Pagi yang cerah, menyambut hari penuh kesibukan. Apalagi untuk Aira gadis manis yang hari ini akan masuk sekolah menengah atas. Sejak subuh Aira sudah mempersiapkan segalanya. Ia memang gadis yang rajin. Aira selalu bangun pagi, ia selalu membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Terkadang Aira juga yang memasak menu sarapan untuk anggota keluarganya.
Dan pagi ini, Aira sangat antusias untuk memasak. Dia juga menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah. Bagi Aira makan makanan buatan rumah lebih enak dan tentunya hemat. Meski ia terlahir menjadi anak tunggal, namun tidak membuatnya menjadi anak yang manja. Buktinya, Aira mahir dalam memasak dan selalu rajin membantu orang tua.
Mereka sarapan dengan hening, namun tiba tiba terdengar suara salam yang sudah mereka hafal. Ya siapa lagi, si tamu yang selalu datang kapan saja.
"Assalamu'alaikum, pagi om dan tante, pagi juga Ai yang cantik," Salam sapa yang sudah biasa Amir lakukan.
"Waalaikumsalam, nak. Mari ikut sarapan." Ajak ayahnya Aira dengan ramah.
"Amir sudah sarapan om, tadi di rumah. Silahkan di lanjut saja." Amir menolak dengan sopan dan halus.
"Kamu mau tak bawain bekal gak, Mir?" Aira bertanya saat dia bersiap membereskan bekal yang akan di bawa.
"Hem boleh, kalo tidak merepotkan mu." Amir menjawab dengan senang. Pasalnya bagi Amir makanan, Aira adalah makanan paling enak yang sering dia makan.
"Ya enggak lah, Mir. Kayak sama siapa saja." dengan cekatan, Aira menyiapkan bekal juga untuk Amir.
Setelah siap, keduanya berpamitan kepada orang tua Aira. Mereka memang sudah dari dulu selalu berangkat bersama. Terkadang, Aira yang datang menghampiri Amir di rumahnya. Persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil, bagi Aira sosok Amir adalah kebahagiaan untuk nya. Dan bagi Amir sosok Aira adalah penyemangat yang selalu dia inginkan.
"Semua kebutuhan buat MOS sudah siap, Mir?" Aira bertanya dengan suara lembutnya seperti biasa.
"Sudah, kenapa? Apa kamu ada yang belum?" Amir menjawab dengan memandang wajah ayu itu dengan tatapan hangat.
"Alhamdulillah aku juga sudah semua. Syukur deh kalo kamu juga sudah, aku takut kebiasaan mu terulang lagi." Aira mengingatkan kebiasaan buruk dari Amir.
"Hahahahaha, kan kalo aku lupa ada kamu, Ai. Kamu kan selalu siap ingetin aku kapan saja, jadi ya aku santai saja." Amir malah menjawab dengan tawa yang sangat keras. Sampai-sampai supir pribadi Amir ikut tersenyum melihat tawa lepas sang tuan mudanya.
"Hais, dasar pikun," cibir Aira dengan gemasnya. Aira benar-benar heran dengan sahabatnya ini. Dia mudah banget lupa, atau mungkin pura-pura lupa, entahlah. Setiap kali ditanya kenapa bisa lupa, jawabnya selalu saja sama, "Namanya juga lupa kan gak ingat Ai." selalu itu jawabannya.
"Bukan pikun, Ai. Tapi gak ingat, hahaha," kelakar, Amir lagi.
"Huh, serah deh, Mir. Kamu itu emang ya!" sungut Aira.
"Hehehehe, jangan marah sayangnya aku, ntar aku belikan es krim ya." kebiasaan Amir jika sudah melihat sang sahabat mulai kesal.
Bagi, Aira panggilan sayang dari Amir sudah biasa ia dengar. Karena itu memang sudah menjadi kebiasaan dari Amir sejak dulu. Hanya Arga saja, orang yang selalu bersikap cuek dan dingin kepada Aira.
Setelah sampai di sekolah. Mereka bergegas menuju aula tempat berkumpul. Amir dan Aira segera ikut berbaris. Mereka hampir saja terlambat, hanya kurang dari 10 menit bel masuk sudah berbunyi.
"Semoga kita sekelas ya, Ai." Amir sangat berharap agar dia dan Aira bisa sekelas seperti biasanya.
"Iya semoga saja, dan misal tidak ya sudah tak apa," jawaban dari Aira membuat Amir menjadi sedikit gelisah.
"Kalo bisa kita harus sekelas, Ai. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu." Amir mulai dengan keinginan yang tidak bisa ditolak.
"Ya semoga saja, sudah tenanglah. Lagipula kita masih satu sekolah kan." Aira malah menjawab dengan santai, tanpa menyadari raut wajahnya Amir yang mulai berubah.
Ya sedari dulu, Amir akan merasa resah jika Aira tidak berada dalam jarak pandang terdekatnya. Sedikit terlihat posesif dan berlebihan memang, tapi itulah Amir yang sebenarnya. Entah apa yang akan terjadi, jika benar mereka berbeda kelas. Karena pada kenyataannya sejak duduk di bangku TK hingga SMP, mereka selalu saja sekelas dan duduk berdua.
Aira tak pernah mempermasalahkan itu semua. Ia dengan senang hati menerima semua perhatian yang diberikan oleh Amir. Jika orang yang belum tahu mereka, pasti akan mengira jika mereka adalah kekasih, tapi kenyataannya hanya sebatas sahabat. Namun masalah hati siapa yang tahu. Baik Amir ataupun Aira sejujurnya mereka memiliki sesuatu yang mereka simpan sendiri-sendiri.
Dan pada saat pengumuman kelas, Amir sudah sangat tegang. Dia selalu meremas jari-jari Aira yang ada di sampingnya. Hampir saja, Amir memeluk Aira saking senangnya. Jika bukan karena Aira yang melotot, pasti Amir sudah memeluk Aira saat itu juga. Amir sangat bahagia karena pada akhirnya mereka bisa satu kelas.
"Alhamdulillah, akhirnya kita satu kelas Ai," ucap Amir dengan sangat bahagia.
"Iya alhamdulillah, kamu senang?" tanya Aira usil, karena sudah pasti dia tahu jawabannya.
"Bukan lagi, aku sangat-sangat senang, bisa satu kelas sama kamu," jawab Amir dengan binar mata yang benar-benar bahagia.
"Mir, boleh aku tanya?" Aira kini mulai penasaran.
"Tanyalah, tumben bilang dulu kalo mau tanya, biasanya juga nyerocos gitu aja." Amir sedikit heran dengan tingkah Aira saat ini.
"Kenapa kamu se senang ini, jika bisa sekelas denganku?" Aira bertanya dengan harap-harap cemas dan degup jantung yang lebih cepat.
"Karena, aku akan selalu merasa tenang, saat kamu ada dalam jarak pandang ku," jawaban Amir jauh dari apa yang ingin didengar oleh Aira.
"Hem, itu saja?" Aira masih belum puas.
"Iya, memang kamu mau aku jawab apa sih Ai? Kamu tumben banget tanya gitu, kenapa?" tanya Amir balik.
"Gak apa-apa kok, hanya bertanya saja," jawab Aira, berusaha biasa saja.
"Kenapa gak kamu jawab, karena kamu sayang sama aku sih, Mir. Apa kamu gak ngerasa jika aku mempunyai perhatian lebih," batin Aira.
"Itu karena aku sangat menyayangimu, Ai. Tapi aku terlalu pengecut untuk bilang, maaf Ai. Aku harap kamu tidak kecewa dan kamu bisa bersabar sedikit lagi," batin Amir
Mereka malah kini tenggelam dengan pikiran masing-masing. Hingga suara cempreng dari Ika, sang sahabat membuyarkan lamunan mereka.
"Pada ngelamun aja, ngelamunin apa sih?" Ika bertanya dengan iseng.
Sejujurnya, Ika merasa jika dua orang ini sama-sama mempunyai perasaan, tapi masih sama-sama belum menyadari saja.
"Siapa yang lagi melamun, kita cuma lagi diem aja," elak Aira dengan cepat.
"Iya percaya deh," jawab Ika yang tidak ingin membuat suasana canggung.
Sedangkan Amir, diam diam dia tau, jika tadi Aira memang melamun.