Terlambat?

1189 Kata
Dengan langkah lesu Rinda kembali ke kelas, sepanjang mata kuliah berlangsung pikirannya sungguh tidak fokus. Terpikirkan rencana Nathan yang hendak membegal Arga, hidup atau mati laki-laki itu kini berada di kecepatan Rinda dalam menangani masalahnya. Waktu dua jam terasa begitu lambat bergulir, setiap satu detiknya terasa seperti satu menit. Berulang kali ia merubah posisi, dari mulai duduk tegak, menopang dagu, sampai mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukunya. Berulang kali pula matanya melirik ke jam dinding, lama, lama, lama. Sungguh lama. Lalu saat bel pulang berbunyi, setelah dosen keluar Rinda langsung berlari, sempat menubruk beberapa orang karena saking terburu-burunya. Dalam pelariannya, ia terus memikirkan kemana kakinya harus melangkah terlebih dahulu. Jika tadi ia hanya memainkan insting dimana keberadaan Arga dan tidak bertanya pada siapapun, maka kali ini ia tidak mau membuang waktu lagi. Gadis itu berhenti tepat di depan seorang kakak tingkat perempuan yang sedang duduk sambil memainkan ponsel, "Permisi, Kak. Kalau Ketua BEM kelasnya dimana, ya?" tanyanya dengan nafas memburu. "Kelas Ketua BEM?" ulang kakak tingkatnya yang berekspresi datar, Rinda mengangguk cepat-cepat. "Emang ada perlu apa?" tanyanya lagi, Rinda mengerutkan kening. Apa urusan dia sampai ingin tahu mengenai keperluan Rinda? "Dimana, Kak?" Rinda menegaskan pertanyaannya, dia tidak punya banyak waktu. "Iya, mau ada perlu apa dulu? Mau nyatain cinta?" tanyanya dengan nada yang sinis. Kali ini mata Rinda membulat, ada warna kelabu dari sosok gadis di hadapannya. Akhirnya Rinda tahu, kakak tingkatnya itu cemburu, ya wanita itu cemburu karena dia mencari laki-laki itu. Lagi dan lagi, kating rese itu disukai oleh wanita. Ya, Rinda tidak bisa memungkiri, Arga memang sangat populer dan banyak disukai mahasiswi satu kampus. Karena kesal, akhirnya Rinda meninggalkan orang tersebut. Ia tidak habis pikir, memangnya dia siapanya Arga sampai keperluan Rinda pada laki-laki itu saja sampai dipertanyakan? Suka boleh, tapi baginya jangan sampai mempermalukan diri seperti itu. Sebagai wanita, seperti tidak punya harga diri saja. Pikir Rinda. "Gak sopan banget sama kakak tingkat. Gak punya moral!" Terdengar gerutuan orang tersebut, Rinda hanya mengepalkan tangan kesal. Kalau tidak berpacu dengan waktu, mungkin Rinda sudah membalas perkataan orang tersebut. Sudah sangat terburu-buru, waktunya malah terbuang dengan bertanya pada orang yang salah. "Kak, kelas Ketua BEM dimana ya?" tanya Rinda lagi, kali ini pada kakak tingkatnya yang laki-laki. "Oh dia di gedung B, lantai 3. Arga, semester enam, kan?" tanyanya memastikan. Rinda mengangguk cepat. "Iya betul dia." "Iyah, di sana." "Terimakasih, Kak." "Sama-sama. Rinda lekas berlari menuju gedung B. Lift yang disediakan sedang dipakai. Ini pun sudah jam pulang, pasti sangat ramai diisi oleh mahasiswa di lantai atas. Rasanya Rinda sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu lift sampai di lantai satu dan terbuka. Akhirnya ia memilih berlari menaiki tangga, tepat saat langkahnya sampai di lantai dua pintu lift terbuka di lantai satu. Arga keluar dari sana dan bergegas untuk pulang. Hari ini tidak ada jadwal dan urusan apapun di BEM. Ia memilih untuk langsung membuka aplikasi driver ojek online-nya dan mulai beroperasi. Sebab hari kemarin ia libur karena terjebak hujan sampai sore bersama Rinda, setelah itu langsung pulang ke rumah. Hari ini uang jajannya sudah mulai menipis, ia harus bekerja paruh waktu lagi. Sedangkan Rinda sudah sampai di lantai tiga, kakinya terasa gemetar karena menaiki tangga dengan berlari. Kali ini dengan langkah terburu ia menuju kelas semester enam. Nafasnya tersengal sampai di pintu masuk kelas, keringat-keringat mengucur di dahinya membasahi anak-anak rambutnya. "Pe-permisi, kak maaf Kak Arga ada?" tanyanya tepat di pintu masuk. Matanya mencari-cari sosok tersebut, tapi tidak ditemukan. Orang-orang yang ada di kelas pun saling celingukan. "Ohh Arga sudah turun ke bawah. Emang gak ketemu?" tanya salah satu dari mereka. Deg! Rinda menggeleng. "A-aku naik tangga." jawabnya tergagap karena rasa lelah. "Dia pasti pakai lift, jadi kalian gak ketemu." "Iyah, dia udah turun. Tadi sempat dengar mau langsung ngojek katanya." sahut yang lainnya. Rinda merasakan lututnya lemas. Apa ia akan terlambat? Bagaimana kalau terlambat? Bagaimana cara dia menolong laki-laki itu? "Ma-makasih." ucapnya lalu kembali berlari untuk menuruni anak tangga. Sampai di tangga yang di sisinya ada jendela, ia melihat Arga sudah sampai di motornya. Laki-laki itu sedang mengambil helmnya yang ditautkan di kaca spion. "Ka-kak tunggu!" gumamnya panik melihat Arga sudah mau berangkat. Lemas kakinya sudah tidak ia rasakan, terganti dengan kepanikan untuk menyusul Arga. "Please ... please tunggu. Tunggu, Kak. Tunggu!" gumamnya berkali-kali. Sedangkan dari kejauhan, ada Beni yang sedang memperhatikan Arga. Ia merogoh handphone di sakunya, lalu mulai menelepon Nathan. "Tan, target udah mau jalan ke lokasi, nih." ucap Beni memberi laporan. Nathan yang sudah menunggu di lokasi pun menyunggingkan senyum liciknya. Tinggal sebentar lagi dendamnya akan terbalas. "Siap, gue tunggu dengan semangat di sini." "Udah siap semua persiapannya?" "Udah siap semua, tenang. Sini! Loe gak mau ngeliat detik-detik kekalahannya?" tanya Nathan balik dari seberang. "Gue meluncur sekarang juga. Siapin penutup wajah buat gue!" "Udah siap, nih." "Oke gue otewe." Beni menaiki motor ninjanya yang besar dan pergi mendahului, sedangkan Arga mulai memutar kunci dan men-starter motornya. Rinda menuruni anak tangga dengan berlari, lelahnya sudah tidak bisa ia rasakan. Sampai di anak tangga terakhir, gadis itu jatuh tersungkur. Seorang kakak tingkat perempuan yang melihatnya langsung berlari ke arahnya dan membantunya bangun. "Kamu gapapa?" Rinda menggeleng pelan. "Makasih Kak, maaf aku buru-buru." Lalu kembali ia berlari, sampai di pintu keluar gedung B, Rinda sudah melihat Arga yang mau keluar gerbang dengan mengendarai motornya. Rinda mengejar, sekuat tenaga ia berlari kencang. "Kak Arga tunggu!!!" teriaknya sambil terus mengejar, ia berada di halaman kampus. Beberapa orang yang mendengarnya, melihat Rinda dengan tatapan heran. "Kak Arga tungguuuuuu!!!" Kembali ia berteriak saat sampai di pintu gerbang, Arga semakin menjauh, teriakan Rinda tak terdengar di telinganya. "Kak Argaaaaa ...." "Tungguuu, Kaakkk!!!" Teriakannya tak berarti apa-apa, laki-laki itu terus melajukan motornya dan tak menoleh sama sekali. Sampai cukup jauh dari gerbang kampus, Rinda tersandung batu besar. Untuk kedua kalinya ia jatuh tersungkur, kali ini di jalan aspal. Ditatapnya punggung Arga yang pergi menjauh, tak dirasakan lagi lututnya yang berdarah karena tergores aspal. Air matanya mengalir, menyadari keterlambatannya dalam menyelamatkan Arga. Detik kemudian ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu terisak-isak di sana. Kenapa dia terlambat? Kenapa dia begitu lamban? Padahal dia melihat segala rencana Nathan itu sedari pagi, tapi kenapa sampai jam mata kuliah selesai pun ia masih belum bisa menyampaikan hal tersebut kepada Arga. Kali ini ia merutuk diri. "Bodoh! Bodoh kamu Rinda, bodohhh!!!!" makinya sambil beruraian air mata. Ia terisak sesaat di tengah jalan yang tidak ada seorang pun yang melaluinya, karena jalan yang ini bukan jalur utama dari kampus, melainkan jalur yang sepi. Detik kemudian ia menyusut hidungnya, dalam keadaan seperti ini harusnya ia bisa berpikir dengan jernih. Bukan malah merutuki diri dan merasa bodoh, akan lebih bodoh jika setelah melihat kepergian Arga ia malah diam saja dan tidak bertindak apapun. Ia harus bisa menolongnya. Gadis itu mengusap air matanya, luka di lututnya mulai berdenyut nyeri. Ia menyibak rok sebetis yang ia kenakan, ada luka terseret aspal dan mengeluarkan darah dari kedua lututnya. Rasanya sakit. "Jangan manja, Rinda. Luka sekecil ini gak ada tandingannya jika dibandingkan dengan bahaya yang mengancam Kak Arga." gumamnya menguatkan diri. Baru saat ia hendak bangkit dari jatuhnya, tiba-tiba saja seseorang mendekati. "Hey, are you okay?" Rinda menoleh, dan ..., Deg! "Kak Arga?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN