Bab 3. Harapan

1603 Kata
Pagi yang indah, seperti biasa Aira menyiapkan bekal untuk dirinya dan juga Amir. Meski tanpa diminta oleh Amir, Aira akan tetap menyiapkannya, karena itu sudah menjadi kebiasaan dirinya. Dan, Amir akan sangat senang menerimanya. "Pagi kesayangannya Amir. Sudah siap berangkat?" sapa Amir saat dia sudah sampai di rumah Aira. "Pagi juga Mir. Sudah dong, ayo kita berangkat," ajak Aira dengan semangat seperti biasanya. "Pagi ini bawa bekal apa Ai?" Amir bertanya dengan nada yang lembut seperti biasa. "Nasi tumis ayam kecap sama omeleet kesukaanmu." Aira menjawab dengan nada yang riang. "Wah enak pasti tuh, kamu kan yang masak, Ai?" Amir menyambutnya dengan antusias, dia bahkan sampai bertepuk tangan layaknya anak kecil. Aira sampai dibuat ketawa melihat tingkah Amir yang menurutnya sangat lucu. Hanya dengan makanan kesukaannya saja Amir sudah bisa sebahagia ini. "Kamu ini, ada-ada saja. Masak sampai segitunya cuma denger makanan kesukaan saja sampai segitu senangnya." Aira benar-benar heran melihat kelakuan Amir. "Apapun asal yang masak kamu aku selalu suka dan senang, Ai," jawab Amir dengan binar yang jelas penuh dengan cinta. "Kamu bisa saja Mir." Aira berusaha mengelak, jujur saja dia sangat gugup saat ini. Melihat Amir menatapnya dengan binar berbeda, membuat Aira berharap lebih dengan status mereka saat ini. Namun yang ada, Amir masih saja menjadikan dirinya sebagai sahabat rasa pacar. "Ai, hay Aira," panggil Amir saat dia melihat Aira malah melamun. "Ah iya, Mir. Ada apa? Kenapa?" tanya Aira gugup karena dia malah melamun. "Kamu malah melamun, hayo lamunin aku ya?" tebakan Amir tepat sasaran, tapi sebisa mungkin Aira segera mengelak. "Siapa yang bilang, dasar GR aja kamu." Aira pura-pura manyun untuk menutupi rasa gugupnya. "Hehehehe siapa tau, Ai," canda Amir lagi. Aira ingin membalas lagi, tapi ternyata mereka sudah sampai di sekolah. Lantas mereka segera turun dari mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sopir keluarga Amir yang selalu saja mengantar jemput mereka. Seperti biasa, Amir akan langsung merangkul Aira saat mereka berjalan menuju kelas. Pemandangan seperti itu sudah menjadi biasa bagi semua teman-teman yang mengenal mereka. Tak jarang mereka mendapat sorakan riuh agar segera jadian. Tapi entah kenapa, Amir masih saja seolah menahan diri untuk tidak memberi kelanjutan hubungan mereka. Sedangkan Aira hanya bisa pasrah dan menerima saja. Ingin sekali dirinya bertanya kenapa dan mengapa, tapi selalu dia urungkan. Sorakan riuh masih saja mengisi kelas 1 IPA 1 pagi itu. Seperti biasa, suara dari Ika paling kencang. "Kalian ini, selalu saja terlihat mesra. Tapi status masih saja sahabat, gak takut Aira ada yang seriusin ntar Mir?" goda Ika sekaligus pancing reaksi yang akan Amir berikan. Benar saja tubuh Amir sedikit menegang mendengar ucapan dari Ika. "Mana ada yang berani, Aira cuma bisa sama Amir gak ada yang bisa bikin Aira nyaman selain aku," bantah Amir dengan sedikit raut wajahnya yang berbeda. "Ye, kamu kan cuma sahabat saja, jadi sah-sah saja kan kalo Aira mau punya pacar. Gak ada larangan bukan." Ika semakin gencar memanas-manasi Amir. Ika sangat gemas melihat tingkah mereka. Ika tahu sejujurnya mereka mempunyai rasa yang sama, hanya saja entah apa yang menjadi alasan Amir hingga sekarang belum mau mengungkapkan perasaannya kepada Aira. Sesaat mereka tenggelam dengan pemikiran masing-masing. Amir yang takut kehilangan Aira, takut jika apa yang di katakan