Zia terus melatih dirinya ilmu bela diri selama satu minggu ini. Ia tidak pernah keluar rumah sama sekali. Bahkan restorannya tidak ia urus karena ia sudah percaya dengan karyawannya. Ia juga tidak mau merepotkan Seunghye untuk mengurus retorannya karena gadis cantik itu memiliki pekerjaan yang harus diurus. Jika kalian bertanya tentang kenapa Zia giat berlatih itu karena ia ingin menyelamatkan kakaknya yang ada ditangan lelaki yang waktu itu ia lihat dipesta Jiyong satu minggu lalu. Sampai detik ini, kemahiran Zia semakin meningkat membuat Hyunjung dan Hana heran dengan anak mungil mereka terus berlatih. Pasalnya saat mereka bertanya ‘kenapa kau terus berlatih...apa tidak lelah, sayang?’ jawaban Zia adalah ‘tidak...aku hanya ingin berlatih saja’ mendengar jawaban anaknya itu membuat pasangan suami istri itu tidak bisa berkutik dan selalu mengawasi Zia, apakah gadis mungil itu makan dengan baik atau tidak. Tapi, selama berlatih Zia selalu makan dengan teratur dan selalu menyempatkan diri untuk istirahat sejenak.
21.56 KST.
Zia sedang duduk ditepi kolam renang dengan kaki yang dimasukkan kedalam air. Ia melamun sambil menatap langit yang tidak banyak bintang. Entah kenapa bayangan Kevin kembali menghantuinya saat ini. Ia juga menyentuh bibirnya yang waktu itu dicium oleh Kevin. Zia sepertinya merindukan lelaki tampan itu. Pasalnya sudah satu minggu Zia tidak keluar dan tidak bertemu dengan Kevin lagi setelah pertemuan mereka di pesta Jiyong itu. Ia juga ingat ketika pertama kalinya tertawa didepan Kevin waktu mereka bertemu di Jeju. Padahal Zia tidak pernah tertawa dengan orang lain selama kejadian itu. Ia bingung dengan dirinya sendiri saat bertemu dengan Kevin. Seperti ada sebuah rasa nyaman dalam diri Zia ketika berdekatan dengan Kevin.
"aish kenapa aku harus mengingat itu semua” monolog Zia ketika mengingat pertemuannya dengan Kevin selama ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menjauhkan pikirannya dari Kevin dan fokus untuk menyelamatkan kakaknya, Jeni.
Zia yang mulai merasa lelah itupun memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Ia masuk dengan santai dan saat akan menaiki tangga ia mendengar percakapan Taekwang, Haajae dan satu lelaki yang tidak ia kenal.
"jadi mereka sudah tahu tentang keberadaan Jeni eonni….kenapa appa tidak memberitahuku soal itu?" monolog Zia yang merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri karena menyembunyikan fakta bahwa lelaki paruh baya itu mengetahui bahwa Jeni masih hidup.
"Tae, kau tetap jaga Zia dan jika aku menghubungimu langsung merespon, ya!" perintah Haajae yang diangguki oleh Taekwang.
"jadi appa mau mengekangku…..baiklah jika itu mau appa!" Zia melanjutkan langkahnya dan langsung memasuki kamar dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak terdengar sampai lantai bawah. Ia merebahkan tubuhnya dikasur dan menatap langit-langit kamar sambil memikirkan sesuatu.
“kita lihat saja besok” gumam Zia sambil memasang alarm diponselnya dan setelah itu, ia bersiap untuk tidur.
◽
◾
◽
Setelah menyelesaikan tugasnya, Kevin mengendarai motornya kesebuah café karena ia ada janji dengan Jungshin disana. Lama ia mengendara akhirnya Kevin sampai di café yang dimaksud. Ia memasuki café dengan santai dan menghampiri Jungshin yang sudah duduk dipojok dekat jendela.
"maaf aku terlambat, hyung" kata Kevin.
"tidak masalah...aku mengerti" jawab Jungshin sambil melihat jam tangannya.
24.30 KST.
Ngomong-ngomong café yang ditempati oleh dua lelaki itu adalah café yang buka selama duapuluh empat jam penuh.
