**
"Tapi apa, Tiya?" tanya Erlando seraya mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya hampir bertautan.
"Mm ... Saya tidak bisa, Pak. Saya sudah ada janji dengan _"
"Kekasihmu?" Erlando gemar sekali memotong perkataan Tiya yang belum tuntas, seolah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan Tiya utarakan hingga dia menebak-nebak dengan seenaknya sendiri.
"Bu~Bukan, Pak. Saya tidak punya pacar, tapi saya sudah janji dengan rekan saya untuk pergi makan bersama nanti malam. Bapak terlambat, jadi harus sesuai nomor antrian kan," jelas Tiya kemudian memasang senyum simpul. Untuk hari ini Tiya merasa sok cantik sekali karena diajak kencan oleh dua pria sekaligus.
"Apa lelaki itu jatuh cinta denganmu?" tanya Erlando ingin tahu.
"Dih ... Bapak ini penasaran sekali ya dengan saya?" goda Tiya sambil menyenggol lengan Erlando yang berbalut jas hitam. Semakin berasa cantik, cantik dan cantik. Rona merah di pipi Tiya pun menyembur secara alami.
"Oo ... Sudah mulai genit ya rupanya?"
Dan Tiya tersadar, karena merasa sok direbutkan oleh dua lelaki, dia menjadi tidak menjaga attitude-nya dengan bertingkah genit seperti yang dikeluhkan Erlando.
Segera menundukkan kepala, "Ma~maaf, Pak. Saya tidak sadar saat melakukannya," kata Tiya yang menjadi salah tingkah. Garuk-garuk kepala padahal tidak gatal, meremat-remat jemari tangannya yang tetiba berkeringat padahal ac ruangan masih pada temperatur yang sama.
Berbeda dengan Tiya yang salah tingkah, Erlando justru senang, kegenitan Tiya barusan membuat jiwa lelakinya berkibar layaknya bendera yang tertiup angin di puncak Gunung Himalaya, "Kau boleh menyentuhku dimana pun kau mau," kata Erlando.
Apa? Bertanya dalam hati sambil membelalakkan matanya. Murahan sekali. Lanjut Tiya kemudian melirik Erlando yang berdiri di sebelahnya.
"Kenapa? Kau mau memegang dadaku?" tanya Erlando.
Lelaki itu membuka jasnya lebar-lebar hingga kemeja putihnya yang tadi tertutup sebagian menjadi terlihat. Erlando memegang pundak Tiya dan membuat wanita itu berdiri menghadap dirinya.
Ya Tuhan, aku berasa kotor. Umpat Tiya yang lagi-lagi hanya bisa pasrah menghadapi ulah Erlando yang gemar berkontak fisik dengannya.
Tangan Erland yang tadinya di pundak kini berpindah dan memegang ke dua tangan Tiya, kontan hal ini membuat Tiya menjadi waspada.
Awas saja kalau berani macam-macam aku tendang perkututmu, Pak! Ancam Tiya yang lagi-lagi hanya berani mengumpat dalam hati.
"Nah, peganglah sepuasmu!" perintah Bos kaya itu seraya meletakkan telapak tangannya pada d**a bidangnya.
"A~apa? Tapi untuk apa, Pak?" tanya Tiya tidak mengerti. Apa faedahnya jika tangannya memegang tubuh Erland? Tidak ada manfaatnya sama sekali dan herannya Erland menganggap itu adalah suatu keuntungan untuk Tiya.
"Bukannya kau yang menginginkannya?" tanya balik Erlando memutar balikkan fakta seakan-akan Tiya lah yang memintanya melakukan ini.
"A~apa?"
"Apa, apa terus dari tadi. Aku melihat kau terus melirikku, itu artinya kau penasaran kan pingin pegang-pegang aku?" Menyimpulkan seenaknya sendiri apa maksud lirikan mata Tiya.
Tiya dan Erlando saling menatap dengan sangat dekat. Tidak tahu sudah untuk keberapa kalinya detak jantung Tiya berdebar dengan sangat kencang hari ini.
"Pak, tapi Bapak salah sangka. Tolong lepaskan tangan saya!" pinta Tiya karena Erlando masih memegang kedua tangannya erat-erat.
"Memang kau sudah puas memegang tubuh aku?" Pertanyaan yang mengandung tingkat percaya diri yang tinggi sekali.
"Pak, sudah saya bilang saya tidak mau memegang Bapak!" sentak Tiya karena merasa sudah tidak sabar lagi menghadapi tingkah Erlando yang terlalu memaksa.
Erlando dengan cepat melepas tangan Tiya, suara wanita itu cukup kencang hingga menyebabkan telinganya berdenging.
"Astaga! Teriakanmu itu sungguh memekakkan telingaku!" sungut Erlando kesal.
"Ma~Maaf ... Maaf, Pak. Bukan begitu maksud saya." Rasa takut itu kembali menyergap.
"Tidak semudah itu minta maaf. Baiklah karena hari ini kau tidak bisa, maka besok dua hari berturut-turut kau harus temani aku makan malam."
"Kok dua hari, Pak?" Tiya protes keras.
"Karena kau melakukan kesalahan dua kali," jawab Erlando.
"Dua kali? Kenapa bisa beranak, Pak?" Tiya sungguh tidak mengerti kenapa kesalahannya bisa bertambah. Seingatnya dia tidak melakukan kecerobohan apapun lagi.
"Iya dua kali, yang kedua adalah saat kau meneriaki saya barusan."
Jadi itu dia hitung sebagai kesalahan juga? Oh Tuhan, kasihan sekali yang jadi anak buahnya, pasti tertekan sekali memiliki bos yang suka menghukum seenaknya macam Pak Erland. Gerutu Tiya.
Pada kenyataannya Pak Alex pun lebih sadis dari Erlando, so Tiya salah satu anak buah yang wajib dikasihani.
"Ya ampun, Pak. Saya berteriak kan juga karena Bapak yang membuat saya kesal," bantah Tiya sambil membenarkan sulur anak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Tiga hari berturut-turut kau harus menemani saya makan malam." Kembali membuat keputusan seenak jidatnya.
"Lhoh lhah, kenapa nambah lagi?"
"Semakin banyak bertanya dan protes maka hukuman kau akan semakin bertambah." Erlando mengultimatum Tiya lebih tegas lagi hingga sang sekretaris cantik itu pun menutup mulutnya seketika itu juga.
"Jadi deal mulai besok dan tiga hari ke depan kau harus menemani saya makan malam. Sekarang pergilah! Saya banyak urusan!"
Memang enak ya jadi bos, selain bisa memerintah seenaknya, menyimpulkan masalah dengan pemikirannya sendiri, masih juga bisa mengintimidasi tanpa mau dibantah.
"Dia yang tadi tidak mengijinkan aku pergi, tapi sekarang dia mengusirku seolah aku yang memaksa untuk tetap di sini. Menjengkelkan sekali!" umpat Tiya dengan suara pelan.
**
"Hei, mau kemana kau?" tanya Zeesha yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono mandi dan rambut basah yang tengah ia keringkan menggunakan handuk. Wanita itu melirik teman kosnya dengan lirikan keheranan karena tidak biasanya Tiya terlihat rapi di malam hari seperti ini.
Tiya kini tengah berdiri di depan cermin. Ia melihat pantulan dirinya melewati media tersebut untuk memeriksa penampilannya. Celana jeans ketat berwarna biru laut dipadu padankan dengan t-shirt sederhana berwarna hitam dengan balutan jaket merah yang melindungi tubuhnya, Tiya sudah siap pergi bersama Jecki. Seperti janjinya tadi pagi jika ia akan pergi dinner oleh lelaki itu untuk malam ini. Ya meskipun ia merasa bahwa ini adalah jebakan dan hasil dari kecerobohannya. Tiya lebih suka berdiam di kosan dari pada pergi keluyuran. Badannya yang lelah setelah seharian bekerja harus ia istrirahatkan bukan untuk diajak begadang.
"Aku mau pergi makan malam dengan Jecki,"jawab Tiya seraya mencangklongkan tasnya di pundak.
"Wow ... Jadi kau sudah menerima cinta lelaki toxic itu?" tanya Zee dengan senyum penghinaan yang otomatis tergambar jelas dari ke dua sudut bibirnya. 'Toxic' iya, Zeesha selalu menyebut lelaki itu dengan istilah yang mengenaskan.
"Tidak. Aku hanya terpaksa pergi dengannya," jawab Tiya lalu mendengus kesal karena mengingat kebodohannya.
"Kenapa bisa?" Zee semakin ingin tahu saja. Karena dia itu paham jika Tiya tidak punya rasa apapun pada Jecki apalagi mau diajak kencan seperti ini.
"Karena kesiangan." Tiya duduk sebentar di pinggir ranjang.
Zee mengerutkan keningnya, "What? Apa hubungannya?" Jiwa kepo Zeesha semakin bergelora.
"Karena aku kesiangan dan dia menawariku tumpangan." Mengubah posisinya yang tadi duduk menjadi berbaring.
"Astaga. Jadi dia meminta imbalan begitu?"
"Hm ... " Tiya menganggukkan kepalanya seraya memeluk guling yang ada di sebelahnya.
"Ya Tuhan, dia pandai sekali memanfaatkan situasi ya? Hebat."
"Aku rasanya malas sekali, ingin tidur saja, Tuhan." Tiya menguap dengan cukup lebar karena badannya terasa lelah sekali.