"ternyata dia tidak terlalu buruk...manis"
"ternyata dia tidak terlalu buruk...tampan"
Kevin dan Zia masih dalam posisi yang sama sambil saling memuji satu sama lain didalam hati, tidak berani mengatakannya karena alasan gengsi. Lama mereka seperti itu hingga suara ponsel Zia membuyarkan lamunan keduanya. Dengan gugup Zia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari bodyguard-nya, Taekwang.
"nona, anda dimana? ini sudah hampir larut malam.... beritahu aku tem-“
"berisik! tidak usah menjemputku aku bisa pulang sendiri"
"tapi non-
Tut
Zia menutup panggilannya dengan Taekwang begitu saja. Ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Sungguh Zia sangat kesal dengan sifat Taekwang yang kelewat berlebihan itu, meskipun itu juga karena orang tuanya yang menyuruhnya untuk menjaganya dengan baik, tapi menurut Zia itu sedikit berlebihan. Zia benar-benar tidak suka dikekang.
"tidak usah menjemputku...aku bisa pulang sendiri" ejek Kevin sambil menirukan gaya bicara Zia.
"diam kau!" ‘kenapa aku bisa memujinya tampan tadi’ lanjut Zia dalam hati sambil berjalan meninggalkan Kevin yang masih terdiam digang tersebut.
"hey!" teriak Kevin sambil mengikuti Zia dari belakang.
Zia sudah keluar dari gang dan memberhentikan taxi untuk mengantarnya kembali ke villa, tapi sebelum naik,
"tunggu dulu!" Kevin mencekal tangan Zia dan menutup pintu taxi.
"lepaskan tanganku...aku mau pulang!" bentak Zia sambil berusaha melepas genggaman tangan Kevin.
"maaf ahjushi kami tidak jadi naik" ucap kevin pada ahjushi taxi dan menghiraukan bentakan Zia. Ahjushi itupun menjalankan taxi-nya kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran dengan tingkah anak muda zaman sekarang.
"kenapa taxi-nya kau suruh pergi!" sungut Zia yang melihat taxi yang tadi ia hentikan pergi begitu saja.
"jalan kaki!" ucap Kevin dingin.
"HAH APA? jalan kaki? kau ini gila ya….villa-ku jauh, bodoh!" kesal Zia.
"kau berisik sekali...ikuti saja aku" kata Kevin sambil berjalan didepan Zia.
"menyebalkan!" umpat Zia dengan tetap mengikuti Kevin dibelakanganya sambil mengumpati lelaki tampan itu. Tidak tahukah Kevin jika Zia itu sangat lelah sekarang dan dengan teganya dia menyuruhnya untuk jalan kaki.
"Benar-benar lelaki sialan!" umpat Zia lagi.
Kevin yang berjalan didepan Zia itu hanya tersenyum mendengar umpatan kesal gadis mungil yang ada dibelakangnya itu. Entahlah kenapa ia merasa senang mengerjai Zia disaat-saat seperti ini. Apalagi saat melihat wajah Zia yang sedang menahan kesal itu sungguh sangat menggemaskan bagi Kevin dan membuat lelaki itu ingin mencubit pipi Zia yang sedikit agak tembem.
‘yaish, apa yang kau pikirkan Vin’ batin Kevin menolak pemiikirannya sendiri.
◾◾
Lama Kevin dan Zia berjalan, akhirnya mereka sampai ditempat dimana Zia mendapatkan bahaya tadi yaitu didepan café dimana Kevin meninggalkan motornya disana.
"kenapa malah kesini?" tanya Zia dengan sedikit heran.
"motorku disana" tunjuk Kevin pada sebuah cafe yang masih ramai pengunjung
"aaaa kita mampir sebentar..aku lelah, ne" ajak Zia.
"tidak!" tolak Kevin
"baiklah aku sendiri saja"
"kau tidak ingat dengan bodyguard-mu yang tadi menelfon"
"tidak peduli...aku bisa bebas untuk hari ini jadi biarkan aku sendiri" Zia berjalan memasuki cafe yang tadi ditunjuk oleh Kevin dengan kesal. Ia langsung memesan capuchino dingin untuk meredakan rasa hausnya sedangkan Kevin menunggu Zia diatas motornya. Entah kenapa Kevin menunggu Zia ditempat parkir café itu. Ia bisa saja meninggalkan gadis mungil itu dicafe dan pergi, pulang ke rumah Angga untuk mengistirahatkan dirinya dari rasa lelah. Tapi, itu tidak ia lakukan karena kilas balik kejadian tadi mengganggu pikirannya. Jujur saja Kevin agak mengkhawatirkan Zia saat ini. Biarlah Kevin menunggu Zia yang sepertinya akan lama didalam cafe tersebut.