"oh ya kenapa kau ingin bertemu denganku, hyung?" tanya Kevin.
"aku hanya ingin bertanya apa ada informasi lagi di rumah Hyunjung?"
"oh soal itu...aku belum menerima kabar apapun, hanya soal Zia yang tidak keluar rumah selama satu minggu ini"
"kenapa?"
"entahlah...kata Dinda noona, gadis itu sedang berlatih menembak dan bela diri"
"wow, hati-hati, Vin….dia bisa saja menembakmu sewaktu-waktu"
Kling
Belum sempat Kevin menjawab, ponselnya berdering.
"dari siapa?"
"Dinda noona"
"apa isinya?"
"dia bilang sebentar lagi akan ada orang yang masuk kewilayah kita untuk menjadi mata-mata disana"
"wah bagus..kita bisa bermain-main"
"bagus kepalamu, hyung...kita harus hati-hati saat ada di rumah dan jangan biarkan dia masuk ke kamar kita dan ruang kerja Angga hyung"
"iya iya aku tahu....serahkan saja dia padaku”
Mereka terdiam sesaat sambil menikmati minuman yang mereka pesan.
"oh ya, kapan kau akan membunuh Zia ngomong-ngomong?"
Kevin terdiam mendengar pertanyaan Jungshin.
"entahlah" jawabnya.
"kau benar-benar menyukainya ya, Vin?"
"jangan asal bicara, hyung"
"hahaha terlihat dari wajahmu dan kelakuanmu, Vin" tawa Jungshin yang membuat Kevin memutar bola matanya malas.
"jangan sampai aku membunuhmu, hyung" ancam Kevin.
"huuu aku takut" kata Jungshin sambil memasang wajah sok takutnya pada Kevin membuat lelaki tampan itu geram dengan Jungshin. Kevin yang muak dengan Jungshin itupun meminum kopinya dan mengabaikan Jungshin.
◽
◾
◽
02.30 KST.
Kota Gangnam masih terlihat gelap bahkan cahaya jinggapun belum datang dari ufuk timur, tapi sorang gadis mungil disalah satu kamar sudah bersiap dengan barang bawaannya. Ia adalah Kim Zia yang sudah siap untuk pergi dari rumahnya sendiri. Bukannya mau kabur, tapi hanya jalan-jalan sendiri saja tanpa bodyguard-nya. Jujur saja Zia sudah bosan dikawal terus oleh Taekwang.
Saat ini gadis mungil itu sudah siap dengan tas punggung yang selalu ia bawa kemana-mana bertengger manis dipunggungnya. Zia keluar dari kamar dan berjalan kearah perpustakaan. Rumahnya benar-benar sepi dan tidak ada yang terjaga didini hari seperti ini. Zia sudah hafal dengan jam kerja semua anak buah ayah-nya, jadi ia yakin jika nanti tidak akan ketahuan oleh anak buah ayah-nya itu. Dengan hati-hati Zia membuka pintu perpustakaan rumahnya dan segera masuk kedalam. Kemudiam ia berjalan masuk lebih dalam keperpustakaan tersebut dan Zia meraba salah satu rak dan menemukan apa yang ia cari. Lalu ia menekan sesuatu yang tersembunyi dirak tersebut dan membuat rak itu terbuka. Zia segera masuk dan menyalakan senter diponselnya saat rak tersebut kembali tertutup. Ia berjalan menuruni anak tangga dan sampailah ia dilorong bawah tanah rumahnya. Zia berjalan lurus sesuai dengan lorong bawah tanah tersebut dan Zia tahu jika lorong bawah tanah itu akan membawanya keluar dari dalam rumah menuju gang sempit yang ada dibelakang rumahnya karena ia pernah sekali masuk kedalam dan menemukan lorong ini saat ia masih duduk dibangku sekolah dasar dulu. Tidak ada yang tahu tentang lorong itu kecuali Zia sendiri kecuali kakek neneknya. Lama Ia berjalan akhirnya Zia sampai didepan sebuah lift, gadis mungil itu langsung menekan tombol disampingnya dan lift itu terbuka. Dengan senang hati Zia masuk kedalam lift dan menekan tombol⬆ untuk pergi keatas. Tak perlu waktu lama lift itu terbuka dan Zia keluar dari dalam lift tersebut.
"hah akhirnya" gumam Zia yang berhasil keluar dari dalam rumahnya. Ia berjalan sambil tersenyum senang keluar dari gang kecil itu tanpa tahu bahaya sedang menantinya didepan sana.
◽
◾
◽
Setelah bertemu dengan Jungshin, Kevin singga sebentar disebuah taman dekat dengan apartemennya. Kevin melihat jam tangannya.
"pukul 03.30" gumamnya. Kevin beranjak dari taman tersebut ketempat dimana motornya terparkir. Sampainya ia didepan motornya, Kevin langsung menaiki motornya dan mengendarai motor itu menuju apartemen miliknya.
◽
◾
◽
Zia berjalan melewati gang-gang kecil didaerah Gangnam. Ia tidak mungkin menaiki bus karena jam operasi kendaraan itu masih dua jam lagi. Jadi mau tidak mau Zia harus berjalan kaki menjauhi rumahnya dengan melewati gang-gang kecil yang ada didekat rumahnya.
“untung aku memakai mantel” gumamnya ketika merasakan hawa dingin yang menembus kulitnya. Ya, siapa yang tidak merasa dingin ketika keluar dijam tiga dini hari. Semua orang akan memilih bergelung didalam selimut daripada berjalan-jalan keluar rumah seperti yang Zia lakukan. Jika bukan karena ingin kabur mungkin gadis mungil itu juga memilih tidur dibalik selimut tebalnya daripada berjalan-jalan seperti ini. Salahkan saja ayah Zia yang terlalu overprotective padanya sampai-sampai menyuruh Taekwang untuk mengawalnya lebih ketat. Emang Zia anak kecil yang masih butuh pengasuh untuk mengurus dirinya sendiri.
“appa keterlaluan” gumamnya ketika mengingat percakapan Taekwang dan Haajae tadi malam. Ia terus berjalan sampai tidak sadar jika ia sudah keluar dari daerah kekuasaan ayahnya dan saat ini ia sudah berada didaerah kekuasaan musuh ayahnya.
"wah lihat siapa yang mampir, hyung" ucap seorang lelaki yang membuat Zia barhenti berjalan dan menatap sekeliling.
“sial” gumamnya ketika sadar bahwa dia berada didaerah yang salah. Didepannya saat ini sudah berdiri sekitar sepuluh orang berbadan besar dan Zia ingat siapa mereka. Sepuluh lelaki itu adalah sekelompok lelaki yang pernah ia temui di Jeju beberapa waktu lalu. Mereka semua berjalan mendekati Zia yang otomatis menjadi waspada dan memasang kuda-kudanya untuk menghadapi mereka semua karena ia percaya bahwa ilmu bela dirinya bisa diandalkan sekarang.
Salah satu dari mereka mulai berjalan cepat dan siap menangkap Zia, tapi gadis mungil itu dengan sigap menghindar dan menendang tubuh lelaki itu yang terlihat tidak merasakan sakit sedikitpun.
"wah sepertinya kau pandai bela diri ya, tikus kecil!" tanya lelaki itu sambil tersenyum kearah Zia. Zia tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah menatap mereka tajam.
"sepertinya dia tidak punya rasa takut sedikitpun" kata salah satu lelaki yang memakai topi. Ia berjalan mendekati Zia dan siap menarik tangan gadis mungil itu sebelum tendangan Zia layangkan kelelaki bertopi itu hingga tersungkur.
"sial, serang dia!" perintah lelaki bertopi itu pada yang lainnya. Mereka semua mulai menyerang Zia dan dapat dihindari oleh gadis mungil itu dengan mudah meski terkadang ia mendapat pukulan dari mereka, tapi Zia masih bisa melawan mereka semua, sebelum orang dibelakang Zia menendang punggungnya hingga tersungkur. Zia masih berdiri setelah mendapat tendangan dipunggungnya. Lelaki yang memakai topi tadi mulai maju sambil membawa pisau ditanganya. Ia mengayunkan pisau itu kearah Zia yang belum siap, tapi Zia dapat menghindarinya dengan membungkukkan badannya. Lelaki itu menyerang Zia lagi dan kali ini mengenai lengan gadis mungil itu dan membuat darah keluar dari lengannya. Zia memegang lengannya yang mengeluarkan darah dan komplotan itu terus menyerangnya hingga Zia limbung keaspal jalan sambil menahan sakit dibagian tubuhnya. Bahkan tas yang ia pakaipun sudah terlepas dari punggungnya. Zia sudah sangat lemas dan terkapar ditrotoar jalan, siap untuk dibawa oleh koplotan itu keboss besar mereka. Belum sempat mereka memegang tubuh Zia sebuah motor berhasil menyerempet beberapa orang dari kelompok itu hingga membuat sebagian dari mereka limbung diaspal. Zia bernafas lega sebelum pandangannya menjadi gelap seketika.
◽
◾
◽
Kevin mengendarai motornya dengan tenang sebelum matanya melihat segerombolan orang yang entah sedang apa Kevin tidak tahu. Awalnya lelaki tampan itu ingin mengabaikan gerombolan itu, tapi sesuatu dalam dirinya menyuruhnya untuk berhenti dan melihat. Dengan kecepatan tinggi Kevin menyerempet beberapa orang dari gerombolan lelaki itu. Kevin memarkirkan motornya dan turun dari atas motor sambil melepaskan helm miliknya. Dapat Kevin lihat jika Zia sudah terkapar lemas diaspal jalan.
"beraninya kau mengganggu kami sialan!" gerombolan itu murka dan mulai menyerang Kevin. Kevin tidak tinggal diam, ia melawan mereka semua dengan tendangan, tinjuan bahkan pisau yang tadi sudah ada ditas kecilnya harus ia keluarkan. Kevin menendang orang-orang yang menyerangnya. Dia juga menggunakan pisaunya untuk membuat luka goresan ditubuh mereka. Semuanya berhasil Kevin taklukan tanpa ada yang bisa bergerak sedikitpun dari tempat mereka terkapar.
"cih lemah!" sindir Kevin dengan meludah karena ia sedikitpun tidak menerima luka dari mereka. Ia berjalan kearah Zia yang sudah tidak sadarkan diri dan mengangkat tubuh gadis mungil itu ala bridal kearah motornya dan mendudukkan gadis itu dijok belakang motornya. Dengan menahan tubuh Zia, Kevin menaiki motornya dengan susah payah.
Tidak butuh waktu lama untuk Kevin sampai ke apartemen dan kini ia sudah ada didepan gedung apartemennya. Ia memarkirkan motornya dibaseman. Kevin turun dari motor dan ia kembali menggendong Zia ala bridal. Ia menaiki lift menuju lantai tujuh dimana apartemennya berada. Tidak lama pintu lift terbuka, Kevin keluar dalam lift menuju pintu apartemennya. Lagi-lagi dengan susah payah ia menekan beberapa digit angka untuk membuka kunci apartemennya.
Klik
Kevin langsung membawa tubuh Zia ke kamarnya karena hanya ada satu kamar di apartemen itu. Ia membaringkan tubuh Zia dengan hati-hati. Kemudian ia meneliti luka gadi mungil itu, ia bernafas lega saat dirasa luka tersebut tidak terlalu parah. Setelah itu ia keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur untuk mengambil air dibaskom dan kotak p3k untuk mengobati luka Zia. Tak lama ia kembali ke kamar dan duduk dipinggir ranjang. Kemudian ia membuka kotak p3k dan dengan telaten ia membersihkan luka Zia dari debu dan mengobatinya. Setelah selesai dengan luka-luka kecil Zia, ia beralih kelengan gadis mungi itu yang tersayat. Kevin meneliti sayatan itu.
"tidak terlalu dalam" monolog Kevin sambil mengelap darah yang berada dilengan Zia. Setelah bersih Kevin memberikan betadin dan membalutnya dengan kain kasa.
Kini lelaki tampan itu sudah berada disofa ruang televisi sambil menikmati sekaleng bir yang ia ambil dari dalam lemari es.
"Kevin pabo! apa yang kau lakukan, bodoh?" Kevin merutuki kebodohannya.