18. Harus Dipercepat

1000 Kata
"Nona, kenapa menangis lagi?" tanya Sania dan Dania kompak. "Telponkan bos kalian sekarang juga! AYO CEPAT!" tekan Tiya dengan lantang. "Memang Nona mau bicara apa? Tinggal bicara saja sie! Bos kami pasti akan mendengarnya kok," ujar Dania. "Apa Bosmu itu cenayang? Atau mungkin ilmunya setara dengan kuasa Tuhan?" tanya Tiya dengan pertanyaan yang super lugu. "Hahaha." Tawa Dania, Sania dan Pak Kusman menggelegar. "Diiiiiiiaaaaaaam!" sentak Tiya membungkam mulut ketiga manusia menjengkelkan itu dengan cepat. 'Tutup telinga!' Otak kiri ketiga anak buah dari bos misterius tersebut memerintah seperti itu. Suara Tiya benar-benar memekakkan telinga. Kompak Sania dan Dania menyumbat daun pintu ... eh maaf ... daun telinga mereka dengan kedua telapak tangan, kecuali Pak Kusman yang tidak mungkin lepas tangan dan membiarkan mobilnya berjalan sendiri tanpa ia kendalikan. Mohon maap, Pak Kusman bukan gajah sirkus yang pinter atraksi ya! Lama-lama aku bisa kehilangan pendengaranku. Gerutu Pak Kusman. "Kalian mempermainkan aku!" dengus Tiya. "Bukan seperti itu maksud kami, Nona. Tapi percayalah jika kami tidak memiliki niat buruk denganmu!" ujar Dania. "Tapi percayalah juga kalau aku harus segera pulang ke kampung untuk memberikan uang ini pada ibuku! Tolonglah! Biarkan aku pulang ... setelah urusanku selesai kalian boleh menculikku lagi kok," tawar Tiya kembali memasang ekspresi yang menyedihkan. "Biarkan bos kami yang memutuskannya, Nona," sambut Sania. "Bagaimana Bosmu akan memutuskan jika dia tidak tahu apa yang aku inginkan?" protes Tiya geram. "Beliau tahu semua yang kita bicarakan, Nona. Percayalah!" Untuk pertama kalinya lelaki satu-satunya yang ada di dalam mobil itu mengeluarkan suaranya. "Bos kalian bisa tahu apa yang kita bicarakan? Apa dia .... " Tiya mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut mobil. Membungkukkan sedikit punggungnya untuk menelisik keadaan di bawah jok mobil yang ia duduki. Menengok ke belakang untuk mencari tahu apakah ada makhluk lain yang bersembunyi di belakang sana. ".... ikut bersama kita dan menguping pembicaraan kita? Di mana bosmu yang kurang ajar itu bersembunyi?" lanjut Tiya menyelidiki. "Astaga! Jangan bilang bosku kurang ajar, Nona! Dia mendengar setiap ucapan anda." Peringatan kembali Sania lontarkan agar Tiya menjaga ucapannya. Ponsel Tiya yang ia letakkan di dalam tas berdering nyaring. Sebuah incoming call dari Sang Bunda. Jantung Tiya berdebar hebat. Ada apalagi dengan Tisha? Pasti sekarang ibu sedang harap-harap cemas menanti kehadirannya, sedangkan ia malah sejak tadi sibuk membuang-buang waktunya untuk bermain-main dengan ketiga makhluk kasat mata, tapi tidak kasat apa tujuannya. "Nak ... kau sampai mana? Operasi Tisha harus segera dipercepat." Suara Ibu terdengar parau. Helaan napasnya pun masih terasa berat. Tiya merasa sangat sedih. Entah berapa lama ibunya ini harus menangisi keadaan adiknya. Tiya meloudspeaker percakapannya dengan Sartika agar ketiga anak buah 'Bos' itu bisa mendengarnya. Dan syukur-syukur bosnya ikut menyimak juga dan menjadi iba hingga berkenan untuk melepaskan Tiya. "Ibu, tunggu sebentar, ya! Aku akan segera sampai." Terpaksa Tiya berbohong untuk melegakan hati Sartika. Panggilan suara terpaksa Tiya tutup secara sepihak karena ia tidak mau ibu mendengar tangisnya. "Kalian dengar kan? Aku tidak berbohong ... adikku membutuhkan uang ini ... hiks ...." Tiya terisak-isak. "Nona, iya-iya kami percaya dengan anda. Jangan menangis! Kami mohon .... " Dania merasa semakin bersalah karena sempat meragukan cerita Tiya. "Bos menelpon," sela Pak Kusman seraya memberikan ponselnya kepada Sania. "Siap, Pak," kata Sania memulai pembicaraan. "San, berikan ponselnya sama aku! Biar aku yang bicara sama bosmu!" Tiya mencoba merampas handphone yang ada di tangan Sania, tapi dengan cepat Sania menangkis tangan Tiya sambil tetap melanjutkan obrolannya by phone. "Baik, Bos. Siap laksanakan!" seru Sania dan panggilan suara pun terputus. "Kenapa kau tidak mengijinkan aku bicara dengan bosmu? Aku mau secepatnya pulang ... tolong lepasin aku!" rengek Tiya merasa frustasi. "Tenanglah, Nona! Semua akan baik-baik saja!" sela Dania seraya menggenggam jemari tangan Tiya dengan erat. Tangis Tiya semakin pecah ketika ia mengingat nasib adiknya. Wanita itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. "Bagaimana aku bisa datang lebih awal? Sedangkan perjalanan dari sini ke kampungku membutuhkan waktu tiga jam. Dan ini hari Sabtu, semua bank juga tutup, bagaimana caraku mentransfer uang sebanyak ini? Adikku membutuhkan biaya ... nyawanya dalam bahaya ... aku mohon kasihanilah aku!" racau Tiya semakin terhimpit oleh keadaannya yang bak telur diujung tanduk. "Siapa nama adik anda dan di mana ia dirawat, Nona?" tanya Sania. "Tisha Nadhira, Rumah Sakit Harapan Sehat bla ... bla .... " Tiya menyebutkan alamat rumah sakit itu secara rinci. "Baiklah, Nona. Masalah anda akan segera bos kami selesaikan," sahut Sania. "Apa maksudmu? Aku mau ke rumah sakit sekarang juga! Tolong antar aku ke terminal!" Tiya meminta akan hal yang sama. "Duduklah dengan tenang, Nona!" perintah Dania. ** Senyum matahari tengah berada di atas pucuk kepala. Terik dan panas yang menyengat tak mematahkan semangat Tiya untuk segera bertemu dengan adiknya. Mobil yang ia tumpangi kini telah tiba di kampung asal kelahirannya. Pak Kusman memacu kecepatan cukup tinggi agar bisa secepatnya tiba ke tempat tujuan. Namun, tetap keselamatanlah yang paling utama. Dengan dikawal oleh Sania dan Dania, Tiya berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit. Tanpa banyak membuang waktu, wanita itu segera menuju ke tempat di mana adiknya dirawat. "Mbak, pasien atas nama Tisha Nadhira di kamar nomor berapa?" tanya Tiya pada suster yang berjaga. "Pasien bernama Tisha Nadhira sudah dipindahkan di ruang VVIP Ruang Permata lantai dua pasca operasi, Mbak," jawab perawat wanita itu setelah mengotak-atik komputer yang ada di hadapannya. "Terima kasih ya, Mbak," balas Tiya. Langkah kaki Tiya masih memburu. Dan dua wanita yang kini ibarat pengawal untuknya selalu setia mendampingi Tiya. Tiya menggunakan bantuan lift agar lebih cepat menjangkau tempat yang ia tuju. Dalam hati ia berpikir, apa benar bos misterius Dania dan Sania yang membayar semua biaya operasi adiknya? Namun, logikanya operasi tidak akan dilaksanakan bila uang belum pihak rumah sakit terima kan? Dan Ibu Sartika pun tidak mungkin memindahkan kamar rawat Tisha dengan kelas VVIP, karena beliau tahu jika Tiya tidak akan mungkin mampu membayarnya. "Ibu!" seru Tiya ketika ia mendapati ibunya tengah duduk di ruang tunggu. "Tiya!" Berdiri dari tempat duduknya dan meregangkan kedua tangan untuk menerima pelukan dari anaknya. "Ibu, bagaimana keadaan Tisha?" tanya Tiya. "Alhamdulillah operasinya sukses, Nak," jawab Sartika dengan senyum penuh kelegaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN