Ulat Bulu Berotot

1241 Kata
Lilis menepuk dahinya. Tertunduk lesu kemudian, saat Jo memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Lilis. Sementara orang-orang yang memenuhi warung sudah berhamburan pergi ke tempatnya masing-masing. Para suami-suami orang itu meninggalkan warung dengan gerutu dan keluh yang masih basah di mulut. Sementara Mpok Minah sebagai perempuan satu-satunya yang menjadi saksi pengakuan konyol Lilis, meninggalkan warung dengan buah tangan sejumput berita yang bisa di gunjingkan dengan ibu-ibu komplek lainnya. Kini, di tempatnya, hanya ada Lilis dan Jo yang di naungi kecanggungan, setelah pengakuan tak sopan Lilis terhadap Jo di hadapan khalayak ramai. Jo membuka kacamata hitamnya. Tanpa aba-aba, menempatkan benda tersebut di wajah Lilis. Lilis tertegun. Di balik kacamata berlensa gelap itu, bola matanya membulat. Meski Lilis sempat berkelit saat Jo meletakan benda itu di wajahnya. Pada akhirnya, Lilis tak bergeming juga. Kacamata hitam milik Jo itu, memang bukan kacamata biasa seperti pada umumnya. Benda yang biasanya hanya sebagai aksesoris itu memiliki kegunaan lain selain pelindung mata dari cahaya sinar UV. Kacamata itu di lengkapi kamera yang bisa merekam dan memutar video hasil rekaman secara realtime. Ya, sebagai seorang pengacara, Jo menggunakan kacamata pintar itu dalam berbagai kegiatan yang juga menunjang pekerjaannya. Tentu saja, Jo menggunakan kacamata itu sebagai alat penting yang bisa di andalkan saat membutuhkan bukti digital. Seperti bukti digital atas pemukulan yang di lakukan Beni kepadanya. Pun bukti digital atas pengakuan mengejutkan Lilis terhadapnya. "Dari tadi aku diam, ku putar berkali-kali rekaman itu. Supaya aku tak salah dengar." suara Jo berbaur dengan rekaman yang tengah di putar. "Diam-diam kau suka rupanya padaku, hm?" Jo menaikan dagunya sekilas, lalu menampilkan seringai di wajah rupawannya. "Rasa-rasanya ini baru pertemuan kedua kita." timpal Jo. Bergerak meletakan telunjuknya di dagu. "Ah... Kau jatuh cinta pada pandangan pertama rupanya." berondong Jo mengutarakan asumsinya. "Bukan-bukan." jawab Lilis cepat. Sesaat setelah melepaskan kacamata hitam milik Jonathan dari wajah manisnya. Kedua telapak tangan Lilis bergerak-gerak di udara, membuat simpul penolakan atas pernyataan asal Jo. "Saya tadi asal ngomong aja, Bang. Saya kepepet! Dari pada pada berantem di warung saya." jawab Lilis menundukan kepalanya. Lilis malu dan bingung harus bagaimana menyikapi Jo yang tiba-tiba di akuinya sebagai kekasih. "Sudahlah, kau mengaku saja. Tak usah pula malu-malu begitu." ujar Jo. Dengan berani menyentuh lembut dagu Lilis yang runcing. "Aku pun naksir padamu, Lilis." aku Jo. Kembali mengerak-gerakan kedua alisnya. Menggoda Lilis yang tengah di rundung kebingungan. "Jangan naksir sama saya! Saya ini janda, anak saya saja sudah dua." pinta Lilis. Lagi, mengerak-gerakan tangannya di udara membuat simbol penolakan. Jonathan tertawa. Keras sekali. Lilis saja sampai menjauh saat Jo terbahak dengan kerasnya. "Bagaimana pula kau janda beranak dua? Aku ini laki-laki yang khatam soal perempuan. Aku tahu, kau masih perawan. Benarkan?!" Jo mendekatkan wajahnya dengan milik Lilis, hingga hanya berjarak sejengkal saja. Lilis refleks melangkah mundur saat hembusan napas Jo yang saat itu beraroma mentol menusuk-nusuk hidungnya. Melihat penolakan Lilis. Adrenalin Jo sebagai playboy cap badak semakin terpacu. Jo semakin di buat penasaran akan sosok Lilis yang sejak awal menggoda hasrat kelaki-lakiannya. Mata elang Jo memindai Lilis dari ujung sandal jepitnya hingga puncak kepala dengan rambut hitam diikat kucir kuda. Debaran jantung Jonathan semakin berkejaran. Wajah manis Lilis, badan ramping Lilis, b****g dan d**a montok Lilis begitu menggoda mata Jo hingga tak rela melepaskan pandangannya meski hanya untuk berkedip. Lilis terlalu sempurna untuk jadi korban dari isi kepala Jo yang m***m. Lilis menginjak bumi dua kali dengan keras. Sekeras yang dia bisa. Membuyarkan lamunan m***m Jo hingga membuatnya terperangah. "Saya gak bisa terima uang ini!" Lilis mengulurkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah pada Jo. "Apa maksudmu? Uang itu hakmu. Ku kasih kau sebagai bayaran ku pinjam motor kau." terang Jonathan seraya menarik diri. Melangkah mundur melebarkan jarak dengan Lilis. "Saya gak bisa terima sebanyak itu hanya untuk bayaran sewa motor dan upah cuci piring." Lilis memangkas jarak yang di lebarkan Jo. "Terlalu berlebihan!" Lilis kembali mendekatkan diri saat Jo lagi, bergerak mundur. "Stop, Bang Jo!" perintah Lilis. Mengulurkan telapak tangannya ke depan. "Jangan mundur lagi! Saya gak punya waktu untuk main-main." timpal Lilis bernada kesal. "Lagipila saya gak akan ngapa-ngapain kok." tambahnya lirih. "Saya ambil seratus ribu saja, ini lebih layak sebagai uang sewa motor saya." Lilis mengulurkan tangannya yang mengepal lembaran uang hingga jauh. Sampai-sampai setengah badannya membungkuk. Lilis sudah tak berniat memotong jarak yang terbentang antara dirinya dan Jo. Meskipun begitu, Jo tetap tak ingin menarik kembali uang yang telah ia berikan. Jo ikhlas. "Ambilah Lilis." pinta Jo lirih. Mendorong tangan Lilis yang masih menggenggam uang tersebut. Kaki panjang Jo melangkah, mendekati Lilis yang terus mundur hingga mentok di dinding warungnya. Lilis dan Jonathan seperti dua manusia pengangguran yang bermain-manin dengan langkah maju-mundur. "Bang Jo, tolong mundur." Lilis risih dengan Jo yang terlalu menempel padanya. Seperti ulat bulu saja. "Aku akan mundur kalau kau tak mengungkit uang itu. oke?!" ancaman Jo sungguh mengerikan. Lilis terpaksa mengangguk pelan. Setidaknya lebih baik tutup mulut dari pada harus bersentuhan dengan kulit Jo yang diam-diam menghantarkan geleyar menggelikan di tubuh Lilis. Jo benar-benar seperi ulat bulu yang tak gagal membuat tubuh Lilis merinding. Bedanya Jo juga berotot, yang berhasil membuat Lilis semakin bergerak gelisah. "Ya sudah, sekarang, coba kau buatkan aku satu porsi nasi uduk. Lapar kali aku. Penghuni perutku sudah demo ini." pinta Jo. Meninggalkan Lilis di permukaan dinding yang dingin. Menempatkan bokongnya untuk duduk manis, menunggu nasi uduk yang segera di buatkan Lilis sesaat setelah Lilis bangkit. Lilis menambahkan semua lauk yang ada, di atas piring makan Jo. Sebab Jo tak mengatakan apapun akan pesanannya. Sementara Lilis masih terlalu heran dengan reaksi tubuhnya saat bersentuhan dengan Jo. "Spesial kali nasi udukku. Kau benar-benar mengistimewakan aku rupanya." dengan kepercayaan diri tingkat dewa, Jo lancar bersuara. Lilis yang baru saja mengembalikan kewarasannya, harus bersiap membentengi diri agar tak mudah tersulut emosi. Dengan Jo yang mulai banyak bicara. Lilis mendengus halus, dia sudah tak ingin meladeni kalimat-kalimat Jonathan yang mengandung formalin tinggi akan kepercaya diriannya. "Aku senang-senang saja kalau akhirnya kita ini sepasang kekasih." Jo bersuara di sela-sela kegiatan makannya yang baru saja di mulai. "Sebagai sesama lanjang, tentu tak ada yang salah." tambahnya. Setelah menelan nasi uduk di mulut. "Kalau begitu, kapan kira-kira kita akan berkencan, Lilis?" timpal Jo lagi. Kali ini, setelah meneguk habis gelas berisi air putih hingga habis. Jo berdecak. "Lilis, bagaimana pula kau ini, aku panjang lebar bicara kau --" 'Hhrrr... ' "Alamak, kenapa seram sekali suara dengkuran gadis manis ini. Macam singa yang nak terkam saja. Ngeri juga aku." Jo bermonolog. Melihat Lilis yang tertidur di atas meja warungnya dengan mulut setengah terbuka. Mendendangkan dengkuran keras yang tak cocok untuk wanita berparas manis seperti dirinya. Jika kebanyakan wanita itu terlihat cantik dan damai ketika terlelap. Hal tersebut tak berlaku untuk Lilis. Dia justru terlihat kacau saat tidur. Amat sangat bertolak belakang dengan dirinya yang lemah lembut saat dalam kesadaran penuh. Jo lekas menghabiskan sarapan yang di rapel makan siang sebab dia mehalapnya nyaris pukul sebelas siang. Meski sesekali ia meringis ngilu akan sisa pukulan Beni di pipi kanannya. Setelahnya, Jo berinisiatif menutup rolling door warung Lilis, memindahkan beberapa kursi yang tercecer di teras warung untuk kemudian merapikannya di dalam warung bersama meja-meja dan kursi-kursi lainnya. "Ku pindahkan kemana gadis ini? Tidurnya pun lelap sekali. Tak tega aku kalau harus membangunkannya." gumam Jo bermonolog lagi. Jo mondar-mandir di warung yang sudah setengah gelap, mencari ruangan yang bisa memindahkan Lilis yang sedang tertidur dalam. 'Ceklek' Jo mendorong sebuah pintu di belakang warung Lilis. Dari tampilan interiornya, Jo yakin betul jika ruangan yang ia temukan adalah rumah Lilis. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN