BABY - Chapter 06

1142 Kata
Seperti biasanya. Alvira pergi ke sekolah diantar oleh sopir pribadinya. Mobil milik keluarganya, sampai disebuah bangunan elit SMA Muru. "Sudah sampai Non." "Terimakasih ya Mang." Alvira mengambil tasnya, dan mencangklongkan di punggung. Kaki mungilnya melangkah, melewati pagar yang menjulang tinggi. Dia senang hari ini. Tak ada kata terlambat, tepat waktu, sehingga senyuman sejak tadi tak pernah pudar. Alvira naik tangga menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Dia melangkah dengan begitu bersemangatnya. Saat dia sampai di lorong, dimana jalan yang akan dia lalui, untuk menuju kelasnya itu, dia berhenti. Kaki Alvira, berhenti ketika melihat sosok seorang laki - laki yang bersandar di tembok tak jauh dari jarak dia berdiri. Alvira seperti terkejut. Dia lalu menyembunyikan diri dibelakang almari yang terletak di sampingnya. Almari yang digunakan menyimpan deretan piala penghargaan untuk SMA Muru. "Itu kan..." Alvira bersembunyi dibalik almari sambil tak lepas menatap sosok laki - laki itu. Terlihat laki - laki itu bersandar ditembok, dengan bermain ponselnya. Senyum yang sempat luntur karena terkejut, kini memgembang kembali menarik keatas. Bahkan, jantungnya... ikut berirama mengiringi senyumannya. Tak lama, kebahagiaan itu tak lama, hingga seorang perempuan berponi. Dia dengan santai mendekati laki - laki iti sambil mengapit lengannya. Tatapan sang laki - laki itu dari ponsel, beralih tersenyum menanggapi perempuan itu. Mereka pergi, dengan tangan sang perempuan mengapit lengan laki - laki itu. Laki - laki itu adalah Hema Arkasa. Dia, laki - laki yang disukai oleh Alvira, sejak menginjakan kaki disekolah barunya ini. Sedangkan perempuannya? Jangan tanya lagi... Dia adalah Dian. Sahabat Alvira, yang berstatus sebagai kekasih Hema. Alvira menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia kecewa, namun, tidak pantas dia kecewa. Hema memang milik sahabatnya, bukan milik dirinya. Saat Alvira masih larut dalam kekecewaanmya, bahunya di tepuk dengan kencang, membuat dia terkejut dan spontak membalik badan. "Eh?" Ternyata, yang menepuk bahunya adalah Citra. Citra, teman sebangku Alvira menatap heran gadis itu. "Al, kamu ngapain berdiri bengong disini? Aku lihatin kamu dari jauh." Alvira tersenyum kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sekilas melirik kebelakang, yang kosong, tak ada lagi Hema disana. Dia kembali menatap Citra, "Em aku nggak ngapa - ngapain. Tadi, aku cari barang yang jatuh disini. Tapi udah ketemu kok," alibinya. "Oh, aku kira kenapa. Yaudah, ayo!" Citra merangkul bahu gadis itu, dan bersama masuk ke dalam kelasnya. Mereka setelah berada dikelas, seperti biasanya, meletakan tas mereka di laci bawah meja mereka, dan melakukan aktivitas menunggu pelajaran untuk dimulai. Citra, membaca buku novel. Gadis itu menyukai membaca, mengkoleksi buku novel. Sehari tak membaca, bagi Citra bagai sayur tanpa garam. Sementara Alvira, gadis itu melamun menyanggah kepalanya dengan tangan kanannya. Jemarinya mengetuk meja bergantian seirama. Citra, mengerutkan kening, dan menoleh ke sampingnya. Benar dugaannya. Suara mengganggu itu berada di Alvira sumbernya. "Al, bisa diem nggak? Aku lagi fokus baca ni." Alvira tak menanggapi. Gadis itu masih sama, mengetuk jemarinya diatas meja. Citra, menghela napas menutup buku novelnya. Lalu, tangannya bergerak memegang jemari Alvira yang mengetuk meja tanpa sadar. Saat jemari Citra memegang tangannya, spontan, Alvira terkejut. "Eh?" Alvira menatap Citra dengan mata yang memgerjap. "Kenapa Cit?" "Kamu pagi - pagi ngapain melamun sih? Mending kamu kerjain apa kek, tugas, baca buku. Malah melamun aja. Ada masalah?" Alvira menyengir, menggelengkan kepala. "Nggak ada kok. Hehe. Maaf ya hehe." Kring! Bel berbunyi, pertanda kelas akan dimulai. Semua aktivitas berhenti, mempersiapkan mata pelajaran yang akan di bawakan guru setelah ini. Murid dikelas itu menunggu guru datang. Namun, sudah memakan sepuluh menit sang guru belum juga tiba. Semua murid mulai tidak kondusif, merasa bosan guru belum juga tiba. Mereka melanjutkan menggosip, bercengkrama, bermain, bahkan ada yang sempat - sempatnya berdandan di dalam kelas. Tapi, derapan langkah kaki yang mereka dengar, membuat semuanya bungkam dan merapikan aktivitas mereka. Alvira, menunggu guru tiba dengan tenang, bersedekap, bahkan fokus menatap ke depan kelas. Saat seseorang mulai masuk ke dalam kelas, semua bersorak, dan menjadi ricuh. "Aaa... astaga cakep banget!" "Jodoh aku astaga Tuhan... lemah hati ini..." Orang yang berdiri didepan kelas, mengangkat tangannya ke atas. "Attention, please!" Semua murid yang tak kondusif langsung diam hening. Setelah hening, dia mulai membuka buku yang dia bawa, dan menatap ke seluruh kelas. Alvira, yang berpapasan saling menatap iris matanya, menjadi membeku. "Kak Hema..." batin Alvira. "Saya Hema Arkasana, ketua Osis. Kedatangan saya ke kelas ini, untuk memberitahu perihal Miss Mentari yang tidak bisa datang mengajar dikarenakan sakit." Hema, tersenyum tipis, dan menatap kelas. "Disini siapa ketua kelasnya?" Citra, yang mendengar menyenggol bahu Alvira. Gadis itu yang disenggol mendadak bingung. "Cit, ngapain sih!" bisiknya. Akhirnya, Citra berteriak saja, karena memang Alvira susah untuk mengangkat tangan. "Kak! Ketua kelasnya Alvira!" Hema, yang mendengar, menatap ke arah Alvira. "Alvira? Siapa Alvira? Bisa tunjuk tangan?" Alvira, meneguk salivanya. Dia lalu dengan kesusahan, mengangkat tangannya ke atas. "Sa-saya Kak," katanya gugup. "Bisa kamu mendekat kemari?" Semua murid iri. Ingin sekali dia yang ada di posisi Alvira. Sangat beruntung bisa berbicara dengan ketua Osis yang tampan, seperti Hema Arkasa. Alvira, dengan terpaksa bangkit dari duduknya. Dia, mendekati Hema hingga ke depan kelas. Sampai didekat Hema... Dia meneguk salivanya karena gugup, jarak mereka sangat dekat. "Ke-kenapa Kak?" Hema menunjukan buku yang dia bawa kepada Alvira. "Ini tugas dari Miss Mentari. Terakhir mengumpulkannya hari ini sepulang sekolah. Kamu bisa taruh di meja Miss Mentari. Mengerti?" "Mengerti Kak." Hema menyerahkan buku kepada Alvira. Tak sengaja jemari Hema memegang jemari Alvira, membuat sengatan yang asa di dalam diri dia muncul tiba - tiba sekali. Alvira serasa lemas. Dia sangat ingin menjatuhkan dirinya, tapi, karena dia di depan kelas, dia merasa malu tujuh keliling jika terjatuh begitu saja. Apa lagi setelah bertatapan wajah dengan seorang Hema Arkasa. Alvira tersenyum tipis, melihat ke arah buku yang Hema berikan. Bekas sentuhan Hema saja, membuat Alvira sudah bagai melambung diatas awan. "Sihir apa sih Kak, yang buat aku suka banget sama Kakak?" batinnya sangat bahagia. *** Jam istirahat pun tiba. Alvira, hanya makan di dalam kelas kali ini saja, karena Bundanya, sengaja menyuruh dia membawa bekal. Karena semalam, Alvira mendadak magh. Bundanya sangat khawatir. Mau tidak mau, Alvira harus membawa bekal, saat ke sekolah hari ini. Citra, melihat Alvira membawa bekal merasa aneh. "Tumben banget kamu bawa bekal Al? Biasanya ke kantin, buat liatin cogan osis haha." "Tadinya. Tapi, Bunda aku nyuruh bawa bekal. Mau gimana lagi dong." "Aku ke kantin dulu ya. Nggak papa kan tinggal sendiri di kelas?" "Em, nggak papa kok." Alvira sendirian, memakan bekal didalam kelas. Sesekali dia membaca novel milik Citra. Tapi, saat dia sedang menikmati bekalnya, suara langkah kaki seperti berlari semakin keras seolah masuk ke dalam kelasnya. Dap dap! Alvira mendongak, dan melihat ke arah pintu. Benar dugaannya, seorang pria dengan napas tersenggal berdiri di ambang pintu kelasnya. "Eh, sorry gue kayaknya salah kelas." Alvira mengangguk, "Ini kelas sepuluh satu." "Sepuluh satu ya? Akh... gue sebelas satu." "Oh sebelas satu? Kayaknya ada di lorong yang kanan. Kalau sepuluh satu kan ada di lorong yang kiri Kak." Laki - laki itu tersenyum, "Thanks ya. Gue cabut kalau gitu." Alvira mengerjapkan matanya, "Ada - ada aja..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN