34. Sakit, Mas

1255 Kata

Max melihat kesungguhan hati Isabella yang menyerahkan dirinya. Ia merasa sedikit terkejut karena menerima ucapan yang sesungguhnya tak pernah dikatakan dalam setiap pembicaraan mereka. Malam itu, setelah tiga bulan penantian yang terasa begitu panjang, keheningan di kamar terasa begitu pekat, namun terasa berbeda. "Mas, apa aku terlalu berani?" tanya Isabella. Max menatapnya, menyentuh helai rambutnya. "Aku ... aku ..." "Kamu pasti kaget, maaf tapi ini ... sudah aku pikirkan sejak kemarin namun masih sulit aku ungkapkan," Cahaya rembulan menembus tirai tipis jendela, melukiskan pola-pola bayangan lembut yang menari di dinding dan lantai, seolah menjadi saksi bisu dari momen yang akan terukir. Tangan Max terulur. Jemari yang kokoh namun gemetar itu menyentuh lembut punggung tangann

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN