Begitu aku masuk ballroom, hal pertama yang aku sadari adalah: AC terlalu dingin. Lampu terlalu terang. Dan semua orang terlalu rapi. Ini bukan tempat alami manusia. Ini habitat formal. Aku mengambil segelas air. Bukan wine. Aku tidak mau emosi jujur muncul tanpa filter. Dan seperti alam semesta suka ngetes batas sabar, seseorang langsung muncul. Pak Rendi. Baru selesai “cuti”. Jasnya rapi. Senyumnya licin. “Pak Dimas,” katanya ramah palsu. “Senang melihat Anda… masih di sini.” Aku membalas senyum. “Saya juga senang melihat Bapak… belum di luar negeri.” Dia tertawa kecil. “Bagaimana kabarnya sekarang?” “Tenang. Terima kasih atas perhatiannya.” Kami berpisah dengan sopan. Dan aku langsung merasa perlu mandi batin. Aku melihat Aruna berdiri dekat meja dessert. Dia sedang

