Amir yang biasanya banyak bicara jika bersama Aira, mendadak pagi ini seperti mogok bicara. Aira sangat bingung dengan perubahan Amir, pagi ini. Dia tidak tau ada apa dengan sahabatnya itu, yang terlihat murung dan pendiam.
"Kamu kenapa Amir? ada yang sedang kamu pikirkan? atau kamu alami? gak mau cerita nih?" Amel bertanya dengan bertubi tubi.
"Aku gak apa apa Mel, gak ada juga yang mesti di bicarakan, kamu sendiri sepertinya sedang senang ya, kemarin aku lihat kamu bicara sama kakak tingkat dengan wajah senangnya." akhirnya Amir mengeluarkan unek-uneknya, meski tidak secara langsung menjawab pertanyaan Amel.
"Kapan?" tanya Amel dengan nada bingung, dia bukan pura pura lupa tapi memang dia lupa.
"CK, pura pura lupa!" decak Amir dengan wajah berpaling.
"Lah emang lupa Amir, bukan pura pura lupa," Amel mulai gemas dengan sikap Amir.
"Udah kalo cemburu itu bilang saja apa susahnya sih, heran aku!" sambar Ika yang sejak tadi menyimak percakapan dua manusia yang sama sama bodoh dalam urusan hati.
"Hah!" kaget Amel mendengar ucapan Ika.
"Jadi orang kok suka banget nimbrung percakapan orang lain." Bima yang sejak tadi dia akhirnya memilih ikut berbicara.
"Serah gue lah, mulut mulut gue, kok Lo yang sewot!" balas Ika yang tidak mau kalah.
Bahkan kini, bukan Amir dan Aira yang sedang berbicara, mereka malah menyaksikan Ika dan Bima yang bertengkar seperti biasanya. Hingga, Amir mulai jengah dan mengajak Aira keluar kelas.
"Dah lah, yuk Ra, kita keluar. Biar mereka lanjutin sampai selesai." ajak Amir dan langsung menggandeng tangan Aira.
Sedangkan Aira hanya bisa diam, memandang tangan yang kini tengah di genggam erat oleh Amir. Entah kenapa degup jantung nya terasa sangat cepat. Aira bahkan masih kepikiran dengan ucapan Ika tadi, apa benar jika Amir cemburu dengan dirinya? atau hanya sikap posesif seperti biasanya?
Di saat Aira yang masih saja diam, Amir menghentikan langkahnya. Ia tatap wajah ayu di depannya itu dengan seksama, wajah yang sudah ada di hidupnya sejak ia kecil, wajah yang selalu menghiasi mimpi indahnya, wajah yang tak pernah bosan untuk dia pandang, dan wajah yang nantinya akan sangat dia rindukan, dan bahkan dia sakiti. Sanggup kah Amir?
"Hay malah lihatin aku kayak gitu, kenapa?" tanya Aira yang sebenarnya merasa gugup saat Amir melihat dirinya dengan tatapan intens.
"Kamu semakin cantik saja Ra, pantas banyak yang deketin," rancau Amir dengan tatapan yang masih lekat kepada Aira.
"Apaan sih Mir, kamu itu kenapa kok jadi aneh gini?" Aira berusaha mengalihkan topik pembicaraan Amir. Dia teramat malu jika terus di tatap seperti itu.
Andai bisa, Aira ingin sekali tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh cinta, bukan tatapan sayang antara sahabat ke pada sahabatnya. Semoga saja, doa Aira dalam hatinya.
"Hem, duduk yuk Ra." Amir berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia sadar sebenarnya perasaan apa yang tengah dia rasakan, hanya saja dia masih merasa takut, takut akan sebuah kenyataan.
"Lagian kamu itu aneh, sejak tadi sampai di sini, bukanya ngajak duduk malah lihatin kayak gitu, kenapa sih? ada yang salah dengan wajah aku?" lagi lagi Aira merasa Amir, masih saja memperhatikan nya dengan intens.
"Gak, gak ada yang salah, hanya saja wajahmu semakin cantik saja," Amir berusaha mencari bahan godaan agar Aira tidak curiga.
"Apaan sih." malu, ya itu yang di rasakan Aira saat ini.
Setelah nya, hanya ada keheningan di antara keduanya. Aira masih saja meraba hatinya yang selalu berdegup lebih kencang saat bersama Amir. Sedangkan Amir, sedang berusaha menahan semuanya, agar perasaannya tak muncul di permukaan, tapi apakah kuat? jawaban nya entahlah.
Hingga sekolah usai, semua masih sama, Amir dan Aira seperti sedang menjaga jarak, entah akan sampai kapan, yang jelas Aira rasanya ingin menangis saja.
"Aku salah apa ya Ka? kok Amir, sepertinya berubah?" tanya Aira dengan wajah sendu saat dia main kerumah Ika.
"Aku rasa kamu tidak ada salah Ra, hanya saja Amir sedang cemburu seperti yang aku katakan tadi." lagi lagi Ika, malah mengatakan hal yang tidak pernah terjadi.
"Andai itu benar Ka, tapi apa iya? bahkan sampai saat ini, dia saja tidak pernah bilang sama aku apapun yang menyangkut perasaan nya." keluh Aira yang mulai mengalir cairan bening dari matanya.
Ya selemah itu, hati Aira jika sudah menyangkut tentang Amir, segala tentang Amir menjadi kan dirinya lemah dan cengeng.
"Hay, kenapa menangis? udah ya jangan di pikiran, aku yakin besok dia juga udah balik lagi jadi Amir nya Aira." Ika berusaha menghibur Aira meski masih saja dia nangis.
"Aku, aku sedih Ka, jika Amir berubah. Apa aku egois ya? sedangkan aku hanya sahabat nya," Aira masih belum bisa tenang, dia merasa Amir berubah karena hal lain, dia takut Amir menemukan seseorang yang bisa membuat dia jauh lebih nyaman dari pada bersama dirinya.
"Udah donk, jangan nangis, gak mungkin Amir gitu, kamu kenal dia udah lama kan? tau bagaimana karakter dia, tau bagaimana dia sayang sama kamu, oke mungkin saat ini dia sedang ada masalah lain, jadi udah ya gak usah nangis lagi." Ika masih saja membujuk Aira agar diam.
"Aku takut Ka, aku taku kehilangan Amir, aku takut Amir berpaling, aku gak sanggup Ka," lirih Aira dengan air mata yang semakin deras.
"Lho, lho kok makin kenceng nangisnya, apa aku telfon Amir saja ya." Ika yang semakin cemas akhirnya ingin menelfon Amir, tapi di cegah Aira.
"Jangan Ka, aku gak apa apa kok," cegah Aira dengan berusaha menghentikan tangisnya.
"Tapi diam donk, oke!" Ika masih memegang ponsel nya dan bersiap menghubungi Amir, jika Aira masih menangis.
"Iya aku diam, aku gak nangis lagi." Aira berusaha tersenyum dan menghapus air matanya.
"Nah gitu donk, yuk kita keluar beli jajan saja," ajak Ika, agar Aira tidak sedih lagi.
Akhirnya kedua gadis manis itu keluar untuk sekedar menghibur diri, mereka memilih membeli beberapa cemilan dan duduk santai di taman kompleks yang ada di daerah mereka.
Meski belum sepenuhnya baik baik saja, tapi perlahan Aira bisa tersenyum saat melihat beberapa anak anak bermain permainan yang ada di taman itu, ada juga yang bermain bola dan ada juga yang menangis karena jatuh saat bermain.
Semua seperti hiburan untuk Aira. Sejenak ia lupa akan rasa khawatir dan takut akan kehilangan Amir. Melihat itu, Ika yang ada di sebelahnya ikut tersenyum, hingga panggilan dari seseorang membuat keduanya menoleh dan kaget.
"Aira."