Ana terkesiap mendapati Deanova yang sudah jatuh terkapar di depan ruangan rawat Bagas. Dia berlari, memeluk tubuh pria itu dengan wajah panik. "Bagas, Deanova pingsan! Gimana ini?" tanyanya cemas. Bagas sama paniknya. Dengan kondisi yang masih sulit berjalan, dia bersusah payah memegangi tongkatnya dan turun dari kasur. "Panggil perawat, An! Cepat!" teriaknya. Ana mengangguk, dia celingukan mencari perawat yang sekiranya lewat di dekat sana. "Tolong, Sus! Tolong, ada yang pingsan!" Dia berteriak kencang. Tangannya bergetar memegangi wajah Deanova yang dingin. "Deanova, bangun! Ayo dong bangun! Kamu kenapa?" Dia nyaris menangis, memeluk kepala pria yang dia cintai itu dengan hati-hati. Sedangkan Bagas hanya bisa menatap dengan bingung. Ini pertama kalinya dia melihat Deanova dala

