“Mahesa itu siapa, Ra?” tanya Nugi. Ia masih sibuk menscroll layar di tangannya. “Teman aku. Anaknya dokter Irawan. Yang beberapa kali ketemu kamu itu.” jelas Ciara. “Oh.” Nugi mengangguk. Mengingat laki-laki yang sempat beberapa kali ditemuinya di rumah sakit. Ciara menghela napas dan menatap ke arah Nugi yang duduk di belakang kemudi, tepat di sebelahnya. Ibu jari laki-laki itu sibuk menscroll layar gawainya. Ya, gawainya. Laki-laki itu sedang melakukan sidak dan mengecek semua isi ponselnya. Awalnya ia menolak. Baginya, ponsel adalah salah satu barang privacynya. Yang ia sendiri bahkan tak pernah ingin tahu apa saja isi ponsel laki-laki itu. Tapi laagi-lagi Nugi bersikukuh. Laki-laki itu bilang bahwa tak perlu ada ditakutkan kalau mema

