Aku nggak pernah nyangka pagi itu akan se-chaos ini. Aku baru aja duduk di ruang dosen, mencoba menyelesaikan revisi modul kuliah yang udah tiga hari mangkrak karena aku sibuk mikirin drama antara aku, Aruna, dan Celine… ketika pintu ruang dosen kebuka dengan keras. Bam. Semua kepala otomatis nengok. Termasuk aku. Dan yang berdiri di pintu… adalah Rektor. Iya. Rektor kampus elite ini sendiri. Dr. Brawijaya. Sosok yang kalau muncul aja, biasanya ada dua kemungkinan: 1. Ada masalah akademik besar. 2. Ada skandal yang butuh dilurusin. Tebak? Yang mana yang bakal kena aku? Rektor berjalan masuk dengan langkah tegas, ditemani dua orang staf akademik. Suasananya langsung mengerucut kayak udara disedot ke tengah ruangan. “Pak Dimas, bisa ikut saya sebentar?” Kalimat itu seperti gong k

