8. Uang Adalah Segalanya

1004 Kata
Rasa malas semakin menyergap saat rasa kantuk pun datang menghampiri raga Tiya yang tengah kelelahan parah akibat seharian bekerja keras. Menguap beberapa kali hingga matanya mengeluarkan cairan bening. Sudah tidak dapat ia tahan lagi panggilan alam yang mengajaknya terlelap dalam buaian mimpi. Baru saja akan memejamkan mata, suara ketukan pintu membuyarkan niat Tiya. "Jecki is coming, Baby, (Jecki sudah datang, Sayang,)" kata Zee dengan memamerkan senyum mencela. Wanita yang sebentar lagi akan berangkat bekerja tersebut berkacak pinggang seraya mengamati sahabatnya yang enggan untuk beranjak dari tempat ternyamannya. "Kau membukakan pintu untuknya?" Pertanyaan ritoris yang sebenarnya tidak perlu Tiya lontarkan. "Dia sudah menunggu di depan, Tiy." "Huft .... " Tiya menghembuskan napas kasar. "Aku malas sekali, Zee," imbuhnya. "Cukup untuk yang pertama dan yang terakhir kali kau keluar dengannya. Aku kan sudah pernah bilang, beban hidupmu itu berat, Tiy. Carilah lelaki kaya yang bisa menopang semua penderitaanmu secara finansial!" Nasehat itu, sudah berapa puluh kali Tiya mendengarnya. Lelaki kaya, kaya dan kaya. Hei, apakah benar kita bisa hidup bahagia hanya dengan harta meski tanpa cinta? Zeesha selalu berkata, menikahlah dengan pria yang hartanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tidak peduli apakah ia berwajah tampan atau pas-pasan. Tidak urusan apakah dia lelaki muda atau pun tua bangka. Dan ... tidak peduli juga apakah dia pria beristri atau masih lajang. Money is more than everything (Cinta lebih dari segalanya), itu prinsip Zeesha. Iya, kita hidup memang membutuhkan uang. Untuk makan perlu uang, gaya hidup, memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan saat kita mati pun tetap membutuhkan uang untuk proses penguburan. Namun, yang menjadi tolak belakang dari cara berpikir Zeesha dan Tiya adalah ketika upaya kita untuk mendapatkan uang dengan menghalalkan segala cara. Kita perlu uang dan harta, tapi kita tidak berhak merusak ikatan yang sudah ada. Tegakah kita merampas kebahagiaan dari kaum kita sendiri? Belum lagi jika ada makhluk kecil yang tidak berdosa yang bernama 'Anak' yang menjadi korbannya. Sungguh tak sampai hati melihat anak yang tidak tahu apa-apa menangis karena perpecahan ke dua orang tuanya. Semua wanita di dunia ini pasti ingin hidup enak, tapi tidak dengan cara menjadi benalu dalam kehidupan wanita lain. Karena hakikatnya seorang wanita akan dinilai berharga ketika ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, meski tekanan hidup memaksa ia untuk menyerah, tapi lebih baik hidup dengan kepayahan dari pada menjadi perebut lelaki orang. Tiya Areyla. "Tidak ada yang tahu tentang jodoh, Zee. Begitu pun denganku. Bisa jadi lelaki yang menungguku di luar sana itulah jodohku, aku pun tidak tahu," ujar Tiya dengan nada lemah dan tatapan mata menerawang lurus ke depan tanpa memandang ke arah Zeesha yang menyorot tajam kepadanya. "No! Jodoh itu ada di tangan kita, bukan di tangan Tuhan! Kau bisa memilih dengan siapa kau akan menikah. Dan itu tidak dengan lelaki miskin dan bermodal paspasan seperti Jecki, Tiy," ketus Zeesha dengan volume suara yang diperbesar dari sebelumnya. "Shuut!" sergah Tiya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Pelankan suaramu! Nanti Jecki bisa mendengar!" imbuh Tiya menegur Zeesha dengan suara pelan, tapi tegas. "Jangan bersikap naif dan sok polos, Tiy!" Zeesha mengikuti keinginan Tiya untuk menurunkan volume suaranya, tapi tidak dengan emosinya yang masih meledak. "Kau butuh uang banyak. Setidaknya pikiran keluargamu di kampung! Dengan kau menikahi lelaki miskin, itu tidak akan merubah nasibmu, tapi justru memperparah kondisimu! Jadilah simpanan maka kau tidak akan bekerja keras seperti sekarang!" murka Zeesha. Lelah! Itulah yang Tiya rasakan, iya ... ia lelah terus beradu argumentasi tentang hal yang sama dengan Zeesha. Carilah pria kaya! Carilah pria kaya! Itulah yang selalu Zeesha gembar-gemborkan. Namun, pada kenyataannya hingga kini ia masih menjadi pemandu karaoke meski sudah memiliki kekasih yang kaya raya. Tepatnya simpan pria kaya raya yang sudah beristri. "Lalu untuk apa kau masih bekerja jika kau sudah mendapatkan gudang uang seperti yang kau mau?" cemooh Tiya tidak kalah emosi. "Aku bekerja karena kemauanku sendiri. Setidaknya aku tidak perlu bersusah payah seperti dirimu. kau bekerja di sebuah perusahaan yang besar dengan gaji yang besar pula, tapi kau tetap kekurangan uang." Zeesha balik mencemooh Tiya. Sabar ... Berikan aku kesabaran. Pikir Tiya. "Sebentar lagi aku akan meninggalkan kos-kosan kumuh ini karena Ivan akan membelikan rumah mewah untuk aku. Kalau kau mau, kau bisa ikut tinggal bersamaku, aku tidak masalah," imbuh Zeesha menyombongkan hasil jerih payahnya menjadi wanita simpanan orang. "Tidak! Aku tidak mau tinggal di rumah pemberian suami orang," tolak Tiya dengan cepat. Ivan adalah lelaki yang dipacari Zeesha tiga bulan belakangan. Lelaki berumur yang sudah memiliki istri dan dua orang anak. Pria yang seharusnya lebih pantas menjadi ayah untuk Zeesha. Dia adalah pengusaha mebel dengan omset ratusan juta rupiah per bulan. Cabang tokonya sudah menyebar dimana-mana dan tersohor dari segala kalangan masyarakat. Jelas kekayaan Ivan begitu menyilaukan untuk Zeesha yang gila harta. "Lebih baik kau mengikuti jejakku, Tiy!" Tiya melengos kesal, "Tidak akan pernah!" tolaknya. "Sampai kapan kau akan menjadi wanita munafik, Tiy?! kau membutuhkan uang!" cecar Zeesha masih kekeh dengan prinsipnya yang salah kaprah. "Tapi tidak dengan menjadi pelakor!" bentak Tiya sangat emosional. Air mata Tiya jatuh membasahi pipinya. Wanita itu benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi sesak di dadanya mendengar Zeesha terus menerus meminta dirinya untuk mengikuti jejaknya. Itu sangat bertentangan dengan hati nurani Tiya. "Kenapa kau selalu marah saat aku menyinggung tentang ini?" selidik Zeesha tak kalah emosional. Tiya menghapus bulir air mata yang jatuh di pipinya seraya berdiri dari tempat tidur yang ia duduki. Lalu, ditatapnya manik hitam Zeesha yang juga menyorot tajam ke arahnya. "Karena aku merasakan apa yang anak-anak Ivan rasakan!" jawab Tiya lantang. "A~apa ... Apa maksudmu, Tiy?" desis Zeesha tidak mengerti. "Kau ingin tahu bagaimana anak-anak Ivan jika mereka tahu Ayahnya memiliki wanita idaman lain?! Hah? kau ingin tahu bagaimana hancurnya hati mereka saat tahu bahwa cinta ayahnya sudah terbagi?" jerit Tiya cukup nyaring hingga membuat Jecki yang menunggu di pagar kostan Tiya pun bisa mendengar suara wanita itu. Zeesha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir melongo, sungguh ia tidak mengerti kenapa Tiya begini. "Hei, Tiy!" "Karena aku anak dari korban seorang pelakor, Zee! Aku ... " Napas Tiya tersengal, air matanya bercucuran. Ia memilih untuk menjeda perkataanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN