Bel pulang terdengar. Itu tandanya bahwa seluruh murid sudah diperbolehkan untuk pulang kembali ke rumah masing – masing. Tapi tidak untuk Alvira.
Jabatan ketua kelas membuatnya selalu pulang terlambat. Entah menunggu tugas teman – teman terkumpul, atau mengumpulkannya di ruang guru. Itu sudah menjadi kebiasaan baru, di sekolahnya saat ini.
Gadis itu mengangkat bukunya sendirian. Citra, sebenarnya akan menemani dia membawa buku menuju ke ruang guru bersama, tetapi, dia mendapat telpon darurat jika ibunya di rawat dirumah sakit. Alhasil, Alvira meminta Citra untuk meninggalkannya sendiri. Dia bisa mengatasi tanggung jawabnya.
Dengan tangan penuh membawa buku, Alvira turun dari tangga dengan perlahan. Dia tidak mau ceroboh menjatuhkan buku para teman sekelasnya, karena terburu – buru.
Saat dia turun beberapa langkah menuruni anak tangga, tiba – tiba saja, seseorang menabraknya. Buku yang ada di tangan Alvira terjatuh semua.
Alvira melihat buku yang dia bawa terjatuh, menggigit bibirnya keras. Sangat s**l sekali. Dia padahal sudah berhati – hati untuk membawanya, tapi, seseorang malah menabraknya.
“Astaga…”
Alvira langsung mengambil buku tersebut dan memungutnya. Seseorang yang menabraknya tadi memungut buku tersebut, membantu Alvira.
Alvira berdiri, dan menatap ke arah orang tersebut. Saat dia menatap, ternyata, dia sangat familiar sekali dengan wajah laki – laki tersebut.
“Sepuluh satu?” tanya laki – laki tersebut.
Alvira teringat. Dia teringat dengan pria yang salah masuk kelasnya tadi siang. Alvira terkekeh, dan mengambil buku yang laki – laki itu sodorkan kepadanya.
“Kakak? Wah, ketemu lagi kita.”
Laki – laki itu tampak menggaruk tengkuknya, lalu, tersenyum simpul kepada Alvira.
“Gue Brian.”
Brian namanya. Dia menyodorkan tangannya kepada Alvira. Alvira, melihat tangan milik Brian hanya meringis.
“Maaf Kak, aku Alvira hehe.”
Brian paham, dan menarik kembali tangannya sambil mengangguk kepala. Melihat Alvira yang banyak membawa buku ditangannya, Brian lalu mengambil sebagian buku Alvira dan membantunya.
“Eh?”
Brian, dengan ramah tersenyum kepada Alvira sambil mendekap buku. “Ini gue bantu bawa kemana? Gue, murid baru. Dan gue belum hapal sama letak ruang guru maybe?”
“Aduh Kak Brian, maaf ngerepotin.”
“Anggep aja ucapan terimakasih gue, waktu gue kesasar tadi.”
Alvira lalu turun dan menuju ke ruang guru bersama dengan Brian. Sampai di ruang guru, dia meletakan buku di meja Miss Mentari, seperti yang beliau pesan dengan Hema tadi.
Alvira tersenyum tipis kepada Brian, “Kak, terimakasih ya sudah bantu aku bawa buku.”
Mendengar ucapan Alvira, Brian hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
Mereka, keluar dari ruang guru bersama, menuju ke gerbang sekolah untuk pulang.
Alvira, melihat mobil jemputan dia sudah datang di ujung. Gadis itu, menatap Brian, dan dengan sopan berpamitan.
“Kak, Alvira pulang dulu ya. Sudah di jemput disana.”
“Oke, hati – hati ya!”
Alvira mengangguk, dia dengan kaku melambaikan tangan kepada Brian sambil lari menuju ke mobilnya.
Dari kejauhan, Brian yang melihat Alvira mulai menjauh tersenyum tipis.
Mobil yang menjemput Alvira, telah sampai di rumahnya. Gadis itu langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah, tanpa lupa mengucap salam.
“Assalamualaikum, Bunda?!”
Bundanya, dari dapur menjawab, “Waalaikum salam. Al, ganti pakaian dulu. Baru nanti kamu turun untuk makan!”
“Oke Bun.”
Gadis itu naik ke atas ke kamarnya. Dia meletakan tas sekolahnya di kursi, dan mengganti seragamnya dengan pakaian casual rumahan.
Sejenak dia beristirahat diatas kasur, sambil memainkan ponselnya. Dia membuka aplikasi i********:, dan melihat isi berandanya. Satu postingan seseorang, membuat matanya terhenti.
Gadis itu memperhatikan dengan detail, dan menggigit bibirnya dengan pelan. Ini adalah akun i********: dari Kakak kelasnya, Hema.
Dia memposting foto dirinya bersama dengan seorang perempuan, tetapi bukan kekasih dari Hema. Alvira sangat penasaran. Dia seperti pernah melihat perempuan itu, tapi dimana?
Dia menekan foto tersebut, dan beruntungnya, karena Hema memberikan tag pada postingan tersebut.
“Luwi?”
Alvira langsung mengklik nama dengan username Luwi tersebut. Dia membuka i********: milik perempuan itu.
“Luwi, jadi nama perempuan itu Luna Wijaya? Ah, aku ingat. Luna ini perempuan yang waktu itu Kak Hema bawa saat bertengkar dengan Kak Erik! Iya… aku mengingatnya.”
Tak sampai disitu saja, Alvira juga sangat terkejut karena banyak sekali akun yang mengikuti perempuan itu.
“Ada dia selebgram? Pengikutnya sangat banyak sekali...”
Gadis itu terus melihat, postingan demi postingan. Dia membuka sebuah postingan milik Luna. Wajahnya sangat cantik. Seperti sebuah bunga lily yang polos, namun, sangat menyegarkaan. Pantas saja perempuan bernama Luna ini memiliki banyak sekali pengikut di instagramnya.
Alvira terus melihat hingga satu titik dia menemukan foto Luna dengan Hema. Dia memperhatikan caption foto tersebut yang semakin membuat teka – teki pada kepalanya yang kecil.
“Best part of life? Apa maksudnya? Argh, menstalker i********: perempuan lain, ternyata membuat aku terasa bodoh!”
Alvira menutup ponselnya dan melemparnya dikasur. Dia harus menghilangkan rasa penasarannya.
Rasa sakit hati dengan Hema saja belum kelar. Masa dia harus pusing dengan apa hubungan Luna dengan Hema kembali?
Tidak tidak… dia harus menjalani hidup realistis. Belajar, dan mungkin dia akan lupa dengan sosok bernama Hema itu nantinya.
Alvira menuju ke meja belajarnya dan membuka buku tebal miliknya. Dia memfokuskan diri, untuk membaca buku tersebut, dan menghilangkan pemikirannya mengenai Hema.
Berkali – kali dia mencoba, tapi kenapa sangat susah?
Alvira meletakan wajahnya dengan kasar diatas meja. Dia menghembuskan napasnya panjang.
“Fyuh… Kak Hema kenapa seperti magnet? Berkali – kali aku coba melupakan, bahkan berkali lipat aku malah teringat dengannya. Alvira, kamu tidak boleh memikirkan pacar sahabat kamu! Dia milik Dian, tidak lebih. Tidak… kamu tidak boleh memikirkan Kak Hema lagi!”
***
Hari mulai gelap. Bahkan waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Alvira, didalam kamarnya, berbaring sambil menepuk dahinya kencang.
Dia bangkit dan turun tergesa – gesa, sampai Bundanya menatapnya aneh.
“Al, kamu mau kemana malam – malam?”
Alvira berhenti sebentar, lalu meringis, “Bun, Alvira keluar bentar ya… Alvira lupa beli buat bahan prakaria besok.”
“Nah kan, terus saja nonton drama. Tugas sekolah tidak di utamakan…”
“Pis, Alvira keluar dulu Bund! Assalamualaikum!”
Gadis itu lari keluar dari gerbang rumahnya, dan berjalan menuju toko peralatan sekolah yang hanya berjarak beberapa meter dari kompleknya saja.
Dari pada dia harus dihukum, lebih baik dia mengorbankan waktu untuk streaming drama koreanya.
Sampai di toko peralatan sekolah, dia langsung menuju ke daerah rak kertas bufalo. Dia melihat, dan mencari warna bufalo biru muda. Saat dia sudah menemukannya, gadis itu buru – buru mengambilnya.
Tapi, saat dia mengambilnya, dia bersamaan dengan seseorang. Alvira terkejut, lalu mendongak.
Betapa terkejutnya, saat dia melihat Erik yang ada disampingnya sambil memegang bufalo yang sama dengannya.
“Kak Erik?”
Erik, yang mendengarnya mengerutkan keningnya. “Lo lagi? Astaga, s**l banget gue ketemu anak manja kayak lo disini,” gumamnya.
“Ih! Aku nggak manja ya!” elaknya.
“Terus kalau nggak manja, ngapain lo nangis pas Hema ninggalin lo?”
Alvira menggigit bibirnya, lalu, dia menjawab pertanyaan Erik.
“Ya namanya aku takut. Aku nggak pernah kesana, dan Kak Hema ninggal aku. Aku rasa itu wajar.”
“Manja!”
“Nggak! Aku itu nggak manja! Nggak usah ngeledek ya…”
Erik mengangkat bahunya acuh, dan dia mengambil bufalo biru muda tersebut meninggalkan Alvira. Alvira sebal, dia memajukan bibirnya, dan akan mengambil bufalo yang tadi dia pegang. Tapi, saat dia akan mengambilnya, ternyata, bufalo biru mudanya kosong.
“Astaga… Kok kosong?”
Alvira menoleh ke arah Erik yang sudah keluar dengan membawa bufalo biru muda tadi. Gadis itu lalu mengejar Erik dengan cepat.
“Kak Erik, tunggu!”
Erik berhenti, dan memutar bola matanya jengah. “Ngapain lagi sih lo? Gue nggak ada urusan lagi sama lo.”
Alvira, melihat bufalo yang Erik pegang. Lalu, dia menatap Erik dengan tatapan memelas.
“Kak, tadi kan bufalonya yang pegang aku duluan. Aku butuh banget bufalonya buat tugas besok. Aku ganti ya uang bufalonya yang tadi-”
“Apa? Gue nggak salah denger?” Erik memotong begitu saja ucapan Alvira, dengan tengilnya.
“Tadi aku duluan kok yang pegang. Terus Kak Erik datang pegang setelah itu…”
“Enak aja! Gue yang pegang duluan! Nggak usah ngaco deh lo!”
Alvira tidak mau berdebat. Dia tau Erik orang yang susah dilawan. Dia lebih baik mengalah dan menundukan kepala seberat – beratnya agar bufalo itu bisa ada ditangannya.
“Em oke. Kalau Kak Erik ngerasanya Kakak yang ambil duluan, silahkan. Tapi, aku minta tolong banget nih. Aku ganti ya, uang Kak Erik. Jadi aku beli bufalonya. Disana udah habis Kak, dan tugas itu penting banget buat aku. Please…”
Erik malah tertawa mengejek, dia meletakan satu tangannya dikantong, dan menatap Alvira. “Gue bukan Hema. Gue nggak bisa jadi pahlawan untuk semua orang. Lo pikir lo siapa? Gue memang peduli? Ck!”
Dia pergi begitu saja setelah mengatakannya. Alvira yang kesal menghentakan kakinya. Ingin sekali dia memukul kepala Erik sampai lepas dari kepala laki – laki tersebut.
“Dasar menyebalkan!”