◾◾
Setengah jam Kevin menunggu Zia diparkiran café, hingga akhirnya gadis mungil itu keluar dari dalam cafe. Zia berjalan terus menjauh dari arena parkir cafe tanpa melihat keberadaan Kevin yang sedang menunggunya diatas motor miliknya. Kevin yang melihat Zia sudah keluar itupun langsung memakai helm dan menjalankan motornya mendekati Zia.
"hey pendek" panggil Kevin.
"aku punya nama dan namaku Zia!" sungut Zia yang tidak terima dikatai pendek.
"ok baiklah….Zia naiklah!"
"tidak mau!"
"kau tidak ingin kuantar?"
"lebih baik aku naik taxi daripada aku diantar oleh pembunuh sepertimu" sinis Zia lagi.
"kau takut aku membunuhmu?"
"mungkin..karena kau melukai dadaku waktu itu"
"naik atau aku akan benar-benar membunuhmu!" ancam Kevin kemudian.
"pengancam" sungut Zia sambil naik keatas motor Kevin "....jangan terlalu kencang...aku tidak suka naik motor" lanjut Zia setelah naik motor besar Kevin.
Kevin hanya menghiraukan perkataan Zia dan langsung melajukan motornya memecah jalanan Jeju yang sudah mulai sepi. Zia terus mengarahkan jalan menuju ke villa-nya sedangkan Kevin fokus pada jalanan dan arah yang Zia tunjukkan.
"didepan itu berhenti" interupsi Zia.
"disini?" tanya Kevin.
"hmz" gumam Zia yang langsung turun dari motor Kevin saat motor itu berhenti.
“kau membuat rambutku kusut” omel Zia.
“resiko” jawab Kevin santai.
“menyebalkan” umpat Zia sambil berbalik dan masuk kedalam villa-nya tanpa berkata apapun lagi pada Kevin.
"dasar gadis pendek menyebalkan" gerutu Kevin sambil menjalankan motornya lagi menuju rumah Angga yang ternyata tak jauh dari villa Zia. Mungkin hanya berjarak dua kilometer dari villa Zia.
Zia masuk kedalam villa-nya tanpa menghiraukan kehadiran Taekwang yang menyambut kedatangannya.
"nona sudah pulang...kenapa malam sekali no-“
"berisik! aku lelah ingin istirahat...jangan menggangguku!" ucapan Taekwang langsung dipotong oleh Zia. Ia langsung berjalan kelantai atas menuju kekamarnya untuk istirahat.
◾◾
Disisi lain.
Kevin sampai di rumah Angga dengan cepat. Ia memarkirkan motornya digarasi dan masuk kedalam rumah tersebut dengan wajah lelah. Sungguh setengah hari dengan Zia benar-benar membuatnya lelah dan menguras tenaga. Kevin baru tahu jika emosi gadis itu tidak terkontrol bahkan wajahnya saja terlihat tanpa ekspresi.
"kenapa malam sekali?" tanya Angga yang masih duduk disofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"hyung belum tidur?" balik tanya Kevin pada Angga.
"belum…dari mana saja kau, Vin?"
"aku terlalu asyik menikmati suasana Jeju, hyung...sudah ya aku kekamar dulu!"
Kevin kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk istirahat. Ia benar-benar lelah malam ini.
"kenapa aku harus menolongnya" monolog Kevin saat teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia benar-benar heran dengan dirinya sendiri yang selalu bergerak sendiri ketika melihat Zia ada didepannya. Kevin tidak tahu.
"Kevin ayo tidur dan jangan memikirkan hal yang tidak-tidak tentang gadis pendek itu...dia tidak pantas untukmu" lagi Kevin bermonolog sambil meraih selimut untuk menutupi tubuhnya dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.
◾◾
Disisi lain diwaktu yang sama.
Zia berguling-guling kesana kemari diatas tempat tidur. Ia sudah berusaha memejamkan matanya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur.
"aish jangan memikirkan pembunuh itu, Zi...ayo tidur...ini sudah malam, bodoh!" Zia memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia kemudian meraih selimut dan mulai menutupi tubuhnya. Ia lalu memejamkan matanya untuk tidur.
◽
◾
◽
Pagi ini Pulau Jeju terlihat sangat cerah, Zia dan Seunghye sudah merencanakan sesuatu yang menarik sejak sarapan pagi dimulai tepatnya hanya Seunghye yang merencanakan sesuatu itu sedangkan Zia hanya menanggapi sekilas saja. Seunghye kali ini ingin pergi ke taman Botani Halla yang terletak di kawasan Yeon-do, Jeju-si, Jeju-do dan dengan berat hati Zia menyetujui ajakan Seunghye karena sebenarnya Zia malas keluar hari ini, tapi demi Seunghye ia ikut pergi.
Kini mereka sudah berada ditaman sambil memakan es krim yang mereka beli sebelum masuk kekawasan taman Botani Halla. Suasana ditaman tersebut sangat sejuk membuat Zia sedikit merasa nyaman berada disana. Tanpa sadar Taekwang memandang Zia yang berada disampingnya itu dengan senyum menghiasi wajah tampannya. Sungguh Zia sangat cantik pagi ini meskipun sedikit galak dan wajah yang tanpa ekspresi. Zia yang merasa ditatap oleh seseorang itupun menoleh kesamping dan mendapati Taekwang melihatnya dengan tatapan yang entah seperti apa Zia tidak tahu.
"kenapa kau menatapku seperti itu, Tae?" tanya Zia memecahkan keheningan diantara mereka berempat.
"nona sangat cantik hari ini" jawab Taekwang enteng, dia malah memuji Zia yang langsung mendapat pelototan dari gadis mungil itu dan wajah terkejut dari Haajae dan Seunghye.
"berani kau merayuku hah!" sungut Zia.
"aku tidak merayu-"
"sekali lagi kau bilang begitu….kau akan aku cincang, i***t!" ancam Zia dan berjalan cepat meninggalkan ketiga orang yang masih terdiam ditempatnya.
Seunghye yang sejak tadi diam itu mulai berjalan mengikuti Zia dan Haajae didepannya. Entah kenapa ia merasa sedikit tidak suka saat Taekwang memuji Zia seperti tadi. Padahal Seunghye itu menyukai Kevin dan bukan Taekwang, tapi kenapa ia merasa tak rela jika Taekwang memuji Zia.
Tanpa mereka sadari ada tiga pasang mata yang menatap mereka.
◽
◾
◽
08.20 KST.
Mobil Angga yang dijalankan oleh Kevin itu melaju menuju daerah Yeon-do. Hari ini Angga ada pertemuan disalah satu restoran didaerah tersebut hingga harus pergi kesana dengan membawa Jeni bersama mereka. Angga sengaja mengajak gadis itu karena Yeon-do lumayan jauh dari Jeju-do dan ia tidak mau meninggalkan Jeni mati kebosanan di rumah sendirian jadi sekalian saja ia mengajak gadis itu jalan-jalan di Yeon-do setelah urusan Angga selesai.
Lama mereka berada di restoran dengan Angga yang duduk dengan koleganya dan Kevin duduk dengan Jeni dimeja yang berbeda, akhirnya urusan itu selesai juga. Mereka bertiga langsung pergi menuju taman Botani Halla. Sampainya ditaman tersebut, Jeni berjalan diantara Angga dan Kevin. Tidak jarang Jeni bergumam kagum dengan keindahan dan kesejukan yang ada ditaman tersebut. Angga yang melihat tingkah Jeni itupun tersenyum kecil sedangkan Kevin menatap keduanya jengah. Saat Jeni sedang asyik menikmati suasana taman tiba-tiba ia terdiam saat matanya melihat empat orang yang salah duanya ia kenal.
"Zia" gumam Jeni yang dapat didengar oleh Angga dan Kevin. Angga yang mendengar gumaman itupun langsung menarik Jeni yang akan pergi mengejar Zia yang sudah pergi dari hadapan meraka. Sedangakan Kevin melihat kearah yang tadi dilihat Jeni dan benar saja disana ia melihat Zia bersama bodyguardnya, Seunghye dan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Kevin masih memperhatikan keempat orang tersebut dan ia fokus kewajah Zia yang sedang kesal. Kevin tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka, tapi ia tetap memperhatikan Zia sampai gadis mungil itu pergi meninggalkan tiga orang dibelakangnya. Setelah Hanbin tidak melihat Zia barulah Kevin pergi dari tempatnya dan menyusul Angga yang tadi menarik Jeni.
◾◾
Disisi lain.
Angga menghempaskan tubuh Jeni hingga membentur mobilnya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang Jeni tunjukkan dengan raut muka meringis itu.
"dengar! siapa yang menyuruhmu untuk mengejar gadis itu, hah?" tanya Angga dengan nada emosi.
"DIA ITU ADIKKU JADI BIARKAN AKU MENEMUINYA" teriak Jeni didepan wajah Angga.
"jadi kau ingin mengejarnga? baiklah silahkan saja kau mengejarnya!" Angga menjauhkan tubuhnya dari hadapan Jeni dan memberikan jalan untuk gadis itu pergi. Jeni yang diberikan jalan oleh Angga itupun mulai melangkakan kakinya.
"jika kau ingin keluargamu musnah silahkan saja kau menyusulnya!" tambah Angga dengan nada santai yang penuh peringatan disetiap kata. Jeni yang mendengar ucapan Angga itupun langsung berhenti melangkah dan berbalik menatap Angga.
"jangan sakiti mereka" cicit Jeni.
Angga tersenyum remeh dan menatap Jeni tajam. Kemudian Angga menarik tubuh Jeni kedalam dekapannya.
"lepaskan aku!" ronta Jeni didalam pelukan Angga, bukannya melepaskan pelukannya, Angga malah semakin mengeratkan pelukan mereka.
"jika kau tidak ingin aku melukai mereka turuti semua keinginanku" ucap Angga dengan nada yang sedikit halus. Jeni terdiam mendengar ucapan Angga, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Angga mengatakan seperti itu. Jika Jeni menolak perkataan Angga maka keluarganya akan dalam bahaya dan jika ia menerima, Jeni tidak tahu apa yang akan Angga lakukan padanya. Ia dengan terpaksa menganggukkan kepalanya dan menuruti kemauan Angga.
"good girl" Angga melepas pelukannya dari Jeni dan mengelus pipi gadis itu lembut.
Kevin yang tidak tahu tentang apa yang terjadi diantara mereka itupun hanya diam menatap keduanya bingung. Setelah Angga melepaskan pelukannya, ia masuk kedalam mobil dan membiarkan Jeni diam ditempatnya. Jeni membelakangi mobil Angga dan menunduk karena air matanya mulai mengalir. Kevin yang masih ditempatnya itupun dapat melihat Jeni yang menangis sambil menundukkan kepalanya. Diam-diam ia merasa bersalah dengan semua sifatnya terhadap Jeni belakangan ini. Kevin hanya tidak ingin Jeni memanfaatkan Angga, tapi melihat sifat kekanakan dan polos dari seorang Kim Jeni membuatnya berfikir jika Jeni mungkin tidak seperti yang ia pikirkan.
"apa kita kembali sekarang, hyung?" tanya Kevin pada Angga yang sudah duduk dikursi penumpang.
"hmz" gumam Angga.
Kevin melihat Jeni yang masih menundukkan kepalanya sambil memainkan gaunnya. Ia sedikit mendekat kearah Jeni.
"hah" Kevin menghela nafas terlebih dahulu "....masuklah kita kembali sekarang" lanjut Kevin lembut. Jeni yang mendengar ucapan lembut dari Kevin itupun sedikit terkejut dan mendongakkan wajahnya menatap Kevin.
"masuklah dan hapus air matamu" bisik Kevin dengan sedikit tersenyum membuat Jeni mengangguk dan ikut tersenyum kearah Kevin. Jeni menghapus air matanya dan berjalan masuk kedalam mobil dan duduk disamping Angga sedangkan Kevin masuk kekursi pengemudi dan melajukan mobilnya kearah rumah Angga yang ada di Jeju.