CHAPTER TIGA PULUH DUA

1925 Kata
Bara masuk ke dalam rumah dan melihat Mahesa yang sedang duduk di ruang tamu. Laki-laki itu sedang duduk di lantai dengan laptop yang terbuka di depannya. Di atas meja, ada beberapa bekas kaleng minuman.            “Lo baru pulang jam segini?” Mahesa menatap jam dinding di ruangan itu saat Bara duduk di sofa kosong di depannya.            “Gue habis dari rumah Ciara.” jawab laki-laki itu sambil membuka kedua sepatu yang menyelimuti kakinya.            Mulut Mahesa membulat, namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia ingat selelah apa wajah Ciara saat mereka bertemu tadi sore di rumah sakit.            “Gue ngerjain tugas di sana. Memang biasa. Ciara, mah, pulang langsung tidur. Capek banget kayaknya dia.”            Mahesa kembali mengangguk pelan. “Lo udah nggak sama Ayra?” Mahesa bertanya.            Bara tersenyum miris. Ia meneliti meja dan mengambil satu minuman kaleng yang masih utuh di atas meja dan membukanya. “sejak kapan gue sama dia? Gue yang ngejar-ngejar dia, kali. Dari dulu belum berubah itu statusnya.” Bara tertawa kecil lalu menyesap isi kaleng.            “Iya, maksud gue begitu. Lo udah nggak ngejar-ngejar Ayra lagi?” Mahesa menatap Bara dengan penuh minat. Melihat bagaimana sikap Bara, ia tahu bahwa laki-laki itu tidak pernah akan melepaskan sesuatu yang sangat ia inginkan.            Bara menggeleng. “nyerah gue.”            “Nyerah?” Mahesa mengulang kata yang keluar dari mulut Bara.            “Makin lama gue dekat sama dia, bukannya dia makin suka, malah makin benci.” Bara bercerita, “gue udah nggak sanggup nanggung lebih banyak sakit hati.” Bara tersenyum miris. “jadi, ya, gue lepasin aja.”            “Yakin, bisa? Atau cuma berhenti sebentar aja?” Mahesa meragukan keputusan laki-laki itu.            “Yakin.” Kata Bara tanpa berpikir. Mahesa akan melihat kesungguhan dalam tatapan matanya. “gue kayaknya lagi suka sama perempuan.” Tambahnya.            “Siapa?” kedua mata Mahesa melebar dengan penasaran.            “Ada, deh. Gue masih belum yakin, sih.” Bara menatap Mahesa yang terdiam, “lo sendiri sama Ciara gimana?” Bara bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.            “Gimana apanya?” Mahesa memperjelas pertanyaan Bara yang jelas membuatnya bingung.            “Ya… lo mau nunggu Ciara putus sama Nugi atau gimana?”            Mahesa tak menyangka Bara akan menanyakan itu secara terang-terangan. Ia terdiam. Bingung menjawabnya karena memang ia tidak memiliki rencana. Rencananya jelas sudah hancur saat ia tahu hati Ciara sudah tertambat pada laki-laki lain. Sejak saat itu, ia tidak pernah kembali menyusun rencana. Ia tidak pernah lagi memikirkan apa yang akan ia lakukan pada gadis itu, atau untuk kembali mendapatkan hatinya. Ia hanya mengikuti alur. Ia ingin menikmati kembali pertemuannya kembali dengan Ciara.            “Gue nyantai aja. Lagian dia udah sama Nugi. Gue bisa apa.” Mahesa tampak putus asa. Namun ia tahu tak ada yang bisa ia sembunyikan dari adik tirinya. Ia memang menyedihkan, semua orang tahu itu.            “Yaelah, Nugi doang. Bikin putus aja mereka berdua. Udah nggak cocok juga.” Kata Bara tak berperasaan.            “Jangan gitu.”            Bara tertawa, “mereka berdua, tuh, udah berantem mulu.” Bara memberitahu. “Ciara bertahan, kan, karena terpaksa aja.”            “Terpaksa?”            “Gue tahu banget kalau Ciara nggak benar-benar suka sama Nugi.” Bara berdiri dari duduknya. “gue tidur duluan.”            Mahesa terdiam, ia masih menatap punggung Bara yang menaiki tangga hingga menghilang dibaliknya.            Kata-kata Bara terasa seperti angin segar. Bolehkan ia merasa senang mendengar itu. Selama pertemuannya kembali dengan Ciara, ia tidak pernah bisa membaca perasaan gadis itu. Gadis itu memang terlihat menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Namun itu tak bisa menjelaskan apakah gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Sejak mengetahui bahwa Ciara sudah memiliki pacar, Mahesa tidak benar-benar menyerah, namun juga tidak beharap terlalu banyak.            Nugi punya semua yang diimpikan oleh seorang gadis. Tampang, status sosial, juga pendidikan. Ia selalu berpikir bahwa Ciara pasti bahagia. Setelah ia meninggalkan gadis itu dan mungkin juga meninggalkan luka, ia tahu bahwa Nugi mungkin adalah pasangan yang cocok untuk gadis itu.            Tak seperti Bara yang berani mengambil resiko untuk membuat Ciara berada di situasi sulit, Mahesa tak seberani itu. Setelah empat tahun pergi tanpa kepastian, ia jelas tak ingin datang hanya untuk membuat Ciara kesulitan. Ia lebih membiarkan semua mengalir apa adanya. Ia tidak pernah ingin merebut Ciara dari Nugi meski dorongan itu datang berkali-kali dan sangat kuat. Sekali lagi, ia merasa tidak berhak pergi begitu saja dan kembali hanya untuk membuat keadaan Ciara semakin rumit.            Bisakan ia percaya pada omongan Bara barusan? Bisakah ia berharap bahwa Ciara sedikit saja, memiliki perasaan padanya. ***            Ruangan itu temaram. Ayra menatap langit-langit kamarnya dan termenung sejenak. Kepalanya menoleh dan menatap ponselnya yang tergeletak di atas nakas dengan tenang. Entah sejak kapan, ia kerap merindukan denting berderet yang masuk ke ponselnya. Entah sejak kapan, ia kerap menunggu pesan dari Bara. Entah sejak kapan, dia mulai kebingungan dengan dirinya sendiri.            Dulu, ia selalu merasa bahwa semua pesan yang dikirim Bara sangat menganggunya. Ia benci hanya dengan melihat nama itu di pop up pesannya. Namun sekarang, ia merasa kosong. Ia merasakan kekosongan yang membuatnya yang hanya kehilangan Bara, seperti kehilangan banyak hal.            Ia ingat bahwa mereka nyaris ketemu bertemu setiap hari. Sesibuk apapun laki-laki itu di kampus, Bara selalu menyempatkan diri menemuinya. Kini, hari-harinya tampak kosong tanpa kehadiran laki-laki itu. Ia merasakan ada rongga besar pada hatinya yang membuatnya kerap terasa kesepian.            Ia telah melakukan banyak hal untuk menutup rongga besar itu. Ia menghabiskan waktu di kampusnya lebih banyak. Ia mengerjakan tugas-tugasnya hingga malam. Pergi bersama teman-temannya lebih sering. Namun ia tak berhasil. Ia tidak berhasil mengenyahkan perasaannya itu. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia merindukan laki-laki itu. Ia menggeleng cepat. Awalnya, ia hanya berpikir bahwa ia terus teringat karena ia belum berterima kasih pada Bara. Menurutnya, hal itu yang mungkin menciptakan rongga besar itu.            Ia menggeser tubuhnya dan mengambil benda pipih di atas nakas. Dengan ibu jarinya, ia mengetuk-ngetuk layar hingga memunculkan beranda instagramnya. Ia mencari akun Bara dan membukanya. Tak banyak yang bisa ia temukan di akun itu karena laki-laki itu memang bukan tipe yang suka eksis dan memajang foto selfie. Hanya ada sedikit potret laki- laki itu di sana. Sisanya, hanya foto pemandangan, jalan dan Ciara.            Ia menatap foto Ciara baik-baik. Gadis itu tersenyum lebar dengan snelli yang melapisi kemeja hitamnya. Ia menggeser foto itu dan kini melihat potret keduanya. Dalam foto itu, Bara merangkul pundak Ciara dengan posesif. Tubuh keduanya sangat dekat. Ia kembali menscroll layar dan kini menemukan kembali foto Ciara dalam balutan kebaya dan toga. Foto itu pasti diambil saat gadis itu wisuda. Kali itu, mereka tak hanya sendiri. Seorang wanita yang ia kira ibu Ciara ada di antara. Dalam satu foto, Bara ada di tengah dan memakai toga milik Ciara. Kembali, Bara merangkul keduanya dan tersenyum lebar ke arah kamera.            Ayra menggeleng pelan. Ia mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba datang. Ia memutuskan untuk menutup media sosial itu dan kembali menaruh gawainya di atas nakas. Ia menarik selimut hingga ke pinggangnya dan mencoba terlelap. ***            Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam saat Kamal dan Dila masih asik mengobrol di beranda rumah gadis itu. Tak peduli mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol, keduanya tidak pernah benar-benar kehabisan bahan obrolan. Mereka bisa membicarakan banyak hal. Mulai dari perkara remeh temeh hingga topik-topik besar dan serius.            Kamal tahu ia mungkin telah menemukan orang tepat. Seharusnya ia tidak perlu lagi berpikir panjang. Namun, gadis itu tampak tenang dan tidak pernah menuntutnya. Gadis itu tidak pernah menanyakan status hubungan keduanya. Tak seperti gadis lain yang kerap menuntut, padahal mereka baru berkenalan seminggu.            Dila memposisikan dirinya dengan sangat tepat. Dekat namun tetap memberi jarak. Dila tidak pernah cemburu saat Kamal harus pergi tiba-tiba karena Lara membutuhkannya. Dila tak pernah mengomel karena Kamal tak menepati janjinya yang lagi-lagi karena Lara. Dila tak pernah bertanya siapa yang lebih penting, ia atau Lara dan memintanya memilih salah satu. Gadis itu tidak pernah melakukan hal-hal menyebalkan seperti itu. Atau gadis itu hanya tidak pernah mengungkapkannya. Ia tidak pernah tahu.            Dila seperti kepingan puzzle yang selama ini ia cari meski ia masih tidak bisa memastikan perasaannya. Tidak, ia tahu jelas perasaannya. Sampai saat ini, perasaannya tidak pernah berubah sama sekali.            “Dil, pacaran, yuk.” Kata laki-laki itu tiba-tiba.            Dila yang sedang meminum air putih dalam gelasnya tersedak. Gadis itu terbatuk dan menepuk-nepuk dadanya.            “Lo nggak apa-apa?” Kamal tampak panik. Lalu melihat Dila menggeleng dan mulai bisa tenang.            “Lo bilang apa barusan?” gadis itu memastikan bahwa ia tidak salah dengar.            Kamal terdiam sebentar hingga akhirnya mengulang kembali penawarannya.            Dila tersenyum. Ia menandaskan isi gelasnya yang tinggal sedikit.            “Kenapa?” gadis itu bertanya.            “Kenapa?” Kamal mengulang, kebingungan.            “Ya… kenapa lo tiba-tiba ngajak pacaran?” Dila memperjelas pertanyaannya.            Kerutan di dahi Kamal semakin dalam. Ia menjilat bibir bawahnya dan kini menekan otaknya, mencoba mencari jawaban.            “Ya… kayaknya gue suka sama lo.” Setelah sekuat tenaga berpikir, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Ia tahu bahwa itu bukan jawaban terbaik yang bisa ia berikan. Ia seharusnya menambahkan sedikit pujian mengenai pribadi gadis itu yang menyenangkan.            “Kayaknya?” Dila mengulang satu kata dalam kalimat Kamal.            “Eh...” Kamal baru sadar ada yang salah dalam jawabannya, “bukan gitu. Gue ngerasa kita cocok aja. Gue nyaman sama lo.” Jelasnya.            Dila mengulas senyum tipis. Bingung bagaimana harus merespon perkataan laki-laki di depannya.            “Gimana?” tuntut Kamal. Ia terdiam saat melihat Dila menggeleng pelan. “kenapa?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Setelah berpikir panjang dan memberanikan diri memberikan status pada gadis itu, ia tidak menyangka jika dirinya ditolak. Ia pikir ia sudah begitu lihai membaca sikap dan sinyal yang gadis itu berikan. Ia pikir gadis itu menyukainya. Ia tidak mengerti setelah semua yang mereka lewati, gadis itu malah menolaknya.            “Harusnya aku yang tanya, kenapa?” ujar Dila. Kamal semakin kebingungan. Tiba-tiba ia seperti i***t yang mendengar Dila mengucapkan bahasa alien yang tidak bisa ia mengerti.            Dila menghela napas. “kenapa kamu ngajak aku pacaran saat kamu nggak punya perasaan sama aku.” Dila mulai menguraikan maksudnya.            “Aku suka sama kamu. Jelas. Kamu baik, menyenangkan dan bisa jadi teman mengobrol yang asik.” Katanya gadi itu lagi, “tapi secinta apapun aku sama kamu, aku nggak mau jadi pelarian.” Tambahnya.            “Kamu nggak bisa nyembunyiin kenyataan kalau kamu suka sama Lara, dan aku cuma selingan yang mungkin aja bisa buat kamu ngelupaian dia.”            Tiba-tiba saja Kamal ingin menyembunyikan wajahnya di bawah meja. Ia harusnya tahu bahwa Dila cukup peka dan bukan gadis bodoh yang bisa dibohongi. Ia tahu sikapnya pada Lara pasti bisa langsung dipastikan gadis itu.            Baru saja, Kamal merasa menjadi orang yang begitu jahat. Ia tahu semua pemikiran gadis itu ada benarnya dan ia baru saja menyakiti gadis itu saat mengajaknya berpacaran sedangkan perasaannya masih tertambat pada gadis lain.            “Dil… sorry…” Kamal tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tahu kata maaf saja tak akan pernah cukup. Gadis itu menyukainya dan ia tahu perbuatannya meninggalkan gadis itu tiba-tiba, membatalkan janji tiba-tiba hanya untuk Lara pasti sangat menyakitinya. Namun, kenapa gadis itu masih bisa tersenyum padanya. Seharusnya gadis itu menyiram wajahnya dengan air di dalam gelas saat ini. Oh, kedua gelas di atas meja sudah kosong, gadis itu mungkin bisa memarahinya ataupun memakinya. Ia akan menerimanya karena ia pantas mendapatkannya.            Kini, dengan tidak tahu malunya, ia menawarkan sebuah hubungan pada gadis itu. Sebuah hubungan yang mungkin tidak akan ada artinya. Sebuah status yang tidak akan pernah mengubah prioritasnya… Lara. Jika Dila menerimanya dan ia tetap meletakkan Lara pada punya prioritasnya, ia tidak bisa membayangkan berapa banyak ia menyakiti gadis itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN