Austin menatap Daisy yang masih terdiam di gendongannya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi ada sesuatu di matanya yang sulit diterjemahkan. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah menuju ranjang besar di tengah kamar, masih menggendong Daisy seperti membawa sesuatu yang berharga. "Pak, saya bisa berjalan sendiri," ucap Daisy pelan, suaranya terdengar ragu. Austin menoleh sekilas, tidak mengendurkan pelukannya. "Diam saja," jawabnya singkat. Nada suaranya tidak terdengar kasar, tetapi tetap tegas, membuat Daisy tidak berani melawan. Setibanya di tepi ranjang, Austin dengan hati-hati menurunkannya. Daisy langsung duduk, kedua tangannya reflek merapikan rok panjangnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, merasa canggung dengan sikap pria itu yang begitu mendominasi. "Pak