oleh Ika jadi kenyataan. Tapi dia juga takut akan membuat Aira hancur suatu saat nanti jika tahu yang sebenarnya. Amir dalam keadaan dilema, dia masih ragu, bimbang dan bingung harus melangkah kemana. Di satu sisi, ia ingin agar Aira terus saja bersamanya namun di sisi lain, Amir takut jika kenyataan itu memberi kesakitan untuk Aira di masa yang akan datang. "Sudah jangan dipikirkan ucapan si mak lampir tadi, elo harus yakin kalo Aira akan selalu bersama dengan lo." Bima menyadarkan Amir dengan tepukan di bahunya. "Tapi gue beneran takut, Bim," lirih Amir dengan nada sendu. "Percaya saja sama hati lo, dan saran gue jadikan Aira orang spesial lo, dan untuk kedepannya yakin saja semua akan baik-baik saja," nasehat Bima karena dia yang tahu mengenai hal besar apa yang sedang di simpan rapat rapat oleh sahabatnya itu. "Thanks bro, elo udah selalu jaga rahasia gue," ucap Amir dengan tulus. Sedangkan di bangku depan, Aira juga sedang melamun akhirnya kaget oleh ucapan Ika, sang sahabat. "Tumben, Amir duduk di belakang sama si Bemo?" tanya Ika heran. "Kamu ini, namanya Bima lho. Masak di ganti Bemo! Ngaco kamu, ntar kalo dia dengar marah gimana?" Aira mengingatkan sahabatnya itu, yang selalu memanggil Bima dengan panggilan Bemo. "Ish biarin, gue suka kesel kalo udah nyangkut soal dia." Ika menanggapi dengan bibi manyun. "Hati-hati lho, dari sebel, benci jadi cinta," goda Aira karena saking gemesnya melihat Ika dan juga Bima yang jarang akur, malah bisa dibilang tidak pernah. "Enak saja, gak akan!" sungut Ika dengan nada penekanan. "Yakin? Gak akan? Beneran?" Aira malah semakin menggoda saja. "Ra..." rengek Ika yang sudah mulai risih karena digoda Aira terus. Akhirnya, Aira malah tertawa dengan keras dan sangat bahagia melihat sahabatnya mati kutu dengan godaannya. Bagi Aira, Ika adalah sosok sahabat yang sangat komplit. Dari cerewet, kadang juga manja, kadang pendiam, kadang humoris, kadang suka mellow gak jelas kalo sudah lihat drakor kesukaannya. Bel masuk berbunyi, semua anak dengan serius dalam belajar. Baik, Amir dan Aira sebenarnya sedang tidak bisa konsentrasi dalam belajar, hal ini karena mereka mengingat akan ucapan dari Ika dan juga Bima. Meski dengan setengah hati tapi akhirnya mereka bisa menyelesaikan pelajaran pertama dan kedua dengan baik. "Ra, kantin yuk!" ajak Ika kepada sahabatnya itu, yang sejak tadi terlihat kurang bersemangat. "Aku bawa bekal, Ka. Maaf ya," sesal Aira yang merasa tidak enak. "Ah curang, aku ke kantin bareng siapa dong ini?" tanya Ika memelas. "Sama Bima, noh dia mau ke kantin juga deh kayaknya," goda Aira dengan suara yang sedikit mengeras agar Bima dengar. "Ogah, mending sama Vivi saja." Ika menyela dengan cepat dan langsung berjalan bersisian dengan Vivi, teman satu kelas mereka. Setelah Ika dan Bima pergi ke kantin, Aira mulai duduk menghadap ke arah Amir, yang tumben hari ini duduk di belakangnya dengan Bima. "Kamu kenapa Mir? Kok tumben diam?" tanya Aira dengan mengusap tangan Amir yang berada di atas meja, ia juga dapat melihat wajah Amir yang murung, entah kenapa perasaan Aira menjadi sedih melihatnya. "Aku gak apa-apa, Ai. Eh makan yuk, udah lapar ini pengen makan masakan buatanmu." Amir berusaha mengalihkan pembicaraan. "Oke, aku juga udah lapar ini. Pelajaran hari ini bikin perut terasa lapar, hehehehe," canda Aira agar suasana kembali ceria. "Kamu benar, pusing aku. Tumben banget deh bu Hera ngasih tugas banyak banget," keluh Amir yang entah kenapa merasa tidak semangat sama sekali. "Tumben ngeluh, biasanya paling semangat sama guru favorit," ledek Aira. "Kata siapa," cibir Amir yang merasa terganggu dengan ledekan Aira. "Dah ah katanya mau makan, mau disuapin?" Aira hanya bercanda saja tapi ternyata Amir serius menanggapinya. Alhasil mau tidak mau Aira menyuapi Amir yang kini duduknya sudah pindah di sampingnya. "Ai..." panggil Amir pelan. "Ya, kenapa Mir?" tanya Aira sedikit merasa aneh dengan nada bicara Amir. "Jangan pernah tinggalin aku ya, jangan lupain aku, jangan cuekin aku, jangan jauh-jauh dari aku ya." Amir tiba-tiba saja meminta hal yang sangat jauh dari biasanya, dan dengan wajah yang sendu menatap Aira. Aira yang di tatap Amir seperti itu, merasa deg-degan, entah kenapa Aira merasa ada hal yang sedang Amir sembunyikan. Aira sudah hafal bagaimana sikap sahabatnya itu jika sedang resah, dan hal itu semakin terlihat dengan nada bicaranya yang sangat sendu dan berat. "Kenapa kamu bilang begitu, Mir? Bukannya kamu tau aku bagaimana, aku akan selalu bersamamu, kita akan terus sama-sama. Kecuali kamu yang meminta aku pergi, maka aku akan pergi," jawaban Aira nyatanya belum bisa meredam keresahan yang sedang Amir rasakan. "Aku takut, Ai." Amir kian lirih mengucapkan kata itu. Sedangkan, Aira hanya bisa menahan sakit ketika ia merasakan ada hal yang tidak beres. Aira ingin sekali memeluk Amir saat ini, tapi dia ingat mereka masih ada di lingkungan sekolah. Aira hanya bisa mengusap lengan Amir dengan lembut sambil menenangkannya. "Percayalah, semua akan baik baik saja. Aku akan selalu bersamamu, bukankah selalu seperti itu? Kita akan seperti ini sekarang, esok, lusa, dan selamanya." Aira berusaha menenangkan Amir. Meski masih ragu akhirnya Amir mengangguk juga, ia hanya bisa berdoa semoga kehidupan berbaik hati kepadanya. Mengijinkan dirinya untuk bisa selalu bersama dengan Aira. Entah itu sampai kapan dan bagaimana akhirnya nanti. Saat ini yang Amir butuhkan hanyalah Aira terus berada di sampingnya, di dekatnya, dalam jarak pandangnya, dan jika bisa dalam genggamannya. "Sekarang gak boleh sedih lagi ah, masak iya cowok mewek," goda Aira yang sukses buat Amir tertawa setelahnya. "Kamu bisa saja, Ai. Gemes deh aku." Amir mengatakan itu sambil mengusap rambut Aira dan mencubit gemas pipinya. "Ish, rusak kan tatanan rambut aku, kamu sih kebiasaan." Aira mengucapkan dengan bibir manyun dan pipi menggembung, semakin menggemaskan di mata Amir. "Meski berantakan tetap cantik kok, Ai," gombal Amir yang sukses membuat pipi Aira bersemu merah. "Belajar gombal dari mana sih, Mir?" Meski canggung, Aira berusaha membalas candaan Amir. "Gak gombal, Ai. Beneran lho aku ngomong," kekeh Amir. "Serah deh ah, aku mau beresin ini saja." Aira semakin salah tingkah dan memilih membereskan wadah bekal mereka tadi. "Cie yang salah tingkah, pake acara beres-beres segala." bukannya diam, Amir malah semakin menggoda Aira. "Mir.., bisa diam gak sih," geram Aira, ia semakin malu saja, dan merasakan pipinya semakin panas akibat ulah Amir. Sedangkan Amir malah semakin tergelak, hingga kepalanya mendongak ke belakang. Ia teramat senang melihat warna pipi Aira yang merona karena ucapannya. "Semoga aku selalu bisa membuatmu bahagia ya Ai, meski ujung-ujungnya nanti aku akan membuatmu menangis juga, maafkan aku jika itu terjadi, sungguh aku sangat menyayangimu, Airaku," batin Amir pedih, setiap kali dia harus mengingat akan dirinya yang tak akan mampu bersama Aira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN