Satu minggu sudah berlalu, Kevin belum juga membunuh Zia. Lelaki tampan itu malah membunuh orang-orang yang ia dapatkan dari email miliknya. Lima belas orang sudah Kevin bunuh dengan sangat tidak elit dalam satu minggu ini. Bahkan sekarang ia sedang menunggu seseorang yang akan datang ketaman pinggir kota yang akan menjadi targetnya keenam belas mungkin juga ketujuh belas karena bukan hanya satu orang yang akan Kevin bunuh melainkan dua orang sekaligus. Kevin bersandar pada pohon yang cukup besar agar tidak terlihat oleh penglihatan orang-orang yang berlalu lalang disekitar taman.
"chagi...apa kau senang?" tanya seorang lelaki dengan menggandeng tangan seorang gadis yang dibalas senyuman dari bibir sang gadis.
Kevin yang mendengar itupun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan melihat foto seorang lelaki dengan seorang gadis persis seperti yang ia lihat didepannya sekarang. Pasangan itu duduk dibangku yang tidak jauh dari tempat Kevin bersembunyi. Mereka sedang bermesraan bahkan bisa dibilang sangat mesra sampai Kevin ingin muntah dibuatnya. Dengan langkah perlahan dan pasti Kevin menghampiri pasangan itu dengan memakai sarung tangan dikedua tangannya. Kevin semakin mendekat kebangku taman tersebut tanpa disadari oleh kedua pasangan itu hingga ia sudah berdiri dibelakang mereka tanpa mengganggu kegiatan keduanya.
"wah asyik sekali, ya...apa aku boleh bergabung?" tanya Kevin dengan nada penuh ketertarikan yang dibuat-buat. Pasangan yang tadinya duduk itupun langsung berdiri menghadap Kevin yang ada dibelakang mereka dengan tatapan terkejut.
"siapa kau?" tanya lelaki itu.
"kalian tidak perlu tahu siapa aku..." jawab Kevin santai.
"mau apa kau?" kali ini giliran sang gadis yang bertanya.
"membunuh kalian berdua karena sudah membuat hati seseorang terluka karena tingkah laku kalian berdua"
"maksudmu?"
Kevin tidak menjawab pertanyaan tersebut, hanya saja tangannya yang bergerak melemparkan beberapa jarum kearah kedua pasangan tersebut yang langsung membuat kedua makhluk didepannya tergores dan mengeluarkan darah segar sedikit demi sedikit. Kevin melompat dan duduk dibangku yang tadi diduduki oleh pasangan itu.
"b******k!" geram lelaki didepan Kevin sambil memegangi tangannya yang terkena jarum. Kemudian lelaki itu berlari menerjang Kevin yang masih duduk dibangku tadi dengan santai. Kevin bersemirk ria ketika melihat lelaki itu akan menyerangnya. Ia menggeser duduknya hingga lelaki itu tidak bisa mengenainya.
"bodoh"
Jleb
"AARRGGH" teriak lelaki itu sambil memegangi pinggangnya yang ditusuk pisau oleh Kevin. Gadis tadi mulai merasa ketakutan dengan sifat Kevin barusan, ia berencana untuk lari dari hadapan Kevin sebelum sebuah pisau menancap pada kakinya.
"AARRGG" gadis itu jatuh terduduk dengan memegangi kakinya yang terdapat tancapan pisau.
"aku harus membunuh siapa dulu ini?" tanya Kevin tampak berfikir polos dengan masih duduk dikursi tadi.
"sialan!" umpat lelaki yang ada disebelah Kevin.
"aah lebih baik kau saja karena aku tidak suka mulut bedebahmu itu!" Kevin kembali mengambil pisau lipat yang ada disaku celananya. Lelaki yang saat ini sudah tersungkur ditanah itupun melihat kearah pisau yang ada ditangan Kevin dengan tatapan takut. Ia berusaha berdiri dari tersungkurnya, tapi tidak bisa. Lelaki itu tak hilang akal, ia merangkak mundur untuk menjauhi Kevin yang terlihat menakutkan baginya. Kevin yang melihat lelaki itu merangkak mundur itupun berjalan mengikuti lelaki itu. Setelah jaraknya dekat, Kevin lalu menendang perut lelaki itu hingga tidak bisa bergerak lagi.
"uhuk" lelaki itubatuk dan mengeluarkan darah akibat tendangan Kevin yang tidak main-main.
Kevin kemudian berjongkok dihadapan lelaki itu dan memainkan pisaunya didepan wajah lelaki itu. Lelaki itu membeku ditempatnya dan tidak ada perlawanan darinya. Kevin lalu mengarahkan pisaunya kewajah lelaki itu dan menggoreskan pisau tersebut mulai dari dahi sampai kebibir lelaki itu dan membentuk garis vertikal. Sedangkan gadis yang tidak disentuh Kevin itu, dengan diam-diam menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Sret
"AARRGGGH" teriak gadis itu saat pisau yang Kevin lempar mengenai tangannya yang memegang ponsel hingga mengeluarkan darah.
"kau pikir aku tidak tahu jika kau berusaha menghubungi seseorang!" kata Kevin kelewat datar membuat gadis itu bergidik, karena takut.
"sungguh merepotkan membunuh dua orang macam kalian" keluh Kevin dan melanjutkan aksinya dengan membelah bibir lelaki yang ada didepannya, membentuk garis horizontal. Banyak darah yang lelaki itu keluarkan saat Kevin membelah bibirnya. Setelah puas dengan hasil karya diwajah lelaki itu, Kevin beralih kearah tangan korbannya dan mengukir ‘Kelinci’ disana. Setelah selesai ia menusuk perut lelaki itu dan membuat lelaki itu meringis kesakitan tanpa bisa mengeluarkan suara dari mulutnya-ingatkan jika Kevin membelah bibir itu sampai ketelinga. Kevin lalu membelah perut tersebut hingga menganga. Ia tersenyum melihat korbannya yang sudah tidak berdaya dengan nafas yang sedikit demi sedikit itu mulai menghilang. Kevin lalu mengeluarkan usus lelaki itu tanpa jijik, ngomong-ngomong Kevin sudah menggunakan sarung tangan sejak awal. Detik berikutnya Kevin menancapkan pisaunya kearah jantung sang lelaki yang langsung membuat lelaki itu kehilangan nafasnya seketika. Kemudian Kevin berjalan kearah gadis yang ia anggurkan sejak tadi dengan membawa usus lelaki yang sudah mati itu, lalu ia berjongkok didepan gadis tersebut.
"tolong jangan bunuh aku" pinta gadis itu dengan perasaaan takut.
"maaf, tapi orang yang menyuruhku sudah membayar mahal untuk ini" kata Kevin sambil menekan pisau yang masih menancap ditangan gadis itu.
"AARRGGHH" teriak gadis itu kesakitan.
"makan!" perintah Kevin sambil mengarahkan usus lelaki tadi kearah gadis itu. Gadis itu menggelengkan kepala, tanda menolak perintah Kevin.
"AAARRGGGH" teriaknya lagi saat Kevin menarik pisaunya dan mengarahkan pisau tersebut kepipinya.
"makan!" perintah Kevin lagi. Kali ini dibarengi dengan goresan pisau dipipi gadis itu. Mau tidak mau gadis itu mengambil usus yang ada ditangan Kevin dan mengarahkannya kemulutnya. Dengan takut-takut ia memandang Kevin yang menatapnya tajam. Kevin tidak peduli dengan tatapan gadis itu yang ia inginkan adalah melihat gadis itu memakan ususnya. Dengan tatapan nanar Kevin berhasil membuat gadis itu memakan usus yang Kevin berikan.
"uweeeekkk" gadis itu hampir memuntahkan usus yang ia makan sebelum Kevin menyuruhnya untuk menelan usus itu paksa. Dengan berat hati gadis itu menelan usus yang ia makan. Kevin yang melihat itu tidak mau tinggal diam. Ia menggoreskan pisaunya secara acak kewajah gadis itu. Bahkan Kevin kini merobek baju bagian atas gadis itu hingga memperlihatkan d**a mulusnya. Dengan senang hati Kevin menusukkan pisaunya kepayudara sang gadis.
"AAARRGGHH" teriakan gadis itu membuat telinga Kevin pengang mendengarnya.
"jangan berteriak atau ini akan aku buat lebih sakit, pabo!" ancam Kevin. Gadis itu menurut saja pada Kevin dan membuat Kevin bersemirk ria. Kini Kevin beralih pada leher gadis itu dan menusuk kerongkongan gadis itu dengan pisaunya. Ia menarik pisau tersebut dan beralih kepayudara gadis itu lagi. Kevin menusuk-nusukkan pisaunya lagi kepayudara tersebut sampai tidak bisa disebut lagi dengan p******a karena sudah penuh dengan darah. Nafas gadis itu mulai terengal-sengal karena Kevin terus menusuk tubuhnya dengan pisau hingga mengeluarkan banyak darah.
"hah membosankan" kata Kevin dan mengakhiri perbuatannya dengan menusukkan pisau itu kejantung sang gadis yang langsung membuat gadis itu kehabisan nafas seketika. Tidak lupa Kevin meninggalkan jejak diatas p******a gadis itu.
"selesai" Kevin beranjak dari sana dan mencari toilet terdekat untuk membasuh tanganya dan pisaunya, meninggalkan dua mayat ditempat semula. Kevin membasuh sarung tangan karetnya untuk menghilangkan darah dan meletakkan sarung tangan itu kedalam kotak yang ia bawa didalam tas kecil yang melingkar dipinggangnya. Kemudian ia membasuh pisau lipat yang berjumlah lima itu dengan air dan setelah selesai, Kevin memasukkan pisau tersebut kedalam tas yang tadi berisi sapu tangan. Bisa dibilang tas tersebut adalah peralatan Kevin untuk membunuh dan tas kecil yang selalu ia letakkan dipinggang itupun selalu Kevin bawa kemana-mana. Setelah semuanya selesai, Kevin kembali ketempat dimana motornya terparkir.
◽
◾
◽
Seunghye berjalan seorang diri dari halte bus menuju rumahnya yang lumayan jauh dari halte. Ia menendang-nendang kerikil yang ada didepan kakinya. Malam ini gadis cantik ramping itu berjalan-jalan menghirup udara segar malam di Gangnam tanpa ada supir yang menemaninya. Ia sengaja naik bus saat pergi dan juga kembali ke rumah.
"wah ada mangsa baru sepertinya"
Langkah Seunghye berhenti seketika setelah mendengar suara seorang lelaki yang tidak Seunghye kenal.
"hei anak manis mau kemana?" tanya seorang lelaki sambil mencolek dagu Seunghye.
"PERGI JANGAN GANGGU AKU" teriak Seunghye kencang.
"wow galak sekali padahal kami hanya mau bermain kuda-kudaan denganmu"
"JANGAN MENYENTUHKU!"
"hei santai saja" kedua lelaki itu memojokkan Seunghye didinding sebuah bangunan hingga punggung Seunghye membentur dinding tersebut.
"lepaskan!" lirih Seunghye saat kedua lelaki itu menyentuh bagian tubuhnya.
"LEPASKAN DIA!" teriak seseorang yang membuat kedua lelaki tadi beralih menatap lelaki yang mengganggu kesenangan mereka.
"Taekwang" lirih Seunghye saat melihat Taekwang berdiri tidak jauh dari mereka.
"siapa kau?" tanya salah satu lelaki pada Taekwang.
"aku kekasihnya....jadi pergilah sebelum aku mematahkan tangan kalian"
"wah berani juga kau" salah satu lelaki itu mulai menyerang Taekwang yang dapat Taekwang hindari dengan cepat. Lelaki satunya yang melihat itupun menjadi geram dan menyerang Taekwang juga. Mereka bertiga saling adu jotos dan tendangan. Taekwang menendang perut salah satu lelaki itu dan membuatnya tersungkur sambil batuk-batuk. Lelaki satunya yang tidak terima temannya ditendang Taekwang itupun berusaha menendang Taekwang, tapi dapat ditangkis oleh tangan kekar Taekwang yang memegang kaki lelaki itu dengan kedua tangannya. Kemudian Taekwang memutar kaki lelaki itu membuat lelaki tadi terjatuh membentur trotoar jalan. Dirasa sudah tidak bisa melawan lagi kedua lelaki itu pergi dari hadapan Taekwang dan Seunghye.
"kau tidak apa-apa?" tanya Taekwang pada Seunghye ketika kedua lelaki itu sudah pergi.
"naneun gwanhchana...gomawo Taekwang-ah" jawab Seunghye.
"kalau begitu aku antar kau pulang"
"tidak usah…aku tidak apa-apa kok"
“aku memaksa” Taekwang meraih tangan Seunghye dan mengajak gadis itu kemobil yang ia pakai. Seunghye yang ditarik Taekwang itu hanya bisa pasrah dan menatap tangannya yang digenggam Taekwang. Entah kenapa Seunghye merasa nyaman digenggam oleh Taekwang. Taekwang membukakan pntu mobil untuk Seunghye dan setelah gadis cantik itu masuk kedalam mobil, Taekwang menuju sisi sebelahnya dan masuk kedalam mobil.
“pasang sabuk pengamanmu” kata Taekwang sambil memasang sabuk penganmannya sendiri. Seunghye yang mendengar itu sedikit terkeju karena sejak masuk kemobil, Seunghye memegang tangan yang tadi digenggam oleh Taekwang dan melamun.
“apa aku mengagetkanmu?” tanya Taekwang yang sadar bahwa Seunghye terkejut dengan ucapannya tadi.
“oh tidak apa…aku hanya sedikit melamun tadi” jawab Seunghye dan mulai memasang sabuk pengaman untuknya, tapi tidak berhasil karena Seunghye tiba-tiba merasa gugup dengan tatapan Taekwang.
“apa kau bisa melakukannya?” tanya Taekwang yang melihat Seunghye masih berusaha memasang sabuk pengamannya.
“i-iya aku bisa” gugup Seunghye. Taekwang yang melihat Seunghye yang masih kesusahan meamsang sabuk pengaman itu akhirnya membantu gadis itu dan membuat Seunghye menahan nafas dan menatap wajah Taekwang yang sangat dekat dengannya. Ia tidak tahu mengapa jantungnya terasa seperti akan copot dari tempatnya hanya karena melihat wajah Taekwang yang sangat dekat dengannya.
“selesai” ucap Taekwang dan menyadarkan Seunghye dari lamunannya. Wajah Seunghye benar-benar merah saat ini dan ia menatap kearah jendela mobil dan tidak berani menatap Taekwang yang sudah mulai melajukan mobilnya.
“cute” ucap Taekwang dalam hati memuji keimutan Seunghye. Ia sebenarnya menyadari jika Seunghye melamun karenanya dan ia juga sadar jika sejak tadi Seunghye menatapnya. Ia jadi senang melihat ada gadis yang malu karenanya meskipun ia menyukai Zia, tapi entah kenapa sejak ada Seunghye yang terus bersama nona mungilnya membuat Taekwang merasa bahwa ia tertarik dengan gadis cantik itu. Apalagi saat di Jeju kemarin, Taekwang benar-benar melupakan Zia ketika gadis mungil itu meninggalkannya sendirian dengan Seunghye di villa. Taekwang benar-benar merasa nyaman dan jantungnya berdetak dengan cepat ketika berada didekat Seunghye.
Disepanjang perjalanan ke rumah Seunghye tidak ada percakapan yang mereka keluarkan sama sekali. Suasana didalam mobil benar-benar sunyi sampai mobil itu berhenti didepan rumah Seunghye. Gadis cantik itu keluar dari dalam mobil ketika mobil Taekwang berhenti didepan rumahnya.
“terimakasih Tae sudah mengantarku pulang” kata Seunghye diluar mobil sedangkan Taekwang masih duduk dikursi kemudi sambil menatap Seunghye.
“tidak masalah” jawabnya singkat.
“dan terimakasih sudah menolongku”
“iya, lain kali berhati-hatilah atau kau bisa menghubungiku jika ada masalah”
“aku tidak memiliki nomer ponselmu”
“oh ya kau benar…berikan ponselmu” Taekwang menengadahkan tangannya kearah Seunghye, menunggu gadis cantik itu memberikan ponselnya. Seunghye yang sedikit louding itupun mengambil ponselnya ditas dengan sedikit gugup. Ia lalu memberikan benda pipih itu kepada Taekwang. Lelaki bodyguard Zia itu lalu memasukkan nomernya kedalam ponsel Seunghye dan mengembalikannya pada gadis cantik itu ketika sudah menyimpan nomernya.
“aku sudah menyimpannya dan juga mnghubungiku agar aku bisa menyimpan nomermu juga” kata Taekwang.
“ah iya…”
“masuklah….” kata Taekwang. Gadis cantik itu mengangguk dan membalikkan tubuhnya berjalan kearah gerbang rumahnya. Setelah Seunghye masuk barulah Taekwang melajukan mobilnya ke rumah keluarga Kim dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Sedangkan Seunghye berjalan di halaman rumahnya sambil menatap ponselnya. Ia tersenyum bahagia ketika mengingat waktu singkatnya dengan Taekwang.