Anita mengacak-acak kamar mewah yang sudah tak berpenghuni. Hanya tertinggal ranjang dan lemari kosong. “Fatih! Ada apa denganmu?” Ia meraung, emosi dan meluapkan kekesalannya dengan berteriak memaki Alina. “Alian ...! Ini semua gara-gara kamu. Fatih kau rebut, papa kau rebut, mamamu juga merebut papa dari mamaku sampai pada kesedihan yang meregang nyawanya. Alina ... aku benci kamu!” Anita meraih handphone dan menghubungi Fatih. “Halo Nit, aku di apartemenmu sekarang. Aku menunggumu.” Tidak menjawab, Anita langsung mematikan sambungan teleponnya. “Kamu hutang penjelasan, tapi aku tidak mau kamu buat begini!” Anita meninggalkan bekas apartemen Fatih. Ia dan sopirnya kembali pulang. Sementara Fatih sudah ada di dalam apartemen Anita. Ia memang memiliki kunci. Fatih berusaha tenang m

