"Ma-maksud kamu apa? Kamu ini nanya apa sih tiba-tiba? Ah, udah ah! Mama mau masak dulu, kasihan Papa kamu kalau nanti pulang enggak ada lauk." Deanova memejamkan mata, meredam rasa marah yang mulai muncul perlahan dalam dirinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu Mamanya mengatakan bahwa Dean bisa membicarakan apapun padanya, tapi sekarang saat Dean mulai mengutarakan apa yang ingin dia tahu, Mamanya dengan terang-terangan mengelak. "Papa pulang masih lama, enggak mungkin enggak sempat nyiapin makan malam. Memang apa susahnya kalau jawab pertanyaan Dean dulu, Ma?" tanya Dean dengan nada lemah. Dia tidak ingin menunjukkan perasaan kesalnya di depan sang Mama, maka dari itu sekuat tenaga dia menahan agar nada bicaranya tidak meninggi. Mamanya gelisah, dia sudah hendak meninggalkan

