Buka perawan.

796 Kata
Fara sarapan buru-buru, setelahnya tanpa menunggu lama segera meminta supir mengantarnya pulang ke rumah. Baru kali ini ia sangat merindukan suasana rumahnya, terutama kedua orang tuanya Fara kangen pake bingit. Mama menyambutnya dengan derai air mata. Kedua Anak beranak itu berpelukan, menangis keras. Harusnya aku membenci Adam yang telah menghancurkan bisnis Papa, bukan malah terpesona pada kelembutannya. Batin Fara menatap kasihan pada Papa Azis yang terduduk lemas, melamun di sofa. Wajahnya penuh memar yang diperban dengan kain kasa. Amarah merasuk hatinya mengingat siapa orang yang melakukan semua ini pada Papanya. Fauziah Memandang putrinya, mengusap wajah pucat nya seperti kehabisan darah. Sebagai ibu ia jelas tau apa yang telah terjadi pada Fara. "Apakah orang itu memperlakukan mu dengan baik?" tanya Fauziah nada prihatin. Hah! Fara menarik nafas berat, mengambil duduk di samping Papa. Memeluk lengan pria paruh baya itu. Fauziah mengikutinya, duduk di sebelah putrinya. "Baik Ma. Tapi justru itu yang membuat Fara semakin benci pada diri sendiri," jawabnya nelangsa, meletakkan kepalanya di bahu Azis. Fauziah mengusap pucuk kepala Fara. "Syukurlah. Asalkan orang itu memperlakukan mu dengan baik. Jangan khawatirkan Papa dan Mama. Kami bisa mengurus diri sendiri," ujarnya. Fara mengangkat kepalanya dari bahu Azis, melihat luka lebamnya memang cukup parah. Teringat kemarin dipukul sampai muntah darah pula. "Gimana keadaan Papa, Ma? Apa tidak perlu dibawa ke rumah sakit." "Papamu menolak dibawa ke rumah sakit. Tapi kamu tidak perlu khawatir, Dokter sudah memeriksanya. Memang ada luka dalam tapi tidak parah, akan segera pulih jika mematuhi anjuran dokter. Minum obat teratur dan tidak boleh kerja berat," jelas Fauziah. Hum. "Pa," panggil Fara menepuk bahu Azis. "Hum," papanya menoleh menatap sayu Fara. "Maafkan Papa, Nak," ucapnya. "Kenapa Papa minta maaf?" "Gara-gara Papa kamu terpaksa menikah dengan orang biadab itu." Azis menyentuh tangan putrinya. "Tidak apa-apa. Adam baik pada Fara, lihatlah! Fara bebas kemana saja, ada supir pribadi, pengurus rumah tangga pribadi. Fara diperlakukan seperti Nyonya besar," jawab anak itu agar Papa jangan dulu menanam kebencian dihatinya. "Aku tidak akan pernah ikhlas merestui kalian sebelum dia mengembalikan perusahaanku!" geram Azis. Fara dan Mamanya saling pandang. "Pikirkan kesehatan dulu Pa. Ingat kata dokter, jangan sampai darah tinggi naik. Luka dalam akan susah sembuh." Fauziah mengingatkan suaminya. Huh! Keluh Azis menahan marah. "Kamu mau membalaskan dendam Papa pada orang itu?" Azis menatap Fara nanar. Fara serba salah menoleh ke Mama. Nampak dari wajah wanita yang melahirkan nya itu tidak setuju, kemudian Fara beralih menatap Azis lembut. Bertemu pandang dengan iris suram Papanya. "Asal Papa janji satu hal, sebelum luka dalam sembuh tidak ada balas dendam!" tegas Fara. Azis menyeringai. "Terima kasih sayang. Jadilah anak Papa yang berbakti, Papa janji akan sembuh untuk membalas dendam." "Hum," angguk Fara hanya agar papanya tenang dulu dan punya semangat sembuh. Bunyi deru mobil terdengar di luar halaman. Fara tau itu teman-teman yang datang menjemputnya. "Pa, Ma, Fara ke depan sebentar," pamitnya. "Hum," angguk Papa dan Mama. * Benar saja ada dua mobil yang menunggunya. "Fara, ayo cepat naik!" panggil Firly yang duduk di samping Husna. "Aku pamit ke dalam bentar ya," senyum Fara menampilkan wajah ceria. "Iya sana cepetan," kata Raya yang duduk di samping Hanum. Fara masuk ke dalam bertemu Papa dan Mama. "Ma. Kemarin sudah janji mau ke ulang tahun teman hari ini," katanya. "Pergilah. Kamu tidak perlu setia pada si biadab itu, bersenang-senang lah dengan temanmu!" "Pa!" tegur Fauziah mendengar kata-kata suaminya. "Mau cepat sembuh gak sih!" marahnya. "Baik Pa. Fara pergi dulu, jaga jangan sampai darah tingginya naik." "Percayalah Nak, Papa akan sembuh, demi membalaskan sakit hatiku." Ha! Fara dan Fauziah menghela nafas. "Fara pamit Ma. Adam dua minggu di luar negeri, selama belum dijemput Fara akan tetap disini bersama kalian." "Baik, pergilah!" kata Fauziah senang. . Setelah mendapat ijin Fara ikut mobil Husna dan Firly. Raya dan Hanum satu mobil berdua. "Wajah kamu pucat Ra?" tanya Firly menatap Fara penuh selidik. "Aku sakit perut kemarin. Angin duduk," jawab Fara jengah. "Oh! Angin duduk kayak habis buka perawan gitu, ya." Uhuk! Uhuk! Fara terbatuk mendengar kata-kata Husna. "Sok tau, emang kamu sudah pernah?" "Hahaha." Firly tertawa keras sementara Husna tersenyum genit. "Diantara kita cuma kamu si polos ini yang belum," kata Firly mencubit pipi Fara. Meskipun mereka aliran hidup bebas tapi tidak memaksa Fara jadi terpengaruh. Mereka menghormati kehidupan bersih Fara, tau susah ngajak keluar anak rumahan sepertinya. Bisa dipecat mereka jadi teman sementara mereka butuh jasa Fara nyontek mata pelajaran. Terutama saat ujian mereka butuh otaknya. "Makanya kita jodohkan kamu ke Rano, biar cepat gede anak Mama." usap Firly di kepala Fara tersenyum jail. Ish! Fara menepis tangan temannya. "Anak lugu, tampan dan kaya itu kepingin kaya pacar-pacar kita yang sudah gak perjaka, dan pilihannya jatuh pada Fara," kata Husna dengan entengnya. Seolah buka perawan adalah hal yang lumrah dan gampang seperti buka daun pisang lepat ubi. *** to be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN