Bab 33

1073 Kata

Aku berdiri di lorong beberapa detik setelah mereka pergi ke arah berlawanan. Rasanya kayak habis dijatuhi palu hakim, tapi sidangnya belum kelar. Aku tahu keputusan Rektor itu rasional. Bahkan perlu. Tapi perasaan? Perasaan nggak pernah patuh sama aturan. Aku balik ke ruang dosen dengan kepala penuh kabut. Dan seperti alam semesta suka ngelucu, pas aku masuk ruang dosen, topik obrolan mereka lagi… aku. “Eh, itu dia.” “Pak Dimas.” “Pak, aman?” “Kami dengar ada tim etik ya?” Aku senyum kaku. “Aman. Belum dipenjara.” Beberapa ketawa kecil, tapi ada juga yang kelihatan khawatir. Bu Lestari mendekat pelan. “Pak Dimas… saya cuma mau bilang… jaga diri baik-baik ya. Kampus itu kejam kalau soal reputasi.” Aku mengangguk. “Terima kasih, Bu.” Aku duduk. Niat mau kerja. Tapi otakku mut

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN