9

1876 Kata
09.32 KST. Kevin pergi untuk menemui temannya disebuah restoran langganannya yang sudah lama tidak ia kunjungi belakangan ini. Kevin sampai terlebih dahulu direstoran itu dari pada temannya. Alhasil Kevin harus menunggu kedatangan temannya itu dengan memesan minuman untuk menemaninya menunggu.   "oh Kevin-ssi" sapa seseorang pada Kevin yang langsung membuat lelaki tampan itu menoleh kearah suara.   "oh Seunghye-ssi...kau disini?" sapa balik Kevin dengan sedikit terkejut melihat Seunghye(gadis yang menyapanya) itu berada diretoran yang sama dengannya.   "aku ada janji dengan temanku" kata Seunghye singkat.   "kalau begitu kita sama...duduklah!"   "terimakasih"   "tentu"   Mereka berdua memutuskan untuk menunggu teman mereka dengan berbincang-bincang ringan. Tidak jarang Kevin membuat Seunghye merona dengan tatapan lelaki tampan itu padanya. Saat asyik mengobrol tiba-tiba teman Kevin datang.   "hai kawan...wow apa dia kekasihmu?" tanya lelaki itu sambil menunjuk Seunghye yang ada didepan Kevin. Seunghye hanya mampu menundukkan kepalanya karena malu dengan ucapan lelaki itu.   "bukan..dia temanku" jawab Kevin.   "aku kira kekasihmu..dia manis juga, Vin"   "kenalkan ini Eric temanku dan ini Lee Seunghye" Kevin memperkenalkan mereka berdua. Eric mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Seunghye dan diterima oleh gadis cantik itu.   "sepertinya aku harus pergi" kata Sunghye setelah melepas jabatan tangan Eric.   "kenapa harus pergi?" tanya Eric yang tak rela Seunghye pergi.   "aku merasa tidak enak ada diantara kalian berdua"   "tidak apa...ajak saja temanmu itu bergabung..apa dia masih lama?" tanya Kevin.   "ent-oh ZIA SEBELAH SINI!" teriak Seunghye tiba-tiba saat melihat wajah Zia yang sedang celingukan kesana kemari mencari keberadaannya.   "aku kira kita akan berdu-KAU!" kejut Zia saat melihat Kevin yang ada didepan Seunghye.   "kau...kenapa kau disini?" tanya Kevin sama terkejutnya dengan Zia.   "aku menemui temanku...Seunghye"   "dia temanmu?"tanya Kevin pada Seunghye sambil menunjuk Zia.   "ne….kalian sudah kenal?"   "tidak!...dia yang waktu itu hampir menabrakku dengan mobilnya dan lelaki ini juga yang harus kau jauhi nona Lee" jelas Zia.   "hey, kenapa dia harus menjauhiku?" tanya Kevin dengan menunjuk dirinya sendiri.   "karena kau lelaki yang tidak baik"   "lalu kau apa hah? melarang teman sendiri dekat denganku"   "kau itu-   "nona tenanglah....ayo kita pergi saja dari sini" ajak Taekwang yang mulai merasa perdebatan Zia dan Kevin akan sangat panjang.   "diam kau, Goo"   "nona sudahlah...maafkan nona-ku, tuan!"   "bukan kau yang harus minta maaf, tapi nona aroganmu itu"   "kau-   "nona sudahlah…ayo kita pergi" Taekwang menarik Zia menjauh dari tempat duduk Kevin. Ia sudah tidak tahan mendengar ocehan nona-nya itu. Sedangkan Seunghye berjalan dibelakang Taekwnag dan Zia, ia tidak lupa mengucapkan kata maaf pada Kevin atas kelakuan Zia tadi. Sedangkan Kevin dan Eric hanya diam ditempat dan kembali duduk dikursi mereka.   "mereka tadi itu siapa?" tanya Eric.   "yang tadi marah-marah tidak jelas itu adalah gadis yang beberapa waktu lalu hampir aku tabrak, tapi salah dia kenapa tidak melihat lampu pejalan kaki jadi aku hampir menabraknya dan Seunghye adalah gadis yang aku temui beberapa waktu lalu disebuah restoran yang baru aku datangi beberapa waktu lalu" jelas Kevin dengan sedikit emosi.   "dan kau menyukai, Zia?" tanya Eric.   "apa maksudmu?" tanya Kevin yang tidak mengerti dengan maksud Eric.   “tidak ada…ayo kita pesan sesuatu” Eric mengalihkan pembicaraan dan memanggil pelayan agar mencatat pesanan mereka. Keduanya akhirnya berbincang-bincang seperti seharusnya mereka lakukan sejak tadi sesuai dengan rencana mereka melalui pesan tadi malam.   ◾◾   Zia dan Taekwang sudah berada diluar restoran. Taekwang melepaskan tangannya dari tangan Zia dan menatap majikannya itu dengan tatapan menyesal telah menariknya keluar.   "maafkan aku, nona" kata Taekwang.   Zia hanya menatap Kevin jengkel sedangkan Seunghye yang baru saja sampai ditengah-tengah mereka itupun mulai memaki Zia.   "Zi, kenapa kau melakukan hal itu tadi?" semprot Seunghye.   "aku tidak suka dengan lelaki yang bernama Kevin itu" jawab Zia enteng.   "kenapa?"   "dia tidak baik untukmu"   "maksudmu dia tidak baik?"   "aku tidak bisa memberitahumu soal itu"   "bagaimana bisa aku menjauhinya jika kau tidak memberitahu alasannya!"   "ya, aku tidak bisa!" bentak Zia sambil mengalihkan atensinya dari Seunghye menuju kearah lain.   "kau tidak bisa menilai orang dari luarnya, Zi"   "aku tidak menilainya dari luar..dia itu jahat kau tahu!"   "entalah..sepertinya kau tidak mengerti diriku, Zi"   "maksudmu?"   "aku menyukainya dan kau bukannya mendukungku malah menjelek-jelekkannya"   "Seunghye, dia tidak baik untukmu"   "lalu dia baik untukmu begitu!?" bentak Seunghye "...aku tidak mau lagi bertemu denganmu!" lanjutnya sambil berlalu dari hadapan Zia dan Taekwang. Zia menghela nafas kasar saat Seunghye benar-benar meninggalkannya sedangkan Taekwang masih mematung ditempat saat mendengar ucapan Seunghye yang mengatakan bahwa gadis cantik itu menyukai Kevin. Entah kenapa sesuatu dalam dirinya berdenyut sakit mendengar perkataan tersebut.   "kemarin dia bilang Taekwang tampan dan sekarang dia bilang dia menyukai Kevin dasar gadis aneh" gumam Zia tanpa sadar.   "nona, bilang apa tadi?" tanya Taekwang memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik.   "dia kemarin bilang kau tampan..."   "kenapa aku?"   "karena kau tampan" Zia langsung menuju mobil setelah mengucapkan kalimat tersebut sedangkan Taekwang kembali mematung ditempatnya karena baru kali ini Zia memujinya tampan.   "Tae, ayo pulang aku ingin istirahat" teriak Zia didalam mobil dan langsung membuyarkan lamunan Taekwang. Zia tidak memikirkan kemarahan Seunghye karena ia punya cara untuk berbaikan dengan gadis cantik itu.   ◽ ◾ ◽   Seunghye memarkirkan mobilnya digarasi rumahnya. Ia sungguh kesal dengan Zia. Bisa-bisanya gadis mungil itu melarangnya untuk dekat dengan Kevin yang menurut Seunghye, Kevin itu lelaki yang baik dan juga tampan dan Seunghye suka itu. Seunghye turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah. Ngomong-ngomong rumah Seunghye berada tidak jauh dengan rumah Zia, hanya saja berbeda kompleks. Seunghye langsung melenggang kekamar karena jam segini orang tuanya masih bekerja jadi tidak ada orang dirumah kecuali para maid. Seunghye merebahkan tubuhnya dikasur sambil memainkan ponselnya.   "andai Zia tidak mengacaukan semuanya, pasti aku masih bersama Kevin sekarang" monolog Seunghye sambil terus menyalahkan Zia dalam masalah ini.   "Zia sialan!" umpatnya lalu meletakkan ponselnya diatas nakas.   ◽ ◾ ◽   Esok harinya, Zia pergi kerumah Seunghye bersama Taekwang karena lelaki itu mulai sekarang akan selalu mengawal Zia kemanapun gadis  mungil itu pergi. Ia sudah berada diruang tamu rumah keluarga Lee. Ia duduk disofa ruang tamu dengan secangkir teh yang dibuat oleh maid keluarga tersebut. Untung saja yang membukakan pintu tadi ibu Seunghye bukan gadis cantik itu sendiri, jadi Zia masih bisa bernafas lega. Bayangkan saja jika Seunghye yang membukakannya pintu, sudah dipastikan Zia tidak akan selamat dan dipastikan ia sudah pulang kerumahnya sendiri tanpa dipersilahkan masuk.   "silahkan diminun, sayang.." kata nyonya Lee.   "ne ahjuma" balas Zia dengan senyuman terpatri diwajahnya. Ia akan bersifat ramah pada orang tua Seunghye. Ia tidak akan menunjukkan sifat dinginnya itu pada orang tua sahabatnya karena mereka tidak tahu apapun soal masalahnya sendiri.   "kenapa kau kemari?" tanya Seunghye tiba-tiba.   "sayang... tidak boleh seperti itu" tegur ny. Lee.   "aku marah padanya, eomma"   "ya sudah kalian selesaikan saja urusan kalian, eomma kebelakang dulu ne.." pamit ny. Lee dan pergi meninggalkan kedua anaknya diruang tamu. Seunghye duduk disingle sofa setelah kepergian eomma-nya. Ia memandang Zia yang masih diam ditempatnya.   "sebenarnya kau kesini untuk apa?" tanya Seunghye ketus.   "hah...maafkan aku soal kemarin" kata Zia sambil menghela nafas.   "tidak mau!"   "jalan-jalan mau tidak?"   "aku malas pergi! Kau sendiri saja" tolak Seunghye.   "kalau ke Jeju mau tidak?"   Seketika mata Seunghye membelalak saat mendengar kata ‘Jeju’ keluar dari mulut sahabatnya itu. Pasalnya Seunghye ingin pergi ke Jeju saat sudah sampai di Korea, tapi ia belum ada kesempatan untuk pergi kesana dan sekarang teman bantetnya itu mengajaknya ke Jeju, hal itu sungguh kabar menggembirakan untuknya.   "bagaimana Lee?" tanya Zia memecahkan lamunan Seunghye.   "eemz, tapi dengan syarat….kau harus mentraktirku dan tidak bersifat dingin padaku seperti biasanya"   "aku tidak janji"   "ya sudah kalau begitu aku tidak mau!"   "ok ok baiklah" Seunghye langsung tersenyum dan menghambur memeluk Zia dengan sangat erat membuat Zia merasa sesak nafas.   "kapan kita berangkat?" tanya Seunghye sambil melepas pelukannya dengan Zia.   "lusa depan"   "ok baiklah" Begitu mudah membujuk Seunghye bukan. Hanya dengan iming-iming liburan saja sudah membuat Zia medapat maaf dari gadis cantik itu. Sebenarnya Zia tidak masalah dengan hal itu toh ia juga butuh liburan dan ia tidak masalah untuk mentraktir Seunghye sekali-kali, tapi untuk tidak bersifat dingin pada Seunghye itu tergantung dari gadis cantik itu sendiri yang tidak membuat mood Zia hancur nantinya.   ◽ ◾ ◽   Jeni kini sedang duduk ditaman belakang bersama Angga dan juga Kevin. Sejak awal duduk bersama ditaman belakang, Jeni sering mencuri pandang kearah Angga yang sedang membaca buku. Memurut Jeni hari ini Angga terlihat tampan, entah kenapa ia bisa berfikiran seperti itu Jeni tidak tahu alasannya.   "haish apa yang aku fikirkan....sadarlah Kim Jeni, ia orang jahat" batin Jeni sambil memukul-mukul kepalanya.   "kau kenapa?" tanya Kevin yang membuat Jeni sedikit terkejut dengan pertanyaan barusan.   "ti-tidak apa-apa" jawab Jeni dengan gagap.   "jangan pukuli kepalamu" ucap Angga sambil menatap Jeni.   "n-ne"   "oh ya! Lusa kita akan pergi ke Jeju...aku ada urusan disana"   "apa dia juga diajak, hyung?" tanya Kevin sambil menunjuk Jeni dengan dagunya.   "iya dia juga ikut, Vin....apa salahnya mengajak dia jalan-jalan sesekali" jawab Angga sambil tersenyum kearah Jeni yang membuat gadis itu terpesona untuk sesaat.   "terserah kau saja, hyung.." Kevin beranjak dari kursinya dan berjalan masuk kedalam rumah. Sedangkan Angga masih duduk ditempatnya dengan tenang dan Jeni duduk dengan gelisah sambil mengumpati Kevin yang meninggalkannya dengan Angga dalam hati.   "saat kita di Jeju nanti aku harap kau tidak berusaha kabur dariku jika kau tidak mau aku melakukan sesuatu pada keluargamu nanti" ancam Angga dengan suara yang sangat tenang meskipun menurut Jeni suara itu penuh dengan peringatan.   "n-ne a-aku mengerti" cicit Jeni dengan menundukkan kepalanya dalam.   “kenapa?” tanya Angga yang melihat Jeni menundukkan kepalanya. Jeni menegakkan kepalanya dan menatap Angga bingung. “kenapa kau menundukkan kepalamu?” tanya Angga lagi sambil mengusak rambut Jeni dengan lembut. Jeni yang mendapat usakan itupun menatap Angga dengan mata melebar dan wajah yang memanas. “kenapa wajahmu memerah?” Jeni mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Angga lagi.   “YAK!” Jeni mendorong wajah Angga agar menjauh darinya karena wajah mereka terlalu dekat.   “hahaha” Angga tertawa ketika melihat wajah Jeni yang seperti orang bodoh.   “yak! apa yang kau tertawakan?” tanya Jeni sambil berdiri dari duduknya.   “wajahmu sangat lucu jika terkejut”   “APA!” Bugh. “kau menyebalkan”   Bugh. Jeni memukuli Aangga dengan kedua tangannya karena sudah mengerjainya.   “hei hentikan” Angga menyuruh Jeni untuk menghentikan pukulannya, tapi gadis itu tidak menggubrisnya dan terus memukuli lelaki itu dengan brutal. Angga yang sudah merasa sebal itupun memegang tangan Jeni dan menarik gadis itu yang langsung duduk dipangkuannya. Jeni terdiam dipangkuan Angga dengan satu tangan yang ada didepan d**a Angga dan satunya lagi melingkar dileher Angga. Jangan tanya soal wajah keduanya karena saat ini wajah mereka sangatlah dekat hingga mereka dapat merasakan nafas masing-masing. Keduanya saling terkunci dengan tatapan masing-masing dan tidak ada dari mereka yang menjauh dari posisi tersebut sampai. Angga yang menyadari posisi mereka itupun memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekatkan wajahnya dengan Jeni dan mencium bibir gadis itu.   Tiga menit Angga membiarkan bibirnya menyentuh bibir Jeni dan memastikan jika Jeni tidak menolak ciumannya itu. Ia kemudian melumat bibir Jeni dengan lembut dan membuat Jeni tersadar dari lamunannya dan berusaha melepaskan diri dari Angga, tapi lelaki itu makin mempererat pelukannya dan menekan tengkuk Jeni agar memperdalam ciumannya. Lima menit kemudian, Jeni mulai menikmatik ciuman tersebut dan memejamkan matanya, menikmati lihainya bibir Angga melumat bibirnya.   “eeengghh” lenguh Jeni ketika Angga memasukkan lidahnya kedalam mulutnya. Lima belas menit ciuman itu berlangsung dan Jeni mulai kehabisan nafas. Ia memukul d**a Angga agar melepaskan ciuman mereka. Dengan tak rela Angga melepas ciumannya dengan Jeni. Nafas keduanya tersengal-sengal akibat kelakuan mereka barusan. Tanpa mereka sadari Kevin melihat kegiatan mereka dari balkon kamarnya.   ◾◾ Kevin yang kembali kekamar tadi merasa bosan didalam kamar karena hanya berguling-guling diatas kasur dengan sebuah pikiran yang mengarah kepada Zia. Ia tidak mengerti kenapa gadis mungil itu sering menghantui pikirannya belakangan ini. Karena kesal, Kevin memilih pergi kebalkon kamar sambil mendengarkan musik yang ia putar dari ponselnya. Dibalkon itu Kevin menikmati angin semilir yang berhembus dengan sejuk membuatnya tenang. Saat sedang menikmati angin, mata Kevin tidak sengaja melihat Angga dan Jeni yang masih duduk ditaman belakang. Ia terus mlihat kegiatan keduanya sampai mata Kevin melebar saat melihat Jeni duduk dipangkuan Angga dengan wajah mereka yang sangat dekat. Kevin terus memperhatikan hingga Angga mendekatkan wajahnya kepada Jeni dan menempelkan bibirnya kebibir Jeni. Ia mengepalkan tangannya ketika melihat kedua orang itu menikmati ciuman mereka.   “aku rasa kau menyukainya, hyung” kata Kevin sambil terus menatap keduanya yang masih berciuman. Ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar dan memilih untuk tidur siang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN