19. Keputusasaan Tisha

1000 Kata
"Alhamdulillah. Tapi, Bu .... " Tiya mengambil segepok uang yang ia simpan di dalam tasnya. "Uang ini masih aku bawa dan operasi sudah selesai dilaksanakan. Lalu siapa yang membayarnya?" lirih Tiya. "Nona." Sebuah tepukan pelan Sania daratkan pada bahu Tiya. Wanita itu lekas menoleh, pun Sartika yang menatap Sania dan juga Dania bergantian. Beliau merasa aneh dengan dua wanita berbaju hitam formal yang datang bersama anaknya. "Kami sudah bilang jika bos kamilah yang membayar semua biaya rumah sakit adik anda," ujarnya. Mata Tiya kembali mengeluarkan embun bening. "Kenapa dia baik sekali denganku?" tanya Tiya merasa tersentuh hatinya. "San ... " Tiya menyerahkan uang yang dibawanya pada Sania. "Berikan uang ini pada bossmu, Ya!" pinta Tiya. "Untuk apa, Nona? Bos saya ikhlas membantu anda. Dia tidak membutuhkan uang anda. Simpanlah saja! Atau berikan pada ibu anda!" jelas Sania seraya mengembalikan uang itu ke tangan Tiya. "Hiks ... hiks .... " Tiya kembali terisak-isak. "Aku sungguh berterima kasih pada bos kalian. Jika aku pulang naik bus antar kota pun aku tidak akan sampai secepat ini. Dan ... bos kalian yang baik hati itu pun sudah membayar biaya rumah sakit adikku dan memberikannya ruangan yang nyaman ... terima kasih ...." jelas Tiya terharu bukan main rasanya. "Sama-sama, Nona," sahut Sania dan Dania berbarengan. "Bolehkah aku tahu siapa bos kalian yang baik hati itu? Atau tolong hubungi dia dan biarkan aku bicara dengannya!" "Untuk saat ini beliau belum mau untuk bicara dengan anda, Nona," ucap Dania. Tiya kecewa, tapi apa mau dikata dia memang harus bersabar hingga orang misterius itu mau muncul dan berkomunikasi dengannya. ** Hari mulai petang. Tiya menggantikan sang bunda untuk menjaga adiknya. Sejak operasi selesai hingga saat ini, Tisha belum juga sadarkan diri. Tiya duduk di samping adiknya yang terbaring dengan beberapa alat medis yang menempel pada tubuh gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut. Betapa rasa kemanusiaan Tiya terkoyak, ketika ia melihat kondisi adiknya yang semakin kurus dan pucat. Tiya tak tega ketika ia mengingat bahwa banyak harapan dan cita-cita yang terpaksa harus Tisha kubur karena imbas dari penyakit yang perlahan menggerogoti kesehatannya. "Kau harus sehat, Sha," lirih Tiya seraya menggenggam jemari tangan Tisha yang terpasang selang infus pada pergelangannya. Tiya mengharap agar adiknya segera sadar, tapi ada PR besar untuk dia dan ibunya saat sang adik membuka mata nanti, yaitu bagaimana caranya mereka menjelaskan pada Tisha? Bahwa sekarang kedua kaki Tisha sudah diamputasi oleh dokter akibat sel kanker yang sudah menyebar dan tidak ada cara lain selain mengorbankan kedua kakinya untuk memperpanjang usia Tisha. Apakah Tisha akan siap menerima kenyataan? Atau dia akan semakin terpuruk oleh keadaan? Dokter berkata jika psikologis seorang pasien sangat berpengaruh pada proses pengobatan. Sebisa mungkin perasaannya harus dijaga agar tetap dalam keadaan mood yang baik. Lalu bagaimana caranya seseorang baik-baik saja setelah kehilangan dua kakinya bersamaan? Bahkan keadaan mental Tiya dan ibunya saja down apalagi dengan Tisha. Namun, mereka tidak boleh terlihat lemah di hadapan Tisha. Mereka harus tegar dan kuat meski hati mereka pun remuk redam. "Nona, anda belum makan sejak siang. Makanlah dulu, Nona! Saya sudah membelikan anda makanan." Sania datang dengan membawa dua kresek makanan untuk Tiya. "Ya Tuhan, aku merepotkanmu. Terima kasih, Ya!" sahut Tiya kemudian meraih tentengan yang dibawa Sania. "Sama-sama, Nona," ujar Sania melempar senyum pada Tiya lalu keluar dari ruang perawatan Tisha. Tiya menengok isi tas kresek yang diberikan oleh Sania. Ada dua porsi nasi goreng seafood dalam tas plastik tersebut. Mungkin yang satu lagi untuk Ibu Sartika. "Aku benar-benar penasaran siapa bos Sania dan Dania yang sudah berbaik hati bantuin aku? Lalu apa motivasinya membawa aku pergi tadi pagi? Ya Tuhan ... apa yang orang itu inginkan dari aku? Tentu di jaman sekarang orang tidak akan memberikan bantuan secara cuma-cuma kan? Tapi siapa dia? Bahkan, aku tidak tahu lho dia itu perempuan atau laki-laki," gumam Tiya. "Tapi Sania bilang jika bosnya tidak membutuhkan uangku, lalu apa yang ia butuhkan dariku? Ya Tuhan ... lindungilah aku! Semoga dia tidak memintaku membalas dengan yang tidak bisa aku lakukan," lanjutnya. ** "Ibu, kembalikan kakiku! Aku tidak mau kehilangan kakiku!" teriakan Tisha disertai isakan tangis wanita itu terdengar hingga di luar ruang VIP. Tiya yang baru saja sampai segera berlari masuk untuk melihat keadaan adiknya. "Tisha ...." Tiya mendekati adiknya yang menangis histeris dalam pelukan sang bunda. "Mbak, aku mau kakiku ... meski aku sudah kesulitan berjalan, tapi setidaknya aku masih memiliki kaki dan suatu saat nanti aku pasti bisa menggerakan kakiku lagi, Mbak ...." raung Tisha hilang kontrol. "Sayang, dengerin Mbak, Ya! Kau akan tetap bisa berjalan. Setelah luka operasinya sembuh Mbak akan buatin kaki palsu buatmu." Tiya ikut membantu ibunya untuk menenangkan Tisha. "Mbak ... aku sudah terlalu ngerepotin Mbak Tiya. Mbak kerja keras buat biayain pengobatan aku. Dan ... operasi ini pasti membutuhkan biaya yang mahal juga kan? Mbak ... tolong! Biarin aku mati aja, Mbak! Jangan bayar pengobatanku lagi apalagi memberikan aku kamar yang bagus setelah ini! Mbak ... tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini melainkan cuma ngerepotin Mbak Tiya sama Ibu aja ...." Tisha meracau tidak karuan. Dan ketiga wanita yang hidup penuh penderitaan ini kini banjir air mata. Mereka berpelukkan erat untuk menguatkan Tisha. Mana mungkin Tiya memenuhi keinginan Tisha untuk membiarkan adiknya itu tiada. Sekeras apapun ia harus bekerja mencari uang, pasti akan tetap ia lakukan demi memenuhi setiap kebutuhan ibu dan adiknya termasuk biaya pengobatan Tisha. Dania dan Sania yang melihat dari luar ruangan diam-diam merekam adegan menyedihkan dan mengharukan itu pada ponsel mereka masing-masing. "Dan, kirim video itu sama bos, Ya!" perintah Sania pada rekannya. "Iya, Mbak. Aku sampai nangis lho, Mbak. Kasian mereka," kata Dania sambil menghapus air matanya yang tanpa sadar menetes. "Samaan, Dan. Aku juga sedih .... " Sania turut menghapus air matanya. "Sudah kau kirim ke bos kan?" tanya Sania. "Sudah, Mbak," jawab Dania singkat. ** "Kau tidak boleh bicara seperti itu, Nak! kau tidak kasihan sama Ibu?" tanya Sartika. "Karena aku kasihan sama Ibu dan Mbak Tiya jadi lebih baik aku mati, Bu. Aku nggak mau jadi beban kalian," jawab Tisha. "Kau sama sekali tidak membebani kami, Tisha. Percayalah akan ada rejeki untuk kita," timpal Tiya haru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN