CHAPTER TIGA PULUH SATU

2306 Kata
        Ciara dan Diana melewatkan siang di salah satu restoran pasta. Keduanya sibuk berbagi cerita mengenai hal-hal yang terlewatkan masing-masing. Ciara telah lebih sibuk saat koas, sedangkan Diana sibuk menjadi jobseeker. Ciara mulai menceritakan lebih detail mengenai pertemuannya dengan Mahesa, juga kenyataan jika laki-laki itu dan Bara adalah saudara tiri. Ia sudah menceritakannya melalui pesan dan telepon, namun Diana tak puas dan meminta Ciara menceritakannya lagi. “Jadi, lo mau gimana, Ra?” Diana bertanya setelah Ciara menyelesaikan ceritanya. Ia tahu bagaiaman perasaan gadis itu pada Mahesa. Ciara telah menunggu laki-laki itu selama empat tahun hingga akhirnya putus asa dan memilih menerima cinta Nugi. Kini orang yang ia tunggu ternyata datang. Ia tahu bahwa Ciara tak pernah benar- benar menyukai Nugi. Ia tahu tak pernah ada sosok yang bisa menggantikan Mahesa di hati wanita itu. Ciara mungkin bisa membohongi semua orang, namun tidak dengan dirinya. “Gimana apanya?” Ciara berpura-pura tak mengerti meski ia tahu jelas ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu. Diana menatap Ciara dengan tatapan mengejek. Memberitahu gadis itu bahwa ia tak bisa lari dan berpura-pura. Ciara menghela napas kasar, “gue nggak tahu, Di. Gue bingung.” “Lepasin Nugi…” lirih Diana. Ia melihat keduanya mata di depannya membola, lalu kepalanya menggeleng pelan. “Nugi baik banget, Di. Gue nyaman sama dia.” Lirihnya. Kedua jari- jarinya bertaut di atas meja. “Tapi lo nggak cinta sama dia, Ra.” Diana memperjelas. “Gue nggak mau jahat sama Nugi.” Kata Ciara. “Lo bertahan tapi nggak cinta, itu lebih jahat. Lo korbanin perasaan lo, lo sia-siakan perasaan Nugi yang nggak pernah bisa lo terima.” Ciara tak punya keinginan lain selain menyumpal mulut Diana agar gadis itu berhenti berbicara, karena sadar semua yang keluar dari mulut Diana ada benarnya. Namun, bagaimana bisa ia meninggalkan Nugi dan bilang bahwa ia tak mencintainya dan malah mencintai orang lain. Ia tidak akan bisa menanggung perasaan bersalah seumur hidupnya. Suara dering ponsel membuyarkan semua pikiran Ciara. Ia menoleh dan mengulurkan sebelah tangannya untuk mengaduk-aduk ranselnya. Setelah mendapatkan benda pipih yang berbunyi itu, ia melihat nama Nugi di layarnya.            “Nugi…” Ciara memberitahu Diana. Ia menslide layar untuk menjawab dan mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya berada di ujung sambungan. Diana menatap gadis di depannya. Ia menggeleng, merasa kasihan. Bagaimana bisa gadis itu menerima perasaan laki-laki lain sedangkan tak lama, laki- laki yang ditunggu selama empat tahun muncul di hadapannya. Bagaimana mungkin gadis itu bisa menyembunyikan perasaannya pada cinta lamanya yang ia tahu sebesar apa. Diana masih menatap Ciara yang baru saja menutup sambungan teleponnya. “gimana?” tanyanya. Meski ia sendiri bingung dengan pertanyaannya. “Aman.” Hanya itu yang keluar dari mulut Ciara saat ia menjelaskan bahwa semuanya baik-baik saja. “Sebenarnya ada yang lebih bikin gue bingung.” Ujar Ciara. Ia melihat Diana menatapnya penuh minat, seakan gadis itu siap mendengarkan semua yang keluar dari mulutnya. “hubungan Mahesa sama Lara.” Lanjutnya. “gue ngerasa mereka dekat banget.” Ciara menceritakan beberapa hal yang membuatnya berpikiran demikian. “Lo mikir mereka lagi pendekatan atau gimana?” Diana melihat gadis di depannya mengangkat bahu tak acuh. “waktu di SMA, mereka juga dekat, kan, karena Mahesa sering bantuin Lara pas diganggu Bara.” kali ini ia melihat Ciara mengangguk pelan. *** Mahesa sedang bekerja di ruang kerjanya saat mendengar pintu ruangannya di ketuk pelan. Ia menyorot penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam dua siang. Ia sudah bisa memastikan siapa yang ada di depan ruangannya. Sedikit berteriak, ia meminta orang di luar untuk menunggunya.            Ia memang janji pada Lara untuk makan siang bersama di kantornya. Gadis itu bilang bahwa ada restoran Chinese food di dekat kampusnya yang enak dan selalu ramai. Gadis itu bilang akan membelinya dan menemuinya di kantornya sebagai ganti karena kemarin Mahesa sudah terlalu sering mentraktirnya. Mahesa menerima tawaran gadis itu. Ia menatap layar laptopnya dan menyimpan semua pekerjaan yang sedang ia kerjakan.            Lara menaruh plastik yang ia bawa di atas meja. Tubuhnya dijatuhkannya di sofa yang nyaman itu. Matanya memindai sekeliling hingga akhirnya tertuju pada pintu ruang kerja Mahesa yang entah kenapa terasa sangat privacy. Sepanjang ia datang ke sini, ia hanya pernah melihat Iras yang pernah masuk ke ruangan itu, juga seorang office boy. Ia pernah berpikir apa yang ada di dalam ruangan itu sehingga ia tidak pernah dipersilakan untuk masuk ke sana. Apakah Mahesa memang butuh ruang privasi? Atu memang laki-laki itu tak percaya padanya. Lara tidak bisa mengenyahkan rasa penasarannya.            Pintu itu yang terbuka tiba- tiba itu membuat semua lamunannya buyar. Ia mengulas senyum saat melihat Mahesa muncul di baliknya. Setelah mengulas senyum tipis, laki-laki itu pergi ke ujung ruang, ke sebuah pantry kecil untuk mengambil alat makan dan gelas. Ia mengisi dua gelas itu dengan air dari dispenser, membawanya ke sofa dan menaruhnya di atas meja. “Kamu ke sini naik apa?” tanyanya setelah ia menjatuhkan dirinya di sofa kosong di depan Lara. Ia melihat gadis itu tengah mengeluarkan isi plastiknya dan memindahkannya ke piring kosong. “Naik gojek, Kak. Ayra hari ini ada kelas sampai sore. Kamal bawa motor dan kayaknya bakal nganterin Dila.” Tutur Lara. “Kamal udah pacaran sama Dila?” Mahesa bertanya. Lara cukup banyak menceritakan tentang mereka sehingga Mahesa tak pernah ketinggalan berita. Lara menggeleng. Keduanya sudah mengambil sendok dan siap menyantak sapo tahu yang aromanya terasa menggugah selera. “Mereka bilang, sih, belum.” Kata Lara. “Kalau Bara sama Ayra?” Mahesa bertanya lagi. Kali ini Lara menengadah dan menatap Mahesa sambil mengunyah. “Aku belum cerita, ya, Kak.” kata Lara. Setelah menelan isi mulutnya, ia bercerita mengenai hal yang terjadi pada keduanya akhir-akhir ini. Ia bilang bahwa ia tidak tahu persis apa yang terjadi. Ia hanya tahu bahwa tiba-tiba Bara memutuskan untuk melepaskan Ayra. Tidak cukup, laki-laki bahkan bersikap seolah-olah tak mengenal Ayra. Laki- laki itu tak menatapnya, apalagi menegurnya. Laki-laki itu bersikap seolah-olah ia adalah orang asing pada Ayra. “Sampai segitunya?” Mahesa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia melihat Lara mengangguk, masih dengan mulutnya yang penuh. “Ini bukan yang pertama kali, sih, Kak.” ujar Lara. Ia akhirnya menceritakan kejadian sepeninggal Mahesa. Bahwa saat itu, Bara juga bersikap seperti itu. Setelah laki-laki itu memutuskan untuk melepaskan Ayra, laki- laki itu langsung menempel sebegitu dekatnya dengan Ciara. Mahesa mengangguk. Ia pernah mendengar cerita itu dari mulut Iras. Ia hanya tidak menyangka bahwa hal itu terjadi lagi. *** Ciara keluar dari sebuah ruangan dan berpamitan dengan teman-temannya yang masih berjaga. “Selamat beristirahat…” kepala perawat, seorang wanita paruh baya berseragam itu tersenyum pada Ciara dan memberikan semangat. Dengan raut wajah lelah, Ciara hanya mengangguk pelan dan mengulas senyum tipis. Dengan langkah gontai, ia berjalan pelan. Ini adalah malam terburuk selama ia berada di stase obgyn. Entah apa yang terjadi, tapi stase obgyn malam tadi seperti pabrik anak. Iya. Ia berjaga di ruang bersalin semalam dengan ruangan penuh dengan segala macam drama di dalamnya. Karena di stase itu tidak ada dokter residen, terpaksa semua diserahkan pada koas, meski bidan dan perawat tetap membantu, Ciara tetap merasa bahwa hari ini adalah hari yang luar biasa. Ciara mendampingi pasien, melakukan observasi, melaporkan keadaan pasien pada dokter. Belum lagi, tugas dan laporan yang harus ia kerjakan. Siangnya, ia ikut beberapa operasi Caesar dan baru selesai sore ini. Ciara tak tahu sudah berapa jam ia tak tidur, sepertinya ia memang tidak sempat tidur karena ramainya ruang bersalin malam tadi. Namun yang melegakan adalah mendengar suara tangis bayi, tangis haru dari seorang ayah, juga tangis lega dari seorang ibu. Suara tangis bayi itu teradengar merdu di telinganya. Malam ini jelas lebih baik dibanding beberapa malam sebelumnya, saat ia harus membantu proses melahirkan seorang ibu yang janinya sudah meninggal dalam kandungan. Saat itu, perasaannya terasa sesak saat melihat sang ibu menangis meski sudah tahu apa yang terjadi sebelumnya. Membayangkan bagaimana ia menjaga janin itu dengan penuh cinta, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Ia masuk ke dalam lift dan bergabung dengan beberapa orang yang ada dalam kotak besi itu lebih dulu. Ia mundur selangkah dan menggeser tubuhnya saat pintu terbuka di lantai bawah dan membiarkan beberapa orang keluar dari lift. Sebelah tangannya terangkat untuk memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia hanya bersyukur karena minggu ini adalah minggu terakhirnya di stase obgyn. Ciara sudah berpikir akan langsung tidur saat sampai di rumah. Persetan dengan mandi, rasa lapar dan tugas-tugas yang harus ia selesaikan. Ia hanya butuh tidur saat ini. Lift kembali terbuka dan beberapa orang kembali turun. Ciara menempelkan bahunya ke dinding lift dan menyandar dengan tenang. “Habis jaga malam?” suara itu membuat Ciara kaget hingga ia nyaris telonjak dari tempatnya. Ia pikir ia hanya tinggal seorang diri di dalam lift. Ia menoleh dan melihat senyum Mahesa di belakangnya. “Mahesa… ngagetin aja.” Keluh Ciara. Ia melihat laki- laki itu terkekeh pelan. “Capek banget keliahtannya.” Komentar Mahesa. Keduanya keluar dari lift saat kotak besi itu sampai di lantai dasar. Ciara menceritakan sedikit yang terjadi padanya selama shift malamnya dan kembali melihat laki- laki itu terkekeh. Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama rumah sakit. Mereka mengisi perjalanan singkat mereka dengan obrolan yang terasa menyenangkan bagi keduanya. Ciara tak ingin membuang-buang kesempatannya untuk menangkap wajah Mahesa sebanyak yang ia bisa. Ia merindukan laki-laki itu. Ia tidak bisa lagi membohongi perasaannya. Ia telah mati-matian mengenyahkan keinginan untuk memeluk laki- laki itu. Yang bisa ia lakukan hanya menatap wajah itu lamat- lamat. Ia bersyukur ia tidak kehilangan akal. “Kamu di jemput?” pertanyaan Mahesa menyadarkan Ciara bahwa mereka baru saja berhasil melewati pintu transparan rumah sakit. “Nugi bilang mau jemput, sih.” Jawabnya pelan. Ia melihat laki-laki itu mengangguk pelan, namun tampak tak terganggu saat mengatakan itu. “Itu Nugi.” Mahesa menunjuk ke belakang Ciara. Gadis itu membalik badan dan mengikuti arah pandang Mahesa. Ia melihat Nugi tersenyum padanya dan berjalan cepat menghampirinya. “Aku duluan, ya.” Mahesa berkata dengan lirih pada Ciara yang langsung mengangguk. Laki- laki itu mengulas senyum pada Nugi yang baru sampai di antara mereka dan ia berjalan menjauhi keduanya. *** “Kamu kalau buat Bara, selalu ada waktu. Kalau buat aku, nggak pernah ada.” Kata Nugi saat Ciara menolak ajakannya untuk jalan, atau sekedar makan. Apapun yang bisa membuat keduanya menghabiskan waktu bersama. Nugi punya cukup banyak waktu luang malam ini. Ia sudah berpikir bahwa ia akan pergi menonton dengan gadis itu, atau pergi jalan ke mall dan makan malam. Namun gadis itu menolaknya dengan alasan lelah dan ingin beristirahat. Mobil itu sudah memasuki komplek perumahan rumah Ciara saat Ciara menoleh ke arah Nugi dan menghela napas berat. “Gi, hari aku nggak selamanya santai, atau nggak selama berat. Tapi beneran, deh, hari ini aku ngantuk banget. Aku capek. Aku cuma mau istirahat di rumah.” Jelas Ciara, “ini nggak ada hubungannya sama Bara, jadi jangan sangkut pautin dia.” Pinta gadis itu. “Tapi memang kamu kayak gitu, Ra. Kamu aja yang mungkin nggak sadar.” Balas Nugi. “jangan mentang-mentang aku selalu ngalah dan Bara selalu maksa, kamu jadi gini.” “Jadi gini gimana?” dahi Ciara berkerut dalam. “Pilih kasih.” Tandas Nugi. Kalau tahu akan seperti ini akhirnya, Ciara akan memilih pulang sendiri. Tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah. Ia tidak pernah ingin berdebat lagi dengan laki- laki itu, dengan topik yang selalu sama… Bara. Mobil Nugi berhenti di seberang rumah Ciara. “Lihat, Ra. Bara ada di rumah kamu.” Kata Nugi dengan nada puas dan berpikir mungkin semesta membantunya kali ini. “kamu yakin mau tidur dan istirahat saat Bara ada di rumah kamu?” keduanya menatap mobil Bara yang terparkir di depan rumahnya. Ciara membuka sabuk pengaman dan menatap Nugi. “aku nggak tahu sejak kapan dia ada di sana. Tapi yang jelas, dia ke sana bukan mau ketemu aku. Mungkin mau ketemu ibu. Ada atau nggak ada dia, aku akan tetap tidur. Aku butuh istirahat. Kamu boleh ikut masuk kalau ngga yakin.” Ciara sudah tidak tahu bagaimana lagi meyakinkan laki-laki itu. Ia sudah tak punya tenaga untuk meladeni semua kecurigaan Nugi yang tak berdasar. Ia tahu bahwa Nugi akan selalu melemparkan prasangka padanya jika Bara masih ada di sekitarnya. Namun ia harus bagaimana. Ia tidak mungkin menutup pintu rumahnya jika Bara datang ke sana untuk bertemu ibunya. Bara bahkan sudah berjanji padanya akan menjaga sikap jika ada Nugi. Ia tahu sampai kapanpun, hal itu tidak akan pernah bisa membuat Nugi puas. “Makasih…” kata Ciara, lalu ia membuka pintu dan keluar dari mobil. Ia menatap Ciara yang berjalan pelan menajuhi mobilnya. Sebelah tangannya terangkat lalu ia memukul setir mobilnya keras-keras. Seharusnya malam itu ia membuat Bara babak belur. Seharusnya ia memperingati laki-laki itu untuk tak menemui Ciara lagi, termasuk di rumahnya. Ia kesal pada diri sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa. Ciara mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumahnya yang pintunya terbuka lebar. Di ruang tamu, ia hanya melihat Bara yang sedang berkutat dengan laptopnya di atas meja. Laki- laki itu duduk di lantai dengan beberapa modul di sebelah laptopnya. “Ibu mana?” Ciara bertanya saat ia menjatuhkan dirinya di sofa di belakang Bara. “Lagi ke warung. Lagi masak, garamnya habis.” Jawab Bara. Ia menoleh dan melihat Ciara sudah memejamkan matanya. Ia menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Wajah gadis itu terlihat lelah, sangat lelah. Sebelah tangan Bara baru hendak mengusap pipi Ciara saat ia mendengar suara derap langkah mendekat. Ia menurunkan kembali tangannya dan tak lama melihat Dewi masuk dengan satu kantong plastik di tangannya. “Ciara udah pulang.” Kata Dewi. Suara itu membuat kedua kelopak mata Ciara terbuka. Ia bangun dari posisi tidurnya dan mencium punggung telapak tangan ibunya. “Ciara tidur dulu, ya, Bu. Ngantuk. Capek banget.” Ciara berdiri, ia mengambil ranselnya dan masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya dan membalas dendam atas jam tidurnya yang tak sempat ia nikmati semalam. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN