Ciara mengerjapkan kedua matanya dan langsung menatap langit- langit kamarnya. Ia melirik jam dinding dan melihat waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ia bisa bangun sedikit lebih siang hari ini karena ia akan jaga malam di rumah sakit hingga esok pagi.
Ia bangun dari posisi tidurnya dan mengambil ponselnya di atas nakas. Ia menghela napas saat tak ada satupun pesan yang masuk. Semalam, sebelum tidur, ia mengirim pesan pada Nugi. Meminta maaf padanya dan menceritakan semuanya, ia juga memberitahu pada laki- laki itu apa kagiatan yang akan ia lakukan hari ini. Tak ada yang ia tutup-tutupi dari laki- laki itu.
Namun pesan itu hanya terbaca. Tak ada pesan balasan yang masuk atas pesan yang ia kirim. Ia akhirnya menekan ikon telepon dan mendengar nada penghubung panggilannya ke nomor Nugi. Panggilannya tak terjawab. Ia menghela napas. Ia tahu Nugi kecewa padanya. Ia akan memberikan waktu pada laki- laki itu untuk memaafkannya.
Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya untuk membersihkan diri. Rumah sudah sepi. Ibunya pasti sudah pergi bekerja pagi- pagi sekali. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia pergi ke dapur dan melihat sudah ada semangkok tumis kangkung dengan ayam goreng di atas piring dan sambal di mangkok kecil. Ia mengusap perutnya yang mulai berontak minta di isi. Ia akhirnya berbegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
“Bara…” Lara menyenggol lengan Ayra sambil berbisik. Ayra melepas fokusnya pada mie ayam yang sedang diaduknya dan menengadahkan kepalanya. Ia melihat Bara berjalan mendekatinya. Wajah laki- laki itu tampak dingin. Wajah yang akhir- akhir ini sering ditampakkan padanya. Dulu laki- laki itu suka sekali tersenyum. Laki- laki itu selalu mengulas senyum tipis saat pandangan keduanya bertemu sejauh apapun.
Bara sampai di depan Lara dan Ayra yang sedang makan siang di kantin. Ia duduk di depan keduanya tanpa diperintah dan melihat dua mangkok berisi mie ayam di atas meja.
“Makan, Bar.” Lara menawarkan saat melihat laki- laki itu membuka resleting ranselnya.
“Iya… gue mau kasih titipan Mahesa.” Kata laki- laki itu sambil mengeluarkan buku yang tadi diberikan Mahesa.
“Oh, gue aja nggak ngeh kalau ini ketinggalan. Makasih, ya.” kata Lara sambil mengambil buku miliknya yang diulurkan Bara.
Ayra melirik Bara yang duduk di depannya, namun laki- laki itu sama sekali tak menoleh ke arahnya. Laki- laki itu sama sekali tak menganggapnya ada karena hanya terfokus pada Lara. Ia mendengar Lara sedang bertanya apakah laki- laki itu sudah makan atau belum dan menawarkan untuk makan bersama.
Ayra melihat Bara menggeleng pelan. Ia bilang akan makan di kantin kampusnya. Ayra menatap Bara yang berdiri dari duduknya lalu membalik badan dan berjalan menjauh dengan ransel yang menggantung di punggungnya.
Perubahan laki- laki itu terlalu mengerikan. Dan ia adalah penyebabnya, pikir Ayra. Laki- laki itu sepertinya telah membuang semua perasaan padanya dan menyisakan kebencian atas semua sikap dan perkataannya. Ia pantas mendapatkan itu, pikirnya. Semua sikap dan perkataannya pada laki- laki itu pasti begitu menyakitkan. Ia tahu ia tak bisa meminta laki- laki itu membaik dan berpikir tak pernah terjadi apa- apa pada keduanya. Kesakitan yang pernah ia berikan pada laki- laki itu pasti sangat membekas sehingga untuk melihatnya saja, laki- laki itu tak sudi.
Ayra menghela napas kasar saat merasakan hatinya nyeri. Ia tidak tahu kalau diabaikan akan terasa menyakitkan. Padahal ia yang meminta laki-laki itu melakukannya. Dulu ia pikir ini adalah hidup tenang yang ia impikan, namun ternyata tidak. Sekali lagi, perubahan laki- laki itu terlalu ekstrem.
“Lo udah minta maaf sama Bara?” Lara bertanya, ia menoleh dan melihat Ayra masih melemparkan pandangannya ke depan padahal sosok Bara sudah tak terlihat. Lara melihat saudara kembarnya menggeleng pelan.
“Pas gue temuin dia di fakultasnya, dia lagi buru- buru.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Ayra. Tidak tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya. Ia tidak bisa bilang pada Lara bahwa ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia sendiri yang memaksa Bara untuk pergi dari hidupnya, namun kenapa sekarang rasanya sesak saat laki- laki itu mengabaikannya.
***
Ponsel Ciara bergetar saat ia dan Diana baru saja sampai di parkiran kampus fakultas teknik. Ciara turun dari motor dan merogoh saku tasnya. Hari ini, ia memang mengantar Diana untuk mengurus sesuatu di kantor administrasi, juga mengembalikan buku- buku di perpustakaan.
Ciara melihat nama Bara tertera di layar gawainya. Ia menslide layar lalu mengangkat panggilan itu sambil berjalan beriringan dengan Diana.
“Bara?” Diana bertanya saat Ciara menutup panggilannya.
Ciara mengangguk. Mereka menaiki tangga untuk pergi ke perpustakaan. Ciara menunggu di luar perpus saat Diana masuk untuk mengembalikan buku. Tak lama, gadis itu kembali ke luar dan kembali menyusuri lorong untuk menuju lantai satu.
“Lo nanti tunggu di kantin aja, ya. Nanti gue susul ke sana.” kata Diana. Ciara mengangguk.
***
Bara berjalan lebih cepat saat memasuki fakultas teknik. Setelah menemui Lara, ia mampir ke sana karena Ciara bilang dia ada di sana untuk mengantar Diana mengurus sesuatu di bagian administrasi.
Ia menyusuri lorong lalu berhenti di tangga saat melihat Ciara dan Diana turun.
“Halo, Kak Diana.” Bar tersenyum dan menyapa dengan ramah saat kedua perempuan itu menuruni tangga hingga berdiri di depannya.
“Nggak usah sok ramah lo.” Kata Diana sambil tertawa. Bara terkekeh ringan. “bibir lo kenapa?” tanyanya.
“Jatuh kemarin.” Jawab Bara.
Diana berdecak, “heh, dikira gue bego apa. Mana ada jatuh birunya di sudut bibir doang gitu.”
“Gue tunggu di kantin, ya, Di.” Kata Ciara. Diana mengangguk. Ciara berjalan lebih dulu dan berbelok ke kanan.
“Pas banget, gue nggak punya teman makan siang.” Kata Bara. Ia menggangdeng tangan Ciara dan berbelok ke kiri menuju kantin berada.
Ciara menguraikan lengan Bara yang bertaut di lengannya.
“Nggak ada Nugi.” Kata Bara. Ia merangkul pundak Ciara dan memeluknya dengan posesif.
“Bar, gue udah janji sama Nugi akan jaga jarak sama lo.” Kata Ciara. Kakinya masih melangkah mendekati kantin yang dari jauh terlihat ramai karena masuk jam makan siang.
“Gue juga. Tapi kan Nugi nggak ada sekarang.” Bara tak mau kalah.
“Gua janji, ada atau nggak ada Nugi, gue bakal jaga jarak sama lo.” Kata Ciara. Langkahnya berhenti saat melihat Bara menghentikan langkahnya. Ia menatap Bara yang tengah menatapnya.
“Lo tega sama gue?” kata Bara yang wajahnya tiba- tiba memelas.
“Bar, kalau dipikir- pikir, ya, lo mau sampai kapan gini terus?”
“Sampai gue dapat pacar lah.” Kali ini Bara mulai melangkah. Ciara mengikuti langkah di sebelahnya.
“Gue juga sebenarnya nggak mau gangguin lo mulu. Tapi kan lo tahu, cuma lo satu- satunya yang bisa gue ajak ke mana- mana, nggak baper meski gue perhatian. Kalau gue gitu ke cewek lain, nanti mereka baper gimana? Gue kan nggak serius.”
“Ya itu tandanya lo udah harus mulai nyari yang serius.” Kata Ciara.
Bara menghentikan langkahnya lagi, kini ia menghadap Ciara, “gue baru patah hati, Ra. Patah se patah- patahnya, hancur, remuk. Gue habis diinjak- injak sedemikian rupa, mana bisa gue langsung cari perempuan lain.” Kata Bara.
Ciara mendesah pelan. Ia tahu apa yang laki itu alami beberapa waktu yang lalu. Ia seharusnya tak bilang seperti itu pada laki- laki itu. Ia seharusnya tahu bagaimana perasaan Bara dan tak meminta laki- laki itu mencari pelarian pada perempuan lain.
Ciara mengambil sebelah tangan Bara dan mengusapnya pelan, “sorry…” katanya.
“Nggak. Lo jahat. Gue nggak mau maafin.” Bara melepas pegangan Ciara lalu berjalan cepat mendahului gadis itu.
Ciara tersenyum. Ia menatap punggung Bara. Ia tahu laki- laki itu tak akan marah padanya. Ia berlari kecil demi mensejajarkan langkah Bara yang lebar- lebar.
Saat Ciara sampai di sebelahnya, ia mengambil bahu gadis itu. “udah keramas belom lo?” kata Bara sambil mengendus rambut gadis itu dan merasakan wangi bunga- bungaan menyusupi indera penciumannya.
“Udah dong.” Kata Ciara dengan nada jumawa, ia mengibaskan rambut panjangnya yang hari itu tergerai hingga mengenai wajah Bara.
"Gitu dong." kata Bara. “Apa yang enak di sini?” tanya Bara pada Ciara saat mereka sampai di kantin. Matanya memindai dan meneliti apa saja yang dijual di kantin itu.
“Soto dagingnya enak.” Ciara memberitahu.
Bara akhirnya menghampiri penjual soto yang dimaksud sedangkan Ciara membeli satu porsi jus alpukat.
Setelah memesan, ia menempati meja kosong di depan penjual soto itu dan melihat Ciara kembali dari penjual jus.
“Lo nggak makan?” Bara bertanya. Ia melihat gadis itu menggeleng saat mengambil tempat di sebelahnya.
“Gue mau makan diluar sama Diana.”
“Mending lo tidur siang, nanti kan lo jaga malam.” Bara memperingatkan.
“Bosen kali, gue juga mau jalan- jalan sebentar.” Kata Ciara, “lagian semenjak di stase obgyn, gue udah punya keahlian bisa tidur di mana aja.” Katanya lagi. Ia melihat Bara terkekeh di depannya.
Seorang wanita penjual jus mendekati meja dan menaruh jus pesanan Ciara di atas meja, tak lama penjual nasi soto juga menaruh pesanan Bara di tempatnya.
Bara memulai suapannya setelah mencampurkan sambal ke sotonya dan mengaduknya pelan.
“Gue udah bosen sama menu di kantin gue, apa gue perlu keliling buat nyari menu- menu enak.” Kata Bara setelah menelan isi mulutnya.
“Jangan ngada- ada. Mana lo punya waktu.” Ciara mengingatkan. Ia menatap Bara yang sudut bibirnya terlihat keunguan.
“Hidup gue suram banget setelah ditinggal lo koas.” Kata Bara.
“Jangan lebay.” Kata Ciara. Bara terkekeh ringan. Bara menikmati makan siangnya. Sesuai dengan kata Ciara, soto daging itu memang enak.
“Lo udah baikan sama Nugi?” Bara bertanya. Tangannya yang memegang sendok masih terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang kosong. Bara menatap Ciara yang mengangkat bahu.
“Gue WA dan telepon nggak dibalas, dibaca doang.”
“Dih, jelek banget marahnya.” Kata Bara, “jangan mau sama cowok yang kalau marah malah silent treatment. Nyiksa batin.” Bara berujar.
Ciara terdiam. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada Nugi setelah pesannya tak terbalas dan teleponnya yang pernah tersambung dengan laki- laki itu. Ia tahu ia tidak bisa diam saja dan menunggu laki- laki itu menemuinya. Tapi, bukankah ia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia harus seperti apa lagi agar laki- laki itu memaafkannya.
Bara menyelesaikan makannya saat isi gelas Ciara masih tersisa setengah. Membicarakan Nugi membuat Ciara kembali kepikiran dengan laki- laki itu. Haruskah ia menemui laki- laki itu di rumahnya nanti malam sebelum ke rumah sakit. Hari ini, ia tidak tahu laki- laki itu ada di kampus atau tidak karena pesannya benar- benar belum terbalas sampai saat ini.
Bara merogoh salah satu saku tasnya dan mengeluarkan sebuah jepitan berbentuk pita berwarna merah marun. Ia mengulurkannya pada Ciara.
“Apaan, nih?” Ciara mengambilnya dan menelitinya.
“Gue nemu itu pas beres- beres laci.” Kata Bara.
“Dih, ngasih kok barang bekas orang.” Ciara mengeluh lalu menarik sebelah tangan Bara dan menaruh jepitan itu di telapak tangannya.
“Gue kasih karena gue tahu akan cocok kalau dipakai di rambut lo.” Bara memajukkan tubuhnya dan memasang jepitan itu pada rambut Ciara.
Ia tersenyum setelah kembali ke posisi semula, “tuh, kan, lo cantik.” kata laki- laki itu. “nanti gue beliin yang baru kalau gue ketemu abang- abang gerobak yang jual jepitan.” Kata Bara sambil tertawa kecil.
Ciara berdecak, namun tak urung terkekeh pelan.
“Mantan lo ada berapa, Bar?” Ciara bertanya tiba- tiba. Ia menyesap jus dalam gelasnya.
“Lo tanya aja mantannya Mahesa berapa?” jawaban itu membuat dahi Ciara berkerut dalam. Ia menatap Bara kebingungan. Laki- laki itu menengadahkan kepalanya.
“Cewek- cewek yang pernah gue pacarin itu, sebelumya pacaran sama Mahesa.” Jawab Bara. Ia menatap tepat ke manik mata Ciara yang tampak terkejut. “iya, dulu gue rebut semua pacar Mahesa saking bencinya gue sama dia.” Katanya lagi. “kalau gue inget- inget, gue kenapa konyol banget, ya.”
“Parah banget lo.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Ciara. Ia berpikir, Mahesa telah mengalami banyak kesulitan di hidupnya. Berhadapan dengan Bara jelas bukan hal yang mudah. Laki- laki itu terpaksa pergi dari rumahnya sendiri, menjauh dari orangtua satu- satunya. Ciara menghela napas saat merasakan nyeri di dadanya. Entah kenapa, ia bisa merasakan apa saja yang sudah Mahesa lalui selama hidupnya.
Lalu, mengingat bagaimana keadaan laki- laki itu sekarang, ia senang. Laki- laki itu berhak mendapatkannya. Laki- laki itu berhak hidup lebih baik, lalu kembali ke rumah dan membangun kembali keluarga yang sudah hancur selama bertahun- tahun. Ia tahu Mahesa dan Bara akan menjadi saudara yang luar biasa. Keduanya sudah berubah dan kini berada dalam satu jalan menuju tujuan yang sama, memberikan kembali nyawa di rumah mereka.
“Jadi, Ayra benar- benar cinta pertama lo?” Ciara bertanya lagi. Ia melihat laki- laki di depannya tampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk pelan.
“Gue juga nggak tahu kenapa. Gue nggak ngerti kenapa bisa suka sama dia, padahal sebegitu bencinya sama saudara kembarnya.” Kata Bara. Ia meletakkan sendoknya lalu menyesap air mineralnya.
“Gue menyedihkan banget, ya. Perlu ditolak berkali- kali dan diinjak- injak dulu baru sadar.” kata Bara. “kalau inget masa SMA, gue malu sendiri. Pemaksa, tempramen, sok jagoan. Untung gue ganteng dan pintar. Paling nggak masih ada yang bisa dibanggain sedikit.” Lanjutnya.
“Nggak apa- apa, Bar. Yang penting lo udah berubah jadi lebih baik. Lo sekarang calon dokter, akan banyak perempuan yang lebih baik yang datang ke hidup lo.”
TBC
LalunaKia