Persiapan itu dimulai dari hal paling berbahaya: obrolan santai. “Kita nikah sederhana aja ya,” kata Kayla sambil selonjoran. Aku mengangguk cepat. “Iya. Intim. Keluarga dekat.” Kami saling tersenyum. Dua minggu kemudian… kami tenggelam dalam grup w******p bernama: KELUARGA BESAR ACARA BAHAGIA Isinya 47 orang. Tidak ada yang bahagia. Komedi romantis pertama muncul dari ibuku. “Undangannya minimal 300 orang ya,” katanya. Aku terdiam. “Bu, katanya sederhana.” “Sederhana itu relatif,” jawab ibuku tenang. “Bagi ibu, 300 itu sederhana.” Kayla mendengarnya. Ia menatapku. Tatapan kamu tanggung jawab. Masalah kedua: konsep. Kayla ingin hangat. Aku ingin praktis. Wedding organizer menawarkan paket. Harga membuatku batuk. “Ini termasuk apa?” tanyaku. “Kenangan seumur hidup,”

