Waktu berjalan dengan cara yang aneh. Hari terasa cepat. Malam terasa panjang. Perut Kayla semakin besar, dan kekhawatiranku ikut tumbuh diam-diam. Aku jadi ahli hitung minggu. Aku hafal jadwal kontrol. Aku tahu makanan apa yang bikin Kayla mual. Ironisnya, aku tetap tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ia menangis tanpa sebab. Komedi muncul dari kepanikan kecil. Kayla terbangun tengah malam. “Aku kontraksi.” Aku melompat. Kunci mobil jatuh. Tas rumah sakit terbalik. Aku panik setengah mati. Kayla menatapku dari tempat tidur. “Bukan. Aku cuma kram.” Aku duduk di lantai. Keringat dingin. Ia tertawa bersalah. “Maaf.” Aku menunjuknya. “Nanti kalau beneran, aku bisa pingsan duluan.” Kami mulai tidur terpisah. Bukan karena marah. Tapi karena aku ngorok dan Kayla but
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


