Bara menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Ciara. Ia menoleh dan melihat Ciara yang juga sedang menatapnya.
“Lo langsung pulang aja.” Kata Ciara sambil buru- buru melepas safety beltnya. Sebelah tangannya sudah hendak membuka pintu saat sebelah tangan Bara menahannya.
“Lo tunggu sini aja dulu. Biar gue yang ngomong sama Nugi.” Kata Bara. Ia jelas tak akan membiarkan Ciara dalam masalah. Kalau laki- laki itu ingin marah, laki- laki itu harus melampiaskan padanya.
Keduanya menatap Nugi yang berdiri di badan motornya, tepat di depan rumah Ciara. Laki- laki itu menatap Nugi yang menatap ke arah mobil itu dengan tatapan dingin.
“Nggak… nggak. Lo pulang sekarang. Gue sama Nugi bakal baik- baik aja.” Ciara mencoba meyakinkan Bara bahwa ia akan baik- baik saja.
“Gue akan pastikan.” Kata Bara. Ia keluar dari mobil dan langusng berjalan mendekati Nugi.
Ciara berdecak. Ia membuka pintu lalu mengekori Bara yang sudah berjalan lebih dahulu. Ia melangkah cepat- cepat agar bisa mensejajarkan langkah kakinya.
“Kamu dari mana?” tanya Nugi dengan nada dingin saat mereka berdua sampai di depannya.
Ciara menjilat bibir bawahnya. Sebelum Bara mengiriminya pesan dan mengajaknya pergi, ia bilang pada Nugi bahwa ia akan langsung pulang setelah jam tugasnya berakhir. Ia tidak memberitahu bahwa ia pergi menonton dengan Bara, juga mampir ke rumahnya untuk makan malam. Ciara salah. Ia sadar ia salah dan ia siap menerima amarah laki- laki itu. Baru tadi pagi ia berjanji pada Nugi bahwa ia akan menjaga jarak dari Bara, namun belum ada satu hari, ia sudah mengingkari janjinya.
“Gue tadi tadi minta temenin dia.” Bara yang menjawab. Kali ini ia berbicara dengan nada pelan. Ia telah berjanji pada Ciara untuk tak lagi membuat gadis itu dalam masalah dengan Nugi. Ia akan menepati janjinya. Ia tidak punya pembelaan apapun.
“Gue nanya Ciara, bukan elo.” Kata Nugi. Ia menatap Ciara yang tampak kebingungan menjawab pertanyaannya. “jawab, Ra!!!” Nugi menyentak, membuat Ciara terlonjak kaget. Ia menelan ludah menatap raut wajah Nugi yang tampak marah. Wajah laki- laki itu memerah dengan d**a yang naik turun karena menahan emosinya. Ia tidak pernah melihat Nugi seperti ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat laki- laki itu marah dan itu membuatnya kaget.
“Gi… maaf.” Ciara melirih.
“Kamu bukannya udah janji mau jauhin Bara!!!” lagi, Nugi menyentak dengan nada kasar.
Bara menarik tangan Ciara dan membawa ke belakang tubuhnya. “kalau lo mau marah, marah sama gue.” kata Bara.
“Gue cuma buang- buang tenaga kalau marah sama manusia bebal kayak lo.” Kata Nugi dengan tatapan tajam.
“Tapi lo nggak bisa marah- marah sama Ciara kayak gitu.” Bara menatap Nugi dengan tak kalah tajam. Ia tahu ini kesalahannya dan ia tak suka laki- laki di depannya melampiaskannya pada Ciara. Ia tidak suka laki- laki itu membentak Ciara seperti itu.
Nugi menghela napas kasar. Ia melihat Ciara yang menatapnya dari balik tubuh tegap Bara. Gadis itu pasti kaget karena ia membentaknya.
“Ra… maafin aku.” Kata Nugi akhirnya. Namun Ciara bergeming. Nugi sudah mengulurkan tangannya, namun tak juga tersambut. Gadis itu lebih memilih bersembunyi di balik tubuh Bara dengan sebelah tangan yang memegangi ujung kemeja laki- laki itu.
Bara membalik badan dan manaruh kedua tangannya di pundak gadis itu. “lo masuk, ya.” kata Bara pada Ciara yang langsung mengangguk. Sebelah tangan Bara menghela Ciara untuk masuk ke gerbang rumahnya.
“Kita belum selesai bicara, Ra.” Kata Nugi dengan nada sedikit kencang. Nugi melangkah dan menarik tangan gadis itu agar berhenti.
Bara berdecak, ia mencengkeram tangan Nugi dan meminta laki- laki itu membiarkan Ciara masuk ke dalam rumah. Ia sekali lagi bilang bahwa masalah laki- laki itu adalah dengannya. Ia meminta dengan sangat pada Nugi untuk membiarkan Ciara beristirahat.
“Jangan ikut campur, bangsat.” Nugi menarik tangannya hingga cengkaramn Bara terlepas dan memukul wajah laki- laki itu.
Bara mundur beberapa langkah dan memegang sudut bibirnya yang terasa nyeri.
“Nugi…” Ciara membentak dan menghampiri Bara yang meringis kesakitan. “lo nggak apa- apa?” tanyanya pada Bara yang mengangguk.
“Gi, kamu kenapa sih? Kamu udah keterlaluan tahu, nggak?” kata Ciara.
Nugi berdecak. Ia melihat Ciara dengan raut wajah marahanya. Setelah semua yang terjadi, gadis itu kini tetap membela Bara.
“Kamu masih belain dia?” katanya.
“Bukan belain. Tapi kamu salah kalau sampai main pukul gini.” Kata Ciara lagi. Ia melihat laki- laki di depannya mengacak rambutnya frustrasi.
“Aku minta kamu pulang sekarang.” Kata Ciara akhirnya.
“Ra…”
“Please, Gi…” kata Ciara dengan nada memohon.
Nugi menghela napas kasar. Ia kembali ke motornya dan pergi dari hadapan keduanya dengan kendaraan roda duanya. Suara mesin menderu begitu kencang saat motor Nugi melaju meninggalkan keduanya.
“Sakit?” Ciara bertanya sambil menatap Bara yang tampak kesakitan.
“Puas banget tuh Nugi. Akhirnya bisa mukul gue.” kata Bara sambil meringis.
Bara menggerakkan mulutnya lalu meringis kesakitan. “Aawww…” keluhnya. “gue udah lama nggak berantem kali, ya. Dipukul gini aja terasa sakit banget.” Kata Bara.
Ciara mengambil dagu Bara dengan tangannya dan melihat luka di sudut bibir laki- laki itu. Meski tak berdarah, ia tahu luka itu akan membengkak dan membiru.
“Kompres dulu, yuk.” Kata Ciara.
Bara menatap Ciara yang tampak meneliti sudut bibirnya dengan raut wajah cemas. Ia menggeleng. “Nggak apa- apa. Nanti gue kompres di rumah aja. Lo masuk sana. Istirahat.” Katanya pada Ciara yang langsung menatapnya penuh selidik.
“Jiwa rusuh lo nggak berontak, habis dipukul gini?” tanya Ciara sambil tersenyum kecil. Ia tahu laki- laki itu sudah berubah. Dan kini ia percaya. Dulu saat Bara dipukul sekali, ia mungkin akan membalasnya berkali- kali.
Bara terkekeh pelan. “hebat, kan, gue.” katanya dengan nada jumawa. “lo pasti sekarang percaya kalau gue udah beneran berubah.” Katanya lagi. Ia melihat gadis di depannya mengangguk dan mengangkat dua ibu jarinya.
“Udah, lo masuk sana. Istirahat. Besok pasti hari lo bakal lebih berat.” Kata Bara, “kalau Nugi marah sama lo, lo bilang aja sama gue.” katanyanya.
“Kenapa? Lo sekarang mau sukarela jadi samsak hidup Nugi?”
“Bukan gitu. Gue nggak rela lo dibentak- bentak kayak tadi.” kata Bara. “nggak ada yang boleh marahin kesayangan gue.” katanya.
Ia melihat Ciara menatapnya dengan tatapan bingung. “sekarang, gue cuma punya papa, Mahesa, sama lo. Lo perempuan satu- satunya kesayangan gue.” Bara menjelasanya. “selamat istirahat.” Bara maju dan memeluk gadis itu sekilas. “besok jangan lupa keramas, ya, dok.”
***
Kamal dan Ayra menatap Lara dengan pandangan tidak percaya. Lara mengangguk. Mencoba memberitahu pada keduanya bahwa apa yang baru saja keluar dari mulutnya bukanlah sebuah lelucon.
“Mereka saudara tiri?” Ayra masih sulit percaya.
“Gue juga kaget banget pas tahu itu. Nggak pernah ngebayangin kalau mereka saudara tiri. Bisa- bisanya anak satu sekolah nggak ada yang tahu.” Kata Lara.
“Tadi pas gue ke sana, Bara datang sama kak Ciara.” kata Lara. Ia menatap Ayra yang langsung terenyak.
Ayra menelan ludah. Tidak heran mendengar hal itu. Ia tahu bahwa keduanya dekat. Dan setelah Bara menjauh darinya, laki- laki itu pasti semakin dekat dengan gadis itu. Kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Bara selalu memilih Ciara sebagai tempat kembali setelah memutuskan untuk melepaskannya. Ayra tak pernah merasa cemburu karena ia tak memiliki perasaan pada laki- laki itu. Namun saat menyadari bahwa laki- laki itu dengan mudahnya berpaling padahal laki- laki itu pernah menyukainya sedemikian rupa, membuatnya hatinya terasa nyeri.
“Gue tidur duluan, ya.” kata Ayra. Ia berdiri dari duduknya dan pergi ke dalam kamarnya.
“Mereka berdua kayak orang pacaran.” Kata Lara. Ia berdiri lalu berpindah duduk di samping Kamal. Menempati tempat Ayra sebelumnya. “maksud gue Bara nya.” Kata Lara lagi. “Bara kayak yang perhatian banget sama kak Ciara.” lanjutnya.
“Bukannya memang mereka dekat, ya. Di kampus juga gitu kan?”
“Iya, tapi ini kayak beda gitu. Bara kayak tulus beneran.”
“Maksud lo, Bara naksir kak Ciara?” Kamal bertanya dan melihat gadis di depannya yang tampak berpikir.
“Nggak mungkin, lah. Bara karena baru jauhi Ayra aja, makanya lebih dekat lagi ke kak Ciara.” kata Kamal langsung.
***
“Eh, bibir lo kenapa?” tanya Mahesa saat ia keluar dari kamarnya dan melihat Bara sedang duduk di ruang tamu. Laki- laki sudah berpakaian rapi dan siap pergi ke kampus dan kini sedang memakai sepatu ketsnya.
“Nggak apa- apa.” Bara menjawab saat Mahesa duduk di sofa kosong di depannya.
“Lo berantem?” tanya Mahesa lagi. Ayahnya selalu bilang bahwa Bara sudah berubah. Ia jelas terkejut melihat sudut bibir laki- laki itu yang membiru.
“Nggak.” Kata Bara, “gue dipukul Nugi.” Katanya lagi setelah berhasil mengikat tali sepatunya. Ia tersenyum melihat Mahesa menatapnya tidak percaya. “nggak… nggak... Nugi nggak apa- apa, kok. Gue nggak balas mukul.” Kata laki- laki itu. Memberitahu laki- laki itu bahwa kali ini ia adalah korban.
“Kenapa?” Mahesa bertanya.
“Kenapa apa, nih? Kenapa gue dipukul atau kenapa gue nggak balas mukul?” tanya Bara sambil terkekeh pelan.
“Ya… dua- duanya.” Kata Mahesa akhirnya.
Bara akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi malam pada laki- laki di depannya yang tampak mendengarkan dengan seksama. “gue nggak suka dia bentak Ciara. Gue bilang kalau mau marah ya marah sama gue, karena gue yang salah.” Katanya. “tapi dia nyecar Ciara terus. Terus dia kesal dan mukul gue.”
“Mungkin gue udah lama nggak berantem kali ya, jiwa berandalan gue tiba- tiba ilang. Dipukul gini doang aja rasanya sakit banget.” Bara terkekeh ringan. “dan nggak tahu kenapa gue sama sekali nggak kepikiran untuk balas. Gue berpikir kalau memang gue yang salah.”
“Gue tahu gue nggak sehrausnya kayak gini. Gue nggak bisa terus- terusan menempatkan Ciara pada posisi sulit dan bikin gadis itu dalam masalah. Tapi…” Bara menelan ludah, memikirkan kata- kata yang tepat, “gue nggak bisa kalau diminta ngejauhin Ciara.” katanya. “dia udah kayak kakak gue, tante Dewi udah kayak ibu gue sendiri. Gue nggak bisa kalau harus jaga jarak dari mereka cuma karena Nugi yang cemburuan.”
Mahesa menatap raut wajah Bara yang tampak muram. Laki- laki itu sepertinya tengah bergulat antara tak ingin menjauh namun tak ingin membuat Ciara dalam masalah. Laki- laki sedang memikirkan hal sulit yang harus ia pilih.
“Pokoknya gue tetap pada pendirian gue.” kata Bara sambil menegakkan tubuhnya. “dari sebelum mereka jadian, Nugi udah tahu gimana gue sama Ciara, harusnya dia yang maklumin lah.” Kata Bara lagi.
Mahesa tersenyum. Bara tetaplah Bara.
“Oia, gue bisa minta tolong nggak? Nitip ini buat Lara, kemarin ketinggalan.” Mahesa memberikan sebuah buku yang tadi ia bawa dari dalam kamar.
Bara menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas. “lo ada hubungan apa sama Lara?” Bara bertanya dan melihat dahi Mahesa berkerut dalam.
“Hubungan apa? Nggak ada hubungan apa- apa.” Jawabnya.
“Kok kemarin dia bisa ikut ke sini?” Bara bertanya lagi. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya. Ia jelas kaget saat kemarin malihat Lara ada di rumah.
“Kemarin dia main ke kantor gue. Pas papa chat minta makan malam di rumah, ya, gue ajak aja sekalian.” Jawab laki- laki itu. Ia tahu bahwa kehadiran Lara mungkin akan membingungkan, begitu juga bagi Ciara. Semalaman, ia terus berpikir, ia takut gadis itu salah mengartikan kedekatannya dengan Lara.
TBC
LalunaKia