16. Menjual Perhiasan

1007 Kata
"Ada apa lagi, Tiy? Apa Tisha kembali anfal?" Apalagi yang membuat Tiya sesedih dan segalau ini jika bukan tentang ibu dan adiknya. Dan Zeesha paham itu. "Hm ... kau benar, Zee. Dokter mengatakan jika Tisha harus segera dioperasi," jawab Tiya lesu. "Ya Tuhan, dan kau harus mengeluarkan biaya lagi untuk ini?" Tiya mengangguk. "Aku akan menjual perhiasanku untuk menutupi biaya operasi Tisha. Semoga saja harga jualnya tidak terlalu merosot tajam." Tanpa sadar air mata Zeesha menetes. Seolah ada goresan di dasar hatinya yang membuat Zeesha ingin menangis melihat perjuangan Tiya yang begitu besar untuk keluarganya. "Hei, kenapa denganmu?" tanya Tiya keheranan. Tidak biasanya Zeesha lemah seperti ini. Zeesha semakin terisak. Ia merengkuh tubuh Tiya dan memeluknya dengan cukup erat. "Zee, ada apa denganmu? Apa Ivan meninggalkanmu?" tanya Tiya mengorek informasi. Dielusnya punggung wanita itu dengan lembut untuk menenangkan. Zeesha menggelengkan kepalanya mantab. "Ini tidak ada hubungannya dengan aku, Tiy. Tapi aku menangis karena dirimu," terangnya. "Kenapa dengan aku?" tanya Tiya tidak mengerti. Zeesha sudah paham dengan hidupnya sejak dulu. Bagaimana ia bersusah payah untuk menjadi tulang punggung keluarga, lalu kenapa baru sekarang Zeesha merasa sedih? "Sungguh tidak bersyukurnya aku, aku bekerja untuk membiayai hidupku sendiri, tapi aku masih kerap mengeluh, apalagi bila aku di posisimu." Tiya menuntun Zeesha untuk duduk di atas tempat tidur agar mereka bisa bicara dengan lebih enak dan nyaman. "Zee, itulah manusia yang kadang suka lupa daratan. Sesekali kita harus menengok ke bawah agar kita tetap ingat untuk bersyukur dan perlu juga melihat ke atas untuk memotivasi diri kita. Jangan pernah sombong! Karena Tuhan bisa mengubah nasibmu kapan saja. Ketika kita memberi kepada yang membutuhkan, itu bukan karena kita memiliki uang yang banyak, tapi karena kita tahu rasanya menjadi orang yang tidak punya," tutur Tiya dengan sangat bijaksana. Meski dalam kesusahan kerap kali keluhan lolos dari bibirnya, tapi Tiya selalu ingat untuk tetap bersyukur. Sebab di setiap kesusahannya, Tuhan selalu memberi Tiya kemudahan dan jalan keluar. "Iya, kau benar, tapi aku tidak sesabar dirimu. kau memang wanita yang sangat kuat, Tiy. Semoga Tuhan memberimu kebahagiaan suatu saat nanti," ujar Zeesha dengan terisak-isak mendoakan sahabatnya. "Amin, Zee. Terima kasih doanya, Ya." "Dan kau ... sudah tidak marah lagi denganku? Sungguh maafkan aku, Tiy! Aku tidak tahu kalau ayahmu seperti itu," ucap Zeesha merasa sangat menyesal. Wanita itu semakin menangis kencang. "Sudahlah! Lupakan saja! Jangan menangis seperti ini! Dasar cengeng," sahut Tiya santai, karena persahabatan adalah hal yang terpenting untuknya. Lupakan saja tentang egonya, itu tidak lagi berharga jika akhirnya berimbas pada hubungannya dengan Zeesha. "Benarkah? kau memang baik, Tiya. Tidak ada sahabat sepengertian dan sesabar dirimu dalam menghadapi sikapku yang keras kepala ini," seloroh Zeesha sangat lega. "Aku sudah mengenalmu sejak lama, kita berjuang bersama di kota asing ini. Dan untuk itulah aku sangat menghargai persahabatan kita ini," sahut Tiya. "Sekarang begini saja, Zee." Tiya mengajak Zeesha masuk ke dalam pembahasan serius. "Bagaimana?" tanya Zeesha singkat. "Kita memiliki prinsip masing-masing dalam menjalani hidup. Aku tidak bisa mengikuti prinsipmu dan kau pun pasti tidak bisa menuruti prinsipku. Tugasku hanya menasehatimu. kau jalankan atau tidak itu sepenuhnya hakmu. Jadi aku tidak mau kita berdebat lagi tentang hal yang sama," jawab Tiya memberi jalan tengah agar pertikaian yang terjadi antara mereka karena perbedaan prinsip tidak terulang lagi. "Hm ... iya baiklah aku setuju," ucap Zeesha seraya melempar senyum pada Tiya. Setelah perbincangan mereka, Tiya memutuskan tidur sejenak, meski hanya empat jam saja, tapi lumayanlah dari ada tidak tidur sama sekali. Pukul tujuh pagi, Tiya sudah kembali membuka mata dan masuk ke kamar manndi. Biasanya di hari sabtu seperti ini adalah waktunya untuk bersantai, tapi tidak untuk kali ini. Ada tanggung jawab yang besar yang harus ia selesaikan. "Zee, aku mau ke toko perhiasan setelah itu aku langsung pulang ke kampung, ya. Ibu sudah menungguku di rumah sakit," pamit Tiya pada Zeesha yang masih malas-malasan di balik selimut. "Hm ... iya, hati-hati di jalan, Tiy. Kabari aku kalau sudah sampai!" sahut Zeesha dengan suara parau khas bangun tidur. Tiya memeluk Zeesha sebentar kemudian keduanya saling memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri. ** Dengan menggunakan ojek online andalannya, Tiya melakukan perjalanan menuju ke toko perhiasan. Sepanjang jalan ia berdoa semoga hasil penjualan perhiasannya ini bisa menutupi biaya rumah sakit Tisha. Saat jarum jam menunjukkan pukul delapan lebih seperempat, kendaraan yang ditumpangi Tiya berhenti tepat di depan alamat yang ia ketik pada aplikasi ojek online. Setelah membayar ongkos transport sesuai perjanjian, wanita itu tidak membuang waktunya dan bergegas masuk ke dalam tempat yang dijaga oleh dua orang satpam tersebut. Syukurlah ia datang pagipagi hari saat toko baru saja dibuka dan belum banyak diserbu pengunjung. "Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu." Pelayan toko yang profesional menyambut Tiya dengan sangat sopan menawarkan bantuan. Tidak lupa senyum ramah yang selalu mereka berikan setiap kali melayani pelanggan. Tiya mengeluarkan kotak perhiasan dari dalam tasnya. Diletakkannya benda itu di atas etalase kaca yang menjadi pembatas antara Tiya dan juga petugas yang melayaninya tersebut. Setelah memastikan jika barang itu asli sesuai dengan surat yang Tiya lampirkan, proses transaksi pun terjadi. Sempat terjadi tawar menawar beberapa menit, tapi akhirnya tetap Tiya yang harus mengalah karena tidak ada jalan lain lagi. Waktunya tidak banyak, pukul dua belas siang adiknya harus segera dioperasi. Mau tidak mau Tiya menerima harga beli yang toko itu ajukan. Setelah menjual perhiasannya, Tiya keluar dari toko tersebut dan kembali memesan ojek online untuk mengantarnya sampai ke terminal. Namun, sebelum ojek yang dia pesan datang, berhentilah sebuah mobil berwarna hitam metalic tepat di depan Tiya berdiri. Refleks wanita itu mundur dua langkah ketika dua orang wanita berambut pendek dan bertubuh tegap layaknya seorang polisi wanita keluar dari mobil mewah tersebut. "Selamat pagi, Nona Tiya Areyla," sapa salah satu wanita yang memakai pakaian formal serba hitam itu dengan suara yang tidak kalah tegas dari penampilannya. Kenapa wanita ini bisa mengenal namaku? Tanya Tiya dalam batin. "Iya, Selamat pagi," sapa balik Tiya. "Bisakah anda ikut saya, Nona?" tawar wanita itu dengan intonasi yang masih tegas bila didengar, tapi sopan. "Maaf, tapi anda siapa?" Sesopan-sopannya wanita itu, tetap saja Tiya merasa takut dan was-was.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN