Sebuah Permainan

2029 Kata
"Gimana kak, Kak Melinda sudah mau bertemu sama orang-orang?" tanya Rinda saat mereka sedang sarapan bersama. Meski tidak menyukai wanita itu, tapi Rinda masih mempunyai hati dan sangat peduli pada keadaan Melinda. Satria menggeleng. "Kakak udah tiga kali datang ke apartemennya bersama Laudya, tapi dia masih gak mau bukain pintu. Yang ada kita diteriakin dan diusir, Dek." "Kenapa begitu ya, padahal kan niat kakak baik ingin membantu." "Sepertinya Melinda trauma, Dek. Jadi dia gak bisa bertemu sama siapapun!" "Iya kakak bener. Terus tersangkanya sudah ditemukan, Kak?" "Sudah, mereka sudah ditemukan polisi. Akan kakak pastikan mereka menerima hasil perbuatan bejadnya di dalam penjara." Rinda tersenyum tipis. "Makasih kakak sudah begitu baik dan mau membantu Kak Melinda." "Sepertinya itu sudah kewajiban kakak Dek, sebagai orang yang mengenal dia. Dia kan yatim-piatu, sebatang kara pula. Kalau bukan kita yang mengenalnya, siapa lagi?" Rinda manggut-manggut paham. "Kaki kamu sudah membaik,? "Hah kaki?" "Iya, kemarin kan kamu bilang keseleo. Bi Inah sudah urut, kan?" Rinda tergagap, kebohongan kemarin sepertinya bisa membuat kebohongan-kebohongan lainnya. "Oh, su-sudah kok, Kak. Rinda sudah seperti biasa lagi. Ini sudah mau berangkat kuliah lagi." "Syukurlah kalau begitu." Rinda menyelesaikan sarapannya, lalu gadis itu berangkat ke kampusnya bersama dengan Satria. Hal yang jarang dilakukan, karena keberangkatan Satria lebih pagi dari Rinda. Tapi hari ini Satria berangkat lebih siang. Sampai di kampus Rinda segera menuju kelas, gadis itu berusaha untuk tidak lagi berada di tempat sepi. Karena ia yakin, Nathan pasti masih mengincarnya. Dia yang senang menyendiri dan berinteraksi dengan mereka yang tak kasat mata, untuk saat ini ia hentikan dulu. Tetap berada di keramaian bisa menyelamatkannya dari bahaya yang Nathan lakukan. Baru saja kakinya ingin memasuki gerbang kampus, tiba-tiba tangannya dipegang seseorang, langkahnya seketika berhenti. "Rinda, tunggu!" Mata Rinda membulat, Nathan ada di hadapannya sambil mencekal tangannya. Tapi kali ini tidak sekuat biasanya. Ia tidak merasakan kesakitan dengan cekalan tangan Nathan yang sekarang. "Jangan macam-macam, Nathan. Aku bisa teriak kalau kamu mau menculik aku seperti kemarin!" Mata Rinda melotot tajam, menatap Nathan dengan sorot penuh benci. Benci, ia sangat benci dengan laki-laki di hadapannya ini. b******k, munafik dan b***t. Lagi dan lagi ia merutuk, kenapa bisa ia pernah terperangkap dengan laki-laki seperti itu? "Aku gak akan macam-macam, Rinda. Aku kesini bukan untuk berniat jahat seperti kemarin, aku justru mau minta maaf." ucap Nathan lemah. "Minta maaf?" tanya Rinda penuh menelisik. Menatap dalam-dalam wajahnya, mencari pembenaran dalam setiap perkataannya. "Iya, aku minta maaf sudah sempat mau menculik kamu, Rinda. Demi Tuhan kemarin itu aku khilaf, setan udah merayu aku, menguasai jiwaku yang sakit karena ditinggal kamu. Tapi sekarang aku sudah sadar, itu bukan watak aku. Aku sudah terkena rayuan setan. Aku menyesal, aku menyesal!" Kali ini wajahnya, Nathan buat semenyesal mungkin. "Maafin aku Rinda, maafin aku. Aku gak akan mengganggu kamu lagi. Aku gak akan mengganggu yang lain, termasuk Arga. Aku mau berubah. Jadi laki-laki baik yang nggak emosian." lanjutnya lagi, laki-laki itu begitu menghayati peran yang sedang ia mainkan sekarang. Tapi sayang, sebagus apapun ia ber-akting, tetap saja Rinda bisa melihat kebohongan itu. Rinda tersenyum kecut, warna yang menguar dari setiap ucapannya itu hitam. Yang artinya kebohongan. Ya, Nathan sedang membohonginya. Rinda menelisik lebih jauh isi pikiran laki-laki itu, matanya sampai memicing. "Semua yang pernah terjadi di antara kita aku akan lupain. Kita sudah lama putus, sekarang aku ikhlas. Kemarin aku masih mengganggu kamu karena aku masih begitu mencintai kamu, tapi sekarang aku sadar kalau cinta kamu dan hubungan kita ini sudah tidak bisa dipaksakan." ucap Nathan masih sibuk dengan perkataan mautnya. Rinda sendiri tidak mendengarkan apapun yang Nathan ucapkan, justru gadis itu sedang sibuk meneliti pikiran Nathan yang sudah dipenuhi dengan banyak rencana jahat, ia tahu sekarang laki-laki itu begitu benci dan dendam pada Arga. Matanya membulat saat melihat, Nathan sudah merencanakan untuk membegal Arga nanti di tengah jalan bersama dengan teman-temannya. Ia menutup mulutnya dengan tangan, hidup atau mati, yang terpenting lukai laki-laki itu, dan ambil semua hartanya. Begitulah yang ia lihat dari penglihatannya. "Aku akan berusaha melupakan kamu Rinda, aku akan terbiasa untuk memanggil kamu Rinda, bukan Sweety lagi. Mulai hari ini aku gak akan ganggu kamu lagi, aku akan menghilang dari hidup kamu. Kamu boleh anggap aku gak ada. Aku ... aku akan berusaha melupakan kamu, walau aku tahu itu sangat sangat sulit." Rinda menatap jengah laki-laki di hadapannya, mau berbicara sampai berbusa sekalipun sungguh Rinda sudah tidak mempercayainya barang seujung kuku pun. Ia bisa memahami sekarang, apa yang sedang Nathan lakukan pasti untuk membuatnya lengah. Saat ia sudah lengah, laki-laki itu pasti akan melanjutkan aksinya. 'Dulu aku memang gadis yang polos, setiap apapun yang kamu ucapkan aku langsung mempercayainya. Perhatian sekecil apapun, langsung membuatku tambah mengagumi sosokmu. Dulu aku menganggap kamu adalah pangeran yang akan menjadi orang terpenting di hidupku. Sekarang ... setelah aku tahu semuanya bagaimana wajah asli kamu, mau bicara sebanyak apapun, sampai berbusa sekalipun aku sudah gak punya kepercayaan untuk kamu lagi. Kamu adalah laki-laki yang paling berbahaya yang aku kenal.' ucap Rinda dalam hatinya. Sedangkan Nathan masih saja bicara, bicaranya banyak sekali. Bahkan dari ratusan kalimat yang ia ucapkan tidak ada satu pun kalimat yang bisa ia cerna dengan baik. Yang ia tahu, semua kata-kata manis yang ia ucapkan adalah kebohongan besar. Yang amat amat besar. 'Oke Nathan, kalau ini adalah permainan kamu, aku akan ikuti permainan ini. Aku pastikan kamu akan menyesal dengan permainan yang kamu buat sendiri. Akan kutunjukkan kepadamu, bagaimana caraku bermain. Permainan yang sesungguhnya sudah dimulai!' lanjut Rinda dalam batinnya. "Kamu harus percaya sama aku, apa yang terjadi kemarin itu karena bisikan setan. Kamu ... kamu tahu aku juga dalam pengaruh alkohol. Aku gak bisa berpikir dengan jernih, sehingga tingkahku begitu kotor dan membuatmu dalam bahaya. Satu lagi aku juga harus berterima kasih pada Arga. Selain menyelamatkan kamu, sebenarnya dia juga sudah menyelamatkan aku. Kalau gak ada dia, aku gak ngerti lagi apa yang akan aku perbuat sama gadis baik seperti kamu, Rinda." Ingin sekali Rinda berkata, "Sudah bicaranya? Kakiku pegal banget, kupingku juga sakit dengar ocehanmu yang gak ada habisnya itu. Selain gak berguna, gak berkualitas juga aktingmu yang amatiran dan abal-abal itu!" Tapi sayangnya kalimat itu tidak bisa diucapkan oleh lidahnya. Rinda memasang wajah senang, bibirnya mengulas senyum. "Aku senang banget kalau kakak sudah bisa menerima hubungan kita. Makasih banyak kak, aku udah maafin kakak atas kejadian kemarin juga kejadian yang sebelum- sebelumnya. Maafin aku juga yang minta putus dengan cara yang gak baik. Kakak pasti kaget karena caraku ini menyakiti hati kakak. Pokoknya aku senang banget setelah mendengar penjelasan kakak pagi ini. Aku tahu kakak orang baik sebenarnya. Kita berteman ya, Kak?" ujar Rinda sambil tersenyum lebar. Nathan yang mendengar semua ucapan Rinda pun ikut tersenyum bahagia. "Makasih, Rinda. Kakak tahu dari dulu kamu itu seorang gadis yang sangat baik. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan. Kakak doain semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kamu ya?" Doa Nathan. "Aamiin." 'Dan kamu semoga mendapatkan balasan dari perbuatanmu.' lanjut Rinda dalam hati. "Kita berteman, Kak?" tanya Rinda sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Berteman." Nathan pun melakukan hal yang sama, mengaitkan kelingking mereka sebagai tanda pertemanan. Nathan mengalihkan wajahnya ke samping, sebuah senyum licik tersungging di bibirnya. Ada kedua temannya -Hendra dan Beni- yang sedang bersembunyi di balik pohon dan mengamati mereka saat ini. Keduanya memberikan kedua jempol mereka memberi isyarat bahwa akting Nathan barusan sangat keren dan patut diacungi jempol. Tanpa mereka sadari Rinda pun melirik ke arah sana. 'Selamat bersenang-senang dan menyusun rencana sebaik mungkin, apapun yang kalian rencanakan aku pastikan akan gagal 100%.' batin Rinda. Sedangkan Nathan menatap Rinda penuh senyuman, hatinya sangat bahagia dengan reaksi Rinda yang sesuai dengan keinginannya. 'Tuh kan! Cuma digituin aja dia langsung percaya. Bodoh kamu, Rinda. Entah kamu itu bodoh atau polos. Kamu ini enak banget ya dimaininnya. Oh barbie-ku, selamat menantikan permainanku yang selanjutnya ya, Sayang.' Rinda kembali tersenyum, lalu pamit pada Nathan. "Kalau gitu aku ke kelas dulu ya, Kak. Bye, kak ...." ucapnya sambil melambaikan tangan, yang langsung dibalas oleh Nathan. "Iya, Rinda. Bye ...." Setelah itu Nathan langsung menghampiri kedua temannya. Mereka ber-tos ria, detik kemudian langsung tertawa terbahak-bahak. "Loe bener banget, Nathan. Ternyata Rinda itu bodoh banget, anjirrr. Mukanya cantik kaya bidadari, otaknya bodoh kaya udang. Hahahaha ...." "Hahahaha ... bener banget! Puas banget gue liat akting loe, dan Rinda yang sampai hanyut gak sadar kalau dia lagi dibodohi. Hahahaha ...." "Pokoknya rencana kita gue jamin seribu persen, bahkan satu juta persen pasti berhasil. Hahahaha ...." "Bener, gue optimis dan yakin banget kali ini kita gak bakal gagal." Lalu mereka kembali ber-tos ria. "Silakan anggap aku bodoh sebodoh-bodohnya, tanpa kalian sadari kalianlah yang sangat bodoh. Jika kalian berpikir kalian yang memegang permainan ini, kalian salah besar. Akulah dalang yang akan memainkan permainan kita. Kalian tertawa saja dulu sepuasnya, nanti kalian akan menangis sejadi-jadinya." gumam Rinda dari balik tembok pagar yang tinggi, setelah mendengar segala pembicaraan Nathan CS. *** Sambil menerima materi dari dosen, Rinda terus melamun. Rinda terus memikirkan, hari ini Nathan dan teman-temannya akan mulai beraksi dengan membalas dendam pada Arga terlebih dahulu. Rinda bisa melihat kebencian Nathan yang begitu besar kepada Arga, sebab di saat Nathan selalu ingin bersenang-senang di lingkungan kampus, selalu saja dihalangi dan diganggu oleh Arga. Ya Arga memang seperti itu, laki-laki itu sudah menceritakan bahwa ia sering berpatroli keliling kampus. Wajar saja jika kelakuan buruk Nathan selalu terciduk oleh Arga. Sebelum hal itu terjadi, dia harus memberitahu Arga terlebih dahulu untuk tidak melalui jalan yang biasa. Sebab sudah dipastikan Nathan dan teman-temannya menunggu di sana. Tapi masalahnya sampai saat ini, sang dosen masih saja terus memberikan materi. Segala penjelasan yang disampaikan tidak ada yang masuk ke telinga. Rinda mengangkat tangannya, melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu istirahat seharusnya sudah dari 15 menit yang lalu. Tapi sang dosen masih terus memberi penjelasan. Akhirnya Rinda menggerutu sendiri, kenapa di saat genting seperti ini sang dosen malah lama sekali mengajarnya. Hatinya mulai ketar-ketir, ingin sekali keluar dan menyampaikan kebenarannya kepada Arga. "Kapan istirahatnya, sih!" gumam Rinda lirih sekali. "Kamu udah lapar, ya? Sama aku juga." Miska menimpali dengan berbisik-bisik. Ish, bukan itu maksudnya! Rinda mencibir. Rasa haus dan lapar yang ia rasakan terasa tidak penting lagi baginya. Yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Arga. Sebenarnya Rinda ingin sekali izin pura-pura ke kamar mandi, tapi dia takut. Mengingat temannya dulu ada yang pernah izin ke kamar mandi, sang dosen malah berceletuk, "Mahasiswa sekarang itu senangnya ke kamar mandi terus, dulu zaman saya itu sebelum belajar kita harus siap-siap sebaik mungkin, yang mau BAK, langsung buru-buru ke kamar mandi sebelum jam belajar dimulai, supaya gak ada ketinggalan materi sama sekali. Karena kita ini menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Kalau cuma untuk buang air kecil sayang sekali, ilmunya gak dapat seutuhnya dari yang disampaikan guru." Begitulah petuah sang dosen, hingga akhirnya Rinda tidak berani melakukan cara tersebut. Akhirnya ia lewati belajarnya dengan rasa gelisah. Sampai akhirnya 15 menit kemudian, barulah mereka keluar dari kelas. "Anjirrr dosen terlama yang pernah ada. Waktu istirahat telat 30 menit. Aseemm banget!" Miska menggerutu dengan wajah kesal, sedang Rinda langsung berlari menyusuri koridor kampus. Mencari sosok Arga yang entah dimana. "Rin kita beli bakso yuk, di kan ...." ucapannya terputus saat menoleh ke belakang Rinda yang ia kira ada di dekatnya itu sekarang sudah tidak ada. "Lah kemana Rinda? Kok tiba-tiba hilang? Ish, kebiasaan!" Kembali ia menggerutu. "Rinda ... Rindaaa ... jangan tinggalan aku weyy! Kebiasaan nih anak!" Sedangkan Rinda sendiri pun tak tahu, dimana kelas Arga dan dimana ia bisa menemuinya. Ia berlari ke setiap kelas, namun sosok yang dicarinya tidak ada. Lalu ia berlari ke perpustakaan, tidak ada. Tiba-tiba ia terpikirkan untuk mengecek semua lokasi yang sepi. Bukankah kebiasaan Arga adalah berpatroli keliling kampus? Akhirnya tanpa mengenal lelah Rinda mendatangi tempat yang sepi. Tapi bukannya menemukan Arga ia malah bertemu dengan para penunggu tempat- tempat tersebut. "Mencari siapa?" tanya sosok laki-laki gendut lagi botak. "Arga. Kau melihatnya?" tanya Rinda. Sosok tersebut menggeleng. Lalu yang paling menjengkelkan adalah saat bel terdengar nyaring pertanda waktu istirahat telah habis. "Ya ampun, gimana ini." Rinda mengacak rambutnya frustasi, saat bel istirahat berbunyi, maka pembelajaran dimulai kembali. Kalau sudah selesai akan langsung bubar. Bagaimana kalau Arga sudah pulang duluan tanpa sempat ia beritahu rencana licik Nathan dan kawan-kawannya? Dan ia akan menjadi orang yang paling menyesal jika hal itu terjadi. "Gimana ini?" gumam Rinda sambil menggigit jarinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN