Tiya membawa dirinya ke parkiran kendaraan. Hanya tempat itulah yang sepi untuk saat ini. Tanpa menunggu lama lagi, Tiya segera menjawab panggilan suara dari ibunya.
"Hiks ... hiks ... Tiya .... " Isakan tangis sang bunda membuat sekujur tubuh Tiya meremang. Jantungnya bergemuruh dahsyat.
"I~Ibu ... Ibu kenapa, Bu? A~apa ... apa terjadi sesuatu dengan Tisha?" tanya Tiya dengan panik.
"Iya, Nak. Adikmu drop lagi. Ibu sudah membawanya ke rumah sakit dan sekarang Ibu sedang menunggunya di ruang UGD," jawab Ibu Sartika, Ibu Kandung Tiya.
"Ya Tuhan." Mendengar kabar seperti ini sudah menjadi hal yang biasa untuk Tiya, tapi tetap saja wanita itu panik bukan kepalang setiap kali mendengar adiknya dalam bahaya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Bu?" tanya Tiya kebingungan.
"Tunggu sebentar, Nak! Dokter sudah keluar," ujar Ibu Sartika
"Jangan tutup teleponnya!" pintanya.
"Iya, Bu," sahut Tiya.
Wanita itu pun mendengarkan percakapan antara Ibu dan juga dokter yang menangani adiknya melalui sambungan suara yang masih terhubung.
**
"Ada apa, Tiy?" tanya Jecki ketika melihat wajah Tiya yang murung dengan mata yang kembali memerah.
"Aku pikir, aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir, Jeck. Aku harus menemui Kak Selia sekarang juga," jawab Tiya yang kemudian dengan terburu-buru berjalan masuk ke dalam ruangan Selia yang berada tidak jauh dari tempatnya.
**
"Aku akan melakukan apapun demi Ibu dan adikku. Apapun itu asal semua kebutuhan mereka terpenuhi," lirih Tiya.
Wanita cantik yang tengah dirundung kesedihan itu sedang duduk diam di dalam kamar kosnya seorang diri. Lampu kamar ia biarkan padam dan membuat suasana menjadi semakin memilukan.
Sudah berapa lembar tissue yang ia tarik untuk menghapus air matanya, Tiya tak tahu. Kertas tipis dan putih itu berserakan di mana-mana dengan keadaan basah karena air mata Tiya yang tiada henti untuk menetes.
Hidup begitu keras menempanya dengan berbagai nestapa sejak ia kecil hingga ia dewasa. Terkadang keluh kesah tanpa sadar lolos dari mulut Tiya, tapi kembali lagi bahwa langkah kakinya harus terus berjalan ke depan, jika ia lemah lalu bagaimana dengan nasib ibu dan adiknya yang kini telah menopangkan sepenuh hidup mereka kepada Tiya?
"Kenapa nasibku seperti ini? Ujian datang silih berganti. Lalu kemana aku harus mencari uang untuk biaya operasi Tisha? Belum lagi uang tiga puluh juta untuk mengganti ponsel Pak Erland yang rusak. Ya Tuhan, kepalaku berasa mau pecah," keluh Tiya meratapi nasibnya yang sungguh sial.
Tiya harus berpikir keras untuk mendapatkan uang dalam jangka waktu yang singkat. Dan di saat berpikirnya itu, Tiya teringat kalau ia masih memiliki beberapa perhiasan yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya. Tiya yang duduk berselonjoran di atas tempat tidur gegas menyalakan lampu kamarnya agar ia lebih mudah mencari perhiasan yang ia maksud.
Tiya masih ingat benar bahwa perhiasan itu ia simpan di laci lemari pakaian pribadinya. Dengan sabar Tiya mencari benda tersebut, hampir saja Tiya ketakutan karena khawatir jika barang mahal itu hilang, tapi syukurlah benda itu masih utuh pada tempatnya.
Kotak perhiasan yang terbungkus kain bludru berwarna merah itu segera Tiya ambil untuk ia lihat isinya. Satu set perhiasan, gelang, kalung, cincin dan anting masih terpasang rapi pada tempatnya masing-masing. Kemilau emas berwarna kuning mengkilat serta batu permatanya yang berkerlap-kerlip menampakkan sebuah jalan keluar dari permasalahan Tiya saat ini. Tentu harga aksesoris wanita yang ia dapat dari hasil menabungnya sedikit demi sedikit itu bernilai lumayan apabila dijual kembali.
"Aku belum pernah pakai perhiasan ini sama sekali. Besok akan aku jual di toko di mana aku membelinya," gumam Tiya membuat sebuah rencana untuk menyelesaikan masalahnya.
**
Meski masalahnya tentang uang sudah berhasil ia pecahkan, tapi Tiya tetap saja tidak dapat tidur dengan nyenyak malam ini. Dia terus teringat dengan kondisi adiknya di rumah sakit. Tiya kasihan juga pada ibunya yang seorang diri merawat Tisha tanpa bantuan siapapun. Namun, apa mau dikata, Tiya memiliki tanggung jawab yang sangat besar demi kelangsungan hidup adik dan juga ibunya.
"Andai ayah tidak meninggalkan aku dan ibu, pastilah hidupku tidak akan seberat ini," tutur Tiya yang kini harus mengingat kembali masa lalunya yang kejam.
Pukul dua belas malam. Dan wanita cantik ini masih terjaga. Beberapa kali ia menghubungi ibunya untuk menanyakan perihal perkembangan kondisi Tisha. Tiya juga berkata bahwa esok ia akan pulang ke kampung setelah menjual perhiasannya. Namun, Tiya teringat akan janjinya pada seseorang yaitu Erlando.
"Selama tiga hari ke depan aku harus menemani Pak Erlando makan malam dan ... uang tiga puluh juta untuk mengganti ponselnya yang rusak .... " Tiya kembali merasakan kepalanya mau pecah ketika bayang-bayang ponsel Erlando kembali menari-nari di otaknya.
"Ya Tuhan, dia pasti akan marah jika aku melanggar janjiku. Dan jika ia marah bisa saja ia melaporkanku pada Pak Alex. Lalu aku harus bagaimana?" Tiya dirundung keresahan.
Jarum jam terus berputar meski Tiya seolah ingin menghentikannya. Hidup dalam himpitan permasalahan yang pelik memanglah sangat menyita pikiran dan juga perasaan.
Pukul tiga pagi, terdengar suara orang membuka pintu kamar kostan Tiya. Siapa lagi yang datang jika bukan Zeesha? Ini jam Zeesha pulang bekerja dan Tiya hapal akan hal itu.
Zeesha sengaja tidak menyalakan lampu kamarnya. Ia duduk di atas kursi sambil menatap bengong sang sahabat yang terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang terbungkus selimut sebagian.
"Aku harus minta maaf. Aku salah ... jika aku ingin menjadi orang jahat, maka jahatlah seorang diri dan jangan mengajak orang lain! Aku memang pendosa, tapi akan lebih menjijikkan jika aku meminta orang untuk melakukan hal yang sama denganku," ujar Zeesha lirih. Pertengkarannya dengan Tiya membuat ia menyadari kesalahannya. Ya ... meskipun ia masih berberat hati untuk melepaskan Ivan.
Zeesha beranjak dari tempatnya. Ia buka jaket dan juga sepatu hak tinggi yang menutupi kakinya. Pakaian minimnya terlihat sangat sexy membalut tubuh Zeesha yang indah. Dan beginilah kata Zee dalam memanfaatkan apa yang Tuhan berikan, dengan mengumbar auratnya untuk menjerat para tamu kelas atas yang gemar mencari selingan.
"Zee," lirih Tiya menyapa sang sahabat seraya membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Zeesha kaget bukan kepalang, karena ia pikir sahabatnya itu sudah tertidur lelap, tapi ternyata Tiya masih membuka mata meski sebentar lagi matahari telah terbit dan kembali menghiasi dunia.
"Astaga! kau belum tidur, Tiy?" tanya Zeesha seraya menyalakan lampu kamar mereka.
"Iya, Zee. Aku banyak pikiran. Mataku mengantuk sekali, tapi mataku tidak bisa terpejam," jawab Tiya.