"Tenang saja, Nona! Kami bukan orang jahat. Bos kami meminta kami untuk menjemput anda," jawab wanita itu.
Apapun yang wanita itu katakan, Tiya masih juga tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang kini mampir dalam hatinya. Di jaman yang serba gila seperti saat ini banyak orang jahat yang menyamar sebagai orang baik demi melancarkan aksi mereka. Bukan hal yang mustahil jika mereka pun sedang bersandiwara saat ini untuk mengelabui Tiya.
"Maaf, tapi saya tidak ada urusan dengan anda," ucap Tiya berusaha bersikap tenang meski detak jantungnya sudah tidak lagi sesuai irama yang seharusnya.
"Saya mohon, Nona! Ikutlah dengan kami!"
**
"Sania, Dania, tolong bilang pada bos kalian untuk melepaskan saya! Saya orang miskin, saya tidak punya apa-apa yang bisa kalian ambil. Dan ... uang ini ... " Tiya segera menyembunyikan amplop cokelat berisi uang hasil penjualan perhiasan pada balik punggungnya.
"Uang ini mau saya pergunakan untuk membiayai pengobatan adik saya, jadi saya mohon jangan diambil!" pinta Tiya.
"Hahahaha ...!" Kedua wanita itu menertawakan Tiya dengan kompak.
"Kenapa kalian tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Tiya keheranan.
"Nona, bos kami memiliki uang yang jauh-jauh-jauh lebih banyak dari pada anda. Jadi jangan khawatir! Beliau tidak menginginkan harta anda yang tidak seberapa ini," ledek Sania kemudian ia dan kawannya kembali menertawakan Tiya.
"Kalian ini ya benar-benar keterlaluan! Lalu .... " Tiya menyapukan pandangan matanya keluar jendela mobil.
"... kalian mau membawaku ke mana? Aku mohon jangan sakiti aku!" Tiya mengatupkan ke dua tangannya dengan ekspresi penuh iba.
"Saat ini saya harus segera pulang ke kampung ... adik saya ... adik saya sakit keras ... " cerita Tiya dengan terputus-putus. Air matanya mulai mengembang. Tangis Tiya pun berguguran tanpa menunggu waktu lama.
"Saya menjual perhiasan juga untuk membiayai operasi adik saya. Jadi tolong lepaskan saya! Saya harus segera pulang." Tiya masih mengiba agar Sania dan Dania mau melepaskannya. Dia benar-benar memikirkan keadaan adiknya. Kehadirannya amat sangat dibutuhkan oleh Ibundanya dan juga Tisha.
Mobil mewah yang Tiya tumpangi dan dikendarai oleh seorang lelaki paruh baya bernama Pak Kusman, masih melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan ibu kota terasa lengang di hari libur seperti ini.
Siapa bos mereka dan apa urusannya denganku? Aku ini siapa? Bukan orang penting, artis pun juga bukan. Untuk apa mereka membawaku? Tidak ada untungnya sama sekali dengan menculikku seperti ini. Gerutu Tiya.
"Apa anda sedang mendongeng, Nona?" tanya Dania tidak sepenuhnya percaya dengan cerita Tiya.
Tiya membelalakkan bola matanya. Ditataplah wanita berambut cepak yang memperkenalkan dirinya dengan nama Dania Danendra itu dengan super galak.
"Apa kau bilang?! Mendongeng?! kau pikir aku orang yang tidak punya otak bisa membuat lelucon seperti ini? Hah?" murka Tiya tidak terima dengan tuduhan yang Dania lontarkan.
"Maaf, Nona! Saya hanya bercanda," sahut Dania mengakui kesalahannya, tapi apa mau dikata? Tiya sudah terlanjur sakit hati dengan tuduhan Dania padanya.
Tangis Tiya pecah. Ia meraung-raung seperti anak kecil kehilangan mainannya. Sungguh seenaknya sekali nasib mempermainkan hidup Tiya. Sudah susah, masih dibuat susah lagi dengan kehadiran dua wanita asing yang menculiknya tanpa permisi.
Iya, kalau permisi namanya bukan menculik, tapi mengajak kan? Eh, harus diralat! Dania dan Sania sudah meminta Tiya untuk ikut bersama mereka secara baik-baik, tapi Tiya yang meminta untuk dipaksa.
"Nona, diam Nona! Jangan menangis!" Dania berusaha membuat tangis Tiya reda. Wanita itu juga mengelus-elus punggung Tiya sebagai action bahwa Dania benar-benar tulus meminta maaf dan menyesal sudah menuduhnya yang bukan-bukan.
"Kau yang diam!" sentak Tiya emosi.
"Kau sih suka seenaknya bicara!" Sania menyalahkan mulut ember rekannya.
"Ya maaf, Mbak," balas Dania gantian meminta maaf pada Sania.
Tiya masih saja menangis sembari memeluk segepok uang yang berada dalam amplop cokelat, seolah ia takut ada orang yang akan merampas uang itu darinya.
"Aku ini orang miskin! Aku ini tidak punya apa-apa!" teriak Tiya.
Ya Tuhan, cantik-cantik mulutnya lebar amat yak? Pikir Pak Kusman melirik Tiya dari kaca spion yang ada di depannya, di sela konsentrasinya menyetir.
"Iya, kami tahu, Nona," sambut Dania dan Sania beriringan.
"Kalau kalian sudah tahu kenapa kalian nekad menculikku?!" geram Tiya membelalakkan bola matanya yang memerah menatap ke arah Dania dan Sania bergantian.
"Kami hanya menjalankan perintah dari bos kami, Nona," terang Dania dengan jawaban yang sama.
"Bos-bos-bos ... siapa bos kalian? Cepat telpon Bos kalian yang tidak punya akal sehat itu sekarang juga!" perintah Tiya dengan nada suara yang masih meninggi. Dia bahkan masih terisak-isak. Dania dan Sania, tak terkecuali Pak Kusman sampai melonjak kaget karena teriakan Tiya yang begitu nyaring dan melengking menyakiti pendengaran mereka.
"Nona, jangan bicara seperti itu tentang bos kami!" tegur Dania.
"Bodo! Bodo! Bodo!" Tiya menghapus ingus yang meleleh dari kedua lubang hidungnya dengan punggung tangan. Dania dan Sania langsung menggeser posisi duduk mereka.
Cantik-cantik jorok. Pikir mereka dalam hati masing-masing.
"Tissue! Aku mau tissue!" jerit Tiya lagi.
"Eh .., iya ...." Sania lekas memerintahkan Pak Kusman untuk mengambil tissue bermerk "Pakseo" yang tergelak di atas dashboard mobil.
"Ini, Nona!" Seraya mengulurkan sekotak tissue itu pada Tiya.
"Tolong pegangin uangku dulu!" Tiya memberikan amplop cokelat yang ia bawa kepada Sania.
Tiya menarik beberapa lembar tissue dari tempatnya. Dengan cepat ia menghapus air mata seingus-ingusnya.
"Jangan dilihat isinya!" bentak Tiya saat Sania yang tukang kepo akan mengintip isi di dalam amplop yang Tiya titipkan. Gelagapan Sania menutup kembali amplop yang sudah ia buka sedikit ujungnya tersebut.
"Duit anda sedikit sekali, Nona," cemooh Sania dengan santainya.
Dan gegara ini, satu lembar tissue berselai ingus yang sudah Tiya remat-remat menjadi bola kecil mendarat mulus tepat menyentuh bibir Sania.
"Piiih ...!" Sania mengibas benda laknat yang tidak tahu diri itu, kemudian mengusap-usap bibirnya dengan jijik-jijik gimana gitu ya kan .... kita udah putus, tapi kok masih sayang ... jangan nyanyi, Thor!
"kau menghinaaaaku?" sembur Tiya dengan mata melotot macam kodok.
"Saya tidak menghina anda, Nona. Saya bicara apa adanya."
"Hush!" pekik Dania seraya menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.
"Jangan bilang seperti itu, Mbak! Nanti Tuan Puteri menangis lagi," tegurnya.
"Aaaaargghhaa ...." Dan benar saja, lengkingan suara tangis Tiya kembali memenuhi gendang telinga mereka 'yang tadinya normal', dan setelah ini bisa dipastikan telinga mereka tidak akan normal lagi bila dichek ke klinik THT terdekat.
"Masya Allah ..., Allahu Akbar ...." lirih Pak Kusman sembari mengelus-elus dadanya.