15

1873 Kata
Dipojok taman dimana Zia bertemu kakaknya tadi, Jeni menangis dipelukan Angga. Awalnya mereka tidak saling berpelukan, tapi entah kenapa Angga berani memeluk Jeni saat gadis itu menangis sampai sesenggukan. Bahkan Jeni juga bergumam tentang ‘jangan bunuh adikku’ berkali-kali, berharap agar Angga tidak melukai adik kesayangannya itu. Angga yang mendengar gumaman Jeni itupun tidak bisa menjawab, ia hanya diam sambil mengelus rambut Jeni dan menenangkan gadis manis itu, agar berhenti menangis. Angga tidak berfikir jika adik dari Jeni itu akan menemukan kakaknya dipesta Jiyong dan itu merusak semua rencananya. Beruntung Kevin langsung menarik gadis mungil itu agar tidak menimbulkan keributan diantara mereka dan tamu undangan. Angga bahkan tidak berfikir tentang kedekatan Kevin dengan Zia, malah ia berfikir bahwa Kevin akan memberikan gadis mungil itu pelajaran. Tidak lama kemudian, Jeni berhenti menangis dan melepas pelukan Angga. Angga memperhatikan wajah Jeni yang menunduk dan tidak berani menatapnya. Ia kemudian meraih dagu Jeni dan mengangkat wajah gadis manis itu agar menghadap padanya. Bisa Angga lihat jika wajah Jeni sangat kacau dan dipenuhi dengan air mata  saat ini. Ada sedikit rasa tidak suka ketika melihat Jeni yang seperti itu.   "jangan bunuh adikku...aku mohon hiks" ucap Jeni sambil menatap mata Angga dan kembali terisak lirih.   "aku tidak berjanji" jawab Angga.   "aku mohon padamu, Angga-ssi"   "aku tidak bisa berjanji"   "aku mohon" Jeni maasih memohon agar Angga mengabulkan permintaannya itu.   "kita bicarakan nanti...hapus air matamu dan kita pulang sekarang"   "Kevin?" cicit Jeni takut-takut.   "dia bisa pulang sendiri nanti" Setelah menghapus air matanya, Jeni beranjak dari duduknya dan mengikuti Angga dari belakang. Saat akan melewati kerumunan orang yang masih ada di pesta, Jeni mendekatkan dirianya kearah Angga dan menyembunyikan wajahnya dipunggung lelaki itu. Jeni hanya tidak ingin melihat orang tuanya dan membuatnya kembali lagi mendapatkan ancaman dari Angga.   ◾◾   Hyunjung yang saat ini masih berbicara dengan tn. dan ny. Kwon itupun mengalihkan tatapannya ketika melihat siluet anaknya dan Angga berjalan keluar setelah berpamitan denagn Jiyong dan tunangannya. Ia mengepalkan tangannya ketika melihat Angga merangkul pundak Jeni. Hyunjung yang tidak mau istrinya melihat itupun berusaha untuk menjauhkan atensi Hana dari arah Angga dibantu dengan tn. Kwon yang tahu kondisi Hyunjung.   “ternyata kau masih hidup, Angga” monolog Hyunjung dalam hati.   ◽ ◾ ◽   Kevin sudah melepaskan ciumannya dari Zia. Mereka saat ini terdiam satu sama lain bahkan Zia sekarang lebih memilih menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari mungilnya. Mereka terdiam cukup lama dengan posisi yang masih sama seperti semula.   Kling.   Suara ponsel Kevin berbunyi dan lelaki tampan itu segera mengambil ponselnya disaku celana dan membuka pesan yang masuk.   Jiwon hyung Aku pulang bersama Jeni dan mobilnya aku bawa. Kita bertemu di rumah dan membahas masalaah ini nanti.   Begitulah kiranya isi pesan Angga untuk Kevin. Lelaki tampan itu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana dan menatap Zia yang masih menundukkan kepalanya.   "aku rasa kita harus kembali kepesta" ucap Kevin membuat Zia mendongak dan menatapnya. Tanpa menunggu jawaban dari gadis mungil itu, Kevin menarik tangan Zia untuk kembali ketengah-tengah pesta. Kali ini dengan lembut. Disepanjang jalan kembali, Zia hanya mampu menatap tangannya yang digenggam oleh Kevin dan tanpa sadar dia mengulas sebuah senyum tipis diwajahnya. Entah kenapa genggaman tangan Kevin kali ini membuatnya merasa nyaman dan seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Tiba-tiba Kevin melepaskan genggaman tangannya saat melihat Taekwang yang berjalan kearah mereka.   "nona, tuan besar mencari anda dari tadi" kata Taekwang sambil menatap Zia dan Kevin bergantian.   "kenapa appa mencariku?" tanya Zia.   "tuan besar mengajak anda pulang, nona"   "baiklah...kau pergilah dulu!" usir Zia.   "tapi-"   "pergi bodoh!"   "baiklah" Taekwang pergi dari hadapan Zia dan juga Kevin dengan menatap sinis kearah lelaki tampan yang ada disebelah nona mungilnya.   "tetap saja cuek" sindir Kevin.   "apa kau bilang!?" ketus Zia tidak terima dengan sindiran Kevin untuknya.   "cuek"   "Kau..." geram Zia sambil siap memukul Kevin, tapi tidak jadi karena Kevin menatapnya dan menggenggam tangannya yang melayang di udara.   "pergilah..kau tidak mau membuat orang tuamu menunggu, kan?" perintah Kevin.   "menyebalkan" kesal Zia sambil beranjak dari hadapan Kevin.   "selalu" kata Kevin dengan sedikit berteriak agar Zia mendengarnya. Saat Zia sudah pergi, dua orang lelaki yang tidak ia kenal menghampirinya dan menghadang jalan Kevin begitu saja.   "siapa kalian?" tanya kevin santai.   "tidak perlu tahu siapa kami...yang jelas jauhi nona Kim Zia"   "ooh...kau bodygur-nya Zia, ya?" tanya Kevin. Ya! Dua orang itu adalah Haajae dan Jongin. Mereka sebenarnya ingin mengintrogasi Kevin, tapi Haajae malah menyuruh Kevin untuk menjauhi Zia.   "aku tidak bisa janji untuk menjauhi nona cantikmu itu jadi….maaf ya urusi saja urusan kalian" Kevin berjalan kearah lain untuk pergi dari hadapan Haajae dan Jongin membuat kedua lelaki itu geram dengan perkataan Kevin barusan.   "aku tahu..kau anak buah Angga, kan?" kata Haajae menghentikan langkah Kevin dan menatap keduanya dengan tajam.   "hyung-"   "tenanglah Jongin" potong Haajae.   "lalu apa urusanmu?" kata Kevin santai.   "aku tahu....nona Kim Jeni ada ditangan kalian"   "lalu? Kalian akan membebaskannya begitu? Bebaskan saja dia jika kalian bisa melakukannya" tantang Kevin sebelum benar-benar pergi dari hadapan keduanya.   "k*****t!" umpat Haajae sambil meninju udara didepannya sedangkan Jongin hanya diam menatap Haajae yang kesal.   ◽ ◾ ◽   24.10 KST. Angga dan Kevin saat ini sudah berada di ruang kerja Angga. Mereka berdua sedang membicarakan soal apa yang terjadi di pesta Jiyong tadi.   "apa kau membunuh adik Jeni itu?" tanya Angga.   "jadi adik Jeni itu Zia?" tanya balik Kevin yang pura-pura tidak tahu jika Zia adalah adik dari Jeni.   "iya dia adik Jeni yang akan kau bunuh setelah ini"   "jadi yang hyung bilang beberapa dua tahun lalu itu-"   "iya….aku sudah pernah bilang padamu dan menyembunyikan identitasnya darimu dan sekarang kau sudah tahu jadi bunuh dia untukku!" potong Angga dengan nada perintahnya.   "tapi, hyung-"   "tidak ada penolakan, Vin….itu tugasmu dan lakukan tugasmu itu atau aku akan menyuruh orang lain untuk membunuhnya?"   Kevin diam saja mendengar perkataan Angga. Ia bingung harus menjawab apa karena ia merasa tidak tega membunuh Zia. Entahlah kenapa jiwa membunuhnya hilang saat disuruh untuk membunuh gadis mungil itu. Biasanya jika Kevin mendapat perintah untuk membunuh ia dengan semangat akan melakukan hal itu karena itu tugasnya dan ia mendapatkan uang juga dari membunuh, tapi sekarang jiwa membunuhnya seakan-akan menghilang begitu saja dari dalam dirinya dan membuat Kevin tidak mampu mengatakan apapun.     "jadi bagaimana, Vin?" tanya Angga ketika melihat Kevin yang bingung   "hyung-"   "atau kau mau aku membunuhnya, Vin?" kata seorang lelaki yang menyela ucapannya dan berdiri didepan pintu ruang kerja Angga yang terbuka.   "Jungshin hyung, kau..."   "hai Kevin lama tidak bertemu, ya... " sapa Jungshin(lelaki yang menyela ucapan Kevin tadi). Kevin hanya menatap Jungshin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.   "jadi bagaimana, Vin?" tanya Angga lagi. Kevin masih tidak bisa menjawab pertanyaan Angga. Ia hanya diam menatap Angga dan Jungshin bergantian. Ia tidak paham dengan situasi sekarang. Kevin tahu jika Jungshin masihlah tangan kanan Angga, tapi ia tidak tahu jika Jungshin akan kembali kepada Angga dengan cepat seperti ini.   "jadi apa kau ingin Jungshin yang membu-"   "baiklah…aku akan membunuhnya" potong Kevin cepat membuat Angga tersenyum mendengar ucapan lelaki tampan itu.   "bagus….dan ayo rencanakan sesuatu" Angga menyeringai dan mulai membahas tentang smasalah yang serius untuk menjatuhkan musuh ayahnya itu.   ◾◾   Ketiganya sudah selesai membahas masalah yang serius dan sekarang Kevin dan Jungshin keluar dari ruang kerja Angga.   “aku ingi bicara denganmu, hyung” kata Kevin ketika keduanya sudah keluar dari ruang kerja Angga dan akan pergi ke kamar masing-masing.   “soal?” tanya Jungshin.   “hal yang penting”   “bicaralah”   “tidak disini”   “lalu?”   "ikuti aku" Kevin membawa Jungshin ke kamarnya lalu ia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang masuk saat Kevin berbicara dengan Jungshin. Kevin menyuruh Jungshin untuk duduk disofa, tapi lelaki itu memilih duduk dibalkon kamar Kevin. Kevin mengambil laptopnya diatas meja kerja dan menghampiri Jungshin yang sudah duduk dibalkon sambil menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Ia sangat suka jika langit cerah seperti ini.   "kita bicara disini agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita, Vin" ucap Junghsin. Kevin mengangguk dan mulai membuka laptop miliknya. Setelah beberapa saat menunggu laptop itu menyala, Kevin membuka salah satu file dari banyaknya file dilaptopnya. Kemudian Kevin menyerahkan laptop itu kepada Jungshin.   "apa ini?" tanya Jungshin dengan menerima laptop Kevin dan melihat file yang dibuka lelaki tampan itu.   "aku mendapatkan informasi kalau Hyunjung menyewa Haajae dan Jongin untuk membawa kembali Jeni dari sini...lalu aku mencari tahu tentang mereka dan ternyata itu yang aku temukan" jelas Kevin. Jungshin membaca file yang tertera dilayar laptop tersebut.   "ini kan Taekwang!" kata Jungshin sambil menunjuk foto seorang lelaki dilayar laptop milik Kevin.   "iya....dia adalah bodyguard Zia dan aku sudah bertemu dengannya dua kali bahkan aku juga bertemu dengan Haajae dan Jongin tadi di pesta Jiyong hyung" jelas Kevin.   "lalu apa yang kalian lakukan kemarin?"   "tidak ada! mereka hanya menyuruhku untuk menjauhi Zia itu saja"   "apa kau dekat dengan Zia?"   "tidak juga"   "berarti dekat"   "aku bilang tidak juga, hyung" kesal Kevin dengan menatap Jungshin.   "iya…berarti kau dekat dengannya"   "terserah!"   "baiklah....jadi aku harus apa?"   "bukannya kau disuruh Angga hyung untuk memusnahkan anak buah Hyunjung itu?"   "iya kau benar…tapi, aku tidak yakin bisa memusnahkan mereka semua karena anak buah Hyunjung itu lebih banyak dari Angga "   "hyung tidak usah khawatir…Angga hyung sudah memasukkan satu mata-mata di rumah Hyunjung”   "dia benar-benar ingin membalas dendam"   “maksud hyung?” tanya Kevin yang tidak tahu tentang permasalahannya. Ya, Kevin itu tidak tahu tujuan kenapa Angga menyandra Jeni, ingin membunuh Zia dan menjatuhkan Hyunjung. Ia tidak pernah diberitahu oleh Angga tentang masalah itu.   "lalu ini tentang masa lalunya Angga…kau tidak akan mengerti"   "begitu ya? apa hyung setuju dengan rencana Angga hyung?"   "aku tidak tahu"   “hah” Kevin menghela nafas.   "tapi, aku ingin menghentikannya karena aku merasa ada yang janggal dengan ini semua dan aku masih mencari tahu siapa sebenarnya dalang dari semua ini"   "aku akan membantumu, hyung"   "ayo kita lakukan bersama"   “baik hyung”   “oh ya, Vin…apa kamarmu tidak ada cctv-nya?”   "tentu saja tidak..aku melarang Angga hyung memberikan cctv di kamarku..jika aku mendapati satu cctv saja di kamarku maka aku akan membunuh mereka semua"   "wah pandai juga kau ya pembunuh"   "aku memang pandai….dan jangan panggil aku begitu..aku muak"   "kenapa?"   “tidak ada…sudah ayo kita lanjutkan diskusinya, hyung” Jungshin tertawa mendengar perkataan Kevin. Ia merasa lucu dengan lelaki tampan yang saat ini duduk disebelahnya. Ia tidak mengerti kenapa Kevin begitu ingin membantunya mencari titik terang dari masalah yang terjadi saat ini. Jungshin pikir jika Kevin menyukai Zia dan itu sebabnya lelaki tampan itu ingin membantunya mencari petunjuk. Sedangkan Kevin sendiri memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan saat ini setelah mendapat perintah dari Angga untuk membunuh Zia padahal ia tidak ingin membunuh gadis mungil itu. Meskipun Zia itu gadis yang menyebalkan, tapi entah kenapa aKevin tidak ingin kehilangan gadis mungil itu. Mungkin Kevin mulai memiliki perasaan suka pada Zia.   ◽ ◾ ◽   Keesokan paginya. Hyunjung memanggil Taekwang dan juga Haajae keruangannya untuk membahas masalah tadi malam di pesta keluarga Kwon. Saat ini mereka bertiga sudah berada di ruangan Hyunjung dengan Taekwang dan Haajae yang berdiri didepan meja kerja Hyunjung.   "anda sudah melihatnya sendiri tuan, jika nona Jeni ada ditangan Angga" kata Haajae memulai.   "aku mengerti dan aku memperhatikan Jeni saat mereka berjalan meninggalkan pesta tadi malam dan aku tidak melihat bekas luka sedikitpun ditubuh anakku dan kau benar soal Jeni yang baik-baik saja" jelas Hyunjung sambil meminum teh yang dibuat oleh istrinya "...oh ya apa mereka datang berdua?" lanjutnya setelah meletakkan gelas tehnya dimeja.   "tidak tuan...ada satu lelaki yang datang bersama mereka" jawab Haajae.   "apakah lelaki yang mendorong Jeni tadi malam?" tanya Taekwang penasaran.   "kau benar, Tae"   "jadi lelaki itu...." kata Taekwang sedikit terkejut dengan jawaban Haajae.   "ada apa, Tae?" tanya Hyunjung sambil menatap Taekwang penasaran.   "begini tuan, lelaki itu pernah hampir menabrak nona Zia dan lelaki yang sama yang diomeli oleh nona muda sebelum liburan ke Jeju keamrin dan….” Taekwang menjeda kalimatnya dan membuat Hyunjung dan Haajae menatapnya “…dan ketika dipesta tadi malam saat saya mencari nona Zia, dia sedang bersama lelaki itu juga, tuan" lanjutnya yang membuat Hyunjung memasang wajah marah.   "apa dia berbahaya?" tanya Hyunjung.   “saya masih belum tahu, tuan…tapi, Jongin masih mencari tahu tentangnya” jawab Haajae.   “beritahu aku tentang dia secepatnya!”   “baik tuan”   “ya sudah kalian boleh pergi”   “kami permisi” keduanya pergi dari ruangan Hyunjung dan membiarkan lelaki paruh baya itu sendirian di ruangannya sambil memikirkan tentang ucapan Taekwang dan Haajae.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN