Sudah lebih dari seminggu Ciara dan Nugi berbaikan, tapi sudah seminggu juga hubungan keduanya tidak benar-benar membaik. Keduanya masih kerap bersitegang jika menyangkut Bara. Sepertinya kebencian Nugi pada Bara sudah mengakar dan laki-laki itu akan tetap kesal saat Bara hanya bernapas di depannya.
Terkadang, Ciara hanya mendengarkan unek-unek laki-laki itu, sampai pada prasangka laki-laki itu bahwa Bara menyukainya. Ciara menelan semua kata-kata laki-laki itu mentah-mentah. Ia tahu tidak ada yang bisa meredakan laki-laki itu jika Bara belum hilang dari muka bumi ini. Ciara mati-matian mengenyahkan rasa tak nyamannya.
Nugi sudah tidak percaya padanya, juga Bara. Sehingga Ciara merasa bahwa tak ada yang perlu ia lakukan untuk laki-laki itu. Toh, laki-laki itu akan tetap mengomel meski ia sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan Bara. Ia tidak lagi menjaga jarak dari Bara. Ia tidak lagi menolak jika laki-laki itu mengajaknya keluar, meski hanya untuk makan ataupun jalan sambil mengobrol. Nugi jelas tak tahu. Ciara terpaksa berbohong agar tidak bertengkar dengan Nugi, dan itu sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari.
Ia tahu bukan hubungan seperti ini yang ingin ia miliki dengan laki-laki itu. Ini adalah kali pertama Ciara berpacaran dan ia tidak menyangka bahwa ini yang akan ia temukan dalam hubungan yang pikir akan sedikit menyenangkan. Jujur, hubungan keduanya saat masih berteman jelas lebih sehat. Tak ada Nugi yang posesif ataupun cemburuan. Ciara terasa dipaksa masuk dan menerima semuanya.
“Besok nonton, yuk.” Bara menoleh pada Ciara yang masih fokus pada es krim di tangannya.
“Lo tahu, kan, Bar, tiap gue jalan sama lo, gue pasti bohong sama Nugi.” Kata Ciara. Ia tak menatap ke arah lawan bicaranya, namun menatap hamparan rumput di depannya. Keduanya sedang berada di taman perumahan Ciara yang hari itu tak begitu ramai. Bara baru saja menjemputnya di rumah sakit.
Ciara tak memungkiri bahwa ia juga merasa bersalah. Tak peduli ia selalu berpikir bahwa Nugi lah yang membuatnya terpaksa berbohong, ia tetap kerap merasa bersalah. Ciara beralih menatap sepasang sepatu sneakers yang menyelimuti kakinya.
“Terus gimana? Salah gue lagi? lo kan, tahu, gue napas di depan dia aja pasti dia kesel. Padahal gue nggak ngapa-ngapain. Masalahnya di dia, Ra.” Kata Bara. Ia melihat gadis di depannya mengengguk dan kembali menjilat es krimnya.
“Gue capek, Bar.” Lirih Ciara. “kegiatan gue udah banyak, gue sibuk setiap hari, dan masih harus ngadepin sikapnya Nugi yang berlebihan.” Tambahnya.
Bara menggeser duduknya lebih dekat lalu mengusap bahu gadis itu pelan.
Bukan sekali dua kali Nugi memberondongnya dengan pesan dan telepon kalau ia tidak cepat membalasnya ataupun mengangkat panggilannya. Bukan sekali dua kali Nugi memintanya mengirimkan foto di mana ia berada, hanya untuk membuktikan bahwa Ciara tak berbohong. Meski pada akhirnya, ia satu langkah lebih unggul dan beruntung karena bisa berkilah. Hal yang sama sekali tidak percaya bisa ia lakukan.
Bara mengambil alih es krim di tangan Ciara yang hampir mencair dan memakannya, tidak peduli sebelumnya ia sudah menghabiskan dua bungkus yang sama seperti milik Ciara.
“Udah, lah. Nyerah aja. Hubungan lo berdua itu udah nggak sehat.” Kata Bara sambil membuang bungkus es yang baru saja ia habiskan di tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatnya.
“Lo masih nggak mau jujur kalau lo nggak benar-benar suka sama Nugi? Gue tahu, Ra. Lo nggak akan bisa bohong sama gue.”
“Jadi gue harus gimana?” Ciara bertanya dan terdengar putus asa.
“Putus.” Tuntut Bara.
Ciara menoleh dan melihat laki-laki di sebelahnya tersenyum lebar.
“Terserah lo, deh. Gue nggak mau ikut campur. Lo pasti yang lebih tahu mana yang terbaik.” Kata Bara lagi. Bara tahu ia terdengar bijak. Tapi ia bersumpah bahwa lidahnya terasa gatal saat mengatakan itu. Itu sama sekali bukan dirinya. Ada kalimat yang lebih ingin ia ucapkan pada gadis itu. Putus aja. Lo kan nggak cinta juga. Hidup lo malah makin ribet semenjak pacaran sama Nugi. Kalimat itu tertahan diujung lidahnya. Tak hanya Ciara yang sepertinya sudah bosan bertengkar dengan Nugi, tapi dirinya juga. Ia ingin hubungannya kembali seperti dulu sebelum Nugi hadir di tengah-tengah mereka, sampai akhirnya mereka berpacaran. Ia telah menahan segala amarahnya pada Nugi demi Ciara. Ia bahkan membiarkan Nugi memukulnya dan ia tak membalas. Ia pikir ia sudah cukup menekan segala egonya demi Nugi yang ia tahu tidak pernah berniat berdamai dengan dirinya.
“Gue bilangnya harus gimana? Biar nggak terlalu nyakitin banget?” Ciara bertanya karena sama sekali tak punya pengalaman tentang ini. Jauh dilubuk hatinya, ia masih selalu bilang bahwa ia tidak ingin menyakiti laki-laki itu.
Kekehan pelan di sampingnya membuatnya menoleh, “halus atau kasar, to the poin atau bertele-tele, sakitnya akan tetap sama.” Ujar Bara. Ia melihat gadis itu menautkan kedua jari-jarinya. “perlu gue wakilin?” tawarnya. Yang jelas langsung dibalas gelengan cepat oleh Ciara. Ini adalah masalahnya dan ia tidak ingin menyeret Bara kalau tidak mau keadaan semakin rumit.
Namun Ciara masih terus berpikir, haruskan ia mengambil keputusan itu? Apakah keputusan itu memang karena sifat-sifat Nugi yang akhir-akhir ini sulit diterimanya? Atau karena ia tengah mempertimbangkan perasaannya pada laki-laki lain? Ciara tidak dapat menemukan jawabannya.
Selama seminggu belakang ini, ia mulai intens berkomunikasi dengan Mahesa melalui pesan. Tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka hanya bercerita tentang apa yang mereka lakukan hari itu dan hal-hal umum lainnya. Ia tidak mau munafik bahwa ia senang. Ia senang kembali bisa menjalin komunikasi yang baik dan intens dengan laki-laki itu meski sepertinya tidak ada yang spesial dari pembicaraan mereka. Tak seperti Bara yang cenderung cuek dan seenaknya, Mahesa menempatkan diri di tempat yang seharusnya. Tak berusaha mendekat namun tak juga menjauh. Selama beberapa hari terakhir, keduanya tampak asik mengenang masa putih abu-abu mereka, yang akhirnya kerap membuat hati Ciara menghangat.
Bara mengambil sebelah tangan Ciara, memisahkan dengan tangan lainnya yang semula saling bertaut. Ia menatapnya dan menggenggamnya erat. Entah sejak kapan, ia merasa tangan gadis itu terasa pas dalam genggamannya. Bara tahu sebesar apa ia menyayangi Ciara. Gadis itu sudah seperti kakaknya sendiri. Tak hanya dengan Nugi, ia mungkin tak akan rela gadis itu berpacaran dengan laki-laki lain, yang berpontensi membuat hubungan keduanya merenggang. Ia tak menginginkan banyak, ia hanya ingin gadis itu selalu ada di sampingnya, seperti ini.
***
“Ay, Bara, Ay…” Ayra sedang berada di taman kampus saat mendengar itu dari salah satu temannya. Ia langsung menoleh dan melemparkan pandangan ke arah Bara yang sedang berjalan bersama beberapa temannya dan duduk di salah satu sisi taman yang kosong. Laki-laki itu memakai kemeja berwarna merah marun yang sangat cocok di kulitnya. Laki-laki itu memakai topi dengan ransel yang menggantung di sebelah bahunya.
Tatapan mereka sempat bertemu selama beberapa detik. Laki-laki itu menatapnya tanpa ekspresi lalu memutus kontak dengan cepat. Sepertinya laki-laki itu memang tak ingin menatapnya lama-lama.
Ayra mengembalikan padangannya pada modul yang ada di tangannya.
“Lo sama Bara kenapa?” salah satu temannya bertanya, dua teman lainnya mengangguk dan tampak penasaran. Ia tahu bahwa kedekatannya dengan Bara meski tanpa status sudah menjadi konsumsi publik. Tak sedikit yang mengira keduanya berpacaran. Namun saat ada yang bertanya, Ayra menjelaskan bahwa ia dan laki-laki itu hanya berteman dan tak ada hubungan apapun.
“Nggak apa-apa.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia tahu bahwa sekarang, ia pasti terlihat sangat menyedihkan. Belum lama ini, laki-laki itu selalu berlari ke arahnya dengan senyum menawan yang mampu membuat orang di sekeliling menoleh dua kali. Laki-laki itu selalu mendatanginya dengan cokelat ataupun bunga. Laki-laki itu selalu merajai kotak pesannya dengan perhatian melimpah meski jarang ia balas. Laki-laki itu suka mengusap pucuk kepalanya, ataupun menggandeng tangannya dengan paksa.
Kini, jangankan melakukan semua itu, menatapnya lama-lamapun sepertinya laki-laki itu enggan.
“Lo berantem? Atau gimana? Kok kayaknya dia cuek banget.” Salah satu temannya kembali bertanya. Ketiga pasang mata di depannya tampak penasaran dengan tatapan yang terasa menelanjanginya.
“Masih mending kalau cuek, ini kayak orang nggak kenal.” Gadis berambut pendek di depannya menimpali.
Ayra menggeleng, meminta teman-temannya untuk mengembalikan fokus pada tugas kelompok yang sedang mereka kerjakan.
Mungkin ini memang keinginan Bara. Ini adalah balas dendam terbaik laki-laki itu. Dari tempatnya, mungkin kini laki-laki itu sedang menertawakannya. Laki-laki itu pasti senang bisa membalas semua perbuatannya dulu. Laki-laki itu melakukannya dengan sangat baik dan tepat sasaran.
Bara menatap punggung Ayra yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Gadis itu sedang duduk bersama tiga orang temannya dan tampak asik berbincang-bincang. Ia telah memikirkan ini sejak memutuskan untuk melepaskan gadis itu. Apakahnya sikapnya keterlaluan? Apakah gadis itu sakit hati atas sikap dinginnya? Apakah gadis itu kini bahagia setelah ia melepaskannya?
Ada banyak pertanyaannya yang kerap hadir di pikirannya, yang sampai saat ini tak bisa ia temui jawabannya. Ia tidak pernah ingin menyakiti gadis itu. Namun ia juga tak ingin lagi mengharapkan apapun. Satu-satu cara untuk tak lagi berharap adalah memutus total hubungan keduanya. Ia sudah memikirkan matang-matang dan ternyata itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Ia hanya perlu menjauh, berlaku seperti orang asing dan tak berusaha membuka obrolan basa-basi saat sengaja atau tak sengaja bertemu.
Ia tidak tahu kalau rasanya akan semudah ini. Ia tidak tahu kenapa ia bisa bertahan begitu lama di samping gadis itu dan berkali-kali menelan kecewa. Apakah karena kali ini ia sadar bahwa hatinya sudah tertambat pada gadis lain. Apakah memang semudah itu perasaannya berpaling? Ia membuang waktu bertahun-tahun untuk mengejar gadis itu karena ia sadar gadis itu cinta pertamanya dan ia menginginkannya. Namun semuanya seperti hilang tak bersisa saat ia sadar ada sosok lain dalam hatinya. Sosok yang entah sejak kapan ada di sudut hatinya. Berdiam diri dengan tenang dan tak memberikan sinyal apapun hingga akhirnya ia menyadarinya sendiri.
Ia masih di sana saat teman-temannya meninggalkannya untuk mengisi perut di kantin. Ia sudah mengembalikan fokusnya ke laptop dalam pangkuannya. Angin sore terasa sangat menenangkan. Matahari yang sudah mulai turun terasa sangat bersahabat sore itu.
Ia terdiam saat melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Ia mendongak dan melihat Ayra berdiri di depannya. Ia melempar pandangannya ke tempat semula gadis itu duduk dan tidak menemukan teman-temannya di sana.
“Aku boleh duduk di sini?” tanya Ayra. Bara tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Jika ingin melarikan diri, ia perlu waktu untuk merapikan modul-mudulnya juga mematikan laptopnya. Jika meminta gadis itu pergi, ia mungkin sudah sangat keterlaluan. Ia akhirnya membiarkan gadis itu duduk dan bersila di depannya.
Bara tampak tak terganggu dengan kedatangan Ayra. Ia tetap fokus pada tugas yang sedang ia kerjakan.
“Lagi sibuk?” Ayra berbasa-basi, atau lebih tepatnya mencoba mengulur waktu agar punya waktu untuk meredam detak jantungnya yang entah kenapa terasa menggila.
“Nggak juga.” Bara tak memecah fokusnya. Kedua tangannya masih menari di atas papan ketik.
Ayra menjilat bibirnya. Ia tidak punya waktu untuk mundur. Ia sudah mati-matian memberanikan diri untuk mendatangi laki-laki itu dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya.
“Aku mau minta maaf…” lirih Ayra.
Bara terdiam sejenak, namun ia tidak melepaskan tatapannya dari komputer jinjing dalam pangkuannya. Dia bilang apa? Maaf? Setelah semua yang gadis itu lakukan padanya?
Bara masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu. Kali ini ia menengadahkan wajahnya untuk melihat Ayra yang tampak kebingungan.
“untuk semua sikap aku yang mungkin nyakitin kamu.” Kalimat itu keluar dari mulut Ayra.
Mungkin? Dia bilang mungkin? Setelah sekian banyak hal, gadis itu masih juga tak tahu bahwa gadis itu sudah menyakitinya sedemikian rupa. Saat ini, ia benar-benar ingin merutuki kebodohannya. Ia yang mungkin bodoh karena terlalu lama memilih bertahan saat gadis itu selalu memukulnya mundur. Gadis itu sepertinya tak sepenuhnya bersalah, sebagian adalah akibat ketololannya.
Bara mengangguk pelan, namun tak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Ia tahu bahwa gadis itu tak datang hanya untuk meminta maaf padanya.
Ayra berdehem, “aku juga mau bilang makasih.” Katanya. Tatapan keduanya bersirobok. “aku baru tahu kalau kamu salah satu orang yang berjasa atas maaf yang Lara kasih buat aku.”
Bara terdiam. Ia sama sekali tidak tahu kalau hal itu yang ingin dibicarakan gadis itu. Ia tidak pernah memberitahukan hal itu selain pada Kamal. Jadi sudah bisa dipastikan, gadis itu pasti tahu dari sahabat laki-lakinya itu. Gadis itu tidak seharusnya berterima kasih. Ia hanya berusaha untuk menepati janjinya.
“Sama-sama.” Kalimat itu keluar dari mulutnya dengan susah payah karena keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Gadis itu sepertinya ingin mendengar jawabannya. Mungkin jawaban itu akan memuaskannya.
“Aku tahu aku nggak berhak minta ini dari kamu…” Ayra menggantungkan kalimatnya. “bisa nggak, kita jadi teman?”
Teman? Dia bilang teman? Setelah ia berhasil keluar dari bayang-bayang gadis itu, gadis itu meminta kembali menjadi teman? Tidak masuk akal. Akan lebih menyakitkan baginya jika mereka menjadi teman lalu perasaan itu kembali.
“Maaf… aku nggak bisa.”
Ayra menelan ludah namun tampak tak kaget mendengar jawaban itu. Setelah semua yang ia lakukan, wajah jika laki-laki itu tidak dapat mengabulkan permintaannya. Laki-laki itu sudah sangat sakit dengan semua yang telah ia lakukan. Dan mungkin, meminta laki-laki itu menjalin hubungan lebih baik hanya akan membuat laki-laki itu kembali membuka luka lamanya.
Tapi, ia hanya ingin memperbaiki semuanya. Ia tahu maaf saja tak akan bisa menyembuhkan banyaknya luka yang ia torehkan pada laki-laki itu. Ia ingin membasuhnya. Hingga laki-laki itu bisa menatapnya seperti saat laki-laki itu menatap Lara.
Bara dan Lara pernah berada dalam situasi yang begitu rumit saat SMA, dan kini bisa berteman dengan baik. Mengapa dengannya laki-laki itu tidak bisa?
“Kenapa?” ia tahu ia tidak berhak menanyakan itu. Tapi ia tidak bisa mengenyahkan rasa penasaran dalam hatinya yang terus meronta meminta jawaban. Sejahat itukan dirinya hingga laki-laki itu tidak perlu repot-repot mempertimbangkan permintaannya.
“Aku nggak punya alasan. Aku nggak mau aja.”
Jawaban macam apa itu? pikir Ayra. Laki-laki itu bahkan tak memiliki alasan yang bisa diberikan kepadanya. Atau mungkin ada alasan, namun akan terlalu menyakitkan untuk di dengarnya.
Bara menyorot penunjuk waktu di pergelangan tangannya. “aku duluan, ya. Ada kelas.” Bara buru-buru membereskan modulnya dan memasukkan laptop ke dalam tasnya setelah menyimpan tugas dan menekan tombol shut down. Ia pergi dari sana, meninggalkan Ayra yang masih terdiam.
Ayra merasakan angin dapat dengan mudah membuat tubuhnya limbung. Selama hidupnya, ia belum pernah merasa semenyedihkan ini. Laki-laki itu benar-benar sudah menutup pintu hatinya. Tak ada lagi cinta yang dulu laki-laki itu curahkan untuknya setiap hari. Tak ada kebaikan yang bisa ia tawarkan pada laki-laki itu. Laki-laki itu telah memutuskan dan tidak akan pernah mengubah keputusannya. Laki-laki itu mungkin bisa kembali satu kali, namun tidak untuk kedua kalinya.
TBC
LalunaKia