Keputusan pertama kami sebagai pasangan adalah keputusan paling naif sedunia. “Kita rahasiakan dulu,” kataku. Kayla mengangguk serius. “Iya. Demi ketenangan.” Alam semesta mendengar itu dan langsung tertawa. Hari pertama “pacaran rahasia”. Kami tidak jalan bareng. Kami tidak chat berlebihan. Kami tidak duduk berdekatan. Kami hanya… gagal total dalam bersikap normal. Aku menyebut namanya terlalu sering di kelas. Kayla menahan senyum tiap aku bicara. Mahasiswa mulai curiga seperti detektif gagal. Raka menghampiriku. “Pak.” “Ya?” “Bapak bahagia ya?” Aku berhenti jalan. “Kenapa?” “Kelihatan.” Sial. Aku mengangguk pelan. “Jaga nilai kamu.” Raka tersenyum. “Siap, Pak.” Aku kalah satu ronde lagi. Masalah besar muncul saat kopi pertama kami sebagai pasangan. Tempat: kafe

