Jane masih menunggu, sedangkan Gara masih menggantung kalimatnya. "Astaga... begitu saja lama sekali." Desak Jane. "Itu karena aku mungkin benar-benar menyukainya. Kau pernah bilang padaku kan? Menurut psikolog, semakin dalam perasaan seseorang, semakin sulit untuk di ungkapkan." "Iya... itu benar, jadi kau sungguh jatuh cinta padanya?" "Entahlah." "Huh... dasar, jadi sebenarnya kau kemari untuk apa?" Tanya Jane. "Untuk curhat saja, memangnya tidak boleh?" Gara balik bertanya. "Iya... boleh, tapi maksudmu apa dengan memberikan dokument pernyataan ini pada ku?" "Oh itu... haha, itu hanya akal-akalan ku saja, supaya dia mau menciumiku." Jawab Gara malu-malu. "Astaga, kau berusaha memperdayai gadis itu?" Mata Jane membelalakkan lebar terkejut. "Ya... bukan seperti itu, aku terlalu

