Aku tidak tahu kapan tepatnya aku berubah jadi manusia paling munafik di kampus. Mungkin sejak aku bilang ke diri sendiri, “Aku cuma peduli sebagai dosen.” Padahal jantungku protes tiap lima menit. Pagi itu aku masuk kampus dengan niat biasa saja. Lalu aku melihat Kayla. Duduk. Di kantin. Dengan… cowok lain. Mereka tertawa. Kayla tertawa. Dan aku—tanpa sadar—berhenti jalan. Seorang dosen berdiri bengong di depan mesin kopi. Elegan. Sangat elegan. “Itu siapa?” tanyaku ke barista. Barista menatapku. “Pak… itu mahasiswa.” “Oh.” Aku mengangguk. Padahal dadaku panas. Mahasiswa. Aman. Seharusnya aman. Tapi kenapa aku ingin membatalkan seluruh kebijakan akademik kampus? Di ruang dosen, aku membuka jadwal bimbingan. Aku menggeser. Mengatur. Menghapus. Mengatur lagi. Ad

