bahkan sampai beberapa kali Nathan harus dipanggil pihak kampus dan berurusan dengan para dosen. Ia pun hampir terancam akan dikeluarkan dari kampus karena kelakuannya yang tidak baik juga prestasinya di kampus yang begitu buruk.
Kemudian saat dia bersenang- senang dengan Yuni pun sering sekali diganggu oleh Arga, entah kenapa di saat Nathan ingin bersenang-senang di area kampus selalu dilihat oleh Arga dan berakhir dengan kandasnya aktivitasnya yang belum selesai.
Kemudian saat ia ada urusan dengan Rinda pun lagi dan lagi Arga selalu menghalangi, meski ia mengakui bahwa apa yang dilakukannya pada Rinda karena memaksa. Puncaknya saat ia hendak menculik Rinda pun masih terus gagal karena Arga.
Arga, Arga dan Arga!
"b******k! Kali ini gua pastiin gua bakal balas dendam sama loe, Arga! Harusnya gua kasih pelajaran sama loe dari dulu. Gua bikin mampus loe sekarang!" ucapnya begitu berang. Matanya sampai memerah karena murka. Akan ia pastikan kali ini Arga akan ia buat menderita.
"Jadi rencananya gimana, Bro?" tanya salah satu temannya yang bernama Hendra.
"Dia terlalu kuat kalau gua lawan sendiri. Kita harus bersama-sama supaya dia kalah."
"Oke kita keroyok aja biar tahu rasa!"
"Setuju! Mantan cewek loe juga tuh, si Rinda, kasih pelajaran dia juga. Beraninya dia bikin gua diperban kaya gini." ucap laki-laki yang kena timpukan batu oleh Rinda, namanya Beni.
Laki-laki itu juga begitu murka dengan apa yang dilakukan Rinda. Luka di pelipisnya ia tempel dengan perban, saat ini masih terasa nyut-nyutan.
"Sebelum ke Rinda, gue pengen misi kita ke Arga sukses. Kalau kita berhasil, barulah kita kasih pelajaran ke Rinda." ucap Nathan menatap lurus ke samsak yang tergantung tepat di hadapannya.
"Oke. Terus enaknya si Ketua BEM rese itu kita apain?"
"Gebukin aja sampe mampus." ujar Beni begitu dendam.
"Kalau dibikin mati jujur gue gak berani. Itu terlalu beresiko buat keselamatan kita. Loe tahu sendiri kan polisi selalu punya cara buat ungkap para pelaku kejahatan, seapik apapun cara yang dilakukan." ujar Hendra masih berpikir panjang.
"Loe Cemen banget, Ndra." ejek Beni sambil tersenyum mengejek.
"Bukannya cemen, tapi kita harus berpikir panjang. Pengalaman kita di dunia seperti itu gak ada. Jangankan membunuh, kita make obat aja ketahuan terus jejak kita. Mau nutupin bagaimanapun suka ketahuan terus, apalagi kalau kita membunuh orang?"
"Gampang aja, tinggal kita kubur yang jauh di tengah hutan, atau bahkan kita tenggelamin mayatnya di laut. Gak bakal ketahuan."
"Iya kalau ngomong gampang, masalahnya kasus pembunuhan yang mayatnya dibuang ke danau aja yang dibuat kamuflase seakan-akan dia mati karena kecelakaan dan mobilnya tenggelam, tetap ketahuan juga kalau itu adalah kasus pembunuhan. Sekali lagi gua bilangin, polisi selalu punya cara Men, buat mengungkap kasus. Kejanggalan yang celahnya sedikit aja mereka bisa membuka tabir sampai semuanya terkuak, gimana kalau celah kita banyak. Hal yang kita gak sadari tapi polisi bisa menyadarinya. Kita harus mikirin itu, Men. Sorry gue masih mau menghirup udara dengan bebas tanpa terperangkap di balik jeruji besi." ucap Hendra panjang lebar. Sedangkan Nathan hanya diam saja mencerna baik-baik apa yang diucapkan Hendra.
"Betul! betul apa yang diucapkan Hendra. Anak buah Bang Jono aja yang udah ngebunuh teman relasinya dengan serapi mungkin dan terencana tetap terkuak juga kasusnya. Apalagi kita." ujar Nathan memberi pendapat. Rasanya ia tidak boleh gegabah, semuanya harus dipikirkan masak-masak.
"Terus kita balas dengan cara apa kalau gitu?" tanya Beni.
Nathan dan Hendra terdiam. Untuk beberapa saat suasana hening di antara mereka, ketiganya sedang berpikir keras, mencari cara yang tidak membahayakan identitas mereka. Sampai kemudian Nathan menjentikkan jarinya. Lalu dia tersenyum begitu licik.
"Loe punya rencana?" tanya Hendra.
"Begini, Men. Kita begal dia aja. Pelaku p********n lagi marak. Kita begal dia ditengah jalan ketika dia pulang. Kalau pelaku p********n itu masih umum siapa tersangkanya, tapi kalau pengeroyokan biasa, kita bisa tertuduh dengan mudah, karena sudah jelas kalau kitalah musuh dia yang berpotensi mencelakai dia." jelas Arga sambil tersenyum puas, ia senang. Baginya ide tersebut begitu bagus.
Beni dan Hendra mengangguk, mereka nampak setuju.
"Pinter juga loe!" ucap Beni merasa puas.
"Ya boleh juga ide loe, gue setuju!" timpal Hendra.
"Ambil motornya, ambil handphone-nya, bahkan dompetnya. Kita emang gak butuh hartanya, tapi itu bisa membantu kita dalam menyamarkan identitas. Semuanya pakai topeng buat nutupin muka kita. Terus kita harus tambah pasukan, jangan bertiga. Karena mudah ditebak. Minimal tambah satu orang."
"Soal itu gampang, serahkan sama gue. Banyak teman gue yang bisa diajak kerjasama buat hal beginian. Minimal dikasih uang rokok aja mereka udah senang, Men." ucap Hendra sambil terkekeh.
"Yah lumayan juga, ini namanya sekali dayung tiga pulau terlampaui. Selain bisa membalas dendam, kita juga dapat keuntungan materi. Motor, handphone, bisa kita jual. Duitnya buat kita ngisep boss." Beni tersenyum licik.
Mereka bertiga tertawa bersamaan.
"Oke rencana kita akan langsung dilaksanakan besok, siapin semuanya ya Bro."
"Siap."
"Tapi soal Rinda gimana?" tanya Hendra.
"Oh iya dia pasti trauma udah hampir diculik sama kita. Gue baru inget, gimana kalau dia laporin kita ke polisi?"
Nathan terkekeh.
"Lapor polisi gimana? Mereka gak punya bukti apa-apa. Kalau cuma asal tuduh, polisi gak akan terima laporan, Men. Tenang aja."
"Loe yakin dia gak punya bukti?" tanya Beni masih terlihat ragu.
"Gak ada. Gue pastiin itu!"
"Oke kalau begitu kita aman ya."
"Rinda pasti bakal lebih waspada sama loe, Bro. Kejadian tadi pasti membuat dia 1000 kali lebih tanggap buat gak ketemu sama loe. Setelah ini gue pastikan loe pasti punya kesulitan buat balas dendam saja dia." ujar Hendra yang begitu cepat berpikirnya.
"Iya ya, loe bener, Ndra." timpal Beni.
Nathan terdiam sesaat, dia kembali menyusun siasat.
"Soal Rinda, nanti biar gue pura-pura minta maaf ajalah sama dia. Gue pura-pura aja menyesal ya gak? Selama beberapa waktu gue gak akan ganggu dia, sampe dia lengah kita mulai incar dia lagi. Gue tau banget watak dia, dia wanita yang gampang luluh walau cuma dilembutin sedikit aja. Kaya dulu pas masih pacaran, cuma gue dengerin curhatnya, gue kasih perhatian yang bagi gue sepele tapi bagi dia sesuatu yang besar. Dan dia langsung klepek-klepek, Men. Hahahaha ...." tawa Nathan menggema di ruangan tersebut lalu menyusul tawa dari kedua temannya.
"Hahahaha, dia cewek yang bodoh, ya?"
"Bodoh banget! Hahahaha,"
"Cantik-cantik bodoh, hahahaha ...."
"Tampang doang boleh menang, tapi otaknya bodong, hahahaha ...."
Beni dan Hendra nampak puas menghina Rinda.
"Cantik dan bodoh, tapi gue cinta! Hahahaha ...." timpal Nathan yang seperti orang gila saja.
"Saking cintanya loe sama dia, sampe-sampe loe dendam karena ditolak terus saat ngajak balikan."
"Iya, loe bener. Penolakan dia dan hinaan yang dia katakan kemaren, bener-bener buat gue marah. Kalau dia gak bisa diajak baik-baik, mending gue kasarin aja lah. Hahahah ...."
"Loe mau apain dia, Bro?"
"Enaknya cewek cantik kaya dia diapain?"
Ketiganya terdiam, lalu masing-masing tersenyum picik. Tanpa saling mengatakan pun, ketiganya memiliki rencana yang sama untuk Rinda. Masing-masing otak mereka berpikir untuk melakukan hal tersebut. Ya, Rinda dalam bahaya.
***
Hujan membasahi bumi, petir dan kilat terlihat seperti membelah langit. Jam menunjukkan pukul lima sore, tapi Rinda dan Arga masih berada di cafe. Sebab mereka terjebak hujan di sana. Suara musik yang mengalun lembut menjadi penghibur mereka yang berada di sana.
Pukul lima lewat tiga puluh menit sore akhirnya hujan reda, mereka berdua lekas bangkit kemudian membayar bill yang sudah dihitung.
"Lain kali pacarnya dibawa lagi, ya?" ucap sang pemilik cafe meledek Arga, Arga hanya bisa menepuk jidat atas kesalahan pahaman yang terjadi.
"Iyain aja deh, biar loe puas bang." ucap Arga yang langsung membuat pemilik cafe tertawa.
Arga menyusul Rinda yang sudah sampai di parkiran depan cafe.
"Makasih Kak, traktirannya." ujarnya sambil tersenyum manis. Untuk sesaat Arga terdiam, melihat Rinda yang tersenyum padanya membuat hatinya berdebar. Hari ini pun ia belum mendengar sebutan 'kating rese' itu keluar dari mulut Rinda.
"Aku antar sekalian ke rumah." ucap Arga sambil meraih helmnya. Mata Rinda membulat.
"Di-diantar?" Rinda terlihat gugup, entahlah dia juga tidak mengerti kenapa dia gugup. Susi yang melihat itu semua hanya bisa menepuk jidatnya. Ya meski sering ngambek dan sempat dibilang kekanakan oleh Rinda, tapi sesungguhnya dia tidak benar-benar seperti itu. Dia pun begitu sadar diri, dirinya hanyalah sesosok makhluk yang bahkan sudah tidak terlihat. Mengagumi atau bahkan menyukai manusia pun percuma, sebab mereka sudah berbeda alam. Yang ada sebenarnya dia menyadari, dirinya saja yang sungguh terlalu, sudah mati tapi masih saja kecentilan.
"Iya, sekalian." jawab Arga singkat.
Akhirnya mau tak mau Rinda menurut.
"Setelah ini kakak mau ngojek dulu atau langsung pulang?" tanya Rinda di tengah jalan.
"Memangnya kenapa?" Arga balik bertanya.
"Oh enggak. Cuacanya gak bagus. Mungkin bisa turun hujan lagi, mending kakak langsung pulang banyak petir juga."
Arga tidak menyahut, wajah yang tertutupi helm itu menyunggingkan senyuman saat menyadari Rinda seorang gadis yang peduli juga perhatian. Meski dia aneh dan misterius, baginya. Semua itu pasti ada sebabnya.
Sampai kemudian keduanya sampai di depan sebuah rumah dua lantai yang minimalis. Tepat saat Rinda turun, mobil Satria memasuki pekarangan rumah. Arga tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya saat bertatapan dengan Satria, yang langsung dibalas oleh Satria dengan cara yang sama.
"Mampir dulu, Kak?" tawar Rinda.
Arga menggeleng.
"Gak usah. Langsung pulang aja."
Di luar dugaan, Satria langsung turun dari mobilnya dan menahan laki-laki 23 tahun tersebut.
"Mau kemana? Ayo masuk dulu ah." ucapnya lalu menarik Arga masuk ke rumah.
Arga sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa berada di posisi sekarang, berada di rumah adik tingkatnya dan berhadapan dengan keluarga satu-satunya Rinda. Ada secangkir teh hangat yang disuguhkan Bi Inah kepadanya.
"Makasih ya sudah mengantar adik saya," ujar Satria dengan ramah.
"Iya bang, tadi sekalian aja, kebetulan ketemu Rinda di jalan sedang dalam masalah. Jadi ...."
"Hah Rinda sedang dalam masalah?" Satria nampak terkejut, padahal kalimat Arga belum selesai, tapi dipotong Satria saking kagetnya dengan ucapan Arga. Ia menatap Rinda dengan penuh tanya. Laki-laki itu menuntut jawaban juga penjelasan dari adiknya.
"Kamu ada masalah apa, Dek?" tanya Satria sangat penasaran. Rinda adalah adik sekaligus keluarga satu-satunya, ia tidak mau hal buruk terjadi pada adiknya itu. Rinda sendiri selama ini tidak pernah menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya juga Nathan. Bahwa hubungannya dengan Nathan sudah berakhir karena ternyata Nathan seorang laki-laki b******k. Jujur Rinda malu, sebab Satria dari awal memang tidak menyukai Nathan dan terlihat terang-terangan tidak setuju dengan hubungan mereka. Yang Satria tahu saat ini bahwa Rinda masih memiliki hubungan dengan Nathan."
"A-aku ...."
Arga salah tingkah, ia merasa telah berbuat kesalahan dengan memberi tahu hal tersebut. Rinda terlihat tidak ingin menceritakan apa yang terjadi dengannya tadi. Ia menatap Rinda merasa bersalah.
"Aku tadi cuma jatuh. Kakiku keseleo, Kak. Kebetulan Kak Arga lewat, jadi dia bantu aku. Karena kakiku sakit, Kak Arga akhirnya antar sampai rumah." ucap Rinda berbohong.
"Benar begitu?" tanya Satria memastikan.
Rinda mengangguk mantap, supaya kebohongannya tidak terendus kakaknya itu.
"Makasih banyak ya Arga, kamu sudah menolong adik saya." ucap Satria tulus, Arga hanya mengangguk tidak bisa banyak berkata-kata.
Rinda terpaksa berbohong, sebab jika Rinda berkata yang sejujurnya mengenai Nathan yang ingin menculiknya, Rinda takut hal itu menjadi masalah yang panjang. Untuk saat ini biarlah ia akan menyelesaikan masalahnya sendiri, ia hanya perlu untuk berhati-hati dan waspada pada Nathan. Selain itu Rinda juga merasa bisa memanfaatkan kemampuannya untuk bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Si Nathan itu juga kemana lagi, kayaknya dia gak bisa menjaga kamu dengan baik, Dek. Huh, dari awal kakak gak pernah suka sama dia."
"Uhukkk!!!" Rinda terbatuk seketika. Andaikan Satria tahu yang sebenarnya, bahwa masalah itu berasal dari Nathan yang hampir menculiknya, kakaknya itu pasti berang dan tambah membenci Nathan. Nathan memang pantas dibenci, tapi ia tidak ingin semuanya menjadi runyam.
"Kenapa batuk, Dek? Minum, minum ...." titah Satria yang langsung dituruti oleh adiknya. Setelah meminum tehnya, Arga pun pamit undur diri.
"Bang, saya pamit dulu, ya. Terimakasih tehnya, ya." pamit Arga.
"Oh iya sekali lagi terima kasih juga sudah membantu Rinda dan mengantar dia sampai rumah. Lain kali kalau mau datang kesini boleh kok." ujar Satria begitu terbuka.
***