Hari yang dinantikan Lee Seunghye akhirnya datang juga. Ia, Zia, Taekwang dan juga Haajae pergi ke pulau Jeju untuk liburan bersama atas permohonan maaf dari Zia untuk Seunghye. Jika kalian bertanya kenapa Haajae ikut? jawabannya adalah karena Hyunjung memaksa Zia untuk mengajaknya dengan alasan perlindungan diri untuk putri mungilnya dan juga Seunghye karena jika Taekwang saja yang menjaga mereka berdua itu tidak cukup. Awalnya Zia menolak permintaan ayahnya, tapi Hyunjung mengancamnya akan membatalkan liburan mereka dan mau tak mua membuat Zia menyetujui permintaan ayahnya itu.
◾◾
Kini mereka sudah berada divilla milik keluarga Kim dan Zia langsung melenggang pergi menuju kamarnya untuk membereskan pakaian yang ia bawa begitu juga dengan ketiga orang dibelakangnya yang menuju kamar mereka masing-masing. Meskipun villa ini lama tidak terjamah oleh siapapun, tapi masih terlihat bersih dan rapi karena Hyunjung menyuruh orang untuk menjaga villa tersebut selama villa itu tidak ditinggali oleh mereka.
◾◾
Setengah jam Zia membereskan pakaiannya. Kemudian ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Zia lalu membuka lemari es ketika sampai didapur. Ia mengambil air meneral yang ada dibotol dan menuangkannya kedalam gelas yang sudah ia ambil dilemari penyimpanan. Zia meminum air digelas tersebut dengan memandang seluruh penjuru villa. Ia jadi sedikit teringat tentang kebersamaannya dengan sang kakak saat mereka masih bersama dan liburan kevilla ini berdua. Mereka selalu bermain bersama, kejar-kejaran bahkan perang bantalpun mereka lakukan divilla tersebut. Zia sedikit tersenyum mengenang kebersamaannya bersama sang kakak. Ia jadi merindukan Jeni jika seperti ini.
"semoga kau baik-baik saja, eonni" monolog Zia lirih.
"sedang melamun..." ucap Haajae yang tiba-tiba sudah ada dipintu dapur sambil menatap Zia.
"kau mengagetkanku!" kesal Zia.
"maaf"
"pergi sana....mengganggu saja, kau!" usir Zia. Haajae yang mendapatkan nada ketus itupun pergi dari hadapan Zia karena tidak mau membuat mood gadis mungil itu memburuk. Setelah kepergian Haajae, Seunghye datang menghampiri Zia yang masih berdiri ditempat yang sama.
"hey aku belum tanya...lelaki itu siapa?" tanya Seunghye penasaran.
"aku tidak tahu yang jelas namanya Haajae…" jawab Zia sedikit tidak peduli.
"oh begitu"
Setelah perbincangan singkat itu, Zia dan Seunghye pergi ketaman belakang untuk melihat bunga yang ditaman Zia dan Jeni dulu. Sampai ditaman belakang Zia tersenyum sekilas saat melihat bunga yang dulu ia tanam masih terawat dengan baik. Zia dan Seunghye memutuskan untuk berbincang-bincang digazebo yang terletak ditengah-tengah taman tersebut.
◽
◾
◽
Angga, Kevin dan Jeni sudah siap berangkat kepulau Jeju. Mereka pergi dengan menggunakan helikopter pribadi milik Angga yang sudah terparkir diatap rumah lelaki itu. Angga menggandeng tangan Jeni untuk naik terlebih dahulu kedalam helikopter dan diikuti Kevin dibelakang mereka. Saat Angga memegang tangan Jeni, ada perasaan nyaman dan sebagainya didalam diri Jeni yang tidak dimengerti lelaki itu. Setelah semua siap, pilot mulai menerbangkan helikopter tersebut melayang keudara.
Satu jam perjalanan mereka, kini helikopter itu telah sampai dihalaman rumah Angga yang ada di Jeju. Kevin turun terlebih dahulu dari dalam helikopter lalu diikuti Angga dibelakangnya. Setelah Angga keluar, ia membantu Jeni turun dengan memegang kedua tangannya.
"gomawo" ucap Jeni saat kakinya sudah menginjak tanah.
"hmzz" gumam Angga. Kemudian lelaki itu berjalan memasuki rumahnya dengan diikuti Jeni dan Kevin dibelakangnya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh beberapa maid yang mengurus rumah mewah tersebut. Jeni sedikit terperangah melihat rumah Angga yang begitu mewah dan besar dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Rumah ini banyak memiliki barang-barang mahal, antik dan beberapa senjata berlaras panjang yang sengaja dipajang didinding sebagai hiasan rumah yang membuat Jeni menganga kagum. Rumah ini juga berbeda sekali dengan rumah Angga yang ada di Gangnam.
"wajahmu terlihat bodoh jika seperti itu" ejek Kevin yang melihat Jeni menganga.
"aish kau!" Jeni hampir saja akan memukul Kevin, tapi tertahan diudara karena tatapan lelaki tampan itu yang tajam.
"bersifatlah sedikit baik padaku...karena sungguh tatapanmu itu mematikan" cicit Jeni agak jengkel.
"itu bukan gayaku...dan tatapanku memang begini.." jawab Kevin sambil melewati Jeni begitu saja "....kau ingin kekamar atau tidak?" tanya Kevin lagi.
"tentu saja"
"kalau begitu bisa kau berjalan cepat sedikit!" perintah Kevin. Tak ada jawaban dari Jeni, ia hanya mengikuti langkah Kevin dari belakang. Tak jarang Jeni terpanah dengan dekorasi lorong dan beberapa lukisan yang sengaja dipajang dilorong tersebut tangga tersebut.
"ini kamarmu" ucap Kevin masih dengan nada dinginnya.
"gomawo"
Setelah mengantarkan Jeni kekamarnya, Kevin pergi meninggalkan Jeni begitu saja didepan kamar membuat gadis itu merasa dongkol dengan sifat Kevin.
"apa-apaan dia itu tidak ada lembut-lembutnya sama sekali...huh kenapa Soohae menyuruhku mendekatinya dan bersifat baik padanya jika dia saja seperti itu padaku" monolog Jeni sambil membuka pintu kamarnya dan segera masuk kedalam. Lagi-lagi Jeni dibuat menganga dengan kamar yang ia tempati. Kamar yang sangat luas dengan dekorasi kamar yang bagus dan beberapa lukisan terpajang didinding kamar. Mata Jeni makin melebar kala melihat sebuah boneka beruang berwarna abu-abu berukuran besar berada diatas tempat tidurnya.
"WAAAH kenapa ada boneka disini?" monolog Jeni dan langsung memeluk boneka itu tanpa tahu ada Angga yang sedang memperhatikannya dari depan pintu.
"suka dengan bonekanya?" tanya Angga dengan tiba-tiba membuat Jeni berjengit kaget.
"oh maaf….aku tidak tahu kalau boneka ini bukan untukku" cicit Jeni yang langsung melepaskan boneka itu dari pelukannya.
"itu memang untukmu....aku sengaja menyuruh salah satu maid disini untuk membelikannya" jawab Angga sambil berjalan mendekati Jeni.
"oh benarkah?" binar Jeni.
"tentu saja kala-" ucapan Angga terpotong dengan pelukan Jeni yang tiba-tiba itu.
"gomawo" ucap Jeni membuat Angga diam ditempat dengan wajah shock. Angga merasakan sesuatu didalam dirinya yang bergejolak senang dipeluk oleh Jeni. Entah kenapa ia merasa nyaman saat berada dipelukan gadis itu.
Tanpa mereka sadari Kevin melihat moment pelukan mereka. Awalnya lelaki tampan itu berniat turun kelantai bawah, tapi saat melewati kamar Jeni, ia melihat adegan yang tidak ia sukai. Setelah diam cukup lama, Kevin memutuskan untuk kembali kekamarnya dan mengistirahatkan tubuh dan otanya.
“lagi-lagi”
◽
◾
◽
19.08 KST.
Sudah dua hari ini, Zia berada di Jeju bersama dua bodyguardnya dan sahabatnya. Selama dua hari ini, mereka selalu berkeliling keberbagai tempat dipulau tersebut dan malam ini Zia ingin keluar sendirian tanpa ditemani Taekwang ataupun Haajae disampingnya. Akhirnya gadis itu bisa keluar sendirian meskipun tadi sempat berdebat dengan Taekwang tentang keselamatannya dan masih banyak lagi alasan Taekwang agar ia bisa ikut menemani Zia pergi. Kini Zia berjalan ditrotoar sambil mendengarkan musik melalui airphone yang bertengger manis dikedua telinganya. Ia sangat menikmati udara Jeju dimalam ini. Sepanjang jalan, Zia sesekali bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang ia dengar meskipun ada sedikit rasa tidak tenang, tapi Zia mengabaikan rasa itu dan terus berjalan menikmati udara malam Jeju.
◽
◾
◽
Disisi lain diwaktu yang sama.
"mau kemana kau, Vin?" tanya Angga yang melihat Kevin yang berpakaian rapi.
"keluar hyung" jawab Kevin sambil melirik Jeni yang duduk disamping Angga. Kevin langsung berjalan keluar dari rumah dan mengabaikan Angga yang ingin berbicara sesuatu padanya. Angga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kevin. Lelaki tampan itu mengendarai motornya keluar dari rumah Angga. Setelah lama mengendarai motornya, kini Kevin sudah berada dicafe yang ada ditengah kota. Ia masuk kedalam cafe dan memesan satu americano. Ia duduk dekat dengan jendela cafe agar bisa melihat keadaan kota Jeju dimalam hari. Lama ia memandang jalanan sambil menikmati americano-nya, mata Kevin menatap seseorang yang sedang dikerumuni oleh beberapa lelaki berbadan besar.
◽
◾
◽
Zia yang asyik berjalan sambil menikmati musik itu, tiba-tiba harus terhenti saat beberapa orang berbadan besar menghadangnya.
"siapa kalian?" tanya Zia tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"wah anak Hyunjung ini berani juga ternyata" kata salah satu dari mereka dan mengabaikan pertanyaan Zia.
"aku tidak ada urusan dengan kalian jadi menyingkirlah!" bentak Zia.
"wow dia membentak kita" kata orang yang berambut pirang.
"ayo ikut kami" kata orang berhoodie sambil menarik tangan Zia.
"tidak mau...lepaskan aku!" teriak Zia.
Keadaan sekitar memang tidak terlalu ramai, hanya saja ada beberapa orang yang berlalu lalang sambil menatap Zia iba. Mereka tak berani menolong Zia karena orang yang menyeret Zia itu terlewat kekar jadi mereka pura-pura tak melihat kejadian itu. Sebenarnya Zia bisa saja melawan mereka semua, tapi melihat ukuran badan mereka jadi nyali Zia agak menciut dan hanya bisa berteriak seperti gadis lemah lainnya.
"lepaskan dia!" kata seseorang dari belakang tubuh Zia.
"siapa kau?" tanya lelaki berhoodie.
"tidak perlu tahu siapa aku yang jelas lepaskan dia sekarang!"
Zia tahu betul siapa orang yang ada dibelakangnya saat ini. Bukan apa-apa, Zia hanya hafal dengan suara lelaki itu. Siapa lagi kalau bukan Kevin lelaki yang tidak Zia sukai dari sejak awal mereka bertemu sampai sekarang. Sepuluh orang yang memaksa Zia itupun dibuat geram dengan perkataan Kevin. Mereka semua mulai menyerang Kevin secara bersamaan. Bahkan orang yang menarik Zia-pun ikut menyerang juga. Kevin sudah siap dengan serangan yang akan ia dapat dari kesepuluh lelaki kekar itu. Satu serangan bisa Kevin tangkis begitupun dengan serangan kedua dan tiga.
Bugh.
Tapi, tidak dengan serangan keempat. Kevin tersungkur akibat tendangan yang dilayangkan seseorang dari arah belakang tubuhnya. Zia yang panik langsung menendang beberapa orang yang akan mengeroyok Kevin hingga mereka tersungkur juga.
"wah kau pandai bela diri juga ternyata" kata lelaki berhoodie yang berhasil Zia tendang. Zia mengabaikan perkataan orang itu dan membantu Kevin berdiri dari tersungkurnya. Ia sudah tak memikirkan suka atau tidak suka dengan lelaki tampan itu yang penting sekarang adalah bagaimana caranya menyelamatkan diri dari kesepuluh lelaki kekar didepannya ini. Kesepuluh orang itu sudah siap untuk mengroyok Kevin dan Zia lagi setelah mereka berdua berdiri tegak.
“satu”
Tiba-tiba Zia menghitung dengan lirih, sehingga mampu didengar olehnya dan juga Kevin.
“dua”
“tiga...LARIIIIIII" -teriak Zia sambil menarik Kevin untuk ikut berlari bersamanya. Entah kenapa sesuatu yang terlintas diotaknya sekarang hanyalah berlari dan bukan yang lain. Sepuluh orang yang melihat Kevin dan Zia berlari itupun ikut berlari juga mengejar keduanya. Zia terus berlari dan tidak peduli dengan pejalan kaki yang ia tabrak yang penting sekarang adalah menyelamatkan diri dari sepuluh orang yang mengejarnya.
"hah hah aku lelah" Zia berhenti sejenak yang jelas diikuti Kevin juga karena lelaki tampan itu masih ditarik oleh Zia bahkan tangan Zia masih menggenggam tangannya. Kevin menatap sekilas genggaman tangan Zia sebelum ia melepas genggaman tangan tersebut.
"dasar gadis manja" sindir Kevin yang tidak merasa lelah sedikitpun.
"AP-YAISH HEY!" belum sempat Zia protes, Kevin sudah menariknya untuk berlari lagi. Sebenarnya Kevin tidak takut dengan mereka, ia bisa saja membunuh semuanya, tapi tidak ditempat umum dan banyak orang lalu lalang seperti saat ini. Jadi ia menurut saja dengan Zia yang menariknya untuk berlari menghindari mereka semua. Zia dan Kevin berlari sampai diperempatan jalan yang ramai dengan orang yang akan menyebrang jalan.
"sial!" umpat Kevin saat melihat lampu pejalan kaki masih berwarna merah dan itu artinya mereka harus berhenti sesaat.
"aku sudah lelah dan tidak kuat berlari lagi" keluh Zia yang tangannya masih ditarik oleh Kevin yang sedang mencari jalan untuk menyelip ditengah-tengah kerumunan.
"bisa tidak...kau tidak mengeluh, dasar gadis lemah!" sarkas Kevin.
“aku tidak lemah, bodoh!” kesal Zia. Mereka berdua mulai berdepat sampai orang yang akan menyebrang jalan bersama mereka itu merasa tak nyaman dan memilih menjauh dari keduanya.
“ITU MEREKA!” teriak salah satu lelaki kekar yang mengejar mereka.
“Sial!” Kevin kembali mengumpat dan menarik Zia kembali berlari ketika lampu sudah berubah hijau.
"mereka makin dekat" kata Zia sedikit panik ketika melihat sepuluh orang yang mengejar mereka makin dekat. Kevin bingung harus sembunyi dimana untuk menghindari kesepuluh orang itu. Ia selalu mencari tempat untuk bersembunyi agar mereka tak tertangkap.
"aaaa disana" ucap Kevin saat menemukan sebuah gang sempit yang gelap. Lalu ia menarik Zia menuju gang tersebut. Mereka bersembunyi ditempat itu dengan Zia yang bersandar didinding dan Kevin yang menghimpitnya dengan jarak yang begitu dekat karena gang itu sangat sempit. Mereka melihat kearah jalan yang tadi mereka lewati tadi. Zia merasa was-was berharap kesepuluh orang yang masih mengejarnya, takut mereka semua akan menemukannya.
"sial cepat sekali mereka berlari!" geram orang berhoodie "....ayo kita cari kesana!" lanjutnya. Kesepuluh orang itupun pergi meninggalkan tempat persembunyian Zia dan Kevin.
Hah.
keduanya menghela nafas lega saat kesepuluh orang tadi pergi dari depan gang tersebut. Zia mendongakkan kepalanya dan baru menyadari jika tangannya berada didada Kevin dengan tubuh mereka yang sangat dekat. Begitu juga dengan Kevin yang baru menyadari seberapa dekat mereka saat ini. Keduanya saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa saat. Seakan-akan terkunci oleh tatapan masing-masing.
"ternyata dia tidak terlalu buruk...manis" batin Kevin.
"ternyata dia tidak terlalu buruk...tampan" batin Zia.