Pagi menjelang. Kediaman Kim sedang disibukan dengan mencari keberadaan gadis mungil yang sejak pukul enam pagi tidak ada ditempatnya atau kamarnya. Semua sudah mencari disetiap sudut ruangan, tapi tidak ditemukan keberadaan gadis mungil itu dimanapun. Hyunjung selaku kepala keluarga itu menyerah dan memilih duduk didepan televisi dan menyalakan benda persegi panjang itu. Entah kenapa ia menyalakan televisi padahal dirinya sendiri sedang bingung mencari anak mungilmua yang tidak berada di kamarnya.
"telah ditemukan beberapa korban disebuah gang xx. Diperkirakan korban berjumlah sekitar sepuluh orang dengan luka sayatan dan luka lebam disekujur tubuh mereka. Pihak polisi juga menemukan sebuah tas dengan identitas sang pemilik yang bernama Kim Zia yang keberadaannya-
Hyunjung mematikan televisi-nya dan membanting remot televisi tersebut kelantai hingga terbelah dua. Sedangkan Hana yang mendengar berita itu langsung menghampiri suaminya.
"apa berita itu benar?" tanyanya dengan air mata yang menumpuk dimatanya-siap turun kapan saja.
"aku akan mencari tahu dulu kepihak polisi dan kita akan tahu itu benar atau tidak sayang..sekarang kau tenang dulu, ya" Hyunjung memeluk tubuh istrinya dengan erat sambil mengelus punggung istrinya lembut. Hana yang mendapat pelukan itupun mulai menangis didada suaminya. Sedangkan ketiga lelaki yang melihat adegan tersebut langsung pergi ketaman belakang, tidak mau mengganggu pasangan suami istri itu.
"aku yakin jika Zia nona masih hidup" ucap Haajae.
"kita harus mencarinya, hyung" tambah Jongin.
"benar apa yang dikatakan Jongin, hyung" tambah Taekwang.
"baiklah jadi begini. Taekwang mencari Zia dan aku membebaskan Jeni dan Jongin mencari informasi tentang keberadaan Zia….lagi pula aku sudah mengirim orang untuk memata-matai rumah Angga jadi tinggal menunggu kabar darinya saja"
"baik, hyung" ucap Jongin dan Taekwang kompak.
◽
◾
◽
Pagi ini Angga sedang menonton televisi dengan secangkir teh ditangannya. Ia dibuat terkejut dengan berita menghilangnya Zia yang ditayangkan ditelevisi. Ia kemudian menyeringai karena ia pikir ini adalah sebuah kesempatannya untuk mencari keberadaan Zia dan membunuh gadis mungil itu didepan Hyunjung. Ia meraih ponselnya yang ada diatas meja dan menelfon seseorang untuk membantunya karena entah kenapa ia ragu dengan Kevin saat ini.
"cari Kim Zia dan bawa dia kemarkasku”
"...."
Tut
Sambungan diputus oleh Angga. Setelah selesai menghubungi orang itu, Angga berjalan kearah kamar Jeni dilantai atas.
Ceklek
Sudah kebiasaan Angga datang ke kamar Jeni tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia tidak melihat keberadaan gadis manis itu di kamarnya dan samar-samar Angga mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Angga memilih duduk dikasur king size kamar itu dan menunggu Jeni keluar dari kamar mandi. Lima belas menit Angga menunggu, akhirnya gadis manis yang ia tunggu keluar juga dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk yang melilit tubuhnya.
Jeni keluar dari kamar mandi dengan santai dan ia tidak menyadari keberadaan Angga yang duduk diranjangnya sambil memperhatikannya. Dengan bebasnya Jeni membuka lemari dan mengambil celana dalam untuk ia kenakan. Setelah mengenakan celana dalamnya, Jeni mengambil bra dan mulai membuka handuk yang ia kenakan.
"apa kau ingin menggodaku, hmzz!?" kata Angga dengan tiba-tiba dan membuat Jeni diam ditempatnya berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan handuk yang tadi ia buka itupun sudah jatuh kelantai disekitar kakinya. Angga berdiri dari kasur dan berjalan kearah Jeni yang mematung. Ia memeluk tubuh gadis manis itu dari belakang.
"kau sexy" bisik Angga tepat ditelinga kanan Jeni membuat gadis manis itu sedikit merinding dibuatnya.
"pantatmu begitu sintal...dan aku suka ini" ucap Angga vulgar sambil meremas d**a Jeni dan membuat Jeni mendongak merasakan sesuatu yang menggelitik perutnya akibat sentuhan Angga itu.
"cepat pakai bajumu dan kita sarapan" kata Angga dan menjauh dari tubuh Jeni. Kemudian Ia pergi meninggalkan Jeni yang masih diam mematung didepan lemari. Jeni masih tidak bergeming dari posisinya, ia terlalu sibuk memikirkan tentang dirinya yang dipeluk Angga barusan. Ia merasa nyaman dan ada sesuatu yang menggelitik perutnya aneh. Jeni menggelengkan kepalanya cepat dan mulai memakai bajunya lalu segera turun untuk sarapan bersama Angga.
◽
◾
◽
[nan neoege ppajyeoiseo neol saranghago.]
Ponsel Kevin berbunyi membuat lelaki yang tidur disofa itu terbangun dari tidurnya dan langsung meraih ponsel yang ada diatas meja. Ia menghela nafas saat melihat sipenelfon.
"ada apa, hyung?"
"...."
"berita apa?"
"..."
"APA?"
Dengan secepat kilat Kevin menyambar remote televisi dan menyalakan layar persegi itu dengan cepat pula. Ia memperhatikan berita yang sedang tayang ditelevisi tersebut. Disana seorang wartawan tengah memberitakan soal korban yang tergeletak dijalan dan sebuah tas yang juga tergeletak jalan. Kevin membelalakkan matanya saat melihat tas itu.
"tas itu kan..AARRRGGHHH" Kevin mengacak rambutnya dan berteriak kencang tidak mempedulikan Jungshin yang masih tersambung dengannya disebrang sana. Kevin kembali mendekatkan ponselnya ketelinga.
"ada apa denganmu, Vin?" tanya Jungshin disebrang.
"tidak ada apa-apa, hyung"
"aku juga ingin memberitahumu tentang satu hal lagi....Angga tadi menelfon seseorang untuk membawa Zia kemarkasnya dan kemungkinan besar Angga yang akan membunuh Zia dengan tangannya sendiri karena terlalu lama menunggumu, Vin"
"gomawo hyung….. "
Tut
"sial!" umpat Kevin setelah telfonnya dengan Jungshin berakhir. Ia beranjak dari sofa menuju kamarnya yang ditempati oleh Zia. Ia masuk kedalam kamar dan menemukan Zia yang belum sadarkan diri, padahal lukanya tidak begitu parah. Kevin kemudian berjalan kearah lemari dan mengambil baju ganti sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Zia perlahan membuka matanya, ia menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk keretina matanya yang berasal dari lampu ruangan. Ia mengedarkan pandangan kepenjuru ruangan yang terlihat asing baginya. Dengan pelan ia berusaha bangkit dari tidurnya.
"AAAKKKHHH" teriak Zia saat dirasa bagian perutnya sakit.
Kevin yang mendengar teriakan dari luar kamar mandi itupun langsung keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan kaos yang ia ambil dari lemari tadi. Ia menghampiri Zia yang memegangi perutnya.
"kau tidak apa?" tanya Kevin sambil memeriksa tubuh Zia. Gadis mungil yang melihat Kevin itupun terkejut apalagi lelaki tampan itu tidak mengenakan kaosnya dan memperlihatkan tubuh atletisnya.
"KYAAAA" teriak Zia tepat disamping telinga Kevin sambil menutup wajahnya dengan tangan mungilnya.
"YAK! Kenapa kau berteriak ditelingaku" marah Kevin sambil mengorek-ngorek telinganya.
"pakai bajumu bodoh!" sungut Zia dengan masih menutup wajahnya. Kevin yang tersadar langsung mengambil kaos dilemari dan memakainya.
"sudah" ucapnya dingin. Dengan pelan Zia membuka matanya dan melihat Kevin dengan pakaian lengkapnya.
"hah" ia menghela nafas lega.
"apa masih ada yang sakit?" tanya Kevin dengan nada khawatir.
"entahlah, tapi perutku sakit" jawab Zia.
"biar aku telfon dokter Lee dulu...kita tidak bisa keluar saat ini” Kevin keluar dari kamar untuk menelfon dokter Lee(dokter pribadi Angga). Zia yang ditinggalkan sendiri itu menjadi memikirkan banyak hal.
"kenapa aku bisa disini bersama pembunuh itu?" pertanyaan satu.
"apa dia menyelamatkanku?" pertanyaan dua.
"kenapa dia bilang kita tidak bisa keluar?" pertanyaan tiga.
Begitulah kiranya isi otak Zia saat ini. Ia terdiam diatas ranjang selama setengah jam sampai Kevin datang bersama seseorang yang Zia yakini adalah dokter Lee. Dokter Lee memperhatikan Zia yang duduk diatas kasur dengan penuh tanda tanya. Tanpa basa-basi ia memeriksa tubuh Zia terlebih dahulu, tentu saja saat ini Kevin sudah keluar dari kamarnya dan membiarkan dokter Lee memeriksa Zia. Dokter Lee memeriksa tubuh gadis mungil itu dengan teliti terutama dibagian perutnya. Zia sedikit meringis saat dokter Lee menekan perut bagian atasnya. Dokter tersebut juga memeriksa luka Zia tanpa melepas perban yg melilit dilengan gadis itu.
"Kevin pandai juga mengobati lukamu" kata dokter Lee.
"eh" bingung Zia.
"aku baru melihatmu hari ini dan kemungkinan besar yang mengobati lukamu adalah Kevin" Zia hanya diam mendengar perkataan dokter Lee barusan.
Ceklek
Pintu kamar itu dibuka oleh Kevin dengan membawa senampan makanan yang tadi ia buat saat menunggu dokter Lee datang.
"bagaimana ahjushi?" tanya Kevin.
"dia tidak apa-apa, Vin....perutnya baik-baik saja hanya perut bagian atasnya sedikit memar...ini resep obatnya" jelas dokter Lee sambil memberikan resep obat pada Kevin.
"baik ahjushi….terimakasih"
"oh ya! Apa namanya Kim Zia?"
"nde...Waeyo?" tanya Zia.
"semua orang mencarimu saat ini...semoga cepat sembuh Zia-sii....aku permisi dulu" dokter Lee pergi meninggalkan Zia dan Kevin didalam kamar. Mereka berdua terdiam cukup lama sampai akhirnya Kevin membuka suara.
"tadi pagi aku menolongmu dan membawamu kesini, tapi aku melupakan tasmu dan semua orang mengira kau hilang" jelas Kevin.
"paboya" kata Zia.
"hey aku sudah menolongmu idiot...sial! kalau begitu lebih baik aku tinggalkan saja kau mati disana tadi" marah Kevin. Zia terdiam mendengar perkataan Kevin. Ia berfikir bagus juga Kevin menolongnya kalau tidak mungkin dia sudah mati ditangan salah satu musuh ayahnya itu. Dalam hati ia bersyukur karena ada Kevin yang menolongnya meskipun ia tidak mengucapkan terimakasih, tapi Zia senang Kevin menolongnya.
"lalu sekarang?" tanya Zia tiba-tiba.
"kau tidak minta maaf, tapi langsung bertanya begitu saja…" maki Kevin.
"tidak usah jawab kalau tidak mau memberitahu" sewot Zia.
"tinggal disini untuk sementara karena tidak ada yang tahu apartemenku disini"
"kenapa?"
"AGAR KAU AMAN, PABO"
"TIDAK USAH BERTERIAK, PABO"
"KAU JUGA BERTERIAK, BODOH"
"sudah cukup...aku lapar!"
"dengan baik hati aku memasakkan bubur untukmu" kata Kevin sambil meletakkan semangkuk bubur dimeja kecil yang sudah ia siapkan didepan Zia. Gadis mungil itu lalu menyendokkan bubur buatan Kevin kemulutnya. Ia memakan bubur itu dengan perlahan takut rasanya aneh, tapi ternyata rasanya tidak buruk dan masih bisa dimakan hanya saja kurang sedikit garam dan bumbu penyedap lainnya.
◽
◾
◽
Seunghye langsung melesat pergi ke rumah Zia untuk memastikan apa yang ia lihat ditelevisi itu benar adanya. Sampainya di rumah tersebut, Taekwang menyambut kedatangannya.
"aku ingin bertemu dengan ahjushi" kata Seunghye. Taekwang yang mengerti langsung mengajak gadis cantik itu pergi keruang tengah dimana Hyunjung dan Hana berada.
"ahjushi apa berita itu-"
"iya Seunghye, semua itu benar…..Zia hilang" potong Hyunjung saat Seunghye belum selesai bicara. Seunghye yang tidak percaya itupun berlari ke kamar Zia dan melihat kamar tersebut kosong tanpa penghuni. Taekwang yang mengikutinya dari belakang itu langsung memeluk gadis cantik itu yang mulai bergetar menahan tangis.
"tenanglah kita akan menemukannya" kata Taekwang sambil mengelus punggung Seunghye lembut.
"aku takut, Tae...hiks bagaimana hiks kalau Zia hiks..." isak Seunghye yang ada dipelukan Taekwang.
"ssssstt jangan bicara yang tidak-tidak sekarang kau tenanglah..percaya padaku"
Seunghye mengangguk dipelukan Taekwang saat mendengar perkataan lelaki itu.
◾◾
Sedangkan pasangan Hyunjung dan Hana yang berada di ruang tamu itupun masih dalam posisi yang sama. Hyunjung memeluk istrinya dan menenangkan wanita itu agar tidak membuat istrinya semakin memburuk. Hana yang berada didalam pelukan Hyunjung itupun masih betah menangis dan menggumamkan nam Zia terus menerus. Hingga Hana merasa sesak dan mulai kehilangan kesadarannya dipelukan suaminya. Hyunjung yang merasa tubuh Hana melemas itupun menundukkan kepalanya dan melihat keadaan istrinya itu.
“Hana, yeobo…..hey sayang” panggil Hyunjung sambil menepuk pipi Hana pelan. Dirasa tidak ada jawaban dari Hana, Hyunjung mulai panik dan mengangkat tubuh istrinya untuk ia bawa ke kamar dan menyuruh salah satu maid untuk menghubungi Minho agar datang ke rumah dan memeriksa Hana. Ia tidak mau kejadian tiga tahun lalu terulang kembali karena saat itu Hana benar-benar drop dan tak sadarkan diri selama kurang lebih satu minggu dan hal itu membuat Hyunjung cemas. Ia tahu betul seberapa sayangnya Hana dengan anak mereka, tapi ia juga tahu kondisi Hana seperti apa. Hana tidak bisa terlalu banyak menangis dan itu akan membuat sesak pada paru-parunya dan membuat dia tak sadarkan diri seperti sekarang.
Seunghye dan Taekwang yang mendenagr teriakan Hyunjung itupun keluar dari kamar Zia dan menghampiri lelaki paruh baya itu. Seunghye yang melihat Hana digendong oleh Hyunjung itupun mulai panik dan dengan cepat ia mengikuti Hyunjung dan membukakan pintu kamar suami istri itu,
“terimakasih, sayang” gumam Hyunjung yang melihat Seunghye membukakan pintu kamar untuknya. Gadis cantik itu hanya mengangguk dan ikut masuk kedalam kamar Hyunjung karena terlalu khawatir dengan Hana.
“apa yang terjadi, ahjushi?” tanya Seunghye ketika Hyunjung sudah meletakkan tubuh Hana diatas kasur.
“mungkin dia kambuh” jawab Hyunjung pelan. Seunghye tidak mau bertanya lebih lanjut meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hana dan apa ibu Zia itu memiliki riwayat pengakit yang tidak ia ketahui.
◾◾
Minho sampai di rumah keluarga Kim, ia langsung melesat menuju kamar Hyunjung dan Hana untuk memeriksa kondisi Hana seperti yang sudah dijelaskan Dinda melalui telefon tadi. Hyunjung yang melihat kedatangan Minho itupun mengajak Seunghye keluar dari kamar dan membiarkan Minho memeriksa istri tercintanya.
Tak lama Minho keluar dari kamar pasangan suami istri itu. Ia menjelaskan kondisi Hana kepada Hyunjung yang disebelahnya ada Seunghye. Gadis cantik itu tidak percaya dengan penjelasan Minho mengenai Hana, tapi melihat wajah Hyunjung membuatnya percaya. Ia tidak tahu jika masih ada hal yang tidak ia ketahui tentang keluarga Zia.
Minho pamit undur diri dan memutuskan untuk merawat Hana di rumah